Share

Mandi Pagi

Author: Miss Eka
last update publish date: 2026-08-29 15:53:31

Mark sungguh tidak bisa tidur malam itu.

Sepulang dari pantai, pikirannya justru semakin kacau. Kejadian yang berlangsung beberapa jam lalu terus berputar di kepalanya, seolah menolak untuk memberinya sedikit saja ketenangan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi rasa kantuk sama sekali belum datang.

Mark mengembuskan napas gusar sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju balkon kamar, membuka pintu kaca, lalu menyalakan sebatang rokok. Bara kecil menyala di antara jemarinya. Ia mengisapnya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asap perlahan sambil memandangi gelapnya perkebunan milik kakaknya.

Namun beberapa detik kemudian, pandangannya bergeser ke kanan.

Di sanalah kamar Elase berada, tepat di samping kamarnya.

"Dia bisa tidur?" gumam Mark kepada dirinya sendiri.

Entah mengapa pertanyaan sederhana itu justru membuat dadanya semakin tidak tenang. Tatapannya tak beranjak dari pintu balkon kamar Elase. Ia kembali mengisap rokoknya, kemudian mengembuskan asap tipis yang perlahan lenyap ditelan udara malam.

Beberapa saat kemudian, Mark memutuskan untuk menyerah pada kegelisahannya.

Ia mematikan rokok, membuang puntungnya pada tempat yang tersedia, lalu kembali masuk ke kamar. Setelah memastikan suasana di luar sunyi, Mark membuka pintu kamarnya perlahan. Ia melangkah keluar, menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada seorang pun yang terbangun.

Kemudian ia berhenti di depan kamar Elase.

Tangannya terangkat, membuka pintu dengan sangat hati-hati.

Begitu pintu terbuka, cahaya televisi langsung menyambutnya. Elase ternyata belum tidur. Perempuan itu masih duduk bersandar di ranjang, matanya tertuju pada film yang sedang diputar.

Namun begitu menyadari seseorang masuk, kepalanya langsung menoleh.

"Paman..." gumam Elase, sedikit terkejut.

Mark segera menutup pintu di belakangnya, kemudian menguncinya.

"Apa yang paman lakukan di sini?" tanya Elase setengah berbisik. "Bagaimana kalau Ayah dan Ibu melihat paman?"

Mark tidak langsung menjawab.

Ia justru berjalan mendekat. Tatapannya tertuju pada Elase yang masih memandangnya dengan campuran heran dan gugup. Perlahan, Mark menangkup kedua sisi wajah Elase, ibu jarinya mengusap lembut pipinya.

Mark tak menjawab pertanyaan Elase, ia lebih memilih meraup rakus bibir tipis itu dengan lembut dan menuntut.

"Paman tidak bisa tidur," bisiknya.

Elase terdiam. Entah mengapa kalimat sederhana itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

"Aku juga," jawab Elase akhirnya sambil menggigit bibir bawahnya gugup.

Senyum Mark semakin lebar. Untuk pertama kalinya malam itu, kegelisahan yang sejak tadi memenuhi kepalanya terasa sedikit mereda.

“Kalau begitu, bagaimana jika Paman tidur di sini saja?”

Mark menahan bibirnya agar tidak tersenyum terlalu lebar. Tawaran sederhana itu entah kenapa terasa menyenangkan baginya. Beberapa detik kemudian, ia mengangguk.

“Baik.”

Mark naik ke atas ranjang, lalu menyandarkan punggungnya pada headboard. Elase ikut mendekat dan bersandar dalam dekapannya. Mereka kembali menonton film yang sejak tadi diputar, berharap setelah film selesai mereka bisa benar-benar tidur.

Namun bagi Mark, rencana itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Ia berusaha memusatkan perhatian pada layar, tetapi pikirannya justru berjalan ke arah lain. Kehadiran Elase yang berada begitu dekat dalam pelukannya membuatnya sulit tenang. Kehangatan tubuh perempuan itu, aroma lembut yang tercium setiap kali Elase bergerak, dan posisi mereka yang nyaris tanpa jarak membuat pikirannya semakin sulit dikendalikan.

Mark menghela napas pelan.

Ia seharusnya mengantuk.

Seharusnya.

Tetapi semakin malam, pikirannya justru semakin ramai.

Tanpa sadar, pandangannya beberapa kali turun kepada Elase yang masih menikmati film dengan santai. Mark segera mengalihkan mata kembali ke televisi setiap kali merasa tatapannya terlalu lama.

Waktu terus berjalan hingga malam hampir berganti pagi.

“Sudah hampir pagi. Ayo kita tidur,” ujar Mark akhirnya.

Ia langsung mengambil remote dan mematikan televisi. Setelah itu, Mark berniat membaringkan tubuhnya agar mereka bisa segera beristirahat.

