Share

Bab 7

Author: bucinyarukher
last update publish date: 2026-07-07 00:01:18

Malam ini berbeda dengan malam kemarin dan bahkan sebelumnya belum pernah terjadi, dimana Alan tiba-tiba berinisiatif memasakan makan malam untuk Mutia. Walau Mutia heran dengan perilaku tidak biasa suaminya, ia lahap sampai habis capcay sosis yang disajikan.

"Ada yang ingin aku bicaran..." mulut Mutia yang masih sibuk mengunyah membentuk seulas senyum tipis mendengar ucapan Alan barusan. Sudah ia duga, pasti Alan ada maunya.

"...ini tentang Tika, aku..." Alan nampak ragu ingin mengucapkan kalimat dalam otaknya, "kamu mau ngajak dia dan Kevin tinggal bareng kita disini, gitu?" lanjut Mutia yang mudah menebak alur berpikir suaminya itu.

Mata Alan membulat sempurna, didetik berikutnya ia hanya mampu memohon pada Mutia, "Boleh ya Tia, ku mohon! Tidak ada maksud lain, ini ku lakukan murni untuk kompensasi atas apa yang sudah ku perbuat sampai foto Tika tersebar dimana-mana. Kamu juga tau penghasilan Kevin tidak seberapa, dan rumah mereka masih kredit. Meski mereka punya pembantu tapi ga bisa full menjaga Tika, karena dia hanya part time disana. Setidaknya disini meski kita tidak punya pembantu, kita bisa turun tangan langsung untuk bergantian menjaga Tika sampai dia melahirkan."

"Kenapa kamu tidak membeli rumah dan menghadiahkannya untuk mereka? Itu malah lebih baik, sebab mereka bisa hemat uang dan menyewa pembantu full time untuk menemani Tika." seloroh asal Mutia menahan amarah.

"Ide yang bagus, kalau begitu besok aku hubungi agent buat beli rumah kosong di samping rumah kita ini untuk mereka." ujar Alan penuh antusias, segera ia hubungi nomer agen perumahan Glory Kencana, komplek dimana mereka tinggal. Hal ini cukup membuat kepala Mutia pening hingga ia harus minum obat tidur untuk melawan kantuk yang tidak datang dalam beberapa malam kedepan.

Seminggu kemudian, saat kunci rumah sebelah sudah di tangan Alan. Dengan setelan jas dan dandanan bak supermodel yang akan melenggang di atas catwalk, Alan bersama arogansinya menyodorkan sertifikat rumah itu kepada Tika. Mutia tau tindakan ini sama dengan menjatuhkan harga diri Kevin sebagai kepala rumah tangga, dan motif Alan membalaskan dendamnya sangat ketara.

"Maaf, ini terlalu besar buat aku, Kak." cicit Tika menolak secara halus, "Terima kasih banyak Kak Alan udah respect banget sama aku dan Kevin, tapi kehadiran Kak Alan dihidupku udah cukup." isak tangis Tika memenuhi ruangan, ia tidak menyangka akan diperlakukan dengan begitu spesial oleh sang idola.

Hampir setengah jam, dan entah tisu keberapa yang sudah Tika ambil untuk mengelap air matanya. Pelukan Kevin disertai belaian halus dikepalanya untuk menenangkan wanita dengan kuncir cepol itu sudah tidak mempan. Update status di kanal fanbase Alanisme yang malah Tika lakukan untuk meng-share pengalaman mengharukannya barusan. Ribuan like dan komen langsung bermunculan tanpa henti, menjadikan tagar #AlanGreenflag trending topik di aplikasi X.

Di kursi seberang, muka Alan terlihat kusut. Luntur harga dirinya dengan penolakan yang tidak pernah ia prediksi. Sebenarnya Mutia juga sangat tidak nyaman dengan semua ini, namun rasa geli dan lega kini bercampur aduk. Dia sangat salut dengan prinsip Kevin dan Tika, ia rasa Alan lah yang harus melepaskan dendamnya dan merelakan semua yang telah terjadi.

