Mag-log inSekali lagi Lea merasa tak punya pilihan. Dia pasti akan memilih pergi, jika saja perutnya tidak meronta kelaparan. Semenjak mendarat dalam tubuh indah Nae kemarin, baru malam ini dia benar-benar mendapat makanan.
Kekacauan pikiran dan suasana hatinya, seakan mendorong rasa lapar menjadi daftar kekhawatiran Lea yang terakhir.
Pagi tadi Lea melewatkan sarapan dengan bangun siang, dan siang tadi setelah insiden kamar mandi bersama dengan Rasui, Heba memberi perawatan yang sangat detail kepadanya bukan hanya menggosok punggung.
Heba mengoleskan semacam lulur beraroma wangi ke seluruh tubuh, memijat punggung, mencuci dan memberi rambutnya semacam minyak yang sedikit beraroma kacang, membuat rambut Nae semakin hitam berkilau.
Terakhir Heba, menyediakan berbagai parfum wangi, yang membuat Lea merasa harus membayar, karena pelayanan Heba, tidak jauh berbeda dengan salon mahal.
Tubuhnya semakin terasa tidak seperti tubuhnya sendiri, karena semua perawatan itu. Lea bukan penggemar perawatan salon. Selain menimbang harga, dia tidak terlalu ingin mempercantik diri dengan berlebihan. Percuma cantik dan wangi, jika masih tidak mampu untuk mencium dengan wajah tanpa jijik.
“Ini, Tuan Putri.” Heba kembali memutus lamunan Lea, menyorongkan piring tanah liat, yang sudah berisi potongan daging panggang. Asal daging panggang itu yang menjadi penyebab nafsu makan Lea nyaris terbunuh.
Lea tidak keberatan dengan daging, tetapi penampakan daging yang ada di meja itu, membuat Lea ingin menjadi vegetarian.
Juru masak menyediakan hidangan istimewa, ingin menghormati kedatangan Lea, dengan memanggang rusa utuh, tidak terlalu besar, sedikit lebih kecil dari kambing. Masalahnya, rusa itu dihidangkan secara utuh lengkap dengan kepala yang masih menempel.
Lea kini merasa dihakimi, karena mata rusa yang sedih itu, seakan melotot ke arahnya, mempertanyakan kenapa nasibnya sial.
Lea sejak tadi secara khusus menghindar memandang kepala itu, agar tidak terus bertemu dengan mata mati itu.
Untung Heba membantunya. Dia yang mengambil potongan daging rusa paling empuk untuk Lea, juga berbagai macam buah dan roti.
Lea sedikit teralih dari rusa saat melihat roti itu. Bentuk dan penampakan roti itu tentu berbeda dengan yang ada di zaman modern, tapi dibuat dengan cukup rapi, melalui proses fermentasi ragi.
Bagi Lea ini fakta menarik. Tidak menyangka sejarah ragi ternyata setua ini. Pelajaran teknologi pangan yang ia pelajari belum mencapai detail yang ini. Mengabaikan pandangan sedih rusa itu, Lea menyuapkan makanan ke mulut, dan terkejut.
“Wow!” Lea berseru lirih.
Sedikit alot, karena rusa itu jelas liar. Tapi tingkat kematangan dan bumbu yang sederhana, membuat rasa rasa daging rusa yang asli lebih menonjol. Tidak seperti sapi maupun babi, lebih ke arah kambing, tapi dengan aroma tajam yang berbeda.
Lea mungkin meneliti bahan pangan sehat setiap harinya, tapi dengan ironis, kesibukan itu justru membuatnya mengabaikan makanan yang masuk ke tubuhnya. Lea terbiasa memakan burger dan fast food dengan mutu daging di bawah rata-rata.
“Anda makan lahap sekali. Hamba akan memberi pesan kepada dapur jika anda menyukai hidangan daging rusa.” Heba menyahut.
“Tidak perlu! Jangan!” Lea menggeleng.
“Aku menyukainya, tapi tidak perlu memaksakan diri mengolah rusa seperti itu setiap hari. Roti dan buah saja sudah cukup,” ujar Lea, dengan sangat cepat. Membayangkan setiap hari harus bertemu mata dengan rusa mati, membuatnya merinding.
