LOGINPagi di mansion Moretti berjalan seperti biasa bagi siapa pun yang tidak tahu cara membaca perubahan kecil.Lift servis tetap naik turun membawa kotak logistik. Langkah staff berderak pelan di lantai marmer koridor timur. Aroma kopi dari dapur menyusup sampai area administrasi, bercampur dengan bau kertas baru dari ruang arsip.Di salah satu koridor dekat sayap keluarga, dua penjaga baru berdiri di depan satu pintu.Tidak banyak bergerak.Tidak saling bicara.Hanya keberadaan mereka yang cukup membuat siapa pun memilih jalur lain.Di dalam ruang kerja, cahaya pagi jatuh miring ke atas meja kayu gelap.Berkas-berkas tertata rapi, garis tepinya sejajar sempurna. Laporan distribusi. Audit. Kontrak buyer.Tak satu pun disentuh.Ponsel Elena tergeletak di sisi kanan meja.Layar gelap.Diam.Adriano sudah berpakaian lengkap.Kemeja putih.Manset terpasang rapi.
Pintu kamar mandi masih terbuka saat Adriano berbalik. Air menetes dari ujung rambut Elena. Dari dagunya. Dari lengan yang gemetar menahan tubuhnya sendiri. Langkah Adriano sudah mencapai ambang pintu ketika sesuatu menarik ujung celananya. Ia menunduk. Jari-jari Elena mencengkeram kain celananya. Lemah. Basah. Hampir tidak memiliki tenaga. "Tolong." Suara itu pecah di tenggorokannya. Adriano tidak bergerak. Elena menelan napas yang terasa sakit. "Anak-anak di Stella Maris..." Kalimat berikutnya tersangkut. Batuk pendek mengguncang tubuhnya. Air masih terasa memenuhi dadanya. "Mereka tidak tahu apa-apa." Tatapan Adriano turun pada tangan yang mencengkeramnya. Tak lama. Cukup untuk membuat Elena berharap. "Jangan sakiti mereka." Sunyi memenuhi ruangan. Tatapan Adriano tidak berubah. "Kalau nasib mereka bergantung padamu..." Suara itu rendah. Datar. "Terlambat untuk mulai memikirkannya sekarang." Harap
Pintu menghantam kusennya. Gaungnya masih bergetar di dinding saat Adriano melepaskan lengan Elena. Dorongan itu membuat tubuh Elena kehilangan keseimbangan. Lututnya menghantam lantai lebih dulu, telapak tangan menyusul. Napasnya tersentak. Sunyi langsung memenuhi ruangan. Adriano tetap berdiri di depan pintu. Tak bergerak. Tatapannya turun ke Elena. Dingin. Kosong. Lebih buruk daripada amarah. "Adriano—" "Aku membiarkanmu tinggal di sini." Kalimat itu memotongnya. Elena membeku. Adriano berjalan mendekat. Satu langkah. Lalu satu lagi. "Aku membiarkan Stella Maris tetap berdiri." Rahangnya mengeras. "Aku menghentikan pembongkarannya." Elena merasakan tenggorokannya mengeri
Ponsel itu tergeletak di lantai marmer.Di antara lembar audit yang berserakan.Di dekat bercak darah yang terus menetes dari hidung supervisor distribusi.Tak ada yang bergerak.Napas pria itu terdengar berat. Patah-patah.Monitor transit masih menyala di dinding.Alexandria tetap merah.Tak seorang pun melihatnya.Sebuah getaran pendek memecah ruangan.Layar ponsel menyala.Cahaya putih memantul di marmer.Nama pengirim muncul sesaat sebelum layar meredup kembali.Elena membeku.Di dekatnya, supervisor yang terluka mengerang pelan sambil memegangi rahangnya.Tak ada yang memperhatikannya lagi.Tatapan semua orang tertuju pada benda kecil di lantai.Elena bergerak lebih dulu.Refleks.Jemarinya baru terangkat beberapa inci saat bayangan Adriano sudah menutup cahaya di atas ponsel.Langkahnya berhenti tepat di depan benda itu.Tidak tergesa.Tidak ragu.Ia membungkuk.Mengambilnya.Ruangan tenggelam dalam diam yang lebih pekat.Elena berdiri perlahan.Telapak tangannya terasa dingin.
