Startseite / Mafia / Pamanku, Suamiku / Keponakan yang Cantik

Teilen

Keponakan yang Cantik

last update Veröffentlichungsdatum: 29.08.2026 15:48:11

Mark akhirnya tiba di Milan, dengan buah tangan yang ia bawa dari Palermo, ia mendatangi rumah kakak angkatnya, Wendo.

Ia ketuk pintu kayu sederhana itu dengan senyuman yang begitu lebar.

“Iya sebentar,” suara itu, suara kakak iparnya, Lesan.

Begitu pintu dibuka, benar saja, Lesan membelalak terkejut akan kedatangan Mark ke Milan.

“Sayang cepat kemari,” teriak Lesan pada suaminya membuat Mark hanya tersenyum melihat bagaimana antusiasnya mereka atas kedatangannya.

“Ada apa sayang?” Tanya Wendo dari dapur, seketika Wendo terdiam di tempatnya, mulutnya terbuka, lalu detik kemudian ia langsung berlari memeluk Mark dan memukuli punggungnya penuh kebahagiaan.

“Mark, kau datang!” Pekiknya dengan riang membuat Lesan hanya bisa tersenyum penuh haru melihat persaudaraan mereka.

Mark mengangguk, tubuhnya kembali dipeluk, bisa Mark rasakan pelukan itu sungguh tulus dan hangat penuh kasih sayang.

Meski Wendo hanya sekedar kakak angkat, bagi Mark Wendo adalah segalanya, kakak yang hebat baginya.

“Ini untuk kalian,” ucap Mark begitu Wendo baru melepaskan pelukannya.

Lesan menerimanya dengan dumelan yang panjang, karena Mark akan selalu membawa banyak barang dari Palermo.

Wendo langsung merangkul bahu Mark untuk dibawa masuk ke dalam.

Hal pertama yang Mark lihat adalah bagaimana sederhana, bahagia dan rapinya ruang tamu itu, meski furniture yang mengisi ruangan itu bukan marmer dan lukisan mahal, namun kesan dan suasana yang ada sungguh menenangkan hati Mark.

Mark menyapu ruangan yang ada, mencari seseorang yang tak ada di sana.

“Di mana Elase?” Tanya Mark membuat Wendo yang tengah membawa camilan kering dari dapur terkekeh.

“Keponakanmu itu sedang keluar, mungkin sebentar lagi pulang,” jawab Wendo sembari meletakkan camilan kering buatan istrinya.

Mark hanya manggut-manggut, tak lama Lesan datang dengan dua cangkir kopi.

“Ayah ibu!” Semua kepala menoleh, terlihat gadis cantik dengan rambut di kepang satu berada di sisi kiri dengan poni belah, berlari riang dari luar, dress kuning sebatas lutut yang membalut tubuhnya yang kian sudah tumbuh dewasa sungguh membuatnya tampak cantik jelita.

“Sayang kamu sudah pulang? Kebetulan sekali, pamanmu datang,” ujar Lesan membuat Elase langsung meletakkan barang belanjaannya di atas meja dan menghampiri Mark untuk mencium tangannya.

Mark sempat terdiam beberapa saat karena terperangah dengan kecantikan keponakannya sendiri, sungguh, dia benar-benar definisi gadis desa yang sesungguhnya.

Elase membawa barang belanjaannya ke dapur sembari bercerita dengan ibunya. “Kata bibi Ane nanti sore ibu disuruh ke sana untuk membuat keju bersama-sama. Kak Eldo akan berangkat ke Palermo besok pagi.”

Mark tak bisa mengalihkan pandangannya, matanya terus mengikuti kemana Elase melangkah.

“Kenapa tidak mengabariku lebih dulu? Kakak tidak punya persiapan apa pun untuk menyambutmu,” ucapan Wendo seketika membuyarkan pandangan Mark pada Elase.

Mark beralih melihat kakaknya, tersenyum dengan tipis dan mengangkat cangkir kopinya, “Tak apa kak. Aku merindukanmu, karena itu aku datang kemari!” jawab Mark sebelum menyeduh kopinya.

Wendo manggut-manggut pelan, ikut menyeduh kopinya sebelum pertanyaan sensitif itu ia ajukan.

“Bagaimana kabar mama?” tanya Wendo pelan dan sangat hati-hati.

