Share

Pada Akhirnya, Kita Berpisah Arah
Pada Akhirnya, Kita Berpisah Arah
Author: Jubei

Bab 1

Author: Jubei
“Jamuan pernikahan di hotel sudah kubatalkan. Jangan lupa beri tahu semua kerabat dan teman-temanmu.”

Mendengar perkataanku, Owen langsung menginjak rem mendadak.

“Nora, kamu serius? Sekarang kamu bahkan tidak percaya pada adik kandung dan sahabatmu sendiri?”

Dia menatapku, wajahnya benar-benar mengeras.

“Mungkin kamu memang harus menemui psikiater. Orang yang normal tidak menjalani hubungan seperti ini.”

“Bahkan perkataan adikmu sendiri saja tidak kamu percaya. Bagaimana lagi aku harus membuktikan bahwa aku tidak bersalah?”

“Jika di antara kita bahkan tidak ada kepercayaan yang paling mendasar, apa gunanya pernikahan ini dilanjutkan?”

Setelah selesai berbicara, ponselnya pun berdering. Begitu melihat nama penelepon, sorot matanya langsung melunak.

“Aku masih ada urusan. Pulanglah dan renungkan sikapmu. Hari ini akan kuanggap tidak pernah terjadi apa-apa.”

Mobil hitam itu melaju pergi tanpa ragu.

Sementara itu, aku masih belum bisa menerima kenyataan dan segera menghentikan sebuah taksi dan mengejar mobilnya.

Setengah jam kemudian, pelacak lokasi di ponselku berhenti di sebuah restoran tepi laut.

Di balik jendela kaca yang lebar, kulihat di dalamnya sedang berlangsung pesta perayaan 1 bulan seorang bayi.

Di tengah suasana yang ramai, wajah-wajah yang kulihat terasa begitu familier.

Dan wanita yang menjadi pusat perhatian semua orang itu ....

Kalung mutiara yang melingkar di lehernya adalah kalung yang pertama kali kutemukan di mobil Owen.

Ikat rambut yang menghiasi rambutnya ... adalah ikat rambut yang ketiga kali kutemukan di saku jas Owen.

Saat wajah wanita itu terlihat jelas, ketenangan yang susah payah kupertahankan langsung runtuh.

Ternyata dia.

Sebulan yang lalu, saat mengganti cairan infus, aku tidak sengaja membuat darah pasien mengalir balik ke selang infus.

Keluarga Eva kemudian menuduhku melakukan “penganiayaan terhadap pasien” dan mengajukan gugatan ke kantor pusat rumah sakit.

Di tengah perselisihan itu, salah seorang pengawalnya mendorongku hingga terjatuh.

Akibatnya, tangan kananku patah saat itu juga, dan pekerjaanku pun diberhentikan sementara.

Namun kini ... adik laki-lakiku yang berprofesi sebagai pengacara, yang dulu berlari ke sana kemari membantuku menangani gugatan itu ....

Justru sedang sibuk menggantikan Eva menerima minuman dari para tamu.

Sahabatku yang pernah berkali-kali membelaku di hadapan pimpinan rumah sakit, bahkan rela begadang menyusun laporan banding ....

Kini malah sibuk membantu Eva menyambut para tamu.

Sedangkan Owen ... dialah yang paling menggelikan.

“Kak Owen, kamu terlambat! Bukankah sudah waktunya melakukan sesuatu untuk menyenangkan hati Kakak Ipar?”

Diikuti sorakan orang-orang di sekelilingnya, dia langsung merangkul Eva ke dalam pelukannya. Lalu menciumnya di depan semua orang.

Adegan demi adegan itu ... bagaikan lelucon besar yang terus menghantam kewarasanku.

Ternyata mereka adalah keluarganya Eva.

Merekalah yang membesar-besarkan kesalahan kecilku hingga menjadi pengaduan besar dan membuatku kehilangan pekerjaan.

Dalam sekejap, rasanya seperti ada lempengan besi membara yang menampar pipiku. Panasnya menjalar hingga memenuhi kepalaku.

Jadi ... inilah rasanya dipermainkan oleh semua orang yang kupercaya selama ini.

Saat itu juga, ponselku bergetar. Sebuah pemberitahuan mutasi dari rumah sakit muncul di layar.

