Mag-log inTeringat jelas saat Kevin mengucapkan, "Selamat malam, nona. Terima kasih sudah mau menunggu." sebagai kalimat pembuka obrolan dengan Mutia. Setelan seragam Cafe Oliver yang biasa saja terlihat sangat stylish di tubuh kekar Kevin. Senyum tipisnya mempertegas garis rahang yang menawan. Mutia akui, dengan tampang seperti ini keberadaan Kevin sulit untuk diabaikan.
"Perkenalkan, saya—" "Berita pernikahan Alan ada dimana - mana. Mustahil saya tidak tahu siapa nama nona." sergahnya cepat, menghentikan Mutia memperkenalkan diri. "Langsung pada intinya. Apa yang nona ingin sampaikan sampai menemuiku kemari?" "Saya turut berduka cita atas meninggalnya Karen, tapi saya mohon mulai sekarang tolong anda jauhi Alan dan jauhkan pula seluruh kenangan tentang Karen dari hidupnya." Dan sebelum Kevin berhasil membalas apa yang Mutia ucapkan. Mutia meraih ponsel Kevin, mengetikan nomer ponselnya disana dan melakukan sekali panggilan agar nomer pria itu ada dalam radarnya yang ia lakukan. Setelah itu ia memutuskan pergi begitu saja tanpa berpamitan. Rasa sesak dihatinya sungguh tidak bisa ia kendalikan. Dipertemuan kali ini, Mutia merutuki tindakannya pada Kevin yang tidak sopan saat mengingat kejadian enam bulan lalu itu. Sedang Kevin terlihat biasa saja, secangkir expresso yang malah ia sodorkan pada Mutia untuk di minum. "Ada apa anda mengajak saya bertemu?" tanya Mutia seusai menyesap secangkir expresso yang Kevin berikan. Starbucks sore itu tidak begitu ramai. Malahan hanya ada dia dan Kevin yang terlihat memenuhi kursi pengunjung di lantai dua. "Saya harap kita bisa bekerjasama nona. saya tidak ingin Tika mengetahui apa yang pernah terjadi di antara adik saya Karen dan Alan. Sampai Tika melahirkan saja, saya mohon!" tangan Kevin meraih tangan Mutia, mengeggamnya dengan penuh belas kasih agar Mutia mau mengerti. "Tenang saja, saya tidak sejahat itu. Disini Tika tidak bersalah dan saya pastikan dia tidak akan tau apapun tentang masalah diantara kita dimasa lalu apalagi yang menyakut tentang Alan dan Karen." Kevin tersenyum lega mendengar penuturan Mutia. Sedang Mutia memang tidak mempermasalahkan apapun. Dia akan mentoleransi segalanya selagi Kevin tidak berpikir untuk membahas apapun tentang Karen dihadapan Alan. **** Di tempat yang berbeda. Terlihat Alan sedang berjalan santai bersama Tika di taman kota. Sembari mengunakan hodie dan masker andalan, Alan nampak antusias berbincang bersama Tika. "Sudah lama kah kamu tinggal di rumah itu?" "Tidak lama, baru setahun sejak kami menikah kak. Sebelumnya aku tinggal dengan orang tua angkatku, sedangkan Kevin tinggal bersama adiknya yang bernama Karen di apartemen mereka." "Ah, bagaimana bisa kamu mengenal suamimu? Cinta romansa sejak masa sekolah kah kalian?" "Cinta kami tidak seromantis novel roman kak. Aku mengenal Kevin lewat Karen, saat itu mereka berdua baru masuk di panti asuhan tempatku tinggal. Kevin sangat pendiam, dan saat itu Karen lah yang membuatku bisa dekat dengan kakaknya itu." "Ah jadi kamu, suamimu, dan adik suamimu itu berasal dari panti asuhan yang sama?" tanya Alan memastikan. Sebelumnya Alan sudah banyak mengorek latar belakang Karen dan Kevin lewat orang suruhannya. Namun teka teki asal usul Karen dan Kevin belum sepenuhnya ia dapatkan. Pada kesempatan ini, Alan perlu segera mendapatkan