Mark meletakkan cangkir kopinya dan menarik napas lega, “Mama sehat, bagaimana dengan perkebunan kakak? Kapan kakak akan kembali ke Palermo?” Wendo tersenyum masam, pertanyaan yang paling ia hindari dan tak ingin ia bahas akhirnya Mark tanyakan.

“Kakak akan tetap tinggal di sini. Elase sudah tumbuh dan besar di pedesaan dan perkebunan yang kami rawat. Biarkan saja dia tetap berada di Milan, lagian sebentar lagi dia juga akan menjadi istri orang,” ujar Wendo santai di akhir kalimatnya.

Namun tidak dengan reaksi Mark yang sangat terkejut.

“Apa? Menjadi istri orang?” 

Wendo mengangguk dengan anggukan mantapnya.

Lantas bagaimana dengan rencana Mark untuk membatalkan perjodohan dirinya dengan Clera jika Elase saja akan menikah dengan orang lain?

Haruskah Mark kembali ke Palermo dan menerima perjodohan itu?

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Pamanku, Suamiku   Sekali Lagi, Sayang

    Mark terlentang di tepi ranjang, kepalanya sedikit menggantung di sisi yang lain sementara kedua kakinya menyentuh lantai. Cahaya lampu samping membentuk bayangan lembut di dada bidangnya yang naik-turun pelan. Elase naik ke atas ranjang dengan gerakan yang sengaja lambat. Ia merayap mendekat, lututnya menempel di sisi pinggang Mark, lalu turun pelan hingga ia duduk tepat di atas batang keras yang sudah menegang penuh. Jari-jarinya yang ramping menggenggam batang itu, mengarahkan kepalanya yang membengkak ke lubang basah miliknya. Elase menggigit bibir bawahnya ketika ia mulai menurunkan tubuh, membiarkan batang besar itu menyusup masuk sedikit demi sedikit. Napasnya tersendat. “Akh… Paman… rasanya penuh sekali…” desahnya, suara kecil dan parau, sementara kedua telapak tangannya menekan dada Mark untuk menopang tubuhnya sendiri. Mark hanya tersenyum kecil. Ia meletakkan kedua tangan di pinggang ramping Elase, ibu jarinya mengusap kulit halus di bawah tulang rusuk gadis itu. “N

  • Pamanku, Suamiku   Besar Sekali, Paman

    Mark terdiam. Suara Elase masih bergema di kepalanya—kalimat itu terlalu berani, terlalu telanjang. Ia menelan ludah, suara itu terdengar keras di ruang sempit antara mereka. “Kamu tahu apa yang baru saja kamu katakan?” tanyanya, suara rendah dan tegang. Batangnya sudah mengeras begitu kuat hingga terasa nyeri, menekan kain celana seolah hendak meledak. Elase mengangguk pelan. Tangannya naik, menarik leher Mark agar wajahnya semakin dekat. Napasnya hangat di telinga Mark. “Cepat, Paman… sebelum Ayah dan Ibu pulang,” bisiknya. Mark merasa sesuatu di dalam dirinya putus. Ia sudah mencoba menahan diri, tapi Elase sendiri yang menyerahkan segalanya. Bibirnya bergerak sebelum pikirannya sempat menyusul. “Kamu masih punya waktu untuk mundur sekarang.” Elase menggeleng. Mata hitamnya tak goyah. Mark tersenyum kecil, riang yang berbahaya. Ia membuka celananya dengan gerakan cepat dan kasar. Batangnya terbebas, tebal, panjang, sudah mengkilap di ujungnya. Elase memalingkan wajah, pipiny

  • Pamanku, Suamiku   Basah

    Mark menindih Elase dengan lembut namun tegas, bibirnya menyentuh bibir Elase dengan napas hangat yang berbaur. “Kau boleh bilang stop kapan saja,” bisiknya di antara ciuman, suara rendah dan berat. Elase mengangguk kecil, jari-jarinya meremas bahu Mark seolah menariknya lebih dekat, bukan mendorong pergi. Mark mengulum bibir bawah Elase pelan, lidahnya menyusup saat Elase membuka mulut dengan desah kecil. Tangan Mark naik di balik kaos putih, menyentuh kulit hangat sebelum meraih bra pink yang sudah agak longgar. Ia membuka kaitnya dengan satu tangan, lalu meremas payudara Elase dengan telapak yang hangat dan berat. Elase membusung, punggung melengkung, napasnya tersentak. Mark menunduk, mulutnya menutup puting yang sudah mengeras, menghisap pelan sambil lidahnya berputar. Elase menggigit bibir bawah, suara lirih keluar dari tenggorokannya. “Mark… ahh…” Panggilan nama itu membuat Mark tersenyum di kulit Elase. Tangan Mark turun, menyusuri perut rata hingga menyelinap ke dalam c