[Dokter Reed, permohonan mutasi Anda telah disetujui. Mohon melapor ke Rumah Sakit Ashford dalam waktu 3 hari ….]

Aku menatap layar ponsel itu dan merasa semuanya sangat menggelikan.

Baguslah. Memang sudah tidak ada lagi yang layak membuatku tetap tinggal di kota ini.

3 hari lagi, hubunganku dengan Owen pun akan benar-benar berakhir.

Aku pergi dengan langkah berat, tidak ingin melihat lagi pemandangan yang sangat menjijikkan itu.

Namun di belakang, Eva melihat sosokku yang terasa familier, lalu segera mengejarku.

“Dokter Reed? Apa Anda sengaja datang untuk menghadiri pesta perayaan 1 bulan bayi kami?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pada Akhirnya, Kita Berpisah Arah   Bab 8

    “Maaf ... akulah yang telah membunuh anak pertama kita dengan tanganku sendiri.”Sambil berkata demikian, Owen mengangkat tangannya dan menampar wajahnya sendiri berkali-kali.“Maaf ... maaf, Nora. Aku bajingan ... aku benar-benar bukan manusia ....”“Maukah kamu memberiku satu kesempatan lagi? Aku ... aku ingin menebus semua kesalahanku.”Sinar matahari senja menembus jendela, menyinari sosok Owen yang tampak begitu mengenaskan.Tanpa sadar, aku teringat saat pertama kali bertemu dengannya.Saat itu juga di rumah sakit, di sebuah ruang rawat.Di matanya terpancar keputusasaan yang masih menyisakan secercah harapan. Sambil menggenggam tanganku, dia pun berkata, “Dokter Reed, tidak apa-apa. Jika Anda tidak bisa menyembuhkan saya pun tidak apa-apa.”Waktu itu aku baru kembali setelah ditugaskan di rumah sakit medan perang.Aku yang masih muda, penuh keyakinan dan semangat, tersenyum lalu berkata kepadanya, “Tidak. Aku yakin 100 persen bisa menyembuhkan penyakitmu.”Namun siapa sangka, pe

  • Pada Akhirnya, Kita Berpisah Arah   Bab 7

    Saat rasa sakit yang menusuk menjalar dari punggungnya, Mia akhirnya mengerti makna ucapan Nora tempo hari.[Liam sedikit banyak mewarisi sifat ayahku yang dingin dan tidak setia. Mia, jangan pernah terlalu dikuasai perasaan ….]Dia juga baru memahami niat baik Nora yang dulu mati-matian menentangnya terburu-buru menikah dengan Keluarga Reed.[Mia, aku tidak akan menghalangimu mengejar cinta dan kebahagiaanmu. Tetapi ada yang ingin kukatakan. Apapun yang terjadi, aku akan selalu berdiri di pihakmu, meski orang itu adalah adik kandungku sendiri ….]Namun saat itu, betapa bodohnya dia mengira Nora memandang rendah dirinya sebagai sahabat sekaligus adik ipar.Mia mengira Nora meremehkannya karena dia hanyalah anak yatim yang ditelantarkan orang tuanya, dan tidak pantas menjadi bagian dari Keluarga Reed.Sejak saat itulah benih iblis dalam hatinya mulai tumbuh dan semakin tenggelam, hingga membawa semuanya pada keadaan yang tidak lagi bisa diperbaiki.Mia terduduk lemas di lantai. Luka di

  • Pada Akhirnya, Kita Berpisah Arah   Bab 6

    [Apa bayi ini benar-benar anak Owen? Eva, katakan yang sebenarnya padaku!][Memangnya kenapa? Kita sudah putus, Liam! Jangan kira hanya karena kejadian malam itu, kamu bisa memisahkanku dan Owen!][Tetapi aku sudah melakukan tes DNA dan dia memang anakku! Eva, demimu aku sudah mengkhianati kakakku sendiri. Sekarang, apa kamu juga ingin merampas anak kandungku?!][Kita bersama selama 6 tahun penuh! Eva, kamu tidak boleh sekejam ini kepadaku ....]Hanya dengan beberapa kalimat singkat, seluruh kisah cinta, kebencian, dan pengkhianatan di antara mereka berdua pun tersingkap.Adegan terakhir dalam rekaman itu memperlihatkan Liam yang menyeret paksa Eva ke ruang penyimpanan di ujung lorong.Akibatnya, mereka bahkan tidak mendengar tangisan bayi dari ruang rawat.Mereka juga tidak tahu … bayi itu menangis hingga hampir kehabisan napas.Jika saja seorang perawat yang kebetulan lewat tidak segera menemukan dan membawanya ke IGD untuk mendapat pertolongan, nyawanya mungkin sudah tidak tertolong

