Home / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Yang Mulai Dipanggil Milik

Share

Yang Mulai Dipanggil Milik

last update publish date: 2026-07-08 22:42:39

Pagi masuk melalui jendela tinggi ruang makan, memantulkan cahaya pucat di atas meja kayu panjang yang telah tertata rapi.

Valerius sudah berada di kursinya.

Teh masih mengepul.

Roti hangat baru diletakkan di keranjang anyaman.

Pisau mentega berkilau di samping piring porselen.

Map tipis terbuka di dekat tangan kanannya. Matanya menyapu satu halaman tanpa tergesa.

Pintu ruang makan terbuka.

Adriano masuk lebih dulu.

Elena mengikutinya.

"Pagi."

Suara Adriano datar. Langkahnya tidak berhenti.

Val
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jangan Hubungi Dia Lagi

    Ponsel masih menempel di telinga Julian. Pria di ambang pintu tidak bergerak. Jas hitamnya jatuh rapi sampai ke pinggang. Topi gelap menutupi sebagian wajah, menyisakan garis rahang dan sepasang mata yang tak menunjukkan apa-apa. "Halo." Suara dari ponsel akhirnya terdengar. Julian menegang. "Julian. Ini aku, El—" Ponsel turun dari telinganya. Pria itu masuk. Pintu menutup di belakangnya. Klik. "Julian Vane." Julian menatapnya. "Kau yang akan menjelaskan kenapa pasporku bermasalah?" "Tidak." Pria itu berhenti di tengah ruangan. "Aku datang untuk membawamu." Tatapan Julian bergeser ke pintu. "Hidup atau mati." Tangannya masuk ke balik jas. Kilatan logam muncul. Julian bergerak lebih cepat. Telapak tangannya menghantam pergelangan pria itu. Dor! Peluru menembus dinding di belakangnya. Letusan memantul di ruangan sempit. Pria itu langsung maju. Pukulan pertama menghantam rusuk Julian. Udara terlepas dari paru-parunya. Pukulan berikutnya mengenai rahang. Tubu

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Keberangkatan yang Tidak Pernah Terjadi

    Papan keberangkatan berganti angka di atas kepala Julian. Genoa. Satu tujuan yang sudah ia putuskan untuk ditinggalkan. Perban putih membungkus telapak tangannya dengan simpul seadanya. Ujung kain telah berubah merah kecokelatan. Kemeja yang dipakainya sejak meninggalkan apartemen masih melekat di tubuh. Debu menempel di bahu. Garis tipis bekas pecahan kaca terlihat dekat kerah. Ia menyusuri antrean pemeriksaan dengan tas selempang melintang di dada. Pengumuman keberangkatan dan percakapan para penumpang bercampur menjadi dengung panjang di dalam terminal. Setidaknya satu hal berjalan seperti seharusnya. Penerbangannya masih tertera di papan. Julian mengeluarkan paspor. Tiket elektronik ditunjukkan. Petugas mengambil dokumen itu. Halaman identitas dibuka. Tatapannya berhenti. Jemari yang memegang paspor tetap diam beberapa saat. Julian memperhatikan wajahnya. "Ada masalah?" Petugas mengangkat mata. "Tunggu sebentar." Paspor dibalik. Satu halaman di

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Satu Angka Terakhir

    Sedan hitam itu menghilang di balik tikungan. Elena masih memandang jalan yang kosong ketika Bianca mengambil gembor dari atas batu. "Kalau terus melihat ke sana, bunga-bungaku akan cemburu." Senyum kecil muncul di wajah Elena. "Maaf." Bianca tertawa pendek. "Ikut aku." Mereka meninggalkan gazebo, melewati rumpun lavender yang bergerak diterpa angin laut. Beberapa bunga telah mekar penuh, sementara kuncup-kuncup kecil masih bersembunyi di antara daun. "Kau suka bunga?" "Iya." "Ada yang pernah kau tanam?" Elena mengangguk. "Dulu aku menemukan bunga liar di pinggir pantai." "Di pantai?" "Di antara batu." Senyumnya tipis. "Aku membawanya pulang." "Berhasil hidup?" "Sebentar." Bianca tersenyum. "Itu sudah cukup." Langkah mereka berhenti di depan petak bunga yang lebih rimbun. Kelopak-kelopak putih dan merah muda memenuhi batang-batang yang tumbuh rapat. "Yang ini sedang banyak dicari." Elena mendekat. "Untuk apa?" "Hiasan rumah. Istri-istri