  • Pamanku, Suamiku   Menginginkanmu

    Setelah kejadian semalam, Mark benar-benar kesulitan mengendalikan pikirannya setiap kali melihat Elase. Terlebih ketika gadis itu tersenyum lepas seolah tidak terjadi apa-apa. Senyum sederhana itu saja sudah cukup membuat kepalanya kembali dipenuhi bayangan yang berusaha keras ia singkirkan sejak pagi.Bahkan pagi ini Mark sampai mandi tiga kali. Bukan karena ia kotor, melainkan karena ia membutuhkan sesuatu untuk menenangkan dirinya sendiri dan meredakan gejolak yang terasa begitu sulit dikendalikan.Namun semua usahanya seakan sia-sia.Sebab sekarang Elase duduk tidak jauh darinya, menikmati sarapan dengan santai. Gadis itu bahkan sempat tertawa kecil ketika melihat sesuatu di ponselnya, sama sekali tidak menunjukkan kecanggungan sedikit pun.Mark hanya bisa menghela napas panjang dalam hati.Bagaimana mungkin gadis itu bisa bersikap senormal itu?Sementara dirinya hampir tidak mampu menatap wajah Elase terlalu lama.Hingga akhirnya Wendo membuka suara."Mark, apa kau terburu-buru

  • Pamanku, Suamiku   Mandi Pagi

    Mark sungguh tidak bisa tidur malam itu. Sepulang dari pantai, pikirannya justru semakin kacau. Kejadian yang berlangsung beberapa jam lalu terus berputar di kepalanya, seolah menolak untuk memberinya sedikit saja ketenangan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi rasa kantuk sama sekali belum datang. Mark mengembuskan napas gusar sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju balkon kamar, membuka pintu kaca, lalu menyalakan sebatang rokok. Bara kecil menyala di antara jemarinya. Ia mengisapnya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asap perlahan sambil memandangi gelapnya perkebunan milik kakaknya. Namun beberapa detik kemudian, pandangannya bergeser ke kanan. Di sanalah kamar Elase berada, tepat di samping kamarnya. "Dia bisa tidur?" gumam Mark kepada dirinya sendiri. Entah mengapa pertanyaan sederhana itu justru membuat dadanya semakin tidak tenang. Tatapannya tak beranjak dari pintu balkon kamar Elase. Ia kembali mengisap rokoknya, kemudian

  • Pamanku, Suamiku   Menjadi Kekasih Paman

    Elase masih terdiam. Pertanyaan Mark menggantung di antara mereka, lebih berat daripada keheningan malam yang menyelimuti taman.Ia tahu kata “menginginkan” yang baru saja diucapkannya memiliki arti lebih dalam daripada sekadar rasa suka. Namun, ketika menatap mata Mark, Elase tidak menemukan keraguan dalam dirinya—hanya keberanian yang perlahan menguat.“Aku tahu,” jawabnya akhirnya.Suaranya pelan, tetapi terdengar jelas.Mark mengerutkan kening. Tangannya yang tadi berada di tengkuk Elase perlahan turun ke bahunya. Ia berusaha menciptakan jarak, meskipun hatinya sendiri menolak untuk menjauh.“Tidak, Elase. Kurasa kamu belum benar-benar tahu.”“Aku tahu Paman jauh lebih dewasa dariku,” balas Elase. “Aku juga tahu perasaan ini mungkin akan membuat semuanya menjadi rumit.”Ia menundukkan kepala sesaat, lalu kembali menatap Mark.“Tapi aku tidak ingin Paman terus menganggap perasaanku sebagai sesuatu yang akan hilang begitu saja.”Mark terdiam. Sorot matanya berubah serius.Elase meng

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status