jawabannya. "Iya, kami bertiga tumbuh bersama disana. Sayang sekali, Karen pergi meninggalkan kami terlebih dahulu. Tapi Kevin bukan orang yang pantang menyerah, dia memilih bangkit dan tetap menjagaku sebagai istrinya. Lebih dari itu, dia sangat tampan. Bagiku mendapatkan Kevin setimpal untuk menggantikan Kak Alan." terang Tika dengan jujur. Tika masih ingat bagaimana kemewahan prosesi pernikahan Alan yang disiarkan di seluruh stasiun televisi lokal. Kala itu ia merasa iri dan sangat kecewa melihat Alan menikahi wanita biasa saja dari kalangan non seleb. Apalagi wanita bernama Mutia Karina itu hanyalah staf agensi managemen Alan. Tika rasa hal ini sungguh tidak adil bagi dirinya dan para Alanisme yang tidak diberi kesempatan yang sama untuk memenangkan hati Alan. Namun saat Kevin tiba saja datang membawa kue nastar kesukaanya di toples dan menganggunya menonton acara tersebut. Tika menyadari betapa worth it-nya mendapatkan Kevin timbang meratapi Alan—sang superstar yang tidak mungkin bisa ia raih. "Kamu beruntung masih bisa hidup bersama dengan orang yang kamu cintai." gumam Alan mengalihkan atensi Tika. Dahi Tika langsung mengerut dibuatnya, "maksud Kak Alan?" "Ah, maksudku sepertinya suamimu itu orang yang baik. Jadi kamu beruntung bisa memiliki lelaki seperti dia." "Benar, aku sungguh seberuntung itu bisa memiliki Kevin. Tapi sekarang aku juga merasa lebih beruntung bisa berjalan bersama Kak Alan seperti ini." Tika tersenyum lebar, kelip matanya seperti tak memiliki beban. Melihat ada kursi taman yang barusan kosong dari kejauhan, Alan dengan spontan mengendong Tika dan membopongnya untuk segara duduk disana. Semburat merah tentu langsung memenuhi wajah Tika. Sungguh Tika sangat terharu dengan apa yang Alan lakukan. Bayi yang ada dalam kandungan terasa menendang dari dalam perut, ikut merasakan kegembiraan yang tengah ia rasakan. "Ku tinggal sebentar ya! Aku mau beli minum, kamu pasti haus." Alan buru-buru pergi setelah mendudukan Tika dengan nyaman di kursi taman yang kosong. Tatapan Tika yang fokus mengamati kepergian Alan kemudian teralihkan oleh ponselnya yang bergetar, panggilan dari Kevin dengan nama My Hubby terlihat memenuhi layar ponselnya. Meski panik, Tika tetap memilih menjawab telepon tersebut. "Kamu dimana honey? Mbok Ina chat aku bilang kamu gak ada di rumah." tanya suara bariton di ujung sana. "Aku.. aku di taman kota sama Kak Alan. Dia tadi ngajak aku jalan - jalan berdua saja. Maaf aku gak minta izin kamu dulu, soalnya Kak Alan nggak ngebolehin aku ngasih tau siapapun." jawab Tika jujur. Dia tidak mau berbohong pada Kevin apapun alasannya meski Alan telah meminta agar dia tidak memberitahu siapapun. "Iya, gak apa, honey. Hati-hati ya, kalau sudah mau pulang kabari. Aku pasti akan jemput kamu." pungkas Kevin. Mutia yang ada disamping Kevin kini memberengut mengetahui apa yang sedang Alan lakukan sekarang. Buru - buru ia pamit untuk meninggalkan Kevin demi menyusul Alan dan Tika. Tebakannya, pasti Alan sedang menyusun rencana agar bisa mengorek informasi tentang Karen melalui Tika. Saat Mutia sampai di taman kota, ternyata hanya ada Tika duduk sendirian di kursi panjang dekat ayunan. Mendapati kehadiran Mutia disana, Tika merasa kelimpungan. "Alan mana ya, bukannya tadi sama kamu?" tanya Mutia, matanya menjelajah seisi taman yang mulai