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Saat Dia Tidak Ada

    Langkah Elena berhenti di sisi mobil. Adriano turun menyusul. Pintu sedan menutup pelan di belakangnya. "Ayo." Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak yang membelah hamparan bunga. Perempuan yang tadi memegang gembor telah meletakkannya di atas batu pipih. Celemek berkebunnya diseka singkat dengan telapak tangan sebelum ia menghampiri mereka. "Akhirnya." Senyumnya mengembang hangat. "Kau datang juga." Elena membalas dengan senyum kecil. "Baru sempat." "Aku sudah menunggu cukup lama." Nada itu terdengar lebih seperti candaan daripada keluhan. Bianca berbalik. "Ikut denganku." Jalan setapak berbelok ke sisi rumah. Semak lavender bergoyang pelan diterpa angin laut. Di balik lengkungan bunga rambat berdiri sebuah gazebo kayu yang menghadap tebing. Meja bundar telah tertata rapi. Cangkir-cangkir porselen berukiran bunga diletakkan berdampingan dengan sebuah toples kaca berisi daun teh kering dan sepiring kecil kue mentega yang baru matang. Bianca menoleh ke arah

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Selangkah Lebih Jauh

    Setelan abu-abu gelap membungkus tubuh Adriano dengan rapi. Jam tangannya telah kembali melingkar di pergelangan kiri. Kancing manset terpasang sempurna. Tak ada lagi jejak malam yang tersisa selain memar tipis di rahangnya. Elena keluar dari ruang ganti. Mantel yang sama kembali menutupi tubuhnya. Jemarinya sempat singgah di saku bagian dalam sebelum mengikuti Adriano keluar dari kamar. Mereka menuruni tangga menuju foyer. Pagi memenuhi mansion dengan cahaya pucat yang masuk melalui jendela-jendela tinggi. Di anak tangga terakhir, langkah lain terdengar dari sisi koridor. Elias berhenti. "Selamat pagi, Signore." Adriano mengangguk singkat. "Buyer semalam." "Ya." "Artefaknya dijemput hari ini." "Akan kuurus." Percakapan berakhir begitu saja. Seorang staf muncul dari arah ruang administrasi. Kedua lengannya memeluk setumpuk map dan laporan hingga menutupi sebagian wajahnya. "Laporan penjualan untuk Signore Valerius." Elias mengulurkan tangan. Tumpu

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tak Pernah Sedekat Ini

    Pintu kamar menutup. Klik. Keheningan kembali memenuhi ruangan. Adriano melepaskan jasnya. Kain itu berpindah ke sandaran kursi. Jemarinya membuka kancing pertama kemeja, disusul yang kedua. "Elena." Perempuan itu masih berdiri membelakangi pintu. "Ya." "Isi bak mandi." Elena menoleh. "Air hangat?" "Air dingin." Tatapannya singgah sesaat pada wajah Adriano. "Baik." Ia menuju kamar mandi. Sumbat pembuangan ditekan hingga rapat. Kran diputar. Air jatuh menghantam dasar bak, memenuhi ruangan dengan gemericik yang pelan namun terus-menerus. Elena berdiri di sisinya. Permukaan air sedikit demi sedikit naik, menelan dinding porselen. Langkah terdengar di belakangnya. Adriano masuk. Kemejanya telah terlepas. Memar di rahang kiri tampak lebih jelas di bawah cahaya lampu. Garis kemerahan di rusuk kirinya belum sepenuhnya memudar. "Sudah?" "Hampir." Air baru melewati separuh bak. Tanpa menunggu lebih penuh, Adriano melangkah masuk. Air dingin beriak mengelilingi tubuh

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tanpa Jalan Keluar

    Adriano sudah berjalan di depan. Ia tidak menunggu. Langkahnya panjang dan terukur, seolah rumah itu telah menghafal ritmenya. Sepatu kulitnya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer, namun setiap tapak terasa seperti penanda wilayah. Elena ragu sepersekian detik. Lalu ia menyusul.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Kalimat yang Mengikat Nyawa

    Interior mansion Moretti tidak menyambut. Ia menelan. Langit-langit tinggi membuat langkah kaki Elena terdengar terlalu kecil. Lantai marmer dingin memantulkan bayangan mereka seperti air yang tak mau terusik. Tidak ada lukisan keluarga. Tidak ada foto. Tidak ada bunga. Hanya ruang luas, suny

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ketika Pengorbanan Berubah Menjadi Milik

    Interior mobil itu terasa seperti dunia lain. Bukan karena kemewahannya, melainkan karena sunyinya—sunyi yang tidak memberi ruang bagi suara untuk hidup. Jok kulit hitam menelan tubuh Elena saat ia duduk. Pintu tertutup rapat di belakangnya, memutus debu, teriakan, dan panti yang baru saja ia ti

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Perempuan Itu Menyerahkan Dirinya

    Pagi di Stella Maris tidak sempat menjadi pagi. Suara mesin datang lebih dulu, memotong udara sebelum matahari sepenuhnya naik. Getarannya merambat dari tanah, masuk ke dinding panti, mengguncang gelas-gelas plastik di rak dapur hingga beradu pelan. Elena terbangun sebelum anak-anak menangis.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status