공유

#008 Kau Setuju?

작가: aisakurachan
last update 게시일: 2026-07-08 16:15:41

“Apa maumu?” tanya Rasui.

Tidak membentak, tapi nada sinis itu tak pelak kembali menarik bibit kesal dalam diri Lea. Menghancurkan pesona tampan yang sejenak membuat Lea lupa diri.

“Kau tahu aku juga tak ingin ada disini bukan?!” Lea mencoba menahan diri, karena pembicaraan mereka tak akan mengalami kemajuan jika dirinya marah.

“Lalu apa peduliku?” Rasui mengangkat mangkuk, matanya menatap malas ke arah Lea.

“Kau tak harus peduli, tapi setidaknya kau harus mencoba mengerti, dan berhenti bersikap menyebalkan.”

Lea bangga pada dirinya sendiri, karena berhasil terdengar tenang. Meski separuh kalimat itu dia ucapkan dalam desisan, karena giginya mengatup jengkel.

Rasui menatap Lea. Kali ini dengan lebih tajam. 

Tatapan yang tak terbalas, mata Lea kembali ke arah makanannya, yang masih tersisa separuh. Lea tidak bodoh, menatap Rasui akan mengganggu konsentrasinya.

“Aku menyebalkan?” Rasui bergumam.

Lea melirik, mengira Rasui akan marah, tapi tidak. Dia terlihat heran. Dan bagi Lea itu kabar baik, setidaknya pria aneh itu tidak marah jadi mereka bisa bicara dengan lebih beradab.

“Aku tidak ingin ada di dalam tubuh ini. Aku juga marah sepertimu, kesal, putus asa, dan takut. Aku juga merasakan itu semua, jadi…”

Lea menelan ludah, sadar Rasui memandangnya secara langsung sejak tadi. Dia mendengarkan semua perkataan Lea dengan sungguh-sungguh. 

Hal yang baik, hanya saja Lea tidak terbiasa menerima pandangan setajam itu, dari pria dengan derajat ketampanan level tinggi seperti Rasui.

“Lalu?” Rasui tak sabar, meminta lanjutan kalimat Lea..

“Aku ingin penjelasan, tentang semua keanehan ini,” kata Lea. 

Rasui tertawa getir. “Apa harus?”

Lea menatap ke depan. “Tentu saja harus. Kau sampai memaksaku dengan…”

Lea ingin menyebut ciuman, tapi mendadak leher dan wajahnya terasa hangat. Kepalanya terpaksa menunduk. 

Keberaniannya membantah, tak membuatnya mampu menghilangkan malu saat membahas ciuman. Dia membenci ciuman Rasui, tapi sekaligus malu untuk menyebutnya begitu saja.

“A... Aku juga ingin tahu apa yang terjadi. Sama sepertimu.” Lea menyusun kalimat lain.

“Aku rasa kau yang seharusnya lebih mengerti tentang semua kejadian ini.Kau dengan mudah percaya tentang kenyataan aneh jika ada orang lain dalam tubuh Na… ini.”

Lea ingin menyebut Nae, tapi telah belajar jika Rasui sensitif sekali dengan nama itu. 

“Di tempatku berasal, hal seperti ini, tidak biasa dan seharusnya tidak mungkin terjadi.”

Lea ingin terlihat sempurna dan percaya diri saat mengucapkan itu, tapi sayang kepalanya masih menunduk. Khawatir otaknya mogok jika bertemu pandang dengan Rasui lagi.

“Kau belum pernah melihat atau mengalami hal seperti ini?” tanya Rasui. Suaranya jauh lebih lunak.

“Belum. Dan seharusnya tidak akan pernah. Ini hal yang mustahil.” 

Rasui mengisi gelasnya dengan air kembali. “Dari mana asalmu? Tunjukkan arahnya.”

Rasui meminta arah, karena nama tempat asal Lea bukan daerah yang dia kenal.

“Mmm… Ke utara. Dari kota ini terus ke utara, menyeberangi laut.”

Ini hanya perkiraan sangat kasar. Meski Lea buta arah di alam nyata, tapi dia ingat penampakan peta. Inggris berada di sebelah utara Afrika. Hanya itu penjelasan terbaik yang bisa dia berikan.

“Laut? Kau berasal dari negeri dingin itu? Itu jauh sekali.” 

Rasui berseru, memperlihatkan raut wajah lain yang membuat Lea terkesima. Menemukan hal baru. Mata tajam Rasui berbinar penuh rasa ingin tahu. Dan membelalak saat Lea mengangguk.

Lea tidak bisa tahu persis apakah negeri dingin yang dimaksud Rasui adalah Inggris atau paling tidak Eropa, tapi akan lebih mudah jika dia mengiyakan saja.