lenggang. "Udah setengah jam dia belum balik kak, tadi katanya beli minum." jelas Tika. "Kakak kenapa bisa tau kak Alan bersamaku?” imbuh Tika menjawab pertanyaannya sendiri “Ah pasti Kak Alan izin dulu ke Kakak waktu mau ketemu aku.” Tidak menghiraukan Tika yang bermonolog. Mutia berinisiatif mencari Alan ke minimarket terdekat dan sesuai dugaannya, kini Alan terjebak disana. Puluhan fans Alan tengah mengerumuninya. Mutia hanya bisa tertawa, apalagi saat melihat wajah memelas Alan agar diselamatkan. Yang Mutia lakukan malah menelepon Tika. Mengabari wanita itu untuk menghubungi suaminya agar pulang saja sebab Alan tidak mungkin kembali ke taman karena terjebak oleh para fansnya di dalam minimarket. Selanjutnya, Mutia ikutan pergi. Dia ingin ke salon untuk facial dan massage. Teriakan Alan memanggil namanya tidak ia hiraukan lagi. Mutia ingin pria itu merasakan balasan dari apa yang coba ia lakukan."Aku mohon, berhentilah mencintaiku." Itulah yang Kevin ucapkan setelah berhasil mengintimidasi Yu Fie dengan membentuk posisi intim seperti itu. Belum sempat ia membuka mulutnya, Kevin kembali melanjutkan ucapannya. "Aku minta maaf telah membuatmu jatuh cinta. Aku sudah mencintai wanita lain dan sampai kapanpun aku hanya akan menganggapmu teman dekat, seorang teman yang sangat pintar yang dapat aku andalkan." Jantung Yu Fie yang tadi berdetak cukup kencang kini seakan diremas dan disayat disaat yang bersamaan. "Mantan istrimu tadi sudah menikah lagi, bukan?! Mengapa kamu belum bisa move on dan berusaha memasukan diriku dalam hatimu?! Aku masih muda, aku cantik, aku sangat pintar dan keluargaku orang yang sangat berkecukupan. Tidak bisakah salah satu dari kelebihanku itu membuatmu berpaling?!" Mendengar balasan Yu Fie yang seakan tetap memaksakan perasaannya tuk terbalas, salah satu tangan Kevin meraih gagang pintu untuk membukanya makin lebar. Ia segera mendorong paksa tubuh Yu F
Suasana masih canggung, tapi Kevin yang telah kembali mengenakan celana selutut meski masih bertelanjang dada beralih mempersilahkan Yu Fie untuk duduk di kursi ruang tamu apartemennya. Tak menghiraukan Yu Fie memilih duduk disebelah mana, Kevin berjalan menuju kulkas untuk mengambil sebotol orange jus yang kemudian ia taruh tepat diatas meja didepan Yu Fie. Setelah itu saat Kevin hendak kembali ke dapur untuk mengambil makanan yang diberikan Tika yang tadi ditaruh diatas meja, Yu Fie memberanikan diri menahan tangan Kevin agar lelaki itu tak pergi. "Hans, kamu duduk dulu, kita perlu bicara!" Meski agak terbata dalam mengucapkan bahasa Indonesia, Yu Fie kembali berkata, "Tolong jelaskan! Dia bukan kakakmu, kenapa kamu membohongi kami, Hans. Apa karena kami mencintaimu?" "Bukan seperti itu. Baiklah, yang pertama yang perlu ku jelaskan. Seperti yang kamu tau jika nama lengkapku Micheal Kevin, namun panggilanku Kevin bukan Hans. Usiaku 30 tahun, bukan 21 tahun. Wanita bernama Tik
