ANMELDENMark terlentang di tepi ranjang, kepalanya sedikit menggantung di sisi yang lain sementara kedua kakinya menyentuh lantai. Cahaya lampu samping membentuk bayangan lembut di dada bidangnya yang naik-turun pelan. Elase naik ke atas ranjang dengan gerakan yang sengaja lambat. Ia merayap mendekat, lututnya menempel di sisi pinggang Mark, lalu turun pelan hingga ia duduk tepat di atas batang keras yang sudah menegang penuh. Jari-jarinya yang ramping menggenggam batang itu, mengarahkan kepalanya yang membengkak ke lubang basah miliknya. Elase menggigit bibir bawahnya ketika ia mulai menurunkan tubuh, membiarkan batang besar itu menyusup masuk sedikit demi sedikit. Napasnya tersendat. “Akh… Paman… rasanya penuh sekali…” desahnya, suara kecil dan parau, sementara kedua telapak tangannya menekan dada Mark untuk menopang tubuhnya sendiri. Mark hanya tersenyum kecil. Ia meletakkan kedua tangan di pinggang ramping Elase, ibu jarinya mengusap kulit halus di bawah tulang rusuk gadis itu. “N
Mark terdiam. Suara Elase masih bergema di kepalanya—kalimat itu terlalu berani, terlalu telanjang. Ia menelan ludah, suara itu terdengar keras di ruang sempit antara mereka. “Kamu tahu apa yang baru saja kamu katakan?” tanyanya, suara rendah dan tegang. Batangnya sudah mengeras begitu kuat hingga terasa nyeri, menekan kain celana seolah hendak meledak. Elase mengangguk pelan. Tangannya naik, menarik leher Mark agar wajahnya semakin dekat. Napasnya hangat di telinga Mark. “Cepat, Paman… sebelum Ayah dan Ibu pulang,” bisiknya. Mark merasa sesuatu di dalam dirinya putus. Ia sudah mencoba menahan diri, tapi Elase sendiri yang menyerahkan segalanya. Bibirnya bergerak sebelum pikirannya sempat menyusul. “Kamu masih punya waktu untuk mundur sekarang.” Elase menggeleng. Mata hitamnya tak goyah. Mark tersenyum kecil, riang yang berbahaya. Ia membuka celananya dengan gerakan cepat dan kasar. Batangnya terbebas, tebal, panjang, sudah mengkilap di ujungnya. Elase memalingkan wajah, pipiny
Mark menindih Elase dengan lembut namun tegas, bibirnya menyentuh bibir Elase dengan napas hangat yang berbaur. “Kau boleh bilang stop kapan saja,” bisiknya di antara ciuman, suara rendah dan berat. Elase mengangguk kecil, jari-jarinya meremas bahu Mark seolah menariknya lebih dekat, bukan mendorong pergi. Mark mengulum bibir bawah Elase pelan, lidahnya menyusup saat Elase membuka mulut dengan desah kecil. Tangan Mark naik di balik kaos putih, menyentuh kulit hangat sebelum meraih bra pink yang sudah agak longgar. Ia membuka kaitnya dengan satu tangan, lalu meremas payudara Elase dengan telapak yang hangat dan berat. Elase membusung, punggung melengkung, napasnya tersentak. Mark menunduk, mulutnya menutup puting yang sudah mengeras, menghisap pelan sambil lidahnya berputar. Elase menggigit bibir bawah, suara lirih keluar dari tenggorokannya. “Mark… ahh…” Panggilan nama itu membuat Mark tersenyum di kulit Elase. Tangan Mark turun, menyusuri perut rata hingga menyelinap ke dalam c
Setelah kejadian semalam, Mark benar-benar kesulitan mengendalikan pikirannya setiap kali melihat Elase. Terlebih ketika gadis itu tersenyum lepas seolah tidak terjadi apa-apa. Senyum sederhana itu saja sudah cukup membuat kepalanya kembali dipenuhi bayangan yang berusaha keras ia singkirkan sejak pagi.Bahkan pagi ini Mark sampai mandi tiga kali. Bukan karena ia kotor, melainkan karena ia membutuhkan sesuatu untuk menenangkan dirinya sendiri dan meredakan gejolak yang terasa begitu sulit dikendalikan.Namun semua usahanya seakan sia-sia.Sebab sekarang Elase duduk tidak jauh darinya, menikmati sarapan dengan santai. Gadis itu bahkan sempat tertawa kecil ketika melihat sesuatu di ponselnya, sama sekali tidak menunjukkan kecanggungan sedikit pun.Mark hanya bisa menghela napas panjang dalam hati.Bagaimana mungkin gadis itu bisa bersikap senormal itu?Sementara dirinya hampir tidak mampu menatap wajah Elase terlalu lama.Hingga akhirnya Wendo membuka suara."Mark, apa kau terburu-buru
Mark sungguh tidak bisa tidur malam itu. Sepulang dari pantai, pikirannya justru semakin kacau. Kejadian yang berlangsung beberapa jam lalu terus berputar di kepalanya, seolah menolak untuk memberinya sedikit saja ketenangan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi rasa kantuk sama sekali belum datang. Mark mengembuskan napas gusar sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju balkon kamar, membuka pintu kaca, lalu menyalakan sebatang rokok. Bara kecil menyala di antara jemarinya. Ia mengisapnya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asap perlahan sambil memandangi gelapnya perkebunan milik kakaknya. Namun beberapa detik kemudian, pandangannya bergeser ke kanan. Di sanalah kamar Elase berada, tepat di samping kamarnya. "Dia bisa tidur?" gumam Mark kepada dirinya sendiri. Entah mengapa pertanyaan sederhana itu justru membuat dadanya semakin tidak tenang. Tatapannya tak beranjak dari pintu balkon kamar Elase. Ia kembali mengisap rokoknya, kemudian
Elase masih terdiam. Pertanyaan Mark menggantung di antara mereka, lebih berat daripada keheningan malam yang menyelimuti taman.Ia tahu kata “menginginkan” yang baru saja diucapkannya memiliki arti lebih dalam daripada sekadar rasa suka. Namun, ketika menatap mata Mark, Elase tidak menemukan keraguan dalam dirinya—hanya keberanian yang perlahan menguat.“Aku tahu,” jawabnya akhirnya.Suaranya pelan, tetapi terdengar jelas.Mark mengerutkan kening. Tangannya yang tadi berada di tengkuk Elase perlahan turun ke bahunya. Ia berusaha menciptakan jarak, meskipun hatinya sendiri menolak untuk menjauh.“Tidak, Elase. Kurasa kamu belum benar-benar tahu.”“Aku tahu Paman jauh lebih dewasa dariku,” balas Elase. “Aku juga tahu perasaan ini mungkin akan membuat semuanya menjadi rumit.”Ia menundukkan kepala sesaat, lalu kembali menatap Mark.“Tapi aku tidak ingin Paman terus menganggap perasaanku sebagai sesuatu yang akan hilang begitu saja.”Mark terdiam. Sorot matanya berubah serius.Elase meng