Tak ada yang sempat bergerak. Kepalan tangan Adriano sudah lebih dulu menghantam. Benturan keras memecah ruangan. Kepala supervisor distribusi terlempar ke samping. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh menghantam lantai marmer. Kursi di belakangnya ikut terguling sebelum membentur kaki meja. Tak ada yang bersuara. Monitor tetap menyala. Barisan data masih memenuhi layar transit. Tak seorang pun melihatnya. Pria itu mengerang pelan sambil menahan rahangnya. Darah mulai muncul di sudut bibir. Adriano berdiri di atasnya. Napasnya stabil. Itu jauh lebih buruk. "Bangun." Supervisor itu mengangkat wajah. Satu tangan menekan lantai untuk menopang tubuh. "Aku tidak mengirim apa pun keluar." Kalimat itu terdengar serak. Adriano mencengkeram bagian depan kemejanya. Tubuh pria itu terangkat sebelum dihantamkan ke sisi meja. Map-map bergeser. Sebuah tablet jatuh dan
Pagi belum benar-benar masuk ke dalam kamar saat Elena membuka mata. Sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong. Seprai hitam itu rata. Tidak kusut. Tidak menunjukkan bekas seseorang pernah berbaring di sana semalaman. Di dekat jendela, lampu kerja masih menyala. Cahayanya jatuh di atas beberapa map yang terbuka dan secangkir kopi yang tinggal setengah. Permukaannya diam. Dingin. Elena duduk perlahan. Pandangannya bergerak dari kursi kosong menuju meja kerja. Adriano tidak kembali ke tempat tidur. Tangannya masuk ke saku mantel yang tergantung di sandaran kursi. Ponsel kecil itu masih ada. Dingin. Diam. Layar menyala redup saat ia mengaktifkannya. Beberapa pesan baru menunggu. Julian. Buyer mulai menahan escrow. Distribusi semalam berhasil masuk. Tekanan terus naik. Elena membaca sampai akhir. Rahangnya mengeras tipis. Jemarinya bergerak di atas layar. Jangan percepat lagi. Mereka mulai meliha
Cahaya pagi belum sepenuhnya menembus kamar. Tirai masih tertutup rapat. Udara dingin menggantung, sunyi, tak terusik. Di ranjang besar itu, dua orang berbagi ruang—hanya satu yang terjaga. Adriano Moretti membuka matanya perlahan. Napasnya tetap tenang. Seolah ia memang tak pernah benar
Elena mendorong pintu dapur dengan bahu. Nampan masih di tangannya. Ruangan itu luas dan terang, berbeda dari sunyi ruang makan yang baru saja ia tinggalkan. Lampu-lampu putih memantul di permukaan baja dan porselen. Para pelayan berpakaian rapi bergerak cepat dalam ritme yang terlatih—piring
Pisau dan garpu kembali bergerak. Daging terpotong rapi. Anggur kembali mengalir ke dalam kristal. Seorang tamu menceritakan sesuatu yang cukup lucu untuk memancing tawa sopan. Valerius ikut tersenyum tipis. Lalu— Ia mengangkat gelas anggurnya. Gerakannya tenang. Terukur. Anggun sepert
Nampan itu terasa lebih berat dari yang terlihat. Elena memegangnya dengan kedua tangan, berusaha menyembunyikan ketegangan di jari-jarinya. Di atas nampan itu terdapat botol anggur dan beberapa gelas kristal. Tidak ada yang mengatakan apa pun. Namun ruangan itu penuh dengan tatapan. Me







