Share

51. Perjalanan

Author: Ambu Abbas
last update publish date: 2025-01-25 17:08:08
Mereka tampak menikmati makan siang di satu warung makan di pinggir jalan raya itu.

Setelah perutnya terisi makanan, wajah Dini terlihat segar. Iwan lalu menyuruhnya menelan pil anti mabuk.

"Obat anti mabuknya diminum Din, kita bakal naik kapal feri.. nanti kalau mabuk lagi gimana?"

"Iya bu diminum," celetuk Tia.

"Iya Tia," jawab Dini sambil mengambil obat tersebut dari dalam tasnya.

Dini pun lalu menelan pil anti mabuk tersebut.

Tak lama kemudian, setelah Iwan merasa sudah cukup waktu is
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelakor dan mantan suami   56. Sita protes

    Iwan yang menguping ribut omong Bi Risna dengan Sita, geleng-geleng kepala. Dia bergumam : "Dasar prempuan," Dia lalu masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya Wardah sudah rebahan diatas ranjang. Iwan pun merebahkan tubuhnya disisi sang istri. Wardah menatap suaminya dengan rasa rindu yang membuncah, bercampur cemburu, karena beberapa hari kemarin Iwan menjemput istri dan putrinya dari luar kota. Wardah berusaha menyembunyikan rasa cemburunya, ia lalu mengambil notes kecil dan menuliskan sesuatu disitu.Kamu bau acem, mandi dulu sana..Iwan tersenyum kecil. Spontan dia mencium pipi istrinya. Wardah menghapus pipinya dengan telapak tangan. Iwan malah menciumnya lagi. Wardah berusaha mengelak, menutup wajahnya dengan bantal. Iwan menarik bantalnya, dan menciumnya lagi. Pergumulan tersebut terhenti karena tiba-tiba bi Risna mengetuk pintu kamar. Toktoktok "Kak, maaf ganggu.. " Iwan menoleh ke arah pintu, lalu memberi isyarat kepada Wardah dengan menempelkan jari telunj

  • Pelakor dan mantan suami   55. Sita yang bebal.

    Manusia memang tak ada yang sempurna. Demikian pula dengan Sita. Gadis yang berusia 18 tahun ini baru saja tamat dari Sekolah Menengah Atas, itupun ijazahnya belum bisa ditebus, karena bi Risna menunggak iuran lebih dari enam bulan. Masa pubertas yang dipengaruhi gejolak emosional, lebih sering dikuasai oleh tuntutan pemenuhan hasrat dari dalam tubuhnya saja. Wardah jalan disamping bi Risna, ia menuju ke sebuah pintu kamar, lalu membuka pintunya. Kamar itu kosong. Ia memberitahu dengan bahasa tangannya supaya bi Risna bersihkan dulu. Bi Risna meresponnya dengan kepalanya yang mengangguk-angguk. Sita yang tampak masih berdiri di pintu, melihat adegan tersebut sambil menahan tawanya. Baru kali ini Sita melihat orang yang berbicara dengan bahasa isyarat tangan. "Oh dia bisu rupanya. Kasihan sekali, cantik tapi tidak bisa bicara," katanya dalam hati. Wardah lalu pergi meninggalkan bi Risna disitu. Ruangan kosong itu berukuran cukup besar, empat kali tiga setengah meter. Dulu

  • Pelakor dan mantan suami   55. Sita yang bebal.

    Manusia memang tak ada yang sempurna. Demikian pula dengan Sita. Gadis yang berusia 18 tahun ini baru saja tamat dari Sekolah Menengah Atas. Masa pubertas yang dipengaruhi gejolak emosional, lebih sering dikuasai oleh tuntutan pemenuhan hasrat dari dalam tubuhnya saja. Wardah jalan disamping bi Risna, ia menuju ke sebuah pintu kamar, lalu membukakannya. Kamar itu kosong. Ia memberitahu dengan bahasa tangannya supaya bi Risna bersihkan dulu. Bi Risna meresponnya dengan mengangguk-angguk. Wardah lalu pergi meninggalkan bi Risna disitu. Bi Risna dan Sita di yang jalan belakangnya, lalu masuk ke dalam kamar tersebut. Ruangan kosong itu berukuran cukup besar, empat kali tiga setengah meter. Dulu, sewaktu masih ada almahum ibunya Wardah, ruang tersebut digunakan untuk segala kegiatan. Tempat bermain Wardah dimasa kanak-kanak, tempat belajar bahasa isyarat, menulis dan membaca; hingga dijadikan tempat Wardah Fatimah belajar membuat kue. Benda-benda sisa kegiatan dari masa lalu tersebut suda

  • Pelakor dan mantan suami   54. Dua rumah sakit berbeda.

