Mag-log in“Apa maumu?” tanya Rasui.
Tidak membentak, tapi nada sinis itu tak pelak kembali menarik bibit kesal dalam diri Lea. Menghancurkan pesona tampan yang sejenak membuat Lea lupa diri.
“Kau tahu aku juga tak ingin ada disini bukan?!” Lea mencoba menahan diri, karena pembicaraan mereka tak akan mengalami kemajuan jika dirinya marah.
“Lalu apa peduliku?” Rasui mengangkat mangkuk, matanya menatap malas ke arah Lea.
“Kau tak harus peduli, tapi setidaknya kau harus mencoba mengerti, dan berhenti bersikap menyebalkan.”
Lea bangga pada dirinya sendiri, karena berhasil terdengar tenang. Meski separuh kalimat itu dia ucapkan dalam desisan, karena giginya mengatup jengkel.
Rasui menatap Lea. Kali ini dengan lebih tajam.
Tatapan yang tak terbalas, mata Lea kembali ke arah makanannya, yang masih tersisa separuh. Lea tidak bodoh, menatap Rasui akan mengganggu konsentrasinya.
“Aku menyebalkan?” Rasui bergumam.
Lea melirik, mengira Rasui akan marah, tapi tidak. Dia terlihat heran. Dan bagi Lea itu kabar baik, setidaknya pria aneh itu tidak marah jadi mereka bisa bicara dengan lebih beradab.
“Aku tidak ingin ada di dalam tubuh ini. Aku juga marah sepertimu, kesal, putus asa, dan takut. Aku juga merasakan itu semua, jadi…”
Lea menelan ludah, sadar Rasui memandangnya secara langsung sejak tadi. Dia mendengarkan semua perkataan Lea dengan sungguh-sungguh.
Hal yang baik, hanya saja Lea tidak terbiasa menerima pandangan setajam itu, dari pria dengan derajat ketampanan level tinggi seperti Rasui.
“Lalu?” Rasui tak sabar, meminta lanjutan kalimat Lea..
“Aku ingin penjelasan, tentang semua keanehan ini,” kata Lea.
Rasui tertawa getir. “Apa harus?”
Lea menatap ke depan. “Tentu saja harus. Kau sampai memaksaku dengan…”
Lea ingin menyebut ciuman, tapi mendadak leher dan wajahnya terasa hangat. Kepalanya terpaksa menunduk.
Keberaniannya membantah, tak membuatnya mampu menghilangkan malu saat membahas ciuman. Dia membenci ciuman Rasui, tapi sekaligus malu untuk menyebutnya begitu saja.
“A... Aku juga ingin tahu apa yang terjadi. Sama sepertimu.” Lea menyusun kalimat lain.
“Aku rasa kau yang seharusnya lebih mengerti tentang semua kejadian ini.Kau dengan mudah percaya tentang kenyataan aneh jika ada orang lain dalam tubuh Na… ini.”
Lea ingin menyebut Nae, tapi telah belajar jika Rasui sensitif sekali dengan nama itu.
“Di tempatku berasal, hal seperti ini, tidak biasa dan seharusnya tidak mungkin terjadi.”
Lea ingin terlihat sempurna dan percaya diri saat mengucapkan itu, tapi sayang kepalanya masih menunduk. Khawatir otaknya mogok jika bertemu pandang dengan Rasui lagi.
“Kau belum pernah melihat atau mengalami hal seperti ini?” tanya Rasui. Suaranya jauh lebih lunak.
“Belum. Dan seharusnya tidak akan pernah. Ini hal yang mustahil.”
Rasui mengisi gelasnya dengan air kembali. “Dari mana asalmu? Tunjukkan arahnya.”
Rasui meminta arah, karena nama tempat asal Lea bukan daerah yang dia kenal.
“Mmm… Ke utara. Dari kota ini terus ke utara, menyeberangi laut.”
Ini hanya perkiraan sangat kasar. Meski Lea buta arah di alam nyata, tapi dia ingat penampakan peta. Inggris berada di sebelah utara Afrika. Hanya itu penjelasan terbaik yang bisa dia berikan.
“Laut? Kau berasal dari negeri dingin itu? Itu jauh sekali.”
Rasui berseru, memperlihatkan raut wajah lain yang membuat Lea terkesima. Menemukan hal baru. Mata tajam Rasui berbinar penuh rasa ingin tahu. Dan membelalak saat Lea mengangguk.
Lea tidak bisa tahu persis apakah negeri dingin yang dimaksud Rasui adalah Inggris atau paling tidak Eropa, tapi akan lebih mudah jika dia mengiyakan saja.
Lea tidak tahu cara menjelaskan konsep lintas waktu. Itu termasuk dalam bidang scientific yang tidak dikuasai Lea. Dia tidak terlalu ahli dalam bidang fisika.
Lea bisa mencoba menjelaskan, tapi tidak menjamin juga penjelasannya tidak semakin membuat Rasui kebingungan. Untuk saat ini lebih mudah menjelaskan jika dirinya berasal dari negeri yang jauh.
“Apa yang terjadi padamu sebelum semua ini?” tanya Rasui. Menilik dari betapa cepatnya dia bertanya, terlihat sebenarnya dia sudah ingin sekali bertanya soal ini.
Lea menggeleng. “Aku tidak ingat.”
“Hm?”
“Aku tidak ingat. Kepalaku sakit setiap kali akan mengingat.”
Bukan hanya sekali saat dia baru terbangun, Lea beberapa kali mencoba mengingat, dan setiap kali berkonsentrasi, kepalanya terserang nyeri hebat yang membuatnya menyerah. Padahal ingatannya yang lain baik-baik saja.
Dia ingat sedang bekerja meneliti salah satu fungi langka dari hutan tropis, pekerjaan yang biasa dia lakukan. Dan Lea ingat dia keluar dari laborat seperti biasa, menyapa satpam jaga malam, dan pulang.
Tapi ingatan soal perjalanan pulang ini yang membuatnya sakit kepala. Bahkan sekarang denyutan mulai menyerang, hanya karena menjawab pertanyaan Rasui.
Lea mendesis, memijat keningnya.
“Tidak perlu memikirkannya. Tidak penting apa yang kau alami sebelum ini,” sahut Rasui. Obrolan yang tadi cukup lumayan hangat, kembali tajam.
Lea mengeluh dalam hati. Rasui terlalu peduli pada Nae. Dia bahkan tak ingin tubuhnya merasakan sakit.
“Bukan urusanmu, Lea”. Batin egois Lea memperingatkan.
Bukan urusannya bagaimana perasaan Rasui. Dia hanya perlu mencari jalan keluar dari keadaan aneh ini, dan kembali ke tubuhnya yang asli.
Tak perlu memikirkan bagaimana keadaan pria bebal itu, jika tahu tubuh Nae akan mati, begitu dirinya pergi.
Lea mengatur wajah agar tetap tenang.
“Kau belum menjelaskan apa-apa padaku.” Pertanyaan Lea belum terjawab.
“Maksudmu soal penyebab ini semua?”
Lea mengangguk, dan melihat bagaimana kerutan kening Rasui semakin dalam. Dia mengetuk meja dengan jari telunjuknya, beberapa kali, sebelum kembali menatap Lea.
“Aku sudah mencoba bertanya soal apa yang terjadi padamu. Tapi orang yang aku tanyai belum menjawab. Aku harus menunggu jawaban itu untuk tahu,” jelas Rasui.
“Harus menunggu berapa lama?” tanya Lea, mengejar jawaban pasti.
“Aku tak tahu. Orang itu... hanya akan menemuiku jika dia ingin, dan jika memang sudah waktunya.”
“Kenapa aneh sekali?” Lea mulai tak menyukai jawaban Rasui.
“Karena memang begitu adanya. Aku tidak bisa memaksa. Sudahlah! Tidak usah membahas mereka. Pikirkan saja dirimu sekarang.” Rasui mengibaskan tangan, tak ingin mendengar pertanyaan lain dari Lea.
“Tak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu jawaban mereka. Tugasmu saat ini adalah berpura-pura menjadi Nae dengan baik, dan tidak mempermalukan namanya,” tukas Rasui.
“Kenapa aku harus menurutimu?!” bantah Lea. Yang segera menabuh genderang perang baru, setelah mereka bisa lumayan berdamai tadi.
Rasui tersenyum sinis mendengar bantahan Lea.
“Jangan lupa statusmu adalah istriku. Tubuh yang kau pakai itu istriku. Kau hanya menumpang pada tubuh itu!” celanya.
“Aku tidak…” Lea berang mendengar kata menumpang itu, dan nyaris saja membocorkan soal Nae yang meminum racun.
Namun Lea mengatupkan bibirnya pada saat yang tepat. Dia tidak boleh membicarakan hal itu sekarang.
Saat ini rencana yang diucapkan Rasui sudah cukup menguntungkan dirinya, meski disampaikan dengan tidak menyenangkan.
Lea akan menyimpan berita soal racun itu, karena ada kemungkinan akan membuat Rasui mengubah rencana lagi.
“Terserah kau saja!” Lea memutuskan mengalah.
Namun meski kesal pada Rasui, setidaknya nasibnya sedikit lebih jelas. Lea akan menunggu. Dia akan sabar menunggu jawaban itu.
Pembicaraan saat makan itu menemui hasil yang Lea inginkan. Masa depannya yang suram sedikit cerah, dan menilik dari sikap Rasui, kecil kemungkinan dia akan menemui Lea setelah ini. Itu melegakan.
Lea melirik ke arah Rasui yang kini menarik hidangan lain di hadapannya. Lea sebal dia terlihat puas. Perasaan yang diperoleh, karena Lea mengalah tadi.
Rasui merasa telah menang dalam perdebatan. Wajah arogan itu menggoda Lea untuk mengatakan hal yang sebenarnya soal Nae. Tapi Lea sadar risiko yang ada, dan kembali menelan berita itu dalam hati.
Namun, saat akan kembali menunduk menghabiskan makanannya, mata Lea menangkap sesuatu.
“BERHENTI!” Lea berteriak menghentikan Rasui, yang akan menyuapkan makanan ke mulut.
“Itu beracun!” seru Lea.
PULUHAN MUSIM SETELANYA"Yang Mulia! Jangan berlari! Bagaimana dengan kandungan Anda!"Tapi wanita itu, mengabaikan teguran dan tetap berlari kecil. Kandungannya belum seberapa besar. Dia akan baik-baik saja.Berita yang baru saja dia terima tadi, telah membuatnya melupakan segalanya. Dia hanya ingin cepat menemuinya. Sambil memegang perutnya, ia berjalan cepat menuju kamar ayahnya.“Kau disini?” Dia kaget saat melihat suaminya berdiri di depan pintu kamar ayahnya.Suaminya mengangguk. “Aku akan menunggu di sini, kau masuk saja ke dalam.”“Kenapa begitu? Kau ikut saja!”Pria itu menggeleng, sambil mengusap rambutnya. “Aku yakin dia hanya ingin berbicara denganmu.”“Beliau hanya menunggu Anda.” Budak yang ada di depan kamar, ikut melapor sambil membungkuk padanya.“Terima kasih Daka. Dan tolong pertimbangkan tawaranku sekali lagi. Aku tidak ingin kau terus bekerja. Aku akan mempersiapkan rumah untukmu. Kau bisa beristirahat dengan nyaman di sana.” Budak bernama Daka itu membungkuk, me
Saat berbalik kembali ke Osiris, dia melihat pemandangan yang cukup mengganggu, karena ada seorang anak remaja tampak tersenyum sambil menatap benda berdarah yang ada di tangannya.Sudah jelas itu adalah mata yang diambil dari kepala Seth.“Jangan katakan kau akan menelannya!” Ra tiba-tiba teringat kata-kata Seth soal menelan darahnya.“Ewww! Tidak! Kau pikir aku apa?!” Osiris mengernyit jijik.“Lalu apa yang akan kau lakukan?” Ra tak habis pikir dengan apa yang akan dilakukan Osiris dengan bola mata.Osiris tidak menjawab. Dia merogoh ke dalam baju mengambil sebuah.... Tongkat. Ra tidak tahu harus menyebutnya apa.Dibanding tongkat, benda itu lebih mirip kunci raksasa, karena besarnya hampir sama dengan lengan. Bagian kepala kunci adalah lubang kosong berbentuk lonjong. Ada sebuah penyangga yang mencuat di tengah bagian kepala kunci itu. Bagian yang membuat benda itu tidak terlihat seperti kunci. Osiris tersenyum sejenak, untuk merayakan kemenangannya ini, lalu dengan wajah khidmat
