MasukSetelah kejadian semalam, Mark benar-benar kesulitan mengendalikan pikirannya setiap kali melihat Elase. Terlebih ketika gadis itu tersenyum lepas seolah tidak terjadi apa-apa. Senyum sederhana itu saja sudah cukup membuat kepalanya kembali dipenuhi bayangan yang berusaha keras ia singkirkan sejak pagi.
Bahkan pagi ini Mark sampai mandi tiga kali. Bukan karena ia kotor, melainkan karena ia membutuhkan sesuatu untuk menenangkan dirinya sendiri dan meredakan gejolak yang terasa begitu sulit dikendalikan. Namun semua usahanya seakan sia-sia. Sebab sekarang Elase duduk tidak jauh darinya, menikmati sarapan dengan santai. Gadis itu bahkan sempat tertawa kecil ketika melihat sesuatu di ponselnya, sama sekali tidak menunjukkan kecanggungan sedikit pun. Mark hanya bisa menghela napas panjang dalam hati. Bagaimana mungkin gadis itu bisa bersikap senormal itu? Sementara dirinya hampir tidak mampu menatap wajah Elase terlalu lama. Hingga akhirnya Wendo membuka suara. "Mark, apa kau terburu-buru untuk kembali ke Palermo?" Mark yang sedang mengunyah segera menggeleng. Ia menelan makanannya sebelum menjawab. "Tidak, Kak. Aku masih ingin di sini." Wajah Wendo langsung terlihat riang. Bahkan napas lega terdengar jelas darinya. "Syukurlah kalau begitu. Aku bisa meninggalkan Elase dengan tenang selama satu pekan ini." Mark mengangkat alisnya. Wendo kemudian menjelaskan bahwa ia dan kakaknya harus pergi ke Vanesia untuk menghadiri beberapa undangan dari para supervisor. Mereka juga harus mengambil bibit baru sekaligus mengunjungi beberapa kebun di kota tersebut sebagai bagian dari pembelajaran mengenai penanaman. "Biasanya Elase akan menginap di rumah Meluna," lanjut Wendo. "Tapi ibunya sedang sakit dan sudah beberapa hari terus berada di rumah sakit. Jadi aku sebenarnya sedikit cemas meninggalkan Elase sendirian." Wendo tersenyum lega. "Tapi beruntung kau masih di sini. Setidaknya sekarang aku bisa pergi tanpa terlalu mengkhawatirkannya." Mark mengangguk pelan. "Aku mengerti, Kak." Namun begitu matanya beralih kepada Elase, yang masih sibuk memainkan ponselnya, Mark justru merasa nasibnya semakin buruk. Ditinggal berdua dengan Elase selama satu pekan. Kesempatan yang mungkin bagi orang lain terdengar menyenangkan. Namun bagi Mark, justru terasa seperti ujian paling berat yang bisa diberikan kepadanya. Ia mengusap wajahnya perlahan, lalu menarik napas dalam-dalam. Masalahnya bukan apakah ia ingin berada di dekat Elase. Masalahnya adalah ia tidak yakin bisa terus menjaga jarak ketika hanya mereka berdua di rumah. Mark kembali melirik Elase yang masih tersenyum pada layar ponselnya. Gadis itu bahkan tidak tahu betapa kerasnya Mark berusaha bersikap biasa pagi ini. Dan untuk pertama kalinya, Mark mulai berharap Wendo tidak perlu pergi selama satu pekan penuh. Sebab jika Wendo benar-benar pergi, Mark takut bukan Elase yang akan menjadi masalah terbesar di rumah itu. Melainkan dirinya sendiri. ••• Mark sedang bersandar di dinding teras menikmati semilir angin malam. Sebatang rokok berada di antara jemarinya, asap tipis melayang sebelum menghilang di udara. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Elase keluar dengan pakaian rumahan yang longgar dan nyaman. Langkahnya ringan ketika ia menghampiri Mark. Mark spontan menegakkan tubuh. Ia segera mematikan rokoknya sebelum Elase benar-benar mendekat. "Paman, menurutmu bagaimana dengan gambarku ini?" Elase mengangkat tabletnya, lalu berdiri di sisi Mark untuk menunjukkan hasil desainnya. Jarak mereka cukup dekat sehingga Mark harus mengalihkan perhatian sepenuhnya pada layar. Ia menatap gambar tersebut dengan serius. Mark memang tidak banyak mengetahui dunia desain secara mendalam, tetapi ia bisa melihat bahwa Elase memiliki sesuatu yang istimewa. Goresannya tidak sekadar bagus. Ada karakter, keberanian, dan ciri khas yang membuat hasil karyanya mudah dikenali. "Bagus," ujar Mark akhirnya. "Gambarmu punya karakter