Sudah bisa ditebak, Alan jadi terlihat murung sepulang dari rumah Kevin. Meski tidak mengatakan apapun Mutia tau betapa hancurnya hati Alan saat ini. Apalagi saat dua vodka dihabiskan Alan sendirian sembari duduk dipinggir kolam renang. Mutia hanya terdiam mengamati Alan dari ruang tengah, sembari menscroll laman website fansbase Alanisme yang dikelolanya secara anonim.

Lebih dari seminggu berlalu, namun Alan masih tetap mengurung diri di kamar. Mutia sampai harus tidur di ruang tamu seperti halnya saat mereka bertengkar. Menghadiri jadwal syuting rutin atau sekedar menemui Tika sesuai jadwal yang telah disepakati, selebihnya waktu pria itu hanya dihabiskan dengan mabuk - mabukan. Melihat kondisi Alan terus seperti itu, Mutia jadi lebih intropeksi diri untuk tidak memaksakan perasaannya.

Disaat ajang bergengsi, Indonesia Entertainment Award 2022 diselenggarakan. Banyak artis ternama yang datang seperti Laura Basuki, Angga Yunanda, Reza Rahardian, dan masih banyak lagi. Artis senior seperti Lukman Sardi, Mathias Muchus, dan Jamal Mirdad yang juga terlihat hadir kebetulan berpapasan dengan Alan dan Mutia yang baru saja datang.

"Istrimu cantik sekali," puji Lukman Sardi pada Mutia yang kini terbalut dengan dress hitam selutut. Alan hanya tersenyum sebagai balasan.

Terlihat pula sutradara terkenal seperti Hanung Bramantyo, dan Angga Dwimas Sasongko juga hadir. Mereka berdua berebut duduk didekat Alan, untuk menawari Alan bergabung diprojek terbaru mereka tentunya. Kirana Larasi yang ntah datang darimana tiba - tiba saja memilih duduk disamping Mutia, tiada percakapan diantara mereka hingga Jirayut dan Halda Rianta mengisi podium MC membacakan nominasi utama untuk kategori aktor terpopuler tahun ini.

Dilayar utama kini terpampang foto para nominasi utama untuk kategori aktor terpopuler Indonesia Entertainment Award 2022. Tahun ini Alan bersaing ketat dengan Reza Rahardian, Angga Yunanda, dan Jefri Nichol. Mutia menautkan kedua tangannya memohon kemenangan untuk Alan. Meski ia tidak yakin Alan menang tahun ini dengan skandal yang dibuatnya, serta statusnya yang sudah tak lajang biasanya dapat menurunkan popularitas.

"Yang pasti ditunggu - tunggu penonton!" teriak Jirayut, "Ayo buka, Da." lanjutnya melirik Halda Rianta yang mulai membuka amplop berisi nama pemenang.

Mata mereka membulat sempurna, dan bebarengan mereka mengucapkan, "Pemenang dari nominasi utama untuk kategori aktor terpopuler Indonesia Entertainment Award 2022 adalah... Alan Ryan."

Tepuk tangan dan sorak sorai seluruh podium mengelegar. Setelah memeluk Mutia sebagai tindakan pecitraan, kemudian Alan menyalami Hanung Bramantyo dan Angga Dwimas Sasongko yang duduk disampingnya.

Dengan penuh semangat Alan melangkahkan kakinya naik keatas panggung untuk menerima tropi penghargaan. Halda Rianta dan Jiyarut pun bergantian bersalaman dengannya yang kini beralih memegang tropi kemenangan. Mata Alan berkaca-kaca, rasanya ia ingin menangis. Dia tidak menyangka masih diapresiasi seperti ini, dan betapa setia penggemarnya mendukung karirnya meski statusnya kini telah menjadi suami orang.