Elase tidak banyak bicara. Ia hanya memeluk tubuh Mark dengan santai, kemudian memejamkan mata.

Rupanya perempuan itu benar-benar sudah mengantuk.

Tidak butuh waktu lama sampai napasnya berubah teratur. Wajahnya tampak tenang, tubuhnya semakin rileks dalam pelukan Mark.

Sementara Mark masih terjaga.

Ia menatap langit-langit kamar, berusaha memejamkan mata dan mengabaikan pikirannya sendiri. Namun beberapa saat kemudian, ia kembali menoleh.

Elase sudah tertidur.

Mark memperhatikannya beberapa detik sebelum menghela napas pelan.

“Bagaimana bisa tidur secepat itu?” gumamnya lirih.

Ia kembali membaringkan kepala, tetapi matanya belum juga terpejam. Sesekali ia menoleh lagi untuk memastikan Elase masih tertidur dengan nyaman.

Malam itu, ternyata bukan rasa kantuk yang menjadi masalah bagi Mark. Pikiran dan perasaannya sendiri jauh lebih sulit untuk ditenangkan.

Sekitar pukul lima pagi, Mark sudah mandi untuk kedua kalinya.

Ia berdiri beberapa saat di depan cermin kamar mandi, menatap pantulan dirinya sendiri dengan wajah lelah. Entah sudah berapa kali ia mencoba menenangkan pikirannya sejak meninggalkan kamar Elase, tetapi semuanya terasa sia-sia.

Akhirnya, setelah cukup lama menahan kegelisahan dalam dirinya, Mark memutuskan untuk pergi dan kembali ke kamarnya sendiri.

Ia berjalan menyusuri lorong dengan langkah pelan agar tidak membangunkan siapa pun. Begitu sampai di kamarnya, Mark menutup pintu, lalu bersandar di belakangnya sambil mengembuskan napas panjang.

“Aku bisa gila kalau terus begini,” gumamnya.

Mark mengusap wajahnya, kemudian melirik ke arah kamar mandi.

Beberapa detik ia hanya berdiri diam.

“Sekali lagi.”

Tanpa banyak berpikir, Mark kembali masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama kemudian suara air kembali terdengar memenuhi ruangan.

Itu akan menjadi mandi ketiganya pagi itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Paman! Puaskan Aku   Basah

    Mark menindih Elase dengan lembut namun tegas, bibirnya menyentuh bibir Elase dengan napas hangat yang berbaur. “Kau boleh bilang stop kapan saja,” bisiknya di antara ciuman, suara rendah dan berat. Elase mengangguk kecil, jari-jarinya meremas bahu Mark seolah menariknya lebih dekat, bukan mendorong pergi. Mark mengulum bibir bawah Elase pelan, lidahnya menyusup saat Elase membuka mulut dengan desah kecil. Tangan Mark naik di balik kaos putih, menyentuh kulit hangat sebelum meraih bra pink yang sudah agak longgar. Ia membuka kaitnya dengan satu tangan, lalu meremas payudara Elase dengan telapak yang hangat dan berat. Elase membusung, punggung melengkung, napasnya tersentak. Mark menunduk, mulutnya menutup puting yang sudah mengeras, menghisap pelan sambil lidahnya berputar. Elase menggigit bibir bawah, suara lirih keluar dari tenggorokannya. “Mark… ahh…” Panggilan nama itu membuat Mark tersenyum di kulit Elase. Tangan Mark turun, menyusuri perut rata hingga menyelinap ke dalam c

  • Paman! Puaskan Aku   Menginginkanmu

    Setelah kejadian semalam, Mark benar-benar kesulitan mengendalikan pikirannya setiap kali melihat Elase. Terlebih ketika gadis itu tersenyum lepas seolah tidak terjadi apa-apa. Senyum sederhana itu saja sudah cukup membuat kepalanya kembali dipenuhi bayangan yang berusaha keras ia singkirkan sejak pagi.Bahkan pagi ini Mark sampai mandi tiga kali. Bukan karena ia kotor, melainkan karena ia membutuhkan sesuatu untuk menenangkan dirinya sendiri dan meredakan gejolak yang terasa begitu sulit dikendalikan.Namun semua usahanya seakan sia-sia.Sebab sekarang Elase duduk tidak jauh darinya, menikmati sarapan dengan santai. Gadis itu bahkan sempat tertawa kecil ketika melihat sesuatu di ponselnya, sama sekali tidak menunjukkan kecanggungan sedikit pun.Mark hanya bisa menghela napas panjang dalam hati.Bagaimana mungkin gadis itu bisa bersikap senormal itu?Sementara dirinya hampir tidak mampu menatap wajah Elase terlalu lama.Hingga akhirnya Wendo membuka suara."Mark, apa kau terburu-buru

