Share

Paman! Puaskan Aku
Paman! Puaskan Aku
Author: Miss Eka

Perjodohan

Author: Miss Eka
last update publish date: 2026-08-29 15:47:51

“Mark tidak akan menikahi Clera ma, pernikahan bisnis tidak akan pernah ada selagi aku yang memegang perusahaan papa!” 

Mark Dolton— pewaris tunggal Dolton yang kini memimpin salah satu Perusahaan raksasa di Palermo, terjerat pilihan sulit dari mamanya untuk menikahi putri rekan bisnis perusahaan keluarga mereka, demi membangun istana yang kuat serta memperbesar pundi-pundi kekayaan perusahaan.

Mera mendesis dengan geram kala putranya terus menolak semua kencan buta dan perjodohan yang ia atur.

Namun Mera sudah bertekad bulat, ia menghentikan semua kencan buta dan perjodohan dengan wanita di luar sana dengan Clera, teman semasa kecil Mark sekaligus rekan bisnis dekat mereka.

Mera anggap itu jalan satu-satunya yang sangat efektif untuk memberantas rumor media yang terus menyebarkan isu jika pewaris Dolton tidak tertarik dengan perempuan.

Karena rumor media itu saham perusahaan sempat turun, membuat Mera enggan untuk terlihat lebih kecil dari perusahaan kakaknya.

Apa pun akan Mera lakukan demi membuat Perusahaan suaminya unggul dari perusahaan kakaknya sendiri.

“Mama tidak mau tahu, mau tidak mau, nanti malam kamu harus datang bersama mama ke mansion Alerik, kita bicarakan langsung pertunangan kamu dengan Clera!” ucap Mera dengan paten, sulit untuk Mark bantah.

•••

Dolton Company 

“Kali ini kau akan dinikahkan dengan Clera? Ohh kurasa bibi Mera memang sudah lelah dengan rumor media di luaran sana yang memberitakan dirimu tak tertarik dengan perempuan,” ujar Zen membuat Mark kian tambah dongkol.

Zen memperbaiki posisi duduknya, memajukan tubuhnya untuk berbicara lebih serius pada Mark.

“Sekarang jujur padaku, kau masih tertarik dengan perempuan kan? Pasalnya aku sudah hampir 10 tahun bekerja denganmu, aku takut sesuatu merubah pikiranmu,” goda Zen membuat Mark mendecakkan lidahnya dengan kasar.

Zen menghempaskan punggungnya ke kursi dan berkata, “Kalau aku tetap setia menunggu keponakanmu yang satu itu, Elase. Ahhh aku sungguh merindukannya, sudah berapa tahun kita tidak bertemu? Hampir 5 tahun bukan sejak kak Wendo pergi meninggalkan Palermo? Kurasa dia akan bertambah cantik,” Ucapan Zen seketika langsung membuat Mark seperti mendapatkan kehidupan baru.

Ya, Elase Wendo—putri semata wayang kakak angkatnya yang kini tinggal di Milan, sudah sebesar apa keponakannya itu?

“Saat menikah nanti, kau akan mengundang kak Wendo kemari kan? Kapan lagi kau akan menemuinya?” tanya Zen membuat Mark seketika langsung bangkit dari kursi kerjanya.

“Terima kasih, bulan ini gajimu naik dua kali lipat!” ujar Mark yang kian bergegas berlari keluar dari ruangannya.

Zen terperangah akan hadiah yang Mark berikan namun ia bingung atas dasar apa gajinya dinaikkan dua kali lipat olehnya?

•••

Mansion Elerik

“Ya ampun Mark, bibi sungguh terpana dengan parasmu yang sungguh menawan di usiamu yang sudah 31 tahun ini,” ujar Taye dengan penuh senyuman yang mengembang lebar.

Elerik tertawa mendengar pujian istrinya pada Mark. “Bukankah ia sangat sama persis dengan masa muda Dolton? Selalu tampan dan menawan!” Kali ini Mera yang tertawa.

Mark terlihat hanya menarik sudut bibirnya samar, raganya memang mengikuti kemauan mamanya untuk datang ke mansion Elerik, namun tidak dengan tekad yang ia simpan.

Mera kemudian langsung berterus terang atas maksud dari kedatangannya.

