Se connecterSetelah liburan singkat bersama Adrian dan keluarganya. Seraphine jauh lebih stabil dalam melakukan pekerjaannya. Wanita cantik itu kembali memimpin rapat dengan tenang dan berhasil membuat suatu keputusan yang menguntungkan banyak pihak.Sore itu, di sebuah studio pilates privat di Kawasan Senopati. Seraphine istirahat sejenak dari rutinitasnya. Sepulang dari kantor, dia langsung menuju kesana. Diiringi oleh aroma esensial peppermint dan leomande yang menyegarkan memenuhi ruangan, Seraphine tampak sangat fokus di atas mesin reformer. Kedua tangannya menggenggam straps, sementara kakinya melakukan gerakan push through dengan presisi yang sempurna."Oke, ladies. Three more reps... inhale, exhale... and hold!" instruktur pilates memberikan komando dengan suara tenang namun tegas.Di sisi kanan Seraphine, Anya menghembuskan napas panjang dengan dramatis. Di sisi kirinya, Valerie tampak lebih tenang meski otot lengannya terlihat bergetar menahan beban. Sementara itu, tiga anggota geng inn
Malam telah jatuh sepenuhnya di lereng Dago Pakar. Suasana di dalam villa keluarga Kirana sudah mulai sunyi, menyisakan suara jangkrik dan deru angin. Seraphine baru saja selesai membersihkan diri setelah tadi menemani Nara bermain. Saat ini, ia mengenakan piyama satin tebal berwarna biru dongker. Ia menarik selimut hingga menutupi dadanya, menatap layar ponselnya yang saat ini menunjukkan waktu pukul 23.00 malam. Berarti di Milan, Italia, baru menunjukkan pukul 18.00 sore. Ponselnya bergetar. Sebuah permintaan panggilan video muncul dari sebuah kontak yang dinamai: Suami—nama yang sengaja diganti Samudera sebelum pria itu berangkat tur. Nama yang selalu berhasil membuat jantung Seraphine tidak karuan namun juga memberikan senyuman yang tak hilang. Seraphine segera membetulkan posisi duduknya, menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang, dan menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan itu. "Hey, Sayang," sapa Samudera. Suaranya terdengar sedikit parau, namun matanya berb
Perjalanan menuju Bandung memakan waktu sekitar tiga jam. Begitu mobil memasuki area kompleks villa mewah di Kawasan Dago Pakar, udara dingin mulai terasa menusuk kulit. Villa besar milik keluarga Kirana berdiri megah dengan arsitektur modern minimalis yang didominasi kaca, memberikan pemandangan langsung kea rah lembah hijau yang berkabut. Di halaman depan, seorang anak kecil dengan kuncir dua sedang berlari mengejar seekor kupu-kupu. Begitu melihat mobil Alphard hitam yang familiar, ia berhenti dan berteriak nyaring. "Onti Seraaa!" Nara berlari kecil dengan kaki pendeknya menuju mobil. Seraphine turun dan langsung menyambut keponakannya itu ke dalam pelukan. "Halo, Sayang! Kangen ya sama Onti?" "Kangen banget!" jawab Nara dengan mata bulatnya yang berbinar menatap tantenya penuh sayang, yang dibalas Seraphine dengan ciuman gemas di kedua pipinya yang gembul. "Pelan-pelan, Nara! Onti baru sampai, jangan langsung ditubruk," tegur Adrian Baskara Kirana yang muncul dari balik pintu
Pagi itu, saat langit Jakarta masih berwarna biru gelap, tepat pukul 04.30 pagi, Seraphine sudah terjaga. Ia sudah duduk di tepi ranjang, menatap koper kecil yang sudah ia siapkan semalam. Ada rasa lega yang luar biasa setelah beban proyek Malang diangkat dari pundaknya—semua berkat diplomasi "berisik" suaminya kepada sang Papa. Seraphine membuka jam. Di Amsterdam pukul 22.30 malam waktu setempat. Rasa bersalah tiba-tiba menyelinap di hatinya—ia tahu Samudera pasti sedang sangat sibuk karena besok pagi Motion13 akan moving day menuju Milan, Italia. Dengan ragu, Seraphine menekan tombol panggil. "Halo... Sam?" bisik Seraphine pelan saat panggilan itu diangkat pada deringan kedua. "Maaf banget... gue ngebangunin lo ya? Gue tau di sana udah malem banget." Samudera, yang sedang duduk di atas kopernya untuk mengunci ritsleting yang sesak, langsung tersenyum mendengar suara serak khas bangun tidur istrinya. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, menyalakan mode pengeras suara. “Eng
