ログインVianca perlahan memejamkan mata, efek obat dari dokter yang barusan dia minum, membuat dirinya cepat mengantuk.
Zeva masih ada di situ, menatap lekat pada Vianca. Dia mengabaikan dering telepon yang berbunyi berkali-kali dari Savana. Karena dia khawatir, Savana bertanya keberadaan dirinya saat ini. Namun akhirnya, tak terdengar lagi dering telepon itu, mungkin Savana sudah menyerah untuk menghubungi Zeva.
Zeva terperanjat, saat mendengar suara rintihan dari Vianca. Ketika dilihat mata Vianca masih terpejam. "Vi, kamu mengigau? Bikin orang kaget saja."
Zeva yang sebelumnya menyangka suara tadi adalah suara rintihan dari kuntilanak, akhirnya mendekat pada Vianca. Dia melihat wanita itu keringat dingin, mungkin saja sedang bermimpi buruk. Zeva meraih tisu di nakas, lantas mengusap peluh di dahi Vianca.
Zeva tersenyum, mengamati bentuk wajah Vianca yang indah. Dia mengecup dahi Vianca dengan lembut.
Wanita itu nampak lebih baik hanya dengan belaian dari Zeva. Zeva menyadari hal tersebut, maka dia berinisiatif mendekap Vianca dari belakang, sambil mengelus bagian perut yang diperkirakan sakit. Zeva berdoa pada Tuhan, supaya Vianca cepat sembuh.
Hingga akhirnya, dia pun ikut tertidur, dengan posisi tangan yang tidak berpindah dari perut Vianca.
***Vianca masih ingin tidur. Namun telinganya mendengar ada suara ribut di luar. Matanya yang masih rapat bergerak-gerak dan perlahan terbuka menyesuaikan dengan cahaya lampu. Dia terperanjat, saat sadar tubuhnya berada di dalam dekapan Zeva.
"Vianca! Buka pintunya! Kamu lagi sama siapa di dalam? Jangan macam-macam kamu." teriak Melvin. Dia melihat mobil pria terparkir di halaman kontrakan.
Vianca tahu, Melvin bukan orang yang biasa bangun pagi. Palingan, Melvin belum tidur sama sekali. Namun dia tidak menyangka kakak tirinya datang di saat yang tidak tepat. Saat dirinya bersama Zeva.
"Mas Zev, bangun! Ada kakakku di luar."
Vianca berusaha menyingkirkan tangan kokoh Zeva yang memeluknya. Akan tetapi terlambat, karena Melvin berhasil mendobrak pintu kontrakan yang memang sudah jelek dari sananya. Bahkan, dia langsung mengambil foto Zeva dan Vianca.
Zeva membuka mata. Kesadaran belum sepenuhnya terkumpul, tapi kerah bajunya sudah ditarik oleh Melvin. Melvin menyeret Zeva agar bangun dari kasur. "Sini lo bajingan!"
"Lo siapa? Berani-beraninya ganggu istirahat gua, hah? Cari mati!"
"Hey, Bro. Harusnya gua yang tanya lo siapa. Ngapain lo ada di kamar adik kesayangan gua? Kurang ajar!"
Melvin langsung meninju Zeva. Zeva meringis dan tidak melawan, karena tahu dia sedang berhadapan dengan kakaknya Vianca.
Vianca memekik, menarik baju Melvin hingga kainnya melar. Dia tidak percaya kakaknya ingin melindunginya. Karena sebenarnya, Vianca bisa terjerumus ke dalam dunia malam akibat Melvin. Paling juga, Melvin nantinya hanya ingin memeras Zeva.
"Kak Melvin, cepat kamu pergi dari sini!" bentak Vianca, lalu memukul lengan Melvin.
"Adik tidak tahu malu, sudah ketahuan berbuat zinah malah usir kakak sendiri. Kamu itu tanggung jawab kakak, gimana kalau sampai ibu tahu?"
"Halah, tanggung jawab tai kucing. Bahkan kamu yang jual aku ke___"
Ucapan Vianca terhenti karena mulutnya dibekap oleh Melvin. Mulut Vianca sampai kesakitan karena tangan Melvin begitu kuat untuk membuatnya bungkam. Padahal, Vianca ingin menjelaskan bahwa dirinya pertama kali terjerat dunia malam karena Melvin mengancam dan menjualnya.
Sementara Zeva berdiri mematung dengan ekspresi so ganteng dan tidak merasa bersalah. "Kakak salah paham, Vianca lagi sakit makannya gua ada di sini untuk menjaganya."