Lea tidak tahu cara menjelaskan konsep lintas waktu. Itu termasuk dalam bidang scientific yang tidak dikuasai Lea. Dia tidak terlalu ahli dalam bidang fisika.

Lea bisa mencoba menjelaskan, tapi tidak menjamin juga penjelasannya tidak semakin membuat Rasui kebingungan. Untuk saat ini lebih mudah menjelaskan jika dirinya berasal dari negeri yang jauh.

“Apa yang terjadi padamu sebelum semua ini?” tanya Rasui. Menilik dari betapa cepatnya dia bertanya, terlihat sebenarnya dia sudah ingin sekali bertanya soal ini.

Lea menggeleng. “Aku tidak ingat.”

“Hm?”

“Aku tidak ingat. Kepalaku sakit setiap kali akan mengingat.”

Bukan hanya sekali saat dia baru terbangun, Lea beberapa kali mencoba mengingat, dan setiap kali berkonsentrasi, kepalanya terserang nyeri hebat yang membuatnya menyerah. Padahal ingatannya yang lain baik-baik saja. 

Dia ingat sedang bekerja meneliti salah satu fungi langka dari hutan tropis, pekerjaan yang biasa dia lakukan. Dan Lea ingat dia keluar dari laborat seperti biasa, menyapa satpam jaga malam, dan pulang.

Tapi ingatan soal perjalanan pulang ini yang membuatnya sakit kepala. Bahkan sekarang denyutan mulai menyerang, hanya karena menjawab pertanyaan Rasui.

Lea mendesis, memijat keningnya.

“Tidak perlu memikirkannya. Tidak penting apa yang kau alami sebelum ini,” sahut Rasui. Obrolan yang tadi cukup lumayan hangat, kembali tajam.

Lea mengeluh dalam hati. Rasui terlalu peduli pada Nae. Dia bahkan tak ingin tubuhnya merasakan sakit.

“Bukan urusanmu, Lea”. Batin egois Lea memperingatkan. 

Bukan urusannya bagaimana perasaan Rasui. Dia hanya perlu mencari jalan keluar dari keadaan aneh ini, dan kembali ke tubuhnya yang asli.

Tak perlu memikirkan bagaimana keadaan pria bebal itu, jika tahu tubuh Nae akan mati, begitu dirinya pergi.

Lea mengatur wajah agar tetap tenang.

“Kau belum menjelaskan apa-apa padaku.” Pertanyaan Lea belum terjawab.

“Maksudmu soal penyebab ini semua?” 

Lea mengangguk, dan melihat bagaimana kerutan kening Rasui semakin dalam. Dia mengetuk meja dengan jari telunjuknya, beberapa kali, sebelum kembali menatap Lea.

“Aku sudah mencoba bertanya soal apa yang terjadi padamu. Tapi orang yang aku tanyai belum menjawab. Aku harus menunggu jawaban itu untuk tahu,” jelas Rasui.

“Harus menunggu berapa lama?” tanya Lea, mengejar jawaban pasti.

“Aku tak tahu. Orang itu... hanya akan menemuiku jika dia ingin, dan jika memang sudah waktunya.”

“Kenapa aneh sekali?” Lea mulai tak menyukai jawaban Rasui.

“Karena memang begitu adanya. Aku tidak bisa memaksa. Sudahlah! Tidak usah membahas mereka. Pikirkan saja dirimu sekarang.” Rasui mengibaskan tangan, tak ingin mendengar pertanyaan lain dari Lea.

“Tak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu jawaban mereka. Tugasmu saat ini adalah berpura-pura menjadi Nae dengan baik, dan tidak mempermalukan namanya,” tukas Rasui.

“Kenapa aku harus menurutimu?!” bantah Lea. Yang segera menabuh genderang perang baru, setelah mereka bisa lumayan berdamai tadi.

Rasui tersenyum sinis mendengar bantahan Lea.

“Jangan lupa statusmu adalah istriku. Tubuh yang kau pakai itu istriku. Kau hanya menumpang pada tubuh itu!” celanya.

“Aku tidak…” Lea berang mendengar kata menumpang itu, dan nyaris saja membocorkan soal Nae yang meminum racun.

Namun Lea mengatupkan bibirnya pada saat yang tepat. Dia tidak boleh membicarakan hal itu sekarang.

Saat ini rencana yang diucapkan Rasui sudah cukup menguntungkan dirinya, meski disampaikan dengan tidak menyenangkan.

Lea akan menyimpan berita soal racun itu, karena ada kemungkinan akan membuat Rasui mengubah rencana lagi.