Tapi pukulan yang baru saja mendarat di punggung tangannya, bahkan tidak membuat Ra merasa geli.Ini adalah pukulan yang yang tidak jauh berbeda dari pukulan manusia biasa. menandakan jika kekuatan Seth sudah mulai terpengaruh oleh darah Ra.Hanya saja si empunya tubuh tidak menyadarinya. Dengan baik hati, Ra segera berencana untuk membuat Seth menyadarinya.Pada ayunan yang berikutnya, Ra menangkap tongkat Seth dalam sekali cekal. Selain kekuatan, kecepatan Seth juga sudah jauh menurun, dan dia masih tidak menyadarinya, karena terlihat sangat kaget saat Ra dengan mudah menangkap tongkatnya itu.Dia merasa sudah mengayunkan tongkat secepat yang dia bisa. Selain yakin dengan kecepatan, Seth juga yakin kekuatan hantaman yang dia keluarkan, seharusnya akan membuat Ra terpental, karena itu Seth terlihat tertegun.Apalagi saat Ra dengan merebut tongkat itu dengan sangat mudah.Sesaat Seth berdiri diam sambil memandang kedua tangan yang kosong, lalu beralih pada luka yang ada di dadanya. L
Ra bangkit setelah berhasil membersihkan seluruh pasir di wajahnya. Kini dengan jelas, Ra bisa melihat pertarungan antara Osiris dan Seth di depan matanya.Saat itu juga dia merasa seperti anak kecil, karena apa yang dilakukannya bersama dengan Urhi tadi, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang dilihatnya saat ini.Dia tahu bagaimana kemampuan Osiris, dan kini dia sedang mengerahkan seluruh kemampuan itu.Osiris terlihat seperti menari, lincah menghindari tongkat Seth, sekaligus menghindari tendangan dan pukulannya. Dan balasan dari Osiris sebenarnya cukup akurat, dia mengenai beberapa bagian tubuh Seth.Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, perbedaan ukuran tubuh ada juga kekuatan, segera saja terlihat.Meski Osirs bisa menghindari hampir semua pukulan, jelas terlihat jika dia cepat sekali kehabisan nafas, sementara Seth sama sekali belum berkeringat.Osiris hebat, tetapi kehilangan sebagian kekuatannya tentu saja berakibat besar. Ra meraih pisau pemberian Giza, lalu
Urhi dengan cermat melihat kesempatan, dan menusukkan pedangnya. Dia mengincar leher, tapi Seth memiliki reflek yang bagus, dan menghindar pada detik terakhir. Pedang Urhi hanya menusuk lengannya.Tapi Urhi tetap gembira, karena itu adalah luka terbesar yang bisa dia berikan pada Seth selama mereka bertarung.Namun, kegembiraan itu tidak seiring dengan perasaan Seth.Dia kembali menggeram marah seperti tadi, dan Ra kembali sadar jika mengendalikan orang lain, bukanlah satu-satunya kekuatan milik Seth.Detik berikutnya Ra sadar kenapa Seth dijuluki Dewa Badai.Angin yang sangat kencang mendadak berhembus, dan pasir yang ada disekitar mereka seolah tertiup dan menghambur ke segala arah.Terdengar suara Urhi terbatuk, dan Ra adar apa yang membuatnya batuk, karena yang berikut, dia juga terkurung di dalam pusaran pasir, dan butir pasir lembut itu menyerbu tenggorokan dan juga matanya.Dan pasir itu semakin mengurungnya. Ra mencoba mengayunkan tangan, tapi dia hanya menyentuh angin dan pas
Ra tentu saja mengayunkan pisaunya ke arah punggung Seth, berharap mengakhiri pertarungan ini sebelum menjadi menyedihkan.Tapi gerakan Seth lebih cepat dari apa yang dibayangkan, pria itu berbalik lalu menangkis pisau yang menghujam ke punggungnya. Dengan sentakan kecil saja, dia berhasil melontarkan Ra menjauh dari dirinya.Giza dan juga Urhi yang mencoba untuk menyerang, dengan mudah dihindari. Dan setelah berhasil melontarkan Ra, dia kembali menyatakan tongkatnya, ke arah mereka berdua.Giza yang kali ini tidak beruntung, tongkat itu menghantam sisi kanannya. Giza mengeluh. Dia tidak terlontar seperti Amun yang sampai saat ini belum kembali, karena terlontar terlalu jauh, tapi tetap merasa tubuhnya baru saja dihantam oleh seonggok batu besar. Padahal hanya bagian kecil dari tongkat itu yang mengenai tubuhnyaUrhi kembali mengayunkan pedang, kali ini ditangkis menggunakan tongkat Seth.“Kau putra dari RA rupanya,” kata Seth, mengenali Urhi. “Dan kau membantu Horus? Ini menarik s