“Taye, kau tahu kita sudah berteman sejak lama, anak-anak kita sudah tumbuh dewasa, aku ingin kita bisa terus berteman sampai kita tua, karena itu aku berencana menjodohkan Mark dengan putrimu, bagaimana menurutmu?” Taye tersenyum ria, menoleh pada putrinya dan mengangguk penuh kegembiraan yang diangguki oleh Elerik juga.

“Itu yang kutunggu selama ini Mera,” ucap Elerik membuat Mera bernapas lega kala niatnya diterima baik oleh mereka.

Clera tampak tersenyum malu-malu melihat Mark, tampak bersemu merah pipinya.

Di tengah kegembiraan dua keluarga itu, Mark memilih menghancurkan senyuman mereka dengan ucapan spontannya.

“Tapi Mark tidak akan menikahi Clera, aku punya calon istri sendiri,” seketika Mark langsung berdiri dari kursinya, membuat Mera mencoba menarik tangan kekar putranya namun tekad pria tua itu sungguh luar biasa saat ini.

Mark melihat Elerik dan Taye, kemudian melihat mamanya.

“Mark akan membawa dia ke hadapan kalian!” ucap Mark sebelum akhirnya memilih meninggalkan mereka di meja panjang yang memiliki sejuta harapan dari dua keluarga besar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Paman! Puaskan Aku   Basah

    Mark menindih Elase dengan lembut namun tegas, bibirnya menyentuh bibir Elase dengan napas hangat yang berbaur. “Kau boleh bilang stop kapan saja,” bisiknya di antara ciuman, suara rendah dan berat. Elase mengangguk kecil, jari-jarinya meremas bahu Mark seolah menariknya lebih dekat, bukan mendorong pergi. Mark mengulum bibir bawah Elase pelan, lidahnya menyusup saat Elase membuka mulut dengan desah kecil. Tangan Mark naik di balik kaos putih, menyentuh kulit hangat sebelum meraih bra pink yang sudah agak longgar. Ia membuka kaitnya dengan satu tangan, lalu meremas payudara Elase dengan telapak yang hangat dan berat. Elase membusung, punggung melengkung, napasnya tersentak. Mark menunduk, mulutnya menutup puting yang sudah mengeras, menghisap pelan sambil lidahnya berputar. Elase menggigit bibir bawah, suara lirih keluar dari tenggorokannya. “Mark… ahh…” Panggilan nama itu membuat Mark tersenyum di kulit Elase. Tangan Mark turun, menyusuri perut rata hingga menyelinap ke dalam c

  • Paman! Puaskan Aku   Menginginkanmu

    Setelah kejadian semalam, Mark benar-benar kesulitan mengendalikan pikirannya setiap kali melihat Elase. Terlebih ketika gadis itu tersenyum lepas seolah tidak terjadi apa-apa. Senyum sederhana itu saja sudah cukup membuat kepalanya kembali dipenuhi bayangan yang berusaha keras ia singkirkan sejak pagi.Bahkan pagi ini Mark sampai mandi tiga kali. Bukan karena ia kotor, melainkan karena ia membutuhkan sesuatu untuk menenangkan dirinya sendiri dan meredakan gejolak yang terasa begitu sulit dikendalikan.Namun semua usahanya seakan sia-sia.Sebab sekarang Elase duduk tidak jauh darinya, menikmati sarapan dengan santai. Gadis itu bahkan sempat tertawa kecil ketika melihat sesuatu di ponselnya, sama sekali tidak menunjukkan kecanggungan sedikit pun.Mark hanya bisa menghela napas panjang dalam hati.Bagaimana mungkin gadis itu bisa bersikap senormal itu?Sementara dirinya hampir tidak mampu menatap wajah Elase terlalu lama.Hingga akhirnya Wendo membuka suara."Mark, apa kau terburu-buru

  • Paman! Puaskan Aku   Mandi Pagi

    Mark sungguh tidak bisa tidur malam itu. Sepulang dari pantai, pikirannya justru semakin kacau. Kejadian yang berlangsung beberapa jam lalu terus berputar di kepalanya, seolah menolak untuk memberinya sedikit saja ketenangan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi rasa kantuk sama sekali belum datang. Mark mengembuskan napas gusar sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju balkon kamar, membuka pintu kaca, lalu menyalakan sebatang rokok. Bara kecil menyala di antara jemarinya. Ia mengisapnya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asap perlahan sambil memandangi gelapnya perkebunan milik kakaknya. Namun beberapa detik kemudian, pandangannya bergeser ke kanan. Di sanalah kamar Elase berada, tepat di samping kamarnya. "Dia bisa tidur?" gumam Mark kepada dirinya sendiri. Entah mengapa pertanyaan sederhana itu justru membuat dadanya semakin tidak tenang. Tatapannya tak beranjak dari pintu balkon kamar Elase. Ia kembali mengisap rokoknya, kemudian