Di dalam bus tur mewah yang sedang melaju membelah jalanan Amsterdam menuju Ziggo Dome, suasana sangat kontras dengan hiruk-pikuk biasanya. Di barisan belakang, Samudera Wicaksana duduk menyendiri dengan noise-canceling headphones yang hanya bertengger di lehernya. Matanya menatap keluar jendela, namun pikirannya tertinggal di sebuah kamar utama di Jakarta.Racauan mabuk Seraphine semalam bukan sekadar angin lalu baginya. Kalimat "Capek, Sam... ekspansi klinik di Surabaya bikin pusing... Papa minta nambah lagi ke Malang..." terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Dan sumber dari segala tekanan itu, tidak lain adalah pria yang kini namanya tertera di layar ponsel Samudera: Papa Mertua (Handoko Kirana).Sambil menghela napas panjang, Samudera menekan tombol panggil. Melakukan negosiasi dengan promotor kelas dunia atau menghadapi puluhan ribu fans jauh lebih mudah daripada berbicara empat mata—apalagi lewat telepon—dengan mertuanya yang terkenal bertangan besi itu.Panggilan itu
Di kamar hotelnya yang mewah di Amsterdam, Samudera baru saja menyelesaikan sarapan bersama member Motion13. Samudera mulai melepaskan kaos hitamnya, menyisakan tubuh atletis dengan garis otot yang tegas, hasil dari latihan bertahun-tahun. Ia memiliki waktu singkat untuk membersihkan diri sebelum bus tur menjemput mereka menuju Ziggo Dome untuk sesi final soundcheck dan persiapan konser malam pertama. Ia meletakkan ponselnya di atas meja marmer kamar mandi, mengatur posisinya agar stabil, lalu menekan tombol panggilan video. Wajah Seraphine muncul di layar. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, terlihat dari rambutnya yang masih basah. Ia mengenakan silk robe berwarna putih tulang yang kontras dengan warna kulitnya. "Baru mandi, Sayang?" tanya Samudera dengan suara yang sengaja direndahkan. Seraphine sedang duduk di depan meja riasnya, mengoleskan skincare dengan gerakan ritmis. "Hm. Temen-temen gue baru aja pulang setengah jam lalu. Rumah lo udah bersih, tim kebersihan lo bene
Samudera keluar dari kamar, setelah perdebatan di atas ranjang tadi dan akhirnya Seraphine bergantian masuk ke kamar mandi. Dia berjalan menuju ruang tengah, rambutnya masih basah dan hanya mengenakan celana pendek hitam serta baju putih. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Seraphine turun ke lanta
Uap hangat sisa air panas masih mengepul tipis saat Seraphine membuka pintu kamar mandi. Ia telah menghabiskan waktu hampir empat puluh menit di dalam sana—jauh lebih lama dari ritual mandi biasanya. Karena Seraphine harus membersihkan diri dari makeup berat ataupun hair do yang sangat nempel. Sela
Pagi itu, Jakarta seolah menahan napas. Pernikahan power couple antara leader Motion13 dan CEO Seraphine Aesthetics yang sudah diumumkan sejak bulan lalu, hari ini adalah puncaknya.Pemberkatan.Ballroom Hotel The Langham pagi itu telah disulap menjadi altar suci yang memadukan kemewahan dan elegan
Seraphie masih mematung, menatap daun pintu kayu itu dengan kekesalan yang melupa. Di samping kakinya, piyama sutra berwarna navy itu tergeletak disana. “Lima menit?” gumam Seraphine, suaranya parau. “Lo bener-bener gila, Samudera.”Seraphine mencoba bergerak. Tetapi denyutan ngilu masih terasa di