“Terserah kau saja!” Lea memutuskan mengalah.

Namun meski kesal pada Rasui, setidaknya nasibnya sedikit lebih jelas. Lea akan menunggu. Dia akan sabar menunggu jawaban itu.

Pembicaraan saat makan itu menemui hasil yang Lea inginkan. Masa depannya yang suram sedikit cerah, dan menilik dari sikap Rasui, kecil kemungkinan dia akan menemui Lea setelah ini. Itu melegakan.

Lea melirik ke arah Rasui yang kini menarik hidangan lain di hadapannya. Lea sebal dia terlihat puas. Perasaan yang diperoleh, karena Lea mengalah tadi.

Rasui merasa telah menang dalam perdebatan. Wajah arogan itu menggoda Lea untuk mengatakan hal yang sebenarnya soal Nae. Tapi Lea sadar risiko yang ada, dan kembali menelan berita itu dalam hati.

Namun, saat akan kembali menunduk menghabiskan makanannya, mata Lea menangkap sesuatu.

“BERHENTI!” Lea berteriak menghentikan Rasui, yang akan menyuapkan makanan ke mulut.

“Itu beracun!” seru Lea.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #191 Bukankah Kau Yang Meminta Ini?

    Pedih, pegal, serta nyeri di beberapa tempat, belum lagi tubuhnya yang menjadi lemas setelahnya, adalah akibat yang harus Lea tanggung karena kebuasan Ra.Tapi jika ada yang bertanya, dan menjawab dengan jujur, tentang apakah Lea menginginkannya lagi maka jawabannya adalah iya.Tidak perlu berfikir, seketika itu juga jawabannya adalah iya. Tapi sudah pasti Lea tidak akan menjawab dengan jujur.Dibalik semua nyeri dan juga pedih di tubuhnya saya masih mengingat bagaimana nikmat dan juga kelembutan yang ditunjukkan Ra padanyaMustahil Lea tidak menginginkannya lagi“Apa yang kau pikirkan pagi-pagi sampai keningmu berkerut seperti itu?” tanya Ra, sambil membuka mata menatap Lea.Lea sedikit kaget, tidak menyangka jika pria yang sejak tadi dipandanginya ternyata sudah bangun.“Tidak ada,” kata Lea. menghindar.Teringat apa yang dia pikirkan bukan hal yang untuk dibagi dengan siapapun.“Kemari.” Ra menarik tubuh Lea mendekat, dan kembali memeluknya dari belakang“Kau belum memakai apapun!”

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #190 Apa Hubungannya Dengan Ayahku?

    Kolam itu tak seberapa dalam, tapi karena koordinasi tangan dan kakinya memburuk, tubuh Lea terbenam semakin dalam, sementara kakinya sibuk mencari tempat untuk berpijak.“Lea!” Ra bergegas terjun dan menarik tubuh Lea agar berdiri.“Uhuk..Uhuk!” Lea terbatuk hebat, tersedak dan telah meminum banyak air kolam.“Kau baik-baik saja?” tanya Ra.Masih dengan terbatuk, Lea mendorong tubuh Ra menjauh. “Kenapa.. Huk...Uhuk!”“Apa?” Ra tak mengerti, karena pertanyaan Lea beriringan dengan gelombang batuk.Lea berpaling menghindar, sementara matanya mencari kain untuk menutupi tubuhnya.Tapi kain itu ada jauh di tepi kolam. Lea akhirnya memilih memunggungi Ra, dan membenamkan tubuhnya.“Lea?”Ra mencoba mendekat, tapi Lea menjauh. Tidak terima dengan penolakan yang tak jelas itu, Ra mengangkat tubuh yang meringkuk di dalam air itu.Lea memekik panik, tapi tidak akan mungkin melawan Ra. Dengan mudah, ia masuk dalam pelukan tubuh, yang keadaannya sama dengan dirinya. Basah, tanpa pakaian!Kulit

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #189 Kau Tidak Gembira?

    Akan sangat menyebalkan jika sampai Ra melarangnya melakukan ini dan itu. Tapi Ra tak mungkin melewatkan apa yang telah dia lihat dan didengarnya tadi.“Kau baru saja berteriak kesakitan, Lea!” Ra tentu tidak mudah dibohongi. Menatap curiga.“Aku baik-baik saja! Aku hanya lupa, dan tadi menggerakkan tubuh terlalu keras!” jelas Lea.Ra mengacak kepala Lea. “Jangan membuatku takut begitu. Aku pikir kau luka itu berdarah lagi atau apa.”“Bagaimana mungkin? Meski masih nyeri kata Akana sudah cukup lumayan. Tidak akan terbuka lagi.”Ra mengangguk. “Syukurlah.”Dia lalu menoleh pada Heba.“Kau bereskan barang yang ada di sini, lalu kau pindahkan ke kamarku,” perintahnya.“Heh?!” Lea seperti mendengar omong kosong, karena perintah itu datang tanpa peringatan apapun. Tiba-tiba saja.“Apa maksudmu?”“Mulai hari ini kau akan tidur di kamarku. Bukankah jelas?” Ra berjalan keluar dari kamar itu, tidak lupa membawa ‘bawaan’ yaitu Lea, yang mengikuti tarikan tangannya.“Tunggu!” Lea menahan tangan

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #188 Kau Mau Atau Tidak?