    Setelah slang infus dipasang oleh Perawat di tangan Dewi, Perawat itu mendekati Dr Permana. "Bagaimana kondisi istri saya suster?" "Tekanan darahnya agak rendah, tapi gak apa-apa.. bu Dewi butuh istirahat saja. Dokter Herman sedang dalam perjalanan kesini dok," ucap Perawat jaga itu. "Baik suster, terimakasih," Perawat itu menuju ke meja, lalu memberi catatan pada selembar kertas diatas papan jalan, dan keluar dari ruangan. "Kalau ada apa-apa, saya di ruang jaga dok," "Baik Suster, terimakasih.." sahut Dr Permana. Dr Permana duduk disamping ranjang pasien. Dia menatap wajah istrinya, merasa kuatir melihat kondisi Dewi, tubuhnya sangat lemah serta wajahnya pucat. Dr Permana tampak mengelus tangan Dewi dengan penuh kasih. "Kamu sabar ya sayang... ini reaksi kandungan dengan tubuhmu. Gak apa-apa, gak lama kok.. aku yakin kamu pasti kuat.." seru Dr Permana sambil menciumi punggung tangan istrinya. Dewi mengangguk pelan, "Terimakasih ya.. Aku jadi ngantuk pap.. " "Iya

  • Pelakor dan mantan suami   53. Wardah mengidam.

    Motor Iwan keluar dari halaman samping warung Wahyu. Dia merasa lega karena sudah membawa Tia ke rumah miliknya. Dia percaya, disitu banyak yang akan menjaga serta membimbingnya. Didalam benak Iwan ada target bahwa tahun depan Tia sudah harus masuk sekolah Taman Kanak-kanak, mungkin bisa juga bersama dengan Nana, kalau dia mau. Iwan memparkir motornya di pinggir jalan untuk menelpon pak Hasan, "Assalamu'alaikum pak Hasan, saya minta alamat rumah sakitnya pak haji," "Oh iya boleh..." Pak Hasan pun menjelaskan alamatnya, lalu Iwan mencari alamat tersebut, dengan bertanya-tanya kepada warga yang duduk di depan sebuah warung kopi di pinggir jalan raya itu. Sampai akhirnya dia menemukan letak rumah sakit tersebut. Iwan memparkir motornya, lalu masuk ke area lobby rumah sakit. di depan meja costumer service, dia bertanya pada petugas wanita disitu. "Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya petugas wanita tersebut. "Kalau pasien pak haji Mahmud dirawat di lantai berapa kak?" tanya Iwan

  • Pelakor dan mantan suami   52. Kembali ke rumah.

    Mobil pajero hitam milik pak haji Mahmud melaju meninggalkan pinggir jalan depan warung Wahyu. Iwan mengenalkan Dini dan Tia pada keluarga Wahyu. Mereka pun saling bersalaman, mengenalkan diri masing-masing, "Wahyu... ini Nuning istri saya, itu nek Warni ibunya Nuning. Nah yang ini Nana kak.." "Nanti Tia main sama Nana disini ya?" sela Iwan. "Iya ayah.." Tia bersalaman dengan Nana. "Yuuk kita main di sana, ada ayunan lho.." Nana mengajak Tia. Iwan terperangah mendengar ucapan Nana. "Dimana ayunannya Na?" "Di samping rumah om.. kemarin Bapak dan Aki yang buatin.. ayoo" Nana dan Tia tampak langsung akrab. Mereka berlari menuju ke arah halaman samping rumah Iwan. Iwan, Dini, pak Sidik, Wahyu dan Nuning, saling bersitatap, dan tersenyum lebar. "Alhamdulillah... makasih Yu.." "Iya bang.. saya tahu mereka butuh tempat bermain, jadi kemarin saya cari ban bekas dan trus diikat ke pohon di samping belakang rumah abang.." "Tapi kuat ya Yu..?" "Kuat bang.."Iwan menoleh ke arah Dini

  • Pelakor dan mantan suami   33. Rencana Iwan

    ~Malam, di rumah Wahyu~ Seperti biasanya, suasana malam di sekitar rumah Wahyu, dihiasi suara katak yang saling bersahutan, sesekali diselingi serangga malam yang tak mau ketinggalan. Nek Warni membawa satu nampan berisi beberapa gelas kopi, dan satu baskom kecil singkong rebus yang masih panas d

  • Pelakor dan mantan suami   32. Ujian bagi Iwan

    Iwan merenung. Sebagai laki-laki bukan tak mungkin Iwan tidak tergoda, siapa laki-laki yang kuat melihat paha mulus menantang di depan matanya, sedang suaminya tidak ada di rumah. Rumah itupun kebetulan kosong, meski hanya beberapa saat saja. Bagi Iwan, perempuan itu sengaja menggodanya, dan Iwan

  • Pelakor dan mantan suami   31. Nuning menggoda Iwan

    Dalam benak Dini, ia sama sekali tidak percaya atas ucapan Badrun. Tiba-tiba handphone Badrun berbunyi nada panggilan masuk. Dia mengambil handphone dari dalam saku celananya, lalu melihat ke layarnya. Nama Iwan tertera disitu. Sesaat Badrun menatap kearah Dini, lalu berdiri, "Sebentar yah..," kata

  • Pelakor dan mantan suami   30. Kurang iman

    Malam di rumah Wahyu.Angin dingin tersebar masuk dari sela dinding bilik bambu di seluruh ruangan. Suasana malam yang dingin, ditambah kelelahan tubuh pak Sidik, Iwan, serta Wahyu seharian, membuat mereka lelap lebih cepat.Mereka tidur di ruang tamu. Suara ngorok ketiga lelaki itu, saling bersahutan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status