Heba mengangguk mengerti. “Tadi juru masak istana hanya menyiapkan apa yang umum disukai orang, karena tidak terlalu tahu bagaimana selera Anda,” jelas Heba. Menerangkan penyebab beragamnya hidangan di meja itu.
“Seleraku tidak ada yang aneh. Aku menyukai apa saja, yang tidak terlalu ekstrim.” Lea kembali melirik ke arah kepala rusa, yang sungguh sangat ekstrim itu.
“Ekstrim?” Heba bertanya tak mengerti.
“Hmm… sebentar.” Lea kini sudah menyadari jika Lea dan juga Rasui tidak mengerti beberapa istilah yang dia pakai.
Kata ‘ekstrim’ sepertinya belum ada di zaman ini, seperti ‘fantastic’, dan juga ‘shit’, yang tadi siang dipertanyakan Rasui.
“Ekstrem itu... hal yang berlebihan. Tidak umum. Makanan ekstrim berarti sesuatu yang tidak biasa dimakan, seperti serangga atau ular misalnya.”
“Ular ekstrim? Tapi rasanya lezat, juru masak istana sering memasaknya,” sahut Heba. Roti yang baru saja ditelan Lea, meluncur masuk ke saluran yang salah, karena terkejut.
Heba dengan terburu-buru mengambil minuman untuknya, air segar dalam mangkuk kayu. Lea yang sempat terbatuk hebat, sangat berterima kasih untuk air itu, karena tenggorokannya tak lagi pedih.
“Kalian memakan ular?” Lea ingin memastikan.
“Anda belum pernah memakannya?” Heba yang terdengar heran sekarang.
Lea kehilangan kata-kata. Tidak menyangka jika ular termasuk dalam biasa yang mereka makan. Dia tidak takut ular, hanya memakannya tidak termasuk dalam cita-cita. Sedikit menjijikkan tentu saja.
“Tolong ingatkan, jika ada hidangan di sini yang mengandung ular,” pinta Lea.
“Oh, untuk sekarang anda tak perlu khawatir. Sekarang belum musim.”
Lea berhasil menahan makanan dalam perutnya, tidak jadi memuntahkan apapun. Membayangkan binatang melata itu dimasak membuatnya mual.
“Aku harus cepat belajar.” Lea mengeluh dalam hati. Dia harus berhati-hati dengan apa yang dimakannya setelah ini.
Lea meraih buah anggur hijau yang segar. Buah lebih aman.
“Kenapa aku harus makan malam di sini?”
Keluhan tajam terdengar dari belakang Lea, dan Lea tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang mengeluh, Heba yang kini bersimpuh, cukup memberi tahu siapa yang datang.
Rasui muncul dengan wajah bersungut-sungut. Ada satu orang yang mengikutinya. Dia mengeluh kepada pria itu. Pria itu sekarang terlihat gugup sekali.
“Maaf, Pangeran. Hamba mengira Anda akan makan malam bersama Tuan Putri,” katanya, sambil membungkuk sembilan puluh derajat.
“Simpan saja pendapat lancang itu untuk dirimu lain kali!” bentak Rasui.
“Saya akan menyiapkan hidangan di tempat lain.” Pria itu semakin membungkuk.
Rasui melirik sebal ke arahnya, dan bibirnya menipis. Dan tentu Lea tak mau kalah, dia membuat mimik wajah jengkel sebaik mungkin, dengan sengaja tidak memandangnya. Agar Rasui tahu, dia juga tidak suka dengan pengaturan ini.
“Tidak perlu! Menyusahkan sekali. Aku akan makan di sini malam ini, tapi jangan ulang lagi!” hardiknya.
Pria yang sepertinya pelayan pribadinya--seperti Heba untuk Lea--berjanji dengan sungguh-sungguh.
Dalam hati Lea tertawa. Sikap Rasui menegaskan, jika dia tidak ingin lagi berada dalam satu area bersama dengan Lea setelah hari ini. Dan Lea bersyukur untuk itu. Sikap Rasui yang selalu tak terduga, membuatnya sakit kepala.
Tapi jika benar Rasui tak ingin lagi menemuinya, itu berarti Lea harus segera mengatakan apa yang jadi uneg-unegnya. Dia tidak akan punya kesempatan lagi selain hari ini. Meski sudah berniat, bukan berarti mudah.