    “Aku punya penawaran untukmu,” kata Ra kepada Amun yang ada di hadapannya.“Eh apa?” Amun menoleh, menarik tangannya dari air. Dia tadi sengaja mencelupkan tangan ke air sungai Nill yang sedang mereka susuri.Tentu saja mereka sedang melakukan perjalanan pulang ke Yamu memakai perahu.“Bagaimana jika kau bekerja padaku?” tanya Ra.“Padamu? Maksudmu bekerja di istana?”“Benar.”“Kau yakin aku cocok bekerja di istana? Kau tahu sendiri tata krama dan juga sopan santun ku tidak cocok dengan lingkungan istana.” Amun menggeleng. Dan dia malas jika harus belajar sopan santun hanya demi bekerja di sana.“Untuk apa kau memikirkan sopan santun? Aku yang mempekerjakanmu. Asal kau bekerja dengan benar, kau tak perlu sopan padaku.” Ra tidak menggaji Amun berdasar atas sopan santun.“Aku akan menggajimu dengan cukup lumayan, bahkan aku bisa memberimu makanan lebih untuk kirim ke pemukiman Boz.”“Nah! Ini baru penawaran menarik! Aku dengarkan,” kata Amun. Wajahnya berubah cerah, setelah Ra menyeb

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #187 Kapan Kau Hamil?

    “Aku sedang memuji, untuk apa kau menangis?" tanya Ra, sambil tersenyum geli.“Seperti yang aku katakan tadi, aku terlalu peduli padamu. Pujian ini membuatku terlalu bahagia…” Lea berusaha melepaskan diri, sadar mereka masih di tempat ramai.Tapi Ra tidak bergerak, jadi usahanya itu gagal. Kakinya menggantung sementara Ra menahan tubuhnya dalam pelukan.“Baiklah kalau begitu. Untuk kali ini kau boleh menangis. Aku tidak keberatan kau menangis karena bahagia. Menangis saja…” kata Ra.“Batal! Lepaskan aku dulu!” Lea menggeser tubuhnya, dan Ra akhirnya melepaskannya.“Apa kau tidak suka aku peluk?” Wajah Ra penuh keheranan.Heran karena menolak pelukan tidak sesuai dengan isi pesan Lea yang dibawa Arran.“Kita ada di tempat ramai, Ra!” sergah Lea, dalam desisan. Tak merasa ada yang salah.“Oh.. Abaikan saja. Kau terlalu peduli dengan apa kata orang.”“Harus. Kau pangeran dan calon Pharaoh. Aku tak bisa membiarkan namamu rusak.”“Berhenti mengulang apa yang dikatakan Luz.”“Hmm? Luz per

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #186 Siapa Yang Membawa?

    “Buntu.. Lagi-lagi buntu..” Luz duduk dan menghempaskan punggungnya, lelah dengan misteri ini.“Tapi satu-satunya musuhmu hanya tinggal Kebi dan Han. Itu berarti mereka bukan dalangnya?” tanya Lea.“Bisa jadi seperti itu, tapi masalahnya kita tak bisa membuktikan siapa yang memberikan kepada malk kepada Luz dan Nour. Masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan pengadilan seperti yang ada di depan.”Ra mengernyit, dia harus menyelesaikan misteri malk ini secara ‘ajaib’ dan tak tahu bagaimana caranya.“Aku benci tak bisa melihat semua ini!” seru Luz.“LUZ!” Ra memperingatkan, karena tidak semua orang yang ada disitu tahu soal kekuatannya, dan seharusnya memang begitu.“Maaf, Pangeran. Pharaoh memanggil Anda kembali.”Eshaq melapor, dan matanya dengan jelas terpaku pada tangan Ra, yang menggandeng Lea. Hal yang mustahil dilakukan seharusnya, karena tangan yang lain ada disamping tubuhnya.“Kau benar-benar harus memilih rantai yang baru saat mengikat tanganku,” kata Ra, sambil berjalan men

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status