  • Paman! Puaskan Aku   Mandi Pagi

    Mark sungguh tidak bisa tidur malam itu. Sepulang dari pantai, pikirannya justru semakin kacau. Kejadian yang berlangsung beberapa jam lalu terus berputar di kepalanya, seolah menolak untuk memberinya sedikit saja ketenangan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi rasa kantuk sama sekali belum datang. Mark mengembuskan napas gusar sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju balkon kamar, membuka pintu kaca, lalu menyalakan sebatang rokok. Bara kecil menyala di antara jemarinya. Ia mengisapnya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asap perlahan sambil memandangi gelapnya perkebunan milik kakaknya. Namun beberapa detik kemudian, pandangannya bergeser ke kanan. Di sanalah kamar Elase berada, tepat di samping kamarnya. "Dia bisa tidur?" gumam Mark kepada dirinya sendiri. Entah mengapa pertanyaan sederhana itu justru membuat dadanya semakin tidak tenang. Tatapannya tak beranjak dari pintu balkon kamar Elase. Ia kembali mengisap rokoknya, kemudian

  • Paman! Puaskan Aku   Menjadi Kekasih Paman

    Elase masih terdiam. Pertanyaan Mark menggantung di antara mereka, lebih berat daripada keheningan malam yang menyelimuti taman.Ia tahu kata “menginginkan” yang baru saja diucapkannya memiliki arti lebih dalam daripada sekadar rasa suka. Namun, ketika menatap mata Mark, Elase tidak menemukan keraguan dalam dirinya—hanya keberanian yang perlahan menguat.“Aku tahu,” jawabnya akhirnya.Suaranya pelan, tetapi terdengar jelas.Mark mengerutkan kening. Tangannya yang tadi berada di tengkuk Elase perlahan turun ke bahunya. Ia berusaha menciptakan jarak, meskipun hatinya sendiri menolak untuk menjauh.“Tidak, Elase. Kurasa kamu belum benar-benar tahu.”“Aku tahu Paman jauh lebih dewasa dariku,” balas Elase. “Aku juga tahu perasaan ini mungkin akan membuat semuanya menjadi rumit.”Ia menundukkan kepala sesaat, lalu kembali menatap Mark.“Tapi aku tidak ingin Paman terus menganggap perasaanku sebagai sesuatu yang akan hilang begitu saja.”Mark terdiam. Sorot matanya berubah serius.Elase meng

  • Paman! Puaskan Aku   Tawaran

    Hari sudah benar-benar malam ketika Mark dan Elase masih bertahan di pesisir pantai.Langit begitu gelap, hanya dihiasi cahaya bulan yang memantul di permukaan laut. Ombak datang silih berganti, pecah di bibir pantai lalu kembali surut meninggalkan suara gemerisik yang menenangkan. Angin laut berembus cukup kencang, membawa hawa dingin yang perlahan menusuk hingga ke kulit.Melihat Elase beberapa kali merapatkan kedua lengannya ke tubuh, Mark akhirnya mengumpulkan beberapa potong kayu kering yang ada di sekitar mereka dan membuat api unggun kecil.Api itu menyala di antara mereka.Cahayanya menari-nari, terkadang membesar ketika diterpa angin, terkadang mengecil sebelum kembali berkobar. Pantulan warna jingga dari api sesekali menerangi wajah Mark dan Elase yang duduk berdampingan di atas pasir.Malam itu terasa begitu santai.Tidak ada pekerjaan. Tidak ada keramaian. Tidak ada orang lain yang mengganggu.Hanya mereka berdua, suara ombak, api unggun, dan beberapa bungkus camilan yang

  • Paman! Puaskan Aku   Pantai

    Begitu tiba di parkiran, Elase menghembuskan napas lega.“Kuharap perjodohan ini akan berakhir,” gumam Elase pada dirinya sendiri penuh harapan.Mark mengamati dari samping paras yang menurutnya sungguh sempurna dan luar biasa cantiknya.“Jadi dia yang akan menikahimu?” Elase menoleh, kemudian mengangguk dengan lesu.Ia menghabiskan sisa permen kapasnya dengan bibir cemberut ke depan.“Aku tak ingin nikah muda, aku ingin kuliah dulu lalu menjadi desainer terkenal, keliling dunia dan mencoba banyak hal baru,” cerita Elase penuh semangat saat membicarakan tentang mimpinya.Mark tersenyum, mengusap puncak kepala Elase dengan lembut.Kian rencananya untuk membawa Elase ke Palermo sebagai bentuk penolakan perjodohannya dengan Clera sepertinya harus ia batalkan setelah mendengar bagaimana impian Elase tentang cita-citanya sebagai desainer.“Sudah, mau pulang sekarang?” Tanya Mark membuat Elase langsung menoleh cepat.“Ya, besok pagi akan kuajak ke Desa Pesisir Liguria, aku jamin paman pasti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status