Padahal Tika sudah berkeliaran kesana kemari, namun jam di ponselnya masih menunjuk pukul 1 siang. Mau tak mau Tika harus pulang sebab ia tak tau meski kemana lagi untuk menghindari Kevin. Sampai di unit apartemennya, suasana sepi menyambut. Ia taruh kantung belanjaan di dapur terlebih dahulu sebelum mencari keberadaan Asta. Saat kemudian menengok ke dalam kamar, terlihat Kevin tengah tiduran untuk menemani Asta tidur. Kehadirannya yang tepat berada diambang pintu pun menyadarkan Kevin untuk segara bangkit. "Asta sudah makan sebelum aku menimangnya untuk tidur." ucap Kevin kemudian melangkah pergi untuk kembali ke unit apartemennya sendiri. "Kalau begitu aku pamit." Tika menuju ke meja makan untuk memeriksa porsi makanan yang telah ia siapkan tadi, ternyata Kevin tidak menyentuhnya sama sekali. Hanya terambil sedikit untuk digunakan menyuapi Asta. Tak enak hati. Ia bungkuskan capjay beserta nasi dan laku pauknya ke dalam sterofoam. Wadah ini bisa langsung Kevin buang dan tidak aka
6 JAM SEBELUMNYA Hari ini Kevin sebenarnya ada jadwal tiga kelas yang harus dihadiri, tapi melihat Mario berangkat lebih awal, ia putuskan untuk bolos demi bisa menghabiskan waktu bersama Asta sang putri kecilnya. "Hai Asta, Om Hans bawakan boneka." Kevin ulurkan boneka beruang dengan kantung kecil diperut bagai Doraemon. Asta menerimanya dengan penuh senyuman. Pelukan pun ia layangkan pada Kevin berikutnya. Tak ingin melepas pelukan itu, Kevin gendong tubuh Asta dan mengajaknya bermain bersama boneka beruang yang kini dipegangnya. Tika yang sedang masak berjalan kearah ruang tamu sebentar untuk memastikan bahwa Kevin lah yang saat ini tetap bermain bersama Asta. "Kamu masih disini memang nggak ada kelas?" "Tidak ada." bohong Kevin agar pertanyaan tak semakin panjang. Karena Asta tidak rewel dengan ayahnya sendiri, Tika kembali ke
Kevin menikmati perannya sebagai Hans. Seorang mahasiswa jalur mandiri di NTU asal Jakarta yang menyewa unit apartemen di sebelah unit milik Mario. Kacamata minus dua yang Kevin pakai agak membuatnya pusing. Namun terlihat rapi dan menawan yang ia dapatkan ketika mengamati dirinya sendiri di depan cermin. Awalnya Kevin takut bila Mario mengenalinya saat mereka tak sengaja berpapasan. Namun sepertinya make over yang dilakukan Tika sangat efektif. Tidak hanya Mario, seluruh teman angkatannya mengira bahwa Kevin masih berumur dua puluhan awal. Walau begitu, Kevin tetap berusaha untuk tidak berpapasan maupun berinteraksi dengan Mario. Di waktu senggang, Kevin selalu menyempatkan diri untuk bermain dengan Asta. Putri kecilnya itu bahkan sudah pandai berbicara kata dasar seperti memanggil nama orang, mengucapkan kata tidur, makan dan berbagai kata random lain yang selalu membuat Kevin tertawa saat mendengarnya. Meski demikian, sayangnya Kevin hanya bisa dipa
Setelah menganti popok dan memasang kembali celana pada bagian bawah tubuh bayi mungilnya. Mutia meratakan bedak tabur di wajah Micheal yang menggeliat dengan mata berbinar. Senyum Mutia seketika mengembang dibuatnya. Saat Mutia kemudian menimang Micheal agar bayinya itu segera tidur, Bita yang merasa tidak enak karena sedari tadi tidak melakukan apapun, menegur Mutia agar memberinya perintah. "Apa ada yang bisa saya bantu atau kerjakan nyonya?" "Tidak ada, kamu istirahat saja." Mutia timang Micheal sembari mengelitik dada mungilnya sampai bayinya itu mengeluarkan suara tawa. Karena usaha Mutia untuk menidurkannya belum berefek sama sekali. Bita tidak berpaling sedikit pun dari posisinya. "Tapi sudah seharian saya tidak ngapa - ngapain nyonya. Mohon beri saya perintah." Jam digital di dinding menampilkan angka pendek di 6 dan angka panjang di 12. Mutia rasa sudah saatnya makan malam, tapi masalahnya cadangan b