  • Paman! Puaskan Aku   Menjadi Kekasih Paman

    Elase masih terdiam. Pertanyaan Mark menggantung di antara mereka, lebih berat daripada keheningan malam yang menyelimuti taman.Ia tahu kata “menginginkan” yang baru saja diucapkannya memiliki arti lebih dalam daripada sekadar rasa suka. Namun, ketika menatap mata Mark, Elase tidak menemukan keraguan dalam dirinya—hanya keberanian yang perlahan menguat.“Aku tahu,” jawabnya akhirnya.Suaranya pelan, tetapi terdengar jelas.Mark mengerutkan kening. Tangannya yang tadi berada di tengkuk Elase perlahan turun ke bahunya. Ia berusaha menciptakan jarak, meskipun hatinya sendiri menolak untuk menjauh.“Tidak, Elase. Kurasa kamu belum benar-benar tahu.”“Aku tahu Paman jauh lebih dewasa dariku,” balas Elase. “Aku juga tahu perasaan ini mungkin akan membuat semuanya menjadi rumit.”Ia menundukkan kepala sesaat, lalu kembali menatap Mark.“Tapi aku tidak ingin Paman terus menganggap perasaanku sebagai sesuatu yang akan hilang begitu saja.”Mark terdiam. Sorot matanya berubah serius.Elase meng

  • Paman! Puaskan Aku   Tawaran

    Hari sudah benar-benar malam ketika Mark dan Elase masih bertahan di pesisir pantai.Langit begitu gelap, hanya dihiasi cahaya bulan yang memantul di permukaan laut. Ombak datang silih berganti, pecah di bibir pantai lalu kembali surut meninggalkan suara gemerisik yang menenangkan. Angin laut berembus cukup kencang, membawa hawa dingin yang perlahan menusuk hingga ke kulit.Melihat Elase beberapa kali merapatkan kedua lengannya ke tubuh, Mark akhirnya mengumpulkan beberapa potong kayu kering yang ada di sekitar mereka dan membuat api unggun kecil.Api itu menyala di antara mereka.Cahayanya menari-nari, terkadang membesar ketika diterpa angin, terkadang mengecil sebelum kembali berkobar. Pantulan warna jingga dari api sesekali menerangi wajah Mark dan Elase yang duduk berdampingan di atas pasir.Malam itu terasa begitu santai.Tidak ada pekerjaan. Tidak ada keramaian. Tidak ada orang lain yang mengganggu.Hanya mereka berdua, suara ombak, api unggun, dan beberapa bungkus camilan yang

  • Paman! Puaskan Aku   Pantai

    Begitu tiba di parkiran, Elase menghembuskan napas lega.“Kuharap perjodohan ini akan berakhir,” gumam Elase pada dirinya sendiri penuh harapan.Mark mengamati dari samping paras yang menurutnya sungguh sempurna dan luar biasa cantiknya.“Jadi dia yang akan menikahimu?” Elase menoleh, kemudian mengangguk dengan lesu.Ia menghabiskan sisa permen kapasnya dengan bibir cemberut ke depan.“Aku tak ingin nikah muda, aku ingin kuliah dulu lalu menjadi desainer terkenal, keliling dunia dan mencoba banyak hal baru,” cerita Elase penuh semangat saat membicarakan tentang mimpinya.Mark tersenyum, mengusap puncak kepala Elase dengan lembut.Kian rencananya untuk membawa Elase ke Palermo sebagai bentuk penolakan perjodohannya dengan Clera sepertinya harus ia batalkan setelah mendengar bagaimana impian Elase tentang cita-citanya sebagai desainer.“Sudah, mau pulang sekarang?” Tanya Mark membuat Elase langsung menoleh cepat.“Ya, besok pagi akan kuajak ke Desa Pesisir Liguria, aku jamin paman pasti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status