Share

Bab 5

Author: bucinyarukher
last update publish date: 2026-05-24 05:36:53

Seulas senyum di bibir Alan terbit menatap wajah teduh Karen yang masih terlelap disampingnya. Sebuah kecupan Alan layangkan tepat disana, di bibir Karen yang tipis dan menggoda. Karen tarik tubuh Alan dalam dekapannya, menyadarkan Alan bahwa ia itu telah bangun dari tadi dan hanya pura-pura tidur. Matahari kian merangkak keatas. Debaran jantung kian berpacu. Terpaut dengan cumbu yang sangat candu. Baik Alan maupun Karen enggan untuk beranjak, aktivitas malam mereka rasa belum tuntas. Sayangnya Kevin tiba saja hadir diantara mereka dan menggeret tubuh Alan keluar kamar. Teriakan frustasi Karen yang melerainya pun tidak Kevin hiraukan.

"Jauhi Karen!" bentak Kevin singkat dan saat Alan akan bertanya apa alasannya, pintu apartemen dihadapannya langsung tertutup rapat dan tidak pernah terbuka lagi untuknya.

Jalinan kasih sesaat antara Alan dan Karen yang ditentang berbagai pihak itu namun mampu mengoyak hidup Alan. Dirinya sempat memakai narkoba untuk bisa melupakan Karen. Jika saja Farel tidak memaksanya untuk melakukan rehabilitas, mungkin karier Alan sudah hancur akibat jadi pecandu.

Sekilas memori itu mengikat Alan, membuatnya gelisah hingga menjaga jarak dari Kevin yang kini duduk berseberangan dengannya. Kehadiran Farel diantara mereka membuat Alan makin canggung. Apalagi istri Kevin yang bernama Tika, tiba-tiba memeluknya dan menyodorkan sebuah buku dan bulpoin meminta tanda tangan.

"Tenyata malam itu Kak Alan! Astaga, mimpi apa aku Tuhan." gumam Tika kegirangan. Dia tidak menyangka bisa bertemu langsung dengan Alan di dunia nyata. Bukan di dunia imajinya bersama Alan beberapa tahun belakangan ini.

Pertama kali masuk ke dalam rumah Kevin, Mutia dibikin meradang karena mengira mendiang Karen lah yang memajang poster Alan dengan berbagai pose di dinding rumahnya. Ternyata semua itu ulah Tika, istri Kevin yang ternyata seorang Alanisme.

Tika sendiri berharap dengan memajang foto Alan, maka bayi laki-laki yang ada dalam kandungannya bisa setampan dan sesempurna Alan yang merupakan publik figur terpopuler di negara ini. Tika sangat antusias menceritakan bagaimana awal mula ia mengidolakan seorang Alan, ketika seharusnya mereka membahas foto asal jepret dirinya bersama Alan yang dijadikan santapan awak media.

Farel yang lega dengan kondisi ini memutuskan untuk terus mendengarkan Tika berceloteh. Sedang Mutia malah fokus mengamati Alan dan Kevin yang saling melempar tatap dalam diam.

"Sebaiknya kami segera kembali. Nona Tika pasti perlu beristirahat dan Alan setelah ini ada jadwal syuting. Jadi lain kali kami akan kemari lagi, mohon maaf tidak bisa berlama - lama." potong Mutia untuk memberi kode agar segera pulang.

Farel pun menyodorkan amplop cokelat berlogo merpati yang sudah disiapkan oleh manajemen sebagai kompensasi. Kevin dan Tika sepakat untuk tidak menerimanya. Tapi Tika mengajukan syarat lain yang membuat kepala Mutia hampir pecah.

"Luangkan waktu Kak Alan setiap Minggu untuk menemaniku sampai melahirkan." Raut wajah penuh harap Tika sangat terlihat meski Kevin terlihat tidak senang dengan permintaan istrinya itu.

Alan pasti sangat senang bisa sering bertemu dengan Kevin kembali, dan mereka bisa membahas banyak hal tentang mendiang Karen. Itulah yang ada di kepala Mutia saat Alan tidak mempermasalahkan persyaratan tersebut. Di hari pertemuan itu, Kevin juga tidak banyak bicara, menyebabkan Mutia makin overthinking dengan menebak apa kira - kira isi kepala dari kakak mantan kekasih suaminya itu.

****

Saat Alan kembali membuka mata. Air bathtub tempat dia berendam hingga tertidur sudah hilang. Yang berada dihadapannya hanya ada Mutia. Wanita itu tanpa ekspresi tengah mengeringkan tubuh polosnya dengan handuk. Alan terdiam mengawasi semua yang Mutia lakukan hingga bagaimana kemudian wanita itu dengan telaten memasangkan pakaian tidur di tubuhnya.

Ketika mata mereka bertemu, tangan Alan reflek meraih dagu Mutia. Sebenarnya Alan tidak tau untuk apa dia melakukan itu. Dia hanya menuruti nalurinya. Ada sebuah kesepian yang tak terjawab. Sedih dan putus asa. Kenangan akan Karen membuat tubuhnya lunglai tak berdaya.

