Share

Bab 7| Bertemu Lagi

"Apa kau yang jadi perawatku saat ini?"

Bulu kuduk Alessa meremang kemudian dirinya jadi membatu kala suara Pria itu terdengar berat dan dingin. Alessa tak langsung menjawab melainkan tersenyum sedikit kemudian mengangguk. "Benar, Tuan," jawab Alessa. Dia tak akan pernah lupa wajah, suara bahkan kedua mata biru itu. Alessa tak akan pernah lupa akan Pria yang merenggut kesuciannya dengan uang. 

Kedua mata pria itu mengekori pergerakan tubuh Alessa. Dia pendiam bahkan tidak berkata apapun lagi namun tatapannya yang dingin dan menusuk itu seolah tengah menguliti Alessa. Dia menatap kedua tangan kecil Alessa yang sedang membuka balutan perban. Alessa membersihkannya lengan kekarnya dengan kapas dan mengganti dengan yang baru. 

Alessa yang tertunduk menatap lengan kekarnya membuat Pria itu teringat dengan kali pertama pertemuan mereka. Alessa masih sama gugupnya meski kali ini Ia bekerja dengan telaten bukan sebagai wanita panggilan semalam saja. 

"Kenapa seperti seolah aku akan melahapmu?" tanya Pria itu yang akhirnya bersuara. 

Alessa malah terkejut dengan pertanyaan Pria itu. Dia segera menggeleng kemudian merekatkan perban bidai lapisan kedua. Wajah Alessa memerah semu sembari terus memegang lengan kekar Pria itu. "T-tolong angkat sedikit lenganmu Tuan," pinta Alessa karena tak diragukan, Ia keberatan menahan bobot sebelah tangannya saja.

Pria itu mengangkat lengan kanannya. Ia terus memperhatikan Alessa yang cukup dekat dengan sorot matanya saat ini. Alessa juga bergetar sama seperti seekor kelinci yang ketakutan dihadapan predator singa sepertinya. 

Alessa bisa merasakan deruan napas Pria itu mengenai daun telinganya. Alessa masih saja pura-pura tidak mengenalnya. Alessa bahkan menghindari tatapan dari kedua mata birunya itu. Alessa berusaha tenang sembari mengabaikan tatapannya yang terus mengekori pergerakan Alessa. Seluruh atensi Pria itu padanya memang menganggu tapi Alessa mengabaikannya.

"Baiklah, kita sudah mengganti perbannya nanti Dokter akan datang untuk visit melihat perkembangan Anda, apakah Tuan memiliki keluhan lain?" tanya Alessa dengan suara yang mengalun lembut.

"Siapa namamu?" Pria itu bertanya dengan suara beratnya. Nada bicaranya tegas bahkan tidak terdengar bersahabat. Ia hanya setengah duduk di ranjang kasur mahal di ruangan VVIP khusus yang fantastis ini.

"Kalau namaku ... namaku." Alessa menahan ucapannya. Ia takut jika sampai Pria itu tahu jati dirinya yang membuatnya tidak leluasa untuk menjalankan rencananya. 

Suara pintu ruangan terbuka menampaki sosok Wanita yang menerobos masuk. "Oh, anakku Jo, kamu tidak apa-apa? kenapa tidak beritahu Ibu?" Wanita itu bertanya sembari mendekati ranjang kasur Pria itu.

Suara ini, tidak salah lagi suara Wanita itu, batin Alessa. Ia langsung memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan. "Baiklah, saya permisi Tuan," ucap Alessa buru-buru beranjak meninggalkan ruangan perawatan ini. Semua itu agar Alessa tidak harus berpas-pasan wajah dengan Wanita yang Ia benci. 

Pria bermata biru itu terus mengekori langkah Alessa sampai Ia keluar dari ruang perawatannya. Wajah, suara dan sentuhan kedua tangan Alessa yang gemetar. Pria itu mengusak wajah rupawannya dengan kasar. Tak salah lagi, dia orangnya, batinnya.

"Jovian, kamu kenapa?" tanya Wanita paruh baya itu.

Pria itu segera menggeleng. "Aku baik-baik saja, tidak perlu Ibu cemaskan karena cuman cedera akibat pecahan kaca mobil," jawab Jovian. Pria pemilik sepasang mata biru menawan yang juga memiliki paras yang rupawan. Pria yang jadi incaran Alessa karena menghabiskan malam keterpaksaan bersamanya. Jovian Arsenio Heide, pewaris tunggal kaya raya memiliki banyak kekuasaan.

"Kamu itu anak kesayangan Ibu, lain kali lebih hati-hati ya." Julia berucap sembari mengusap puncak kepala Jovian. "Anak Ibu yang sempurna, Jovian," ucap Julia tersenyum penuh arti. 

"Hentikan itu, aku tahu apa yang harus aku lakukan." Jovian malah menepis tangan ibunya sendiri. Dia beranjak berdiri dengan tubuh kekar seperti itu seolah tidak terjadi cedera apapun. "Aku akan keluar dari rumah sakit, secepatnya jadi pergilah dari ruangan ini," perintah Jovian dengan kedua tatapan matanya yang dingin. 

"Jo, Ibu hanya mau memastikan keadaanmu," sahut Julia.

"Sekarang tidak perlu." Jovian berucap sambil menatap jendela kaca yang ada di depan dirinya. Ia sama sekali tak mau memperpanjang perbincangan dengan ibunya. 

"Baiklah ... Ibu pergi dulu," ucap Julia sembari beranjak pergi. 

Jovian seorang diri hanya diam menatap cahaya-cahaya perlip dari jejeran gedung-gedung pencakar langit di depannya. Rumah Sakit yang Ia bangun dengan jerit payahnya sendiri. Jovian memang terlahir dengan hidup yang mudah dan serba lebih dari cukup. Ia terbelenggu oleh ibunya sendiri tapi ketika Ia melamun sendiri. Jovian teringat dengan kedua mata cokelat karamel madu milik Alessa. 

"Pasti kau orangnya, orang yang sama di malam itu juga," ucap Jovian yang sama sekali tak bisa melupakan Alessa usai menikmati satu malam bersamanya. 

Di sisi yang berbeda seorang Wanita muda berjalan dengan gelisah. Itu Alessa yang sedang berjalan dengan cepat di lorong rumah sakit. Ia merasakan sesak pada dadanya belum lagi kedua kakinya yang terasa nyeri. Alessa buru-buru masuk ke toilet wanita kemudian memutar keran westafel paling kencang. Aliran air meredam suara isaknya saat itu. Alessa tidak akan pernah lupa akan malam itu.

"Ya Tuhan, hiks rasa sakitnya masih terasa," gumam Alessa sembari terisak. 

Alessa tak menyangka di hari pertamanya bekerja justru harus bertemu dengan Pria itu. Pertemuan yang lebih cepat dari yang Alessa duga. Alessa membasuh wajahnya dengan guyuran air dari keran kemudian menatap wajah sembabnya dari cermin kaca. 

"Tidak apa-apa, tenanglah, tidak apa-apa," ucap Alessa menarik nafas dan membuangnya dengan perlahan. Alessa berusaha membuat dirinya jadi tenang. 

Alessa baru saja keluar dari toilet. Ia tak sengaja berpas-pasan dengan Dokter Mina. Wanita berkacamata itu langsung merangkul Alessa. Dia tersenyum pada Alessa. "Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Dokter Mina dengan santai.

"Baik, semuanya lancar hanya saja ...," ucapan Alessa tertahan. Ia mengedarkan pandangannya seolah ragu untuk mengatakannya pada Dokter Mina.

"Kenapa? katakan saja," sahut Dokter Mina yang penasaran. 

"Aku bertemu dengan Pria itu di ruang VVIP," lirih Alessa.

Dokter Mina membelalakkan kedua matanya. Ia langsung mengerti arah pembicaraan Alessa sementara penghuni ruangan VVIP satu-satunya saat ini hanyalah orang yang kebetulan Dokter Mina kenal. "Apakah dia Pria bermata biru dan berambut pirang?" tanya Dokter Mina hendak memastikan.

Alessa mengangguk lesu. "Iya, benar." Alessa menjawab pertanyaan Dokter Mina. Nyali yang Ia kumpulkan sejak lama jadi menciut ketika bertemu dengan Pria itu. Alessa harus memberi perhitungan tapi baru bertemu di hari pertama bekerja saja Alessa mulai goyah lagi.

"Kamu yakin itu orangnya?" tanya Dokter Mina.

"Iya, aku yakin sekali Dok," sahut Alessa dengan yakin.

"Kalau begitu ... tidak salah lagi, orang yang kau maksud itu Jovian Arsenio Heide kebetulan dia juga pemilik Rumah Sakit ini." 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status