dan ciri khas tersendiri. Kamu memang sangat berbakat dalam hal ini." Wajah Elase langsung berbinar. "Benarkah?" Mark mengangguk. "Benar. Jangan meremehkan kemampuanmu sendiri." Elase tersenyum puas, kemudian kembali memeriksa gambarnya di tablet. Sementara itu, Mark sesekali melirik dari samping. Ia melihat betapa riangnya Elase ketika membicarakan sesuatu yang benar-benar ia sukai. Beberapa saat kemudian, Mark bertanya, "Malam ini mau keluar?" Elase menghentikan jarinya di atas layar. "Keluar? Mau ke mana?" "Belum tahu. Mungkin sekadar jalan-jalan." Elase berpikir sebentar sebelum tiba-tiba berkata, "Ke pantai?" Mark langsung terdiam sesaat. Entah mengapa, usulan sederhana itu membuatnya salah tingkah. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke sekitar halaman rumah. Elase memperhatikan perubahan sikapnya. "Paman?" "Hm?" "Kapan Paman kembali ke kamar?" Mark berdeham kecil. "Setelah kamu tidur. Paman langsung kembali,” jawabnya sembari melangkah masuk ke dalam rumah hendak menuju kamar. Elase mengangguk, seolah menerima jawaban itu tanpa banyak pertanyaan. Ia kemudian ikut menyusul masuk ke dalam, mengejar langkah Mark. Ia kemudian meletakkan tabletnya di meja dan mengikuti langkah Mark. Namun beberapa detik kemudian, ia menoleh lagi kepada Mark. "Paman..." "Ya?" "Nanti malam kita tidur bersama lagi?" Mark sontak langsung berhenti di depan pintu kamarnya membuat Elase langsung berdiri di hadapan Mark menghalangi pintunya. "Tidak ada Ayah dan Ibu di rumah," kata Elase santai. "Bukankah kita bisa tidur bersama lagi?" Mark langsung menatapnya lekat. Cara Elase mengatakannya begitu gamblang hingga membuatnya beberapa saat kehilangan kata-kata. "Elase, apa kamu tahu apa yang akan terjadi jika laki-laki dan perempuan tidur di satu ranjang?" Elase terdiam sejenak. Kemudian ia mengangguk dengan wajah yang menunjukkan bahwa ia memahami maksud pertanyaan itu. "Aku paham." Mark menghela napas panjang. Namun Elase justru melanjutkan dengan polos, "Bukankah kita sudah menjadi kekasih? Apa salahnya tidur bersama?" Mark mendesis pelan. Ia benar-benar dibuat kewalahan oleh kepolosan sekaligus keberanian gadis itu. "Kamu ini..." gumamnya. Tangannya sempat menyentuh pinggang Elase sekilas sebelum ia segera menariknya kembali, seakan menyadari bahwa dirinya justru semakin sulit menjaga ketenangan. "Kalau begitu," ujar Mark dengan tatapan tajam, "apa kamu akan mengajak kekasihmu tidur bersama setiap kali kalian resmi berpacaran?" Elase justru mengangguk santai. "Iya." Mark memicingkan mata. Elase menatap wajahnya selama beberapa detik sebelum akhirnya tidak mampu menahan tawa. Mark semakin memasang wajah serius, sementara telinganya mulai memerah karena kesal sekaligus malu. Elase tersenyum kecil melihat wajah Mark yang memerah paduan marah dan nafsu. Ia tidak mundur, justru melangkah lebih dekat sampai dada bidang Mark menyentuh payudaranya yang terangkat oleh napas cepat. “Paman marah karena aku jujur?” bisiknya, suaranya rendah dan sengaja menggoda. Jari-jarinya naik pelan menyusuri kaos Mark, merasakan otot yang tegang di balik kain itu. Mark menggertakkan gigi. Tangan besarnya masih menempel di pinggang ramping Elase, ibu jarinya menekan kulit di bawah kaos tipis gadis itu. Ia menunduk, napasnya panas menyapu bibir Elase yang terlihat begitu kenyal. “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta,” kata Mark, suaranya kasar, hampir menggeram. Namun tangannya justru turun, merayap ke punggung bawah Elase dan menekan tubuhnya lebih erat ke tubuhnya sendiri. “Kalau kita tidur satu ranjang malam ini, aku tidak akan berhenti hanya di bibir.” Elase menelan ludah. Matanya yang biasanya cerah kini agak berkaca-kaca, bukan karena takut, melainkan karena kegelisahan yang sama yang dirasakan Mark. Ia mengangkat dagu, sengaja menggesekkan bibirnya ke dagu Mark yang kasar. “Aku sudah bilang aku paham,” jawabnya pelan. “Kamu pikir aku masih anak kecil yang