"Diam lo! Lo bukan team medis kenapa juga harus jagain orang sakit sampai pagi, hah? Ikut gua ke ruang tengah! Kita bicara empat mata." Melvin merubah tatapannya ke arah Vianca. "Vianca, kamu diam di sini! Biarkan kakak bicara sama dia. Ini urusan sesama lelaki."
Melvin mendorong Vianca ke kasur. Sementara Zeva mengikuti langkah Melvin menuju ruang tengah. Mereka berdua duduk di sofa.
"Jadi gini, Bro. Kelakuan kalian itu bikin malu banget. Masih untung bukan warga setempat yang mergok kalian lagi gitu-gitu di kamar. Bayangkan kalau warga tahu, dan kalian diarak keliling kampung sambil gak pakai baju, gara-gara perbuatan nista kalian."
"Sorry ralat dikit, Kak. Gua emang bengal. Tapi kebetulan tadi gua sama Vianca gak lagi berbuat yang tidak-tidak. Dia lagi sakit."
"Halah, gua gak percaya. Jangan ngelak lo."
"Gua serius."
"Sekarang gini aja, karena semuanya udah terjadi. Mau gak mau lo harus tanggungjawab! nikahi adik gua!"
Zeva mengerutkan dahi, karena dia sudah mempunyai tunangan. "Maaf gak bisa. Gua belum ada rencana nikah dalam waktu dekat, sama siapa pun."
"Yah, gak bisa gitu, dong!" Melvin menggebrak meja, lalu meneruskan ucapannya, sambil menunjuk-nunjuk wajah Zeva. "Gua pernah lihat muka lo di hape adik gua. Pasti kalian sering banget ketemu dan melakukan dosa. Astagfirullah hal azim, benar-benar gak tahu malu. Lo gak kasian sama ibu Vianca kalau tahu hal ini?"
Melvin mengeluarkan ponsel, dan menunjukan sesuatu pada Zeva. Zeva kaget, sempat-sempatnya Melvin mengambil foto dirinya dan Vianca sedang berada di atas kasur. "Orang tua lo harus lihat ini, nih. Apa gua kirim via email aja gitu 'ya, ke perusahan lo? Lo anak Pak Aris, pemilik Tri Golden 'kan? Gua tahu alamat email perusahaan tercantum di kop surat kontrak Vianca. Tapi kalau foto mesum lo nyasar ke HRD terus tersebar ke karyawan lain gimana dong?"
Zeva mendengkus, niat hati menjebak Vianca supaya bersedia jadi selingkuhan, malah dirinya yang terjebak. "Ya, sudah. Kakak gak usah banyak omong. Gua mau nikahin adik kakak, tapi cuma bisa nikah siri aja. Karena orang tua gua gak bakal setuju sama Vianca."
"Gak masalah, yang penting uang maharnya besar 'kan?"
Zeva terbelalak, diluar dugaan dia, pria di hadapannya ini begitu blak-blakan masalah uang. Sangat berbeda jauh dengan Vianca yang selalu bersikap manis. Bahkan pria ini lebih matre dari emak-emak rempong.
"Ya, uang mahar ada, lumayan lah jumlahnya. Tenang saja."
"Gua gak percaya sama lo. Sebelum lo pulang, lo kasih dulu uang minimal 20 juta sebagai jaminan. Sisanya nanti gak masalah."
Sumpah demi apa pun, Zeva Marasa dirinya dirampok pagi-pagi. Bahkan, Melvin tidak membahas tanggal pernikahannya kapan. Malahan membahas uang dari tadi.
Melvin menengadahkan tangan karena Zeva hanya diam saja. "Mana duitnya, Bro? Duit segitu kecil 'kan buat lo?"
"Gua gak bawa uang kes segitu, nomer rekening Kak Mel ... Mel ...."
"Nama gua Melvin, Bodoh!"
"Ya, berapa nomer rekening Kak Melvin? Tapi setelah gua kirim! Segera hapus foto gua di galeri hape lo."
"Oke, gampang."
Zeva mencatat nomer rekening dan mentransfer sebanyak 20 juta. "Sudah gua transfer, Kak."
"Eh, tapi gua juga butuh uang kes, lo kasih gua berapa aja, deh."
"Butuh berapa emang?"
"Semua isi di dompet lo, keluarin aja semua buat gua."
Zeva mendengkus, dia ingin sekali meninju wajah Melvin jika saja Melvin bukan kakaknya Vianca. Zeva membuka dompet sambil bergumam. "Nih orang, bakat banget jadi tukang begal, gila!"
Melvin mendekatkan telinganya ke arah Zeva. "Ngomong apa lo tadi, begal? Siapa yang begal?"
Zeva memijat alis merasa jengkel atas reaksi Melvin. Saat dirinya membuka dompet. Dompetