LOGINShelly mengganti popok Jery sambil menerima teleponnya. "Nggak tahu.""Dia baru masuk perusahaan langsung ikut terlibat dalam proyek terbesar dan paling potensial perusahaan!" Nada Tania nyaris terkejut. "Pak Jeffry kok bisa pilih kasih seperti itu!"Tangan Shelly sejenak berhenti. "Terlibat dalam proyek?"Tania mengiyakan, "Kamu juga kaget kan? Pak Jeffry belum pernah membuka jalan koneksi untuk orang dalam urusan pekerjaan."Sepengetahuan Shelly, proyek di Grup Dominion itu sangat penting.Dalam proyek itu, bahkan hanya mengerjakan hal kecil pun bisa menjadi "momen gemilang" yang bisa dibanggakan seumur hidup. Apalagi bagi Gavin yang masih baru seperti ini, benar-benar seperti mencapai puncak karir sejak debut.Kalau Jeffry ingin menguji sesuatu ... bukankah itu terlalu berisiko?Di saat Shelly sedang berpikir, ponselnya tiba-tiba berbunyi.Gavin yang menelepon."Tania, aku nggak bisa ngobrol denganmu lagi, aku masih ada urusan."Shelly mengakhiri telepon Tania, lalu mengangkat telep
Kekhawatiran Shelly tidak salah. Gavin memang orang yang patut diwaspadai.Rasa waspada mereka tidak boleh lebih rendah dari rasa iba."Pak Jeffry, saya kurang mempertimbangkannya dengan matang!" Maxwell terkejut dalam hati. "Kalau tahu begini, seharusnya Bu Shelly menempatkannya di Grup Vantara saja."Mata Jeffry sedikit menyipit. "Grup Vantara?"Maxwell menjawab, "Tadi pagi waktu saya atur Gavin masuk kerja, Gavin bilang dibanding Grup Vantara dia lebih memilih datang ke Grup Dominion. Setelah saya tanya lebih dalam, barulah saya tahu bahwa dia yang meminta Bu Shelly untuk mencarikan pekerjaan untuknya. Baik di Grup Vantara maupun Grup Dominio, dia tidak keberatan."Suasana di dalam mobil seketika sunyi senyap.Udara semakin tipis. Suasana di sekitar Jeffry perlahan membeku, dia tidak tahu sedang memikirkan apa, matanya dalam dan redup.…Grup Dominion. Jeffry hari ini datang untuk membereskan urusan Wesley.Hansen sudah benar-benar ditendang keluar dari Bairon, Wesley adalah orang k
Hanya karena Jeffry suka makan, meski sudah lembur Shelly tetap bisa bangun pagi-pagi untuk membuatkan sarapan.Sekarang ada yang membantu, Shelly tidak sesibuk itu."Kamu ngomong apa ke dia?" Jeffry meletakkan sarapannya, tiba-tiba saja tidak selera makan.Bibi Sari, "Aku bilang supaya dia baik-baik sama kamu, kalau nenek dan kakek tahu Jery adalah darah daging Keluarga Anderson pasti senang sekali. Dia nggak merespons."Jeffry mengambil tisu menyeka mulut, terdiam sejenak lalu berdiri dan naik ke atas. "Simpan makanannya, aku mau berangkat ke kantor.""Aduh …." Bibi Sari tidak menyangka Jeffry bereaksi seperti itu.Kata-katanya tersangkut di tenggorokan, melihat Jeffry pergi, dia hanya bisa menutup mulut dengan kesal.Shelly sudah jelas melahirkan anak Jeffry, sudah menikah lagi, tapi kok terasa janggal?Selain tidak boleh memberitahu pihak keluarga di kota itu, Merry setiap kali datang pun harus sembunyi-sembunyi ….Semakin dipikir, Bibi Sari makin merasa tidak beres. Tepat saat Mel
"Kenapa nggak menjawab?"Shelly tahu Jeffry sudah bangun, dan pasti mendengar pertanyaan tadi.Mata Jeffry tiba-tiba terbuka, suaranya sedikit serak. "Pagi-pagi buta nggak tidur, mau aku oleskan salep lagi?"Ekspresi Shelly kaku sebentar, lalu langsung bangkit dari kasur, masuk kamar mandi, dan turun ke lantai bawah.Semalam Jery agak rewel, mungkin karena kelelahan merawatnya, Jeffry hari ini untuk pertama kalinya tidak bangun pagi.Shelly sudah selesai sarapan, Jeffry masih belum turun bersama Jery."Nyonya Muda, apa tuan kecil semalam banyak rewelnya?" tanya Bibi Sari sambil membereskan piring, "Tuan Muda yang merawatnya?"Shelly mengangguk. "Iya.""Ternyata Tuan Muda sangat pandai mengurus anak, beberapa hari ini dia selalu menanyaiku soal hal-hal tentang bayi."Bibi Sari tersenyum sambil masuk ke dapur, mencuci piring sambil bercerita, "Waktu Tuan Muda masih kecil, sudah kelihatan dia anak yang teliti. Suatu kali kakiku terkilir, beberapa hari nggak bisa turun dari tempat tidur. S
"Sudah pakai salep?" Jeffry bertanya lagi.Tenggorokan Shelly makin tersumbat. Tersumbatnya sampai dia hampir mau menarik Jeffry keluar dari depan pintu kamarnya."Nggak perlu kamu ikut campur!"Alisnya mengerut, ujung telinganya memerah, untung cahaya gelap, tidak kelihatan.Tapi Jeffry menangkap nada kesal dan malunya dari suaranya."Kemarin aku nggak bisa menahan diri. Pengaruh obat, dokter bilang kamu harus rajin pakai salep, kalau nggak bakal sangat nggak nyaman."Itu memang benar.Shelly tadinya tidak berniat pakai salep. Tapi rasanya betul-betul tidak nyaman, bengkak, perih, sampai cara jalannya pun terganggu.Akhirnya dia oleskan sedikit. Tapi karena susah menjangkau sendiri, olesan itu tidak merata, dan hasilnya seperti tidak ada efeknya sama sekali."Tiduran, aku lihat dulu."Pintu kamar terbuka lebar. Lampu kamar yang temaram memancarkan cahaya kekuningan. Suara Jeffry rendah dan berat, membawa serta nuansa rasa yang menghangat di antara dua orang yang berdua saja di malam h
Shelly mengirim tanda tanya.[Surat penawaran kerja dari Grup Dominion sudah aku terima! Walau mulai dari bawah, aku akan kerja keras dan nggak akan bikin Kakak malu!]Grup Dominion? Jeffry?Shelly menggenggam ponselnya, langsung menuju kamar Jeffry.Tapi ketika sudah berdiri di depan pintunya, siap mengetuk, tangannya malah terhenti.Dia menatap pintu yang tertutup rapat itu. Entah kenapa, pertanyaan Jeffry di dalam mobil tadi terus berputar di kepalanya."Apa yang Gavin katakan ke kamu?""Lalu?"Jeffry langsung melihat ada yang tidak beres dari ekspresinya. Dia sudah menduga Gavin pasti mengatakan hal lain.Pikirannya memang selalu setajam itu.Shelly menggigit bibir pelan, tidak tahu harus bilang apa ke Jeffry.Krik. Bunyi pintu terbuka di belakangnya.Shelly menoleh, Jeffry berdiri di ambang pintu ruang kerjanya, kemeja hitam, punggungnya disandarkan ke kusen pintu. Cahaya terang dari dalam menyilaukan dari belakang, membuat wajahnya tampak dalam bayangan gelap yang dalam."Kamu be
Sebelum orang-orang di ruang tamu sempat bereaksi, terdengar langkah kaki dari lantai atas.Ibu Jeffry, Melly Luwiana buru-buru turun.Meski hampir berusia lima puluh tahun, tubuhnya masih terawat seperti wanita usia tiga puluhan.Dia hanya mengenakan selendang merah, sama sekali tidak takut pada su
Joycelin memang mengiyakan dengan mulutnya, tapi begitu Melly pergi, dia langsung memonyongkan bibir ke arah punggung wanita itu....Elora menarik Jeffry untuk duduk di kursi makan. Pemandangan mereka duduk berdampingan terus terbayang di benak Shelly.Seharusnya dia tidak melihat adegan itu.Dalam
Shelly tanpa sadar menarik jaket tebalnya sedikit ke depan, menutupi perutnya yang masih rata.“Aku masuk kerja. Mungkin karena umurku sudah bertambah, tahun ini aku jadi lebih gampang kedinginan.”Dia berjalan mendekat lalu duduk, sengaja mengalihkan topik.“Perlu pakai laptopku? Kalau iya, aku amb
Begitu Elora masuk ke kantor, dia melihat Maxwell sedang memesan tiket.Dia langsung bertanya, “Kak Jeffry di mana? Kenapa kamu pesan tiket?”“Di ruang istirahat. Ada masalah mendadak di cabang, Pak Jeffry harus ke sana.”Belum sempat Maxwell selesai bicara, Elora sudah mengeluarkan kartu identitas