tidak tahu apa-apa? Aku tahu persis apa yang akan terjadi. Dan aku tetap ingin.” Mark diam sejenak. Tatapannya menjadi gelap, seperti ada sesuatu yang akhirnya lepas dari ikatan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mendorong tubuh Elase dengan cepat sehingga punggung gadis itu menempel ke dinding. Tubuhnya menekan dari depan, lututnya menyelinap di antara paha Elase, memisahkannya sedikit. “Kalau begitu jangan menyesal,” gumamnya di telinga Elase. Bibirnya menyentuh daun telinga, lalu turun ke leher, menggigit pelan sebelum menghisap kulit di sana. Tangan kanannya naik, menyusuri rusuk, lalu menutupi payudara Elase dari luar kain. Ibu jarinya menggosok puting yang sudah mengeras dari balik bra. Elase mendesah, kepalanya terlempar ke belakang menempel dinding. Jari-jarinya mencengkeram bahu Mark. “Paman…” panggilnya, suaranya sudah berubah parau. Mark mengangkat wajah. Matanya gelap, penuh sesuatu yang sudah tidak bisa ditahan lagi. “Malam ini,” katanya pelan, setiap kata ditekan, “kamu akan tahu betul siapa yang tidur di ranjang bersamamu. Bukan sekadar ‘paman’ yang baik hati.” Ia membungkuk lagi, kali ini ciumannya lebih dalam, lidahnya menyerbu masuk, menari dengan lidah Elase yang sudah basah dan panas. Tangan yang tadi di pinggang kini turun, meremas pantat Elase dan mengangkatnya sedikit sehingga kaki gadis itu terangkat dari lantai. Elase otomatis melingkarkan kakinya di pinggang Mark. Di antara ciuman yang semakin basah dan napas yang semakin tersengal, Mark berbisik sekali lagi di bibir Elase yang basah. “Aku menginginkanmu. Bukan hanya tidur. Aku ingin merasakan kamu dari dalam, Elase. Dan aku tidak akan berhenti sampai kamu tidak bisa memanggilku ‘paman’ dengan suara yang sama lagi.” Elase hanya bisa mengangguk, napasnya pendek-pendek, pinggulnya bergerak kecil mencari gesekan, mencari lebih banyak sesuatu yang terasa candu.Mark menindih Elase dengan lembut namun tegas, bibirnya menyentuh bibir Elase dengan napas hangat yang berbaur. “Kau boleh bilang stop kapan saja,” bisiknya di antara ciuman, suara rendah dan berat. Elase mengangguk kecil, jari-jarinya meremas bahu Mark seolah menariknya lebih dekat, bukan mendorong pergi. Mark mengulum bibir bawah Elase pelan, lidahnya menyusup saat Elase membuka mulut dengan desah kecil. Tangan Mark naik di balik kaos putih, menyentuh kulit hangat sebelum meraih bra pink yang sudah agak longgar. Ia membuka kaitnya dengan satu tangan, lalu meremas payudara Elase dengan telapak yang hangat dan berat. Elase membusung, punggung melengkung, napasnya tersentak. Mark menunduk, mulutnya menutup puting yang sudah mengeras, menghisap pelan sambil lidahnya berputar. Elase menggigit bibir bawah, suara lirih keluar dari tenggorokannya. “Mark… ahh…” Panggilan nama itu membuat Mark tersenyum di kulit Elase. Tangan Mark turun, menyusuri perut rata hingga menyelinap ke dalam c
Setelah kejadian semalam, Mark benar-benar kesulitan mengendalikan pikirannya setiap kali melihat Elase. Terlebih ketika gadis itu tersenyum lepas seolah tidak terjadi apa-apa. Senyum sederhana itu saja sudah cukup membuat kepalanya kembali dipenuhi bayangan yang berusaha keras ia singkirkan sejak pagi.Bahkan pagi ini Mark sampai mandi tiga kali. Bukan karena ia kotor, melainkan karena ia membutuhkan sesuatu untuk menenangkan dirinya sendiri dan meredakan gejolak yang terasa begitu sulit dikendalikan.Namun semua usahanya seakan sia-sia.Sebab sekarang Elase duduk tidak jauh darinya, menikmati sarapan dengan santai. Gadis itu bahkan sempat tertawa kecil ketika melihat sesuatu di ponselnya, sama sekali tidak menunjukkan kecanggungan sedikit pun.Mark hanya bisa menghela napas panjang dalam hati.Bagaimana mungkin gadis itu bisa bersikap senormal itu?Sementara dirinya hampir tidak mampu menatap wajah Elase terlalu lama.Hingga akhirnya Wendo membuka suara."Mark, apa kau terburu-buru