Lea beberapa kali melirik ke arah Rasui, yang mengunyah makanannya tanpa menatap Lea sekalipun, seakan dirinya adalah bagian dari dinding.
Lea membersihkan tenggorokannya, lalu menegakkan kepala.
“A... Aku ingin bicara!” Lea tergagap karena jantungnya memilih untuk berdegup lebih kencang, saat matanya bertemu dengan Rasui. Mata tajam Rasui beserta wajah tampan itu, mampu membuat hatinya tak tenang.
Lea merasa seperti remaja tanggung yang baru saja bertemu artis idola. Sampai harus bersusah payah menahan antusias untuk tidak berteriak memuji wajahnya.
Hilang sudah kemampuannya untuk bersikap tak acuh pada pria, seperti yang biasa dia lakukan untuk menghindari kemungkinan terjadi hubungan.
“Pria itu seharusnya mempertimbangkan diri untuk memakai topeng,” keluh Lea dalam hati.
“Kalian berdua tinggalkan kami.” Rasui memerintah pada Heba dan pria yang berdiri melayaninya sejak tadi. Tak ingin mereka mendengar pembicaraan. Kasus aneh Lea tidak untuk didengar oleh banyak telinga.
Mereka berdua undur diri, nyaris seketika itu juga.
PULUHAN MUSIM SETELANYA"Yang Mulia! Jangan berlari! Bagaimana dengan kandungan Anda!"Tapi wanita itu, mengabaikan teguran dan tetap berlari kecil. Kandungannya belum seberapa besar. Dia akan baik-baik saja.Berita yang baru saja dia terima tadi, telah membuatnya melupakan segalanya. Dia hanya ingin cepat menemuinya. Sambil memegang perutnya, ia berjalan cepat menuju kamar ayahnya.“Kau disini?” Dia kaget saat melihat suaminya berdiri di depan pintu kamar ayahnya.Suaminya mengangguk. “Aku akan menunggu di sini, kau masuk saja ke dalam.”“Kenapa begitu? Kau ikut saja!”Pria itu menggeleng, sambil mengusap rambutnya. “Aku yakin dia hanya ingin berbicara denganmu.”“Beliau hanya menunggu Anda.” Budak yang ada di depan kamar, ikut melapor sambil membungkuk padanya.“Terima kasih Daka. Dan tolong pertimbangkan tawaranku sekali lagi. Aku tidak ingin kau terus bekerja. Aku akan mempersiapkan rumah untukmu. Kau bisa beristirahat dengan nyaman di sana.” Budak bernama Daka itu membungkuk, me
Saat berbalik kembali ke Osiris, dia melihat pemandangan yang cukup mengganggu, karena ada seorang anak remaja tampak tersenyum sambil menatap benda berdarah yang ada di tangannya.Sudah jelas itu adalah mata yang diambil dari kepala Seth.“Jangan katakan kau akan menelannya!” Ra tiba-tiba teringat kata-kata Seth soal menelan darahnya.“Ewww! Tidak! Kau pikir aku apa?!” Osiris mengernyit jijik.“Lalu apa yang akan kau lakukan?” Ra tak habis pikir dengan apa yang akan dilakukan Osiris dengan bola mata.Osiris tidak menjawab. Dia merogoh ke dalam baju mengambil sebuah.... Tongkat. Ra tidak tahu harus menyebutnya apa.Dibanding tongkat, benda itu lebih mirip kunci raksasa, karena besarnya hampir sama dengan lengan. Bagian kepala kunci adalah lubang kosong berbentuk lonjong. Ada sebuah penyangga yang mencuat di tengah bagian kepala kunci itu. Bagian yang membuat benda itu tidak terlihat seperti kunci. Osiris tersenyum sejenak, untuk merayakan kemenangannya ini, lalu dengan wajah khidmat
