Home / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Sebelum Semua Terlambat

Share

Sebelum Semua Terlambat

last update publish date: 2026-06-23 23:49:37
Mesin mobil menyala lebih dulu sebelum pintu tertutup sempurna.

Getarannya merambat ke lantai beton, naik ke sepatu, lalu hilang di udara yang masih menggantung di dalam gudang.

Adriano masuk tanpa menoleh.

Pintu tertutup.

Bunyi logam pendek memutus sisa ruang.

Di kaca spion, gambar itu masih ada.

Elena di lantai.

Kepala sedikit menunduk.

Rambut jatuh menutupi sisi wajah.

Julian berdiri di dekatnya.

Satu tangannya belum sepenuhnya turun, seperti masih mencari sesuatu yang sud
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Rumah yang Tidak Lagi Mengenalinya

    Pintu terbuka selebar satu telapak tangan. Pria itu menunggu. Tidak ada suara dari dalam. Ia mendorongnya sedikit lebih jauh, cukup untuk menyelipkan tubuh. Telapak tangannya menahan daun pintu sampai kaitnya kembali pada tempatnya. Koridor belakang mansion gelap. Beberapa lampu dinding menyala dengan jarak berjauhan. Cahaya dari luar jatuh melalui jendela tinggi, memanjang di atas lantai marmer. Ia tidak langsung berjalan. Matanya menyusuri koridor. Di ujung terdapat persimpangan. Kanan menuju dapur. Kiri menuju bagian utama rumah. Ia memilih kiri. Langkahnya teratur. Bukan terburu-buru. Tidak juga terlalu lambat. Dari lantai bawah terdengar bunyi porselen. Ia berhenti. Suara percakapan muncul dari arah ruang staf, kemudian menghilang. Ia kembali bergerak. Seragam penjaga yang dikenakannya sedikit kebesaran di bahu. Topi ditarik rendah. Senter berada di tangan kiri, tetap mati. Seorang penjaga muncul dari persimpangan. Pria itu menundukkan kepala. Penjaga tersebu

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sebelum Pintu Itu Terbuka

    Elias tidak segera menjawab. Jari-jarinya masih berada di atas kotak kayu tempat ia menyimpan catatan inventaris. Pandangannya turun pada klip merah di tangan Adriano. Ada goresan kecil di bagian dalamnya. “Mungkin hanya kebetulan, Signore.” Adriano mengangkat klip itu sedikit. “Benda ini hanya dibuat satu.” Elias mengembuskan napas pendek. “Banyak benda berpindah tangan.” “Ini bukan artefak.” “Saya tahu.” Adriano tidak berkedip. Elias mengambil sebuah map dari meja. Membukanya. Menutupnya kembali. “Barang kecil seperti itu bisa hilang bertahun-tahun. Ditemukan seseorang. Disimpan. Dijual. Diberikan kepada orang lain.” Adriano menatapnya. “Termasuk anak kecil?” Elias mengangkat wajah. “Termasuk apa pun.” Suara roda troli terdengar d

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Pasangan yang Seharusnya Tidak Ada

    Pagi masuk melalui celah tirai. Cahaya pucat jatuh di ujung ranjang, berhenti pada selimut yang menutupi kaki Elena. Matanya terbuka. Untuk beberapa saat ia hanya menatap langit-langit. Tubuhnya masih terasa berat. Nyeri di lengan belum hilang. Betisnya berdenyut setiap kali ia mengubah posisi. Elena menarik napas dan mengangkat tubuh sedikit lebih tinggi. Bantal di belakang punggung menopangnya. Di dekat jendela, tirai vitrase terbuka beberapa jengkal. Cahaya pagi menembus kain tipis itu dan membuat debu-debu kecil tampak melayang. Seorang suster berdiri di sisi meja. Begitu melihat Elena bergerak, ia menutup catatan medis. “Signora sudah bangun.” Elena mengangguk kecil. Pandangannya berkeliling kamar. Berhenti pada kursi di sudut. Kosong. “Di mana Signore?” “Beliau keluar sebentar.” Suster memeriksa selang infus di punggung tangannya. “Saya diminta tetap mengawasi Signora sampai beliau kembali.” Elena menurunkan pandangan. Jemarinya bergerak satu per satu. Masih