"Terima kasih banyak saya ucapkan terutama kepada para Alanisme dimanapun kalian berada. Sungguh, saya tidak menyangka akan terpilih lagi di tahun ini mengingat status saya yang kini telah beristri. Kita semua tau, fans akan lari dan mencari idola baru saat idolanya memutuskan menikah. Namun Alanisme pengecualian, i love you so much, tanpa kalian saya tidak akan bisa berdiri disini dan memenangkan penghargaan ini. Tidak lupa ucapan terima kasih pada istri saya tercinta Mutia Karina yang selalu mensupport dan menemani saya dimanapun saya berada, terima kasih juga sudah meluangkan waktu malam ini untuk menemani saya di ajang bergensi Indonesia Entertainment Award 2022.." kontan seluruh kamera yang menyiarkan ajang penghargaan ini berganti menyorot Mutia yang hanya bisa tersenyum sebagai balasan dari pidato Alan.

"...Begitu juga dengan Farel, manager tersayang saya, jangan bosan - bosan mengatur jadwal dan segala keperluan saya selama berada di dunia entertainment ini. Para produser, sutradara, dan seluru kru yang menemani project -project saya di tahun ini, kalian semua hebat. Indonesia Entertainment Award 2022, terima kasih." Alan memberi hormat kepada penonton, dan mengambil langkah untuk turun dari atas panggung.

Namun sebelum Alan benar - benar turun dari atas panggung, layar nominasi pemenang yang memajang wajahnya mendadak beralih memunculkan foto - foto mesra Alan bersama Karen di masa lalu. Alan hanya mematung di atas panggung menyaksikan itu, sedangkan para wartawan kini berebut maju untuk meliput lebih dekat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PUDAR   Bab 83

    Setelah menganti popok dan memasang kembali celana pada bagian bawah tubuh bayi mungilnya. Mutia meratakan bedak tabur di wajah Micheal yang menggeliat dengan mata berbinar. Senyum Mutia seketika mengembang dibuatnya. Saat Mutia kemudian menimang Micheal agar bayinya itu segera tidur, Bita yang merasa tidak enak karena sedari tadi tidak melakukan apapun, menegur Mutia agar memberinya perintah. "Apa ada yang bisa saya bantu atau kerjakan nyonya?" "Tidak ada, kamu istirahat saja." Mutia timang Micheal sembari mengelitik dada mungilnya sampai bayinya itu mengeluarkan suara tawa. Karena usaha Mutia untuk menidurkannya belum berefek sama sekali. Bita tidak berpaling sedikit pun dari posisinya. "Tapi sudah seharian saya tidak ngapa - ngapain nyonya. Mohon beri saya perintah." Jam digital di dinding menampilkan angka pendek di 6 dan angka panjang di 12. Mutia rasa sudah saatnya makan malam, tapi masalahnya cadangan b

  • PUDAR   Bab 82

    Ibu Puni Astutik menjentikan jemarinya. Seketika makanan lezat yang menggugah indera perasa berdatangan. Tapi Farel malah mengajak Alan bergosip ditengah semua kenikmatan ini dengan berbisik, "Kamu tau nggak, Lan? Kata anak - anak. Bu Prista sama Pak Yuda itu dulu pernah pacaran. Setelah putus dan menikah dengan pasangan masing - masing, mereka malah jadi saingan bisnis sampai hari ini."Alan memotong steak di hadapannya dengan penuh penekanan. Hal ini memperingati Farel untuk menghentikan ocehannya sebab ia rasa Alan tidak dalam mood yang baik setelah kesepakatan besaran saham Swana Ghama yang ingin Alan beli dipertimbangkan kembali oleh Ibu Puni Astutik.Disamping Alan, Renata senyam senyum tak karuan. Ia masih belum terbiasa menyembunyikan rasa senangnya. Menjadi fashion stylist Alan di acara seperti Paris Fashion Show memang bukan impiannya. Tapi visual Alan yang menarik hatinya membuat dirinya kegirangan entah mengapa. Renata akui sempat patah hati k

