Share

107. Dirawat

Author: Lystania
last update publish date: 2026-10-26 22:15:34
Duduk di kursi belakang bersama Riana, Niken terus meringis kesakitan sambil memegangi perutnya. Beruntung saat itu jalannya tidak macet hingga Azka bisa dengan mudah dan cepat menuju rumah sakit. Sebenarnya klinik Riana letaknya lebih dekat dari pada rumah sakit, tapi ia tidak mau ambil resiko. Ia yakin pasti Niken tidak menyadari kalau sekarang ia sedang hamil dan terancam kehilangan janinnya.

"Azka, cepet dong. Ini Mbak Niken sudah kesakitan," pinta Riana memukul pelan kursi pengemudi.

"I
Lystania

tetap fokus ya dokter Dante

| 10
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
JUANITA 88
babnya d tmbhin dn upnya setiap hari oky thoor
goodnovel comment avatar
Lystania
Dia bidan sih kak He he Dan punya klinik. Tapi supaya lebih prefer aja makanya dibawa ke RS kak
goodnovel comment avatar
carsun18106
duh akbar ngapain ngasih tau skrg, kan ngga pingin dante kepikiran?? udh tau kan dante lg ada operasi besar
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    107. Dirawat

    Duduk di kursi belakang bersama Riana, Niken terus meringis kesakitan sambil memegangi perutnya. Beruntung saat itu jalannya tidak macet hingga Azka bisa dengan mudah dan cepat menuju rumah sakit. Sebenarnya klinik Riana letaknya lebih dekat dari pada rumah sakit, tapi ia tidak mau ambil resiko. Ia yakin pasti Niken tidak menyadari kalau sekarang ia sedang hamil dan terancam kehilangan janinnya. "Azka, cepet dong. Ini Mbak Niken sudah kesakitan," pinta Riana memukul pelan kursi pengemudi. "Ini sudah ngebut banget, Mbak," sahut Azka. Melirik melalui kaca spion, ia jadi ikutan gugup serta khawatir saat melihat ekspresi Niken yang pucat menahan sakit. Hampir lupa menginjak pedal rem, mobil yang Azka kendarai akhirnya sampai juga di rumah sakit. Bergegas ia keluar dari mobil dan menuju ruang IGD minta perawat membawakan brankar keluar. Tidak sampai dua menit, Azka keluar bersama seorang perawat. Dengan dibantu Riana, Niken di baringkan di atas brankar kemudian di bawa masuk ke dalam

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    106. Nyeri Hebat

    Sekitar pukul sembilan, Niken baru saja selesai mandi. Entah kenapa beberapa hari ini ia bangun selalu siang. Namun yang bikin hatinya senang, selalu ada Dante setiap ia membuka mata. “Jam berapa ke rumah sakit, Mas?” tanya Niken keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang menutupi badannya. Sekarang ia sudah mulai terbiasa berganti pakaian saat ada suaminya. Setelah kejadian di hotel itu, rasa percaya diri terhadap tubuhnya semakin tumbuh. Dante tak menjawab. Reflek Niken menoleh saat mendengar suara pintu yang terkunci. Keningnya berkerut saat Dante memamerkan deretan giginya pada Niken, sesaat setelah mengunci pintu kamar. “Kenapa di kunci, Mas?” tanya Niken kemudian mengalihkan pandangannya ke lemari pakaian. Dante semakin mendekat, hingga berakhir berdiri di belakang Niken lantas memeluk istrinya itu. “Kamu sudah rapi lo, Mas. Saya masih … basah,” kata Niken melirik suaminya. Beberapa bagian tubuhnya memang masih basah. “Hari ini jadwal saya padat. Mungkin besok ba

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    105. Sedikit Nyeri

    [Transfer Masuk] [Rp 1xx.xxx.xxx] Notifikasi yang masuk di layar ponsel Niken. Sempat bingung, tapi ia yakin itu adalah kiriman uang dari suaminya. Bergegas ia menghubungi Dante dan mengucapkan terima kasih. "Iya, Sayang," sahut Dante merespon panggilan dari istrinya. Beberapa detik kemudian panggilan itu berubah menjadi panggilan video. Tampak Dante tersenyum lebar menatap Niken, kemudian mencari Evan. "Sini, Evan sayang. Ada Papa," ucap Niken menunjukkan layar ponselnya. Dengan langkah yang belum terlalu seimbang, Evan berlari ke arah Niken yang berada di ujung sofa. Evan mengambil ponsel dari tangan ibunya dan bicara dengan bahasa bayi pada Dante. Sesekali Niken menciumi anaknya yang begitu menggemaskan. Hingga mau tak mau Dante mengakhiri panggilan video itu karena jadwal visit pasien yang sudah mendekati jamnya. "Saya mungkin pulang agak malam, Sayang," ucap Dante memberitahu Niken sebelum mematikan panggilannya. "Gapapa, Mas. Dah," sahut Niken mengumbar senyum. Setelah se