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Seseorang Masih Menunggunya

    Malam turun di atas mansion Moretti. Di kamar, Elena duduk bersandar pada dua bantal. Perban membungkus lengan dan betisnya. Selang infus masih terpasang di punggung tangan. Ia menggerakkan jemarinya. Nyeri menjalar sampai siku. Elena berhenti. Bekas gigitan di lengannya masih berdenyut di bawah balutan. Ia menyentuh tepi perban, kemudian membiarkan tangannya jatuh ke atas selimut. Suara Adriano kembali terdengar dalam ingatannya. Aku pernah punya seorang adik perempuan. Namanya Alessandra. Kalau dia masih hidup, usianya mungkin tidak jauh darimu. Elena mengalihkan pandangan ke jendela. Tirai tertutup. Tangannya naik ke rambut, berhenti di dekat telinga. Kosong. Jepit merah itu sudah tidak ada. Ingatan lain menyusul. Tatapan Adriano ketika pertama kali melihat benda itu di tangannya. Kau mencuri benda ini dari lemariku? Aku tidak mencuri apa pun darimu. Siapa yang memberikannya? Elena memejamkan mata. Mungkin hanya kebetulan. Benda lama bisa

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Kebohongan yang Menolak Mati

    Ketukan terdengar. Adriano mengangkat wajah. “Masuk.” Pintu terbuka. Elias berdiri di ambang dengan tiga map di lengannya. “Signore.” Ia masuk dan menutup pintu. “Anda memanggil saya.” “Ya.” Elias berjalan menuju meja. “Kebetulan saya baru dari ruang kerja Signore Valerius.” Tiga map diletakkan di hadapan Adriano. “Beliau meminta laporan pengeluaran bahan bangunan minggu ini diperiksa ulang. Ada beberapa angka yang belum masuk ke sistem.” Adriano tidak menyentuh map tersebut. Elias membuka yang paling atas. “Pengiriman dari pelabuhan timur tercatat dua belas unit. Di bagian penerimaan hanya tercatat sebelas.” Ujung jarinya menunjuk satu baris. “Berarti ada selisih satu unit.” Adriano masih diam. Elias m

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Cerita yang Terlalu Lama Dipercaya

    Pintu kamar Elena tertutup di belakang Adriano. Ia berjalan menyusuri koridor tanpa menoleh. Cahaya pagi jatuh dari jendela tinggi dan memotong marmer menjadi bidang-bidang pucat. Seorang pelayan menepi ketika melihatnya. Adriano lewat tanpa suara. Pintu ruang kerja terbuka. Di atas meja, map-map proyek pelabuhan telah tersusun menurut urutan laporan. Sebuah pena terletak sejajar dengan tepi meja. Tablet menyala pada halaman yang memuat angka-angka pengiriman. Adriano menarik kursi. Duduk. Tangannya tidak menyentuh satu pun berkas. Jemarinya masuk ke saku jas. Benda kecil itu masih ada di sana. Ia mengeluarkannya. Jepit rambut merah. Sisa tanah masih melekat di sela lekukan pengait. Ibu jarinya mengusap permukaan logam. Satu goresan tipis di bagian dalam. Lengkungan kecil pada ujung pengait. Tangannya berhenti. Hujan. Kamar seorang anak. Suara tawa. Dua puluh delapan tahun sebelumnya. Adriano berusia sebelas tahun ketika pulang lebih cepat dari sekolah. Tasnya ma

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ketika Pengorbanan Berubah Menjadi Milik

    Interior mobil itu terasa seperti dunia lain. Bukan karena kemewahannya, melainkan karena sunyinya—sunyi yang tidak memberi ruang bagi suara untuk hidup. Jok kulit hitam menelan tubuh Elena saat ia duduk. Pintu tertutup rapat di belakangnya, memutus debu, teriakan, dan panti yang baru saja ia ti

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Perempuan Itu Menyerahkan Dirinya

    Pagi di Stella Maris tidak sempat menjadi pagi. Suara mesin datang lebih dulu, memotong udara sebelum matahari sepenuhnya naik. Getarannya merambat dari tanah, masuk ke dinding panti, mengguncang gelas-gelas plastik di rak dapur hingga beradu pelan. Elena terbangun sebelum anak-anak menangis.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ketika Nama Itu Mulai Mendekat

    Mansion Moretti berdiri jauh dari kebisingan pelabuhan, seolah dunia luar tak pernah menyentuhnya. Sinar matahari sore menembus jendela tinggi, menyorot debu yang menari di udara. Lantai marmer hitam mengilap, refleksi kaki menekankan kesunyian yang hampir mematikan. Langit-langit tinggi dan dindin

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Saat Rumah Menjual Penghuninya

    Debu pelabuhan Genoa selalu menemukan jalannya sendiri. Ia menyelinap lewat celah pagar besi panti Stella Maris, menempel di sepatu-sepatu kecil yang berjejer di rak kayu, lalu hinggap di meja dapur yang catnya mengelupas. Debu itu membuat segalanya tampak kusam—kecuali satu hal. Sebuah amplop

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status