Plakkkk! Plakkkk! Plakkkk!

Tiga buah tamparan beruntun yang malah Alan dapatkan dari Mutia. Padahal menurut Alan, seharusnya Mutia senang dengan apa yang ia lakukan. Tanpa kata, Mutia segera melangkah menjauh meninggalkannya begitu saja.

****

Di sudut kamar mandi di ruang sebelah kini Mutia berada. Dia terduduk menyandar dinding dengan air kran terus mengalir membahasi tubuhnya. Air matanya entah mengapa tidak berhenti menetes. Seharusnya ia senang Alan menciumnya terlebih dahulu. Ini pertama kalinya Alan melakukan itu. Biasanya semua Mutia yang melakukan untuk pertama kali.

Mutia yang biasanya mencium Alan duluan meski Alan enggan. Mutia bahkan tidak menuntut Alan untuk bercumbu dengannya. Mutia mencoba memahami itu. Setiap malam ketika ia dan Alan tidur bersama di atas ranjang yang sama. Mereka terus saling bersingkuran untuk bermain dengan pikiran masing - masing. Sesekali ia tidur memeluk tubuh Alan. Kadangkala mereka berpisah kamar setelah bertengkar hebat. Hanya itu saja yang mereka lakukan.

Hati Mutia terasa di remas. Apa yang Alan lakukan dengan menciumnya secara intens, Mutia yakin bukan untuknya. Bayangan Karen terus menghantui dirinya, mengoyak harga diri Mutia sebagai seorang istri. Perutnya jadi terasa begitu mual. Ciuman Alan barusan menjadi sangat menjijikan bagai sebuah kotoran yang hinggap di bibirnya.

Mutia siram bekas muntahannya sembari menguyur tubuhnya sendiri yang masih berpakaian lengkap. Rasa cemburu ini begitu menyiksanya. Dia sudah tidak sanggup bertahan di sisi Alan. Akan tetapi dia juga tidak sanggup hidup tanpa Alan. Ditengah dilema yang melandanya, ponsel Mutia di atas wastafel terus berdering. Walau basah kuyup, ia paksa dirinya sendiri untuk berdiri. Ketika sudah berdiri tegak, Mutia amati pantulan dirinya di cermin wastafel sudah tidak karuan dan terlihat ada nama Kevin memenuhi layar ponselnya. Tidak membuang waktu, Mutia langsung menjawab telepon itu.

"Bisa kita bertemu, nona?" kata tanya yang diluncurkan suara bariton di seberang sana.

Mutia bingung, tidak tau harus menjawab apa. Ajakan itu menjadi sebuah peluang yang bisa mengubah atau memperparah hatinya. Meski begitu ia harus terus mencobanya. Ada sesuatu di antara dirinya dan Alan yang patut ia perjuangkan hingga akhir.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PUDAR   Bab 83

    Setelah menganti popok dan memasang kembali celana pada bagian bawah tubuh bayi mungilnya. Mutia meratakan bedak tabur di wajah Micheal yang menggeliat dengan mata berbinar. Senyum Mutia seketika mengembang dibuatnya. Saat Mutia kemudian menimang Micheal agar bayinya itu segera tidur, Bita yang merasa tidak enak karena sedari tadi tidak melakukan apapun, menegur Mutia agar memberinya perintah. "Apa ada yang bisa saya bantu atau kerjakan nyonya?" "Tidak ada, kamu istirahat saja." Mutia timang Micheal sembari mengelitik dada mungilnya sampai bayinya itu mengeluarkan suara tawa. Karena usaha Mutia untuk menidurkannya belum berefek sama sekali. Bita tidak berpaling sedikit pun dari posisinya. "Tapi sudah seharian saya tidak ngapa - ngapain nyonya. Mohon beri saya perintah." Jam digital di dinding menampilkan angka pendek di 6 dan angka panjang di 12. Mutia rasa sudah saatnya makan malam, tapi masalahnya cadangan b

  • PUDAR   Bab 82

    Ibu Puni Astutik menjentikan jemarinya. Seketika makanan lezat yang menggugah indera perasa berdatangan. Tapi Farel malah mengajak Alan bergosip ditengah semua kenikmatan ini dengan berbisik, "Kamu tau nggak, Lan? Kata anak - anak. Bu Prista sama Pak Yuda itu dulu pernah pacaran. Setelah putus dan menikah dengan pasangan masing - masing, mereka malah jadi saingan bisnis sampai hari ini."Alan memotong steak di hadapannya dengan penuh penekanan. Hal ini memperingati Farel untuk menghentikan ocehannya sebab ia rasa Alan tidak dalam mood yang baik setelah kesepakatan besaran saham Swana Ghama yang ingin Alan beli dipertimbangkan kembali oleh Ibu Puni Astutik.Disamping Alan, Renata senyam senyum tak karuan. Ia masih belum terbiasa menyembunyikan rasa senangnya. Menjadi fashion stylist Alan di acara seperti Paris Fashion Show memang bukan impiannya. Tapi visual Alan yang menarik hatinya membuat dirinya kegirangan entah mengapa. Renata akui sempat patah hati k