  • Pada Akhirnya, Kita Berpisah Arah   Bab 5

    [Nora, kehamilan intrauterin berusia 2 minggu, mengalami keguguran akibat kecelakaan ....]Tatapan Owen terpaku pada kalimat itu.Kepalanya terasa berputar, tubuhnya limbung hingga hampir tidak mampu berdiri.“Kakakku ... hamil? Kalau begitu darah di lantai tadi ....”Liam yang ikut melihat laporan itu langsung memucat.Mendengar perkataannya, Mia pun membeku. Dia menatap genangan darah di lantai yang belum mengering. Tangannya mulai gemetar tanpa kendali.Barusan ... dia telah membunuh seorang anak yang tidak berdosa?Dan wanita itu ... bukan hanya sahabatnya. Melainkan juga kakak kandung suaminya sendiri.“Aku tadi hanya terlalu panik. Siapa yang tidak panik jika bayinya hilang?”“Kalau memang hamil, kenapa dia tidak memberi tahu kita? Tidak mungkin. Dia itu seorang dokter. Mana mungkin terjadi sesuatu semudah itu. Laporan pemeriksaan ini pasti dipalsukan untuk menipu kita!”Saat pembicaraan beralih pada anak, tatapan Eva refleks melirik ke arah Liam. Ada sedikit rasa bersalah yang t

  • Pada Akhirnya, Kita Berpisah Arah   Bab 4

    Keesokan harinya, setelah mengetahui rumah kami dijual, Owen segera pulang.Begitu masuk, dia langsung menarikku dari tumpukan koper, “Nora, apa maksudmu menjual rumah kita? Kamu sudah gila?”Emosi yang selama ini kutahan akhirnya meledak.Aku mencibir dingin, lalu mengangkat tangan dan menamparnya.Rumah? Dia masih punya muka untuk menyebut tempat ini sebagai rumah?“Owen, mempermainkanku seperti orang bodoh memang menyenangkan, ya?” Bekas lima jariku segera tercetak di pipinya.Namun, dia tidak marah.Seperti setiap kali kami bertengkar, dia justru melunakkan nada suaranya lebih dulu, “Sudah selesai memukulku? Sudah puas? Kuakui, aku memang salah karena telah membohongimu. Tetapi kita sudah bersama selama 7 tahun. Mana mungkin hubungan ini bisa berakhir begitu saja?”“Nyawaku ini adalah milikmu. Bagaimana mungkin aku benar-benar tega mengkhianatimu?”Aku sudah muak mendengar kata-kata munafik itu dan berbalik hendak pergi.Namun Owen menghalangi jalanku, lalu tiba-tiba kehilangan ken

  • Pada Akhirnya, Kita Berpisah Arah   Bab 3

    Di tengah tangisan pilu Eva, Mia mencengkeram lenganku dengan penuh amarah dan menyeretku ke ruang istirahat di lantai atas.Dulu tempat ini adalah markas rahasia milikku dan Owen.Karena letaknya dekat dengan rumah sakit, setiap kali aku kelelahan setelah operasi, dia selalu membawaku ke sana untuk beristirahat sejenak.Owen tahu aku sering lupa makan saat sibuk, jadi dia memasak sendiri dan menyiapkan makanan ringan ke dalam tasku.Dia juga tahu leherku sering pegal karena pekerjaanku, sehingga sengaja membelikan kursi pijat dan meletakkannya di ruang tamu.Perhatian-perhatian kecil itu ... pernah membuatku percaya bahwa itulah cinta.Namun sekarang ... tempat itu telah berubah menjadi kamar bayi. Terdapat boks bayi, meja ganti popok, dan mainan anak-anak dimana-mana.Semua jejak keberadaan kami telah lenyap tanpa sisa.“Yang benar-benar dicintainya adalah Eva. Sedangkan kepadamu, yang dia anggap sebagai cinta hanyalah rasa terima kasih karena kamu telah menyembuhkan penyakit jantung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status