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    104. Kangen Evan

    Berada di dalam selimut putih yang tebal itu, netra Niken terusik karena cahaya matahari yang masuk dari tirai gorden yang Dante buka. Kelopak matanya masih terasa berat untuk terbuka, hingga ia memilih untuk berbalik membelakangi jendela. Dante yang merasakan ada pergerakan dari atas kasur, reflek berbalik. Niatnya yang ingin ke kamar mandi, ia tunda. Pria itu lebih memilih untuk menyapa istrinya terlebih dahulu. “Selamat pagi, Sayang,” sapa Dante ikut masuk ke dalam selimut lantas menarik istrinya lebih dekat. Niken mengulas senyum sembari berbalik– menghadap suaminya dan membalas sapaan Dante barusan. “Apa sih, Mas? Lihatnya kok kaya gitu?” tanya Niken dengan nada menyelidik. Pasalnya tatapan Ayahnya Evan membuat bulu kuduknya merinding. Dante menyeringai, menambah rasa takut Niken. “Cukup ya, Mas,” kata Niken penuh penekanan. Raut wajahnya serius dengan tangan yang menyilang di depan dada. Bagaimana tidak, Niken baru benar-benar tertidur nyenyak menjelang pukul tiga pagi. Seka

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    103. Penuh Gelora

    Menempelkan kartu itu di dekat gagang pintu, perlahan Dante memutar dan mendorong pintu itu hingga terbuka. Niken dibuat takjub saat melihat isi kamar tempat mereka akan menginap. Kamar yang luas dengan tempat peraduan berukuran sangat besar. Tanpa sadar kaki Niken melangkah maju lebih dulu– masuk ke dalam memperhatikan setiap furniture yang ada di dalam. Langkahnya semakin dalam hingga ia sampai di depan gorden besar berwarna gold. “Keren banget sih,” gumam Niken saat menyingkap gorden di depannya dan melihat langsung pemandangan ibukota dari ketinggian. Dari arah belakang, Dante perlahan berjalan mendekat dan melingkari pinggang istrinya. “M–mas,” ucap Niken terbata-bata. Dante hanya berdehem sambil meletakkan kepalanya di ceruk leher istrinya. Rasa bahagia menyelimuti hati pria itu saat ini. Kebahagiaan yang sempat hilang karena pengkhianatan Agatha. Meski begitu ia masih beruntung bisa dengan cepat menemukan kebahagiaan lain bersama Niken. "Makasih ya, Sayang," gumam Dante me

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    102. Masih Malam Minggu

    Mobil yang Dante kemudikan memasuki halaman parkir salah satu hotel berbintang yang ada di ibukota. Dari tempatnya duduk, Netra Niken melirik ke kiri kanan– memperhatikan sekitar. Banyak mobil mewah yang terparkir rapi di sana. Ia jadi takut sendiri dengan omongan Dante tadi. “Kalau gak pulang, lalu mau ngapain disini,” pikirannya berkecamuk. Setelah memarkirkan mobilnya, Dante mengajak Niken keluar dari parkiran. Mereka berjalan kaki ke salah satu mall yang berada sangat dekat dengan hotel tempat mereka parkir tadi. “Kenapa gak parkir di mallnya langsung sih, Mas?” tanya Niken menggandeng lengan Dante karena jalanan saat itu cukup padat. Pria itu hanya tertawa kecil– tak menjawab. Setibanya di mall, mereka berjalan menyusuri sederetan gerai dengan brand ternama. Naik ke lantai dua, langkah Dante berbelok ke salah satu gerai pakaian. Otomatis Niken mengikuti kemana suaminya melangkah. “Pilih …” kata Dante dengan dagu yang menunjukkan ke arah pakaian yang terdisplay. “Baj

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    7. Ditinggal Pergi

    Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    6. Ponsel Baru

    Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    5. CCTV Baru

    Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    4. Melihat Isi Baju

    “Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status