  • PUDAR   Bab 81

    Saat Alan dan Farel baru sampai di gedung Starblue Management, Pak Yuda dengan sumringah menyambut mereka didepan pintu. Tampaknya kehadiran Alan sudah ia nanti sedari tadi. Rolls Royce Limosin berwarna black metal tiba saja mendarat mulus tepat dibelakang mobil Farel, dengan segera ia pindahkan mobilnya menuju parkiran dalam gedung Starblue Managerment. Pak Yuda ajak Alan terlebih dahulu masuk kedalam limosin yang entah milik siapa itu. Farel menyusul masuk juga kemudian dengan tergopoh. Rolls Royce Limosin warna black metal itu membawa mereka ke sebuah private studio bertulis Swana Ghama. Alan seperti tidak asing dengan tempat ini. Ketika Pak Yuda berpelukan dengan seorang wanita yang dikenal sebagai mantan menteri perikanan dan kelautan dari kabinet sebelumnya yakni Ibu Puni Astutik. Alan dan Farel saling pandang menerka apa yang telah di rencanakan oleh Pak Yuda dibelakang mereka. "Ini Alan Ryan, bintang utama kami.

  • PUDAR   Bab 80

    Dito meremas tangannya sendiri saat Rano Karno tetap tak mengindahkan permintaannya untuk mendepak Adiyana dari proyek pembangunan baru gedung walikota. Tentunya proyek yang sudah berjalan dan draft pengesahan menjadi alasan Adiyana untuk dipertahankan. Seperti sebuah teka - teki bagaimana perusahaan Adiyana yang sering mengalami inflasi malah menghasilkan benefit dan makin berkembang. Dito tidak habis pikir bagaimana anak buahnya tidak mampu menemukan bukti apapun perihal kejanggalan ini. Dito yakin Kevin pasti tau jawabannya dibalik pertanyaan bagaimana seorang Adiyana bisa mencapai itu. Tapi Dito enggan menanyai Kevin yang pasti bungkam. Kevin sendiri telah menyatakan masih akan berpihak pada Adiyana walau ia telah mengadopsinya sebagai anak. Sebelum jamuan di istana Presiden berakhir, Dito biarkan Tary mengendap-endap untuk masuk ke dalam mobil Adiyana. Ada rasa menggelitik di dada Dito menebak jika Tary mungkin tidak tau ia masih mengamatinya. Tary m

  • PUDAR   Bab 79

    Tiada pilihan lain bagi Farel selain mengajak Alan minum beberapa gelas coktail di Sunrise Bar. Sebenarnya Farel enggan, tapi melihat tatapan kosong yang Alan lemparkan padanya membuat Farel mengajaknya untuk duduk manis di salah satu kursi di bar ini. "Kamu nggak mau cerita tapi begong begini. Astaga Lan." Farel bergidik sembari menatap ke sekeliling. Alan tertunduk dengan jemari mengetuk - ngetuk meja. Didetik berikutnya Alan menegak sebotol whisky hingga isinya tinggal separuh dan lanjut mengikuti dentuman musik yang dimainkan DJ. Ia akhirnya memilih bergabung dengan yang artis lainnya —yang sedang menikmati akhir malam disana —untuk menari di tengah bar. Farel ikut bangkit. Bukan untuk ikut menari seperti Alan, tapi untuk mengeret Alan keluar dari bar. Dengan sekali tamparan yang cukup keras, Farel ingin Alan sadar. "Kalau kamu tetep begini, aku tinggal." Farel lirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Sorry, Lan. Ini

  • PUDAR   Bab 78

    Walau mereka hidup bersama, Mutia sadar jika Alan hidup di dunia yang berbeda. Bahkan setelah mengetahui rahasia dibalik keputusan Karen memilih bunuh diri pun, Alan enggak membahas apapun padanya. Suaminya itu hanya terlihat lebih murung dan makin menutup diri. Untung saja kehadiran Micheal memberi semangat lain bagi Mutia untuk tetap bertahan. "Anak pintar, ayo sama Mama." Mutia raih Micheal dari kedua tangan Alan. Tangan lentiknya dengan telaten menyuapi bayi mungilnya ini. Saat para pembantu yang disewa hanya untuk membersihkan rumah Alan berpamitan pulang. Mutia dan Alan yang tengah duduk di depan kolam renang tersenyum ramah dengan anggukan untuk mempersilahkan mereka pulang. Alan yang sudah menggunakan setelan jas warna navy menggoyangkan jemari - jemarinya untuk sedikit bermain air sembari menatap Micheal yang lahap menelan bubur yang Mutia suapkan. Walau i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status