Tapi pukulan yang baru saja mendarat di punggung tangannya, bahkan tidak membuat Ra merasa geli.Ini adalah pukulan yang yang tidak jauh berbeda dari pukulan manusia biasa. menandakan jika kekuatan Seth sudah mulai terpengaruh oleh darah Ra.Hanya saja si empunya tubuh tidak menyadarinya. Dengan baik hati, Ra segera berencana untuk membuat Seth menyadarinya.Pada ayunan yang berikutnya, Ra menangkap tongkat Seth dalam sekali cekal. Selain kekuatan, kecepatan Seth juga sudah jauh menurun, dan dia masih tidak menyadarinya, karena terlihat sangat kaget saat Ra dengan mudah menangkap tongkatnya itu.Dia merasa sudah mengayunkan tongkat secepat yang dia bisa. Selain yakin dengan kecepatan, Seth juga yakin kekuatan hantaman yang dia keluarkan, seharusnya akan membuat Ra terpental, karena itu Seth terlihat tertegun.Apalagi saat Ra dengan merebut tongkat itu dengan sangat mudah.Sesaat Seth berdiri diam sambil memandang kedua tangan yang kosong, lalu beralih pada luka yang ada di dadanya. L
Ra bangkit setelah berhasil membersihkan seluruh pasir di wajahnya. Kini dengan jelas, Ra bisa melihat pertarungan antara Osiris dan Seth di depan matanya.Saat itu juga dia merasa seperti anak kecil, karena apa yang dilakukannya bersama dengan Urhi tadi, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang dilihatnya saat ini.Dia tahu bagaimana kemampuan Osiris, dan kini dia sedang mengerahkan seluruh kemampuan itu.Osiris terlihat seperti menari, lincah menghindari tongkat Seth, sekaligus menghindari tendangan dan pukulannya. Dan balasan dari Osiris sebenarnya cukup akurat, dia mengenai beberapa bagian tubuh Seth.Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, perbedaan ukuran tubuh ada juga kekuatan, segera saja terlihat.Meski Osirs bisa menghindari hampir semua pukulan, jelas terlihat jika dia cepat sekali kehabisan nafas, sementara Seth sama sekali belum berkeringat.Osiris hebat, tetapi kehilangan sebagian kekuatannya tentu saja berakibat besar. Ra meraih pisau pemberian Giza, lalu
Urhi dengan cermat melihat kesempatan, dan menusukkan pedangnya. Dia mengincar leher, tapi Seth memiliki reflek yang bagus, dan menghindar pada detik terakhir. Pedang Urhi hanya menusuk lengannya.Tapi Urhi tetap gembira, karena itu adalah luka terbesar yang bisa dia berikan pada Seth selama mereka bertarung.Namun, kegembiraan itu tidak seiring dengan perasaan Seth.Dia kembali menggeram marah seperti tadi, dan Ra kembali sadar jika mengendalikan orang lain, bukanlah satu-satunya kekuatan milik Seth.Detik berikutnya Ra sadar kenapa Seth dijuluki Dewa Badai.Angin yang sangat kencang mendadak berhembus, dan pasir yang ada disekitar mereka seolah tertiup dan menghambur ke segala arah.Terdengar suara Urhi terbatuk, dan Ra adar apa yang membuatnya batuk, karena yang berikut, dia juga terkurung di dalam pusaran pasir, dan butir pasir lembut itu menyerbu tenggorokan dan juga matanya.Dan pasir itu semakin mengurungnya. Ra mencoba mengayunkan tangan, tapi dia hanya menyentuh angin dan pas
Ra tentu saja mengayunkan pisaunya ke arah punggung Seth, berharap mengakhiri pertarungan ini sebelum menjadi menyedihkan.Tapi gerakan Seth lebih cepat dari apa yang dibayangkan, pria itu berbalik lalu menangkis pisau yang menghujam ke punggungnya. Dengan sentakan kecil saja, dia berhasil melontarkan Ra menjauh dari dirinya.Giza dan juga Urhi yang mencoba untuk menyerang, dengan mudah dihindari. Dan setelah berhasil melontarkan Ra, dia kembali menyatakan tongkatnya, ke arah mereka berdua.Giza yang kali ini tidak beruntung, tongkat itu menghantam sisi kanannya. Giza mengeluh. Dia tidak terlontar seperti Amun yang sampai saat ini belum kembali, karena terlontar terlalu jauh, tapi tetap merasa tubuhnya baru saja dihantam oleh seonggok batu besar. Padahal hanya bagian kecil dari tongkat itu yang mengenai tubuhnyaUrhi kembali mengayunkan pedang, kali ini ditangkis menggunakan tongkat Seth.“Kau putra dari RA rupanya,” kata Seth, mengenali Urhi. “Dan kau membantu Horus? Ini menarik s