Mark sungguh tidak bisa tidur malam itu. Sepulang dari pantai, pikirannya justru semakin kacau. Kejadian yang berlangsung beberapa jam lalu terus berputar di kepalanya, seolah menolak untuk memberinya sedikit saja ketenangan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi rasa kantuk sama sekali belum datang. Mark mengembuskan napas gusar sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju balkon kamar, membuka pintu kaca, lalu menyalakan sebatang rokok. Bara kecil menyala di antara jemarinya. Ia mengisapnya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asap perlahan sambil memandangi gelapnya perkebunan milik kakaknya. Namun beberapa detik kemudian, pandangannya bergeser ke kanan. Di sanalah kamar Elase berada, tepat di samping kamarnya. "Dia bisa tidur?" gumam Mark kepada dirinya sendiri. Entah mengapa pertanyaan sederhana itu justru membuat dadanya semakin tidak tenang. Tatapannya tak beranjak dari pintu balkon kamar Elase. Ia kembali mengisap rokoknya, kemudian
Elase masih terdiam. Pertanyaan Mark menggantung di antara mereka, lebih berat daripada keheningan malam yang menyelimuti taman.Ia tahu kata “menginginkan” yang baru saja diucapkannya memiliki arti lebih dalam daripada sekadar rasa suka. Namun, ketika menatap mata Mark, Elase tidak menemukan keraguan dalam dirinya—hanya keberanian yang perlahan menguat.“Aku tahu,” jawabnya akhirnya.Suaranya pelan, tetapi terdengar jelas.Mark mengerutkan kening. Tangannya yang tadi berada di tengkuk Elase perlahan turun ke bahunya. Ia berusaha menciptakan jarak, meskipun hatinya sendiri menolak untuk menjauh.“Tidak, Elase. Kurasa kamu belum benar-benar tahu.”“Aku tahu Paman jauh lebih dewasa dariku,” balas Elase. “Aku juga tahu perasaan ini mungkin akan membuat semuanya menjadi rumit.”Ia menundukkan kepala sesaat, lalu kembali menatap Mark.“Tapi aku tidak ingin Paman terus menganggap perasaanku sebagai sesuatu yang akan hilang begitu saja.”Mark terdiam. Sorot matanya berubah serius.Elase meng
Hari sudah benar-benar malam ketika Mark dan Elase masih bertahan di pesisir pantai.Langit begitu gelap, hanya dihiasi cahaya bulan yang memantul di permukaan laut. Ombak datang silih berganti, pecah di bibir pantai lalu kembali surut meninggalkan suara gemerisik yang menenangkan. Angin laut berembus cukup kencang, membawa hawa dingin yang perlahan menusuk hingga ke kulit.Melihat Elase beberapa kali merapatkan kedua lengannya ke tubuh, Mark akhirnya mengumpulkan beberapa potong kayu kering yang ada di sekitar mereka dan membuat api unggun kecil.Api itu menyala di antara mereka.Cahayanya menari-nari, terkadang membesar ketika diterpa angin, terkadang mengecil sebelum kembali berkobar. Pantulan warna jingga dari api sesekali menerangi wajah Mark dan Elase yang duduk berdampingan di atas pasir.Malam itu terasa begitu santai.Tidak ada pekerjaan. Tidak ada keramaian. Tidak ada orang lain yang mengganggu.Hanya mereka berdua, suara ombak, api unggun, dan beberapa bungkus camilan yang
Begitu tiba di parkiran, Elase menghembuskan napas lega.“Kuharap perjodohan ini akan berakhir,” gumam Elase pada dirinya sendiri penuh harapan.Mark mengamati dari samping paras yang menurutnya sungguh sempurna dan luar biasa cantiknya.“Jadi dia yang akan menikahimu?” Elase menoleh, kemudian mengangguk dengan lesu.Ia menghabiskan sisa permen kapasnya dengan bibir cemberut ke depan.“Aku tak ingin nikah muda, aku ingin kuliah dulu lalu menjadi desainer terkenal, keliling dunia dan mencoba banyak hal baru,” cerita Elase penuh semangat saat membicarakan tentang mimpinya.Mark tersenyum, mengusap puncak kepala Elase dengan lembut.Kian rencananya untuk membawa Elase ke Palermo sebagai bentuk penolakan perjodohannya dengan Clera sepertinya harus ia batalkan setelah mendengar bagaimana impian Elase tentang cita-citanya sebagai desainer.“Sudah, mau pulang sekarang?” Tanya Mark membuat Elase langsung menoleh cepat.“Ya, besok pagi akan kuajak ke Desa Pesisir Liguria, aku jamin paman pasti