  • PUDAR   Bab 81

    Saat Alan dan Farel baru sampai di gedung Starblue Management, Pak Yuda dengan sumringah menyambut mereka didepan pintu. Tampaknya kehadiran Alan sudah ia nanti sedari tadi. Rolls Royce Limosin berwarna black metal tiba saja mendarat mulus tepat dibelakang mobil Farel, dengan segera ia pindahkan mobilnya menuju parkiran dalam gedung Starblue Managerment. Pak Yuda ajak Alan terlebih dahulu masuk kedalam limosin yang entah milik siapa itu. Farel menyusul masuk juga kemudian dengan tergopoh. Rolls Royce Limosin warna black metal itu membawa mereka ke sebuah private studio bertulis Swana Ghama. Alan seperti tidak asing dengan tempat ini. Ketika Pak Yuda berpelukan dengan seorang wanita yang dikenal sebagai mantan menteri perikanan dan kelautan dari kabinet sebelumnya yakni Ibu Puni Astutik. Alan dan Farel saling pandang menerka apa yang telah di rencanakan oleh Pak Yuda dibelakang mereka. "Ini Alan Ryan, bintang utama kami.

  • PUDAR   Bab 80

    Dito meremas tangannya sendiri saat Rano Karno tetap tak mengindahkan permintaannya untuk mendepak Adiyana dari proyek pembangunan baru gedung walikota. Tentunya proyek yang sudah berjalan dan draft pengesahan menjadi alasan Adiyana untuk dipertahankan. Seperti sebuah teka - teki bagaimana perusahaan Adiyana yang sering mengalami inflasi malah menghasilkan benefit dan makin berkembang. Dito tidak habis pikir bagaimana anak buahnya tidak mampu menemukan bukti apapun perihal kejanggalan ini. Dito yakin Kevin pasti tau jawabannya dibalik pertanyaan bagaimana seorang Adiyana bisa mencapai itu. Tapi Dito enggan menanyai Kevin yang pasti bungkam. Kevin sendiri telah menyatakan masih akan berpihak pada Adiyana walau ia telah mengadopsinya sebagai anak. Sebelum jamuan di istana Presiden berakhir, Dito biarkan Tary mengendap-endap untuk masuk ke dalam mobil Adiyana. Ada rasa menggelitik di dada Dito menebak jika Tary mungkin tidak tau ia masih mengamatinya. Tary m

  • PUDAR   Bab 79

    Tiada pilihan lain bagi Farel selain mengajak Alan minum beberapa gelas coktail di Sunrise Bar. Sebenarnya Farel enggan, tapi melihat tatapan kosong yang Alan lemparkan padanya membuat Farel mengajaknya untuk duduk manis di salah satu kursi di bar ini. "Kamu nggak mau cerita tapi begong begini. Astaga Lan." Farel bergidik sembari menatap ke sekeliling. Alan tertunduk dengan jemari mengetuk - ngetuk meja. Didetik berikutnya Alan menegak sebotol whisky hingga isinya tinggal separuh dan lanjut mengikuti dentuman musik yang dimainkan DJ. Ia akhirnya memilih bergabung dengan yang artis lainnya —yang sedang menikmati akhir malam disana —untuk menari di tengah bar. Farel ikut bangkit. Bukan untuk ikut menari seperti Alan, tapi untuk mengeret Alan keluar dari bar. Dengan sekali tamparan yang cukup keras, Farel ingin Alan sadar. "Kalau kamu tetep begini, aku tinggal." Farel lirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Sorry, Lan. Ini

  • PUDAR   Bab 78

    Walau mereka hidup bersama, Mutia sadar jika Alan hidup di dunia yang berbeda. Bahkan setelah mengetahui rahasia dibalik keputusan Karen memilih bunuh diri pun, Alan enggak membahas apapun padanya. Suaminya itu hanya terlihat lebih murung dan makin menutup diri. Untung saja kehadiran Micheal memberi semangat lain bagi Mutia untuk tetap bertahan. "Anak pintar, ayo sama Mama." Mutia raih Micheal dari kedua tangan Alan. Tangan lentiknya dengan telaten menyuapi bayi mungilnya ini. Saat para pembantu yang disewa hanya untuk membersihkan rumah Alan berpamitan pulang. Mutia dan Alan yang tengah duduk di depan kolam renang tersenyum ramah dengan anggukan untuk mempersilahkan mereka pulang. Alan yang sudah menggunakan setelan jas warna navy menggoyangkan jemari - jemarinya untuk sedikit bermain air sembari menatap Micheal yang lahap menelan bubur yang Mutia suapkan. Walau i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status