Startseite / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 248. Marco Hampir di Pukul.

Teilen

248. Marco Hampir di Pukul.

last update Veröffentlichungsdatum: 30.09.2026 17:58:38
"Bagus, ya ... Baru kemarin sore diizinkan pergi kencan, semalam langsung berani nggak pulang ke rumah?!”

Suara berat Zavian menggelegar, memecah keheningan koridor pusat pelatihan renang yang masih sepi di pagi hari.

​Zavian berdiri tegap dengan kedua tangan berkacak pinggang di dekat gerbang masuk kolam. Wajah sang kepala pelatih tampak sangat tegang, matanya menatap tajam dua orang yang baru saja tiba dari apartemen.

​Zea refleks melangkah mundur, bersembunyi rapat di belakang tubuh tegap
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   252. Jaga Jarak dari Marco!

    Vincent terdiam menatap Zavian dengan raut yang amat tenang dan penuh empati.​"Kalau boleh jujur dari sudut pandang saya sebagai orang luar ..." buka Vincent halus, suaranya mengalun hangat tanpa cela. "Secara profesional, Marco itu pilar utama tim kita. Saya terkesan dengan kedisiplinan latihannya dan mental bertandingnya yang sangat kuat. Tentu, tidak ada yang bisa membantah hal itu."​Zavian diam, mendengarkan dengan rahang kaku.​"Tapi ..." Vincent memberi jeda terukur, memiringkan kepalanya sedikit. "Saya juga paham kenapa Coach bersikap sangat keras dan sensitif tiap kali ini menyangkut Zea.”Dahi Zavian berkerut tipis. "Maksudmu?"​"Sejak almarhum Ayah saya masih ada dan mendidik Coach dulu, saya tahu betul betapa besarnya perjuangan Coach," lanjut Vincent, menyuntikkan narasi emosional dengan sangat presisi. “Coach adalah satu-satunya pelindung Tante Donna dan Zea sejak keluarga kalian harus melewati perpisahan pahit di masa lalu.”“Dan saya tahu, Coach sampai sekarang belu

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   251. Bagaimana Menurutmu tentang Marco?

    Zea menatap mata hitam Marco yang menatapnya penuh selidik. Ia membalas genggaman jemari tegap kekasihnya, berusaha menyalurkan ketenangan agar pria di hadapannya itu tidak terlalu tegang."Nggak kok, Marco," jawab Zea halus, menyunggingkan senyum menenangkan. "Vincent cuma tanya soal kejadian tadi pagi di koridor."Alis Marco bertaut tipis. Suaranya mengalun rendah dan dalam saat ia bertanya kembali. "Soal Coach yang hampir pukul aku?""Iya," Zea mengangguk pelan.Ia mulai menceritakan secara detail bagaimana pembicaraan mereka di meja makan tadi berlangsung. Zea menjelaskan bahwa Vincent merasa sangat terkejut melihat reaksi emosional Zavian yang meledak-ledak. Dari sudut pandang Vincent, perubahan sikap kepala pelatih yang mendadak hilang kendali terasa sangat tidak wajar, hingga membuatnya berasumsi bahwa Marco telah melakukan sesuatu yang membuat Zavian merasa terusik atau memendam ketidaksukaan yang mendalam."Aku langsung tegaskan ke dia kalau kamu nggak pernah buat masalah sa

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   250. Zea Mulai Tegas.

    ​"Bau vanila?" ulang Zea pelan sebelum menyunggingkan senyum tipis yang sealami mungkin, berusaha menutupi desiran cemas di dadanya. Ia memutar tubuhnya sedikit, merapikan tali tas jinjing di tangannya agar posisi pouch pendingin di dalamnya tertutup sempurna dari jangkauan pandangan Vincent. ​"Oh ... ini aroma sabun cair mandi yang kupakai tadi pagi, Vin," terang Zea santai dengan nada bicara yang amat tenang. "Mungkin aromanya masih menempel sedikit." ​Vincent mengerjap pelan di balik kacamatanya. "Ah ... begitu. Pantas saja aromanya wangi dan manis sekali.” Ia mengangguk-angguk paham, terkekeh renyah untuk mencairkan suasana. “Maaf ya kalau tebakanku tadi bikin kamu bingung." ​"Nggak apa-apa kok," sahut Zea cepat, menghembuskan napas lega yang tersembunyi. "Yuk, kita ke ruang makan.” Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor sepi menuju ruang makan utama. Suasana ruang makan saat jam istirahat siang terasa relatif lengang, hanya ada beberapa staf administrasi yang

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   249. Bau Vanila.

    Suasana di sekitar arena kolam renang hari itu terasa dingin dan mencekam. Peluit yang menggantung di leher Zavian tidak lagi terdengar sebagai penanda ritme latihan, melainkan seolah menjadi pertanda bahwa amarahnya bisa meledak kapan saja.PLAK!"Rafi! Kayuhan kamu kendor di sepuluh meter terakhir! Mau jadi santapan lawan di Final, hah?!" bentak Zavian keras dari tepi kolam. Suaranya memantul galak di dinding-dinding gedung. "Ulangi lima set lagi!"Rafi yang masih mengapung di air hanya bisa mengangguk pasrah dengan napas terengah-engah. Begitu Zavian berbalik membelakangi mereka, Rafi buru-buru mendekati lintasan Kenji dan Dimas, berbisik lirik dengan raut wajah meringis."Sumpah ... Coach hari ini lagi kesetanan apa?" bisik Rafi frustasi sambil mengusap air di wajahnya. "Salah dikit disemprot, gerak lambat dikit disuruh nambah set. Ada apaan sih sebenarnya hari ini?"Kenji menggeleng-gelengkan kepala, meringis prihatin. “Dari sebelum latihan di mulai, mood-nya lagi hancur parah.

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   248. Marco Hampir di Pukul.

    "Bagus, ya ... Baru kemarin sore diizinkan pergi kencan, semalam langsung berani nggak pulang ke rumah?!” Suara berat Zavian menggelegar, memecah keheningan koridor pusat pelatihan renang yang masih sepi di pagi hari. ​Zavian berdiri tegap dengan kedua tangan berkacak pinggang di dekat gerbang masuk kolam. Wajah sang kepala pelatih tampak sangat tegang, matanya menatap tajam dua orang yang baru saja tiba dari apartemen. ​Zea refleks melangkah mundur, bersembunyi rapat di belakang tubuh tegap Marco. Tangannya mencengkeram erat bagian belakang kaos polo yang dikenakan pria itu. ​Marco sama sekali tidak gentar. Pria itu mendekat satu langkah, menutupi tubuh Zea sepenuhnya dan pasang badan berhadapan langsung dengan Zavian. ​"Coach, dengarkan dulu penjelasan saya," ucap Marco tenang dan datar. "Semalam kondisi fisik Zea lemah lagi. Dadanya kumat lagi dan luapan ASI-nya keluar di tengah jalan." ​Mendengar penuturan Marco, raut wajah Zavian seketika membeku. Ia terdiam sejenak, menatap

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   247. Perawatan Marco untuk Zea.

    “Masuk,” ucap Marco pelan. “Pelan-pelan.” Zea mengangguk. Kepalanya masih sedikit pusing, tetapi jauh lebih baik dibandingkan tadi. Ia melepaskan handuk lalu masuk ke dalam air hangat di bathtub. Seketika, rasa hangat dari air itu membuat tubuhnya terasa lebih rileks. Marco yang sudah duduk lebih dulu di dalam air, menarik Zea hingga duduk di antara kedua kakinya. Punggung Zea bersandar pada dada bidangnya. Tangan kekarnya meraih gayung kecil, menyiramkan air hangat secara perlahan ke bahu dan leher Zea. Air hangat memenuhi bathtub hingga hampir penuh. Uap tipis naik perlahan, membuat kaca kamar mandi sedikit berkabut. Lampu redup hanya menyisakan cahaya kuning lembut dari dinding. "Gimana kepalamu? Masih pusing?" tanya Marco rendah. Suara baritonnya bergema halus tepat di samping telinga Zea. Zea menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Marco, matanya terpejam menikmati usapan lembut jemari pria itu di bilasan rambutnya. "Masih agak keliyengan sedikit ... tapi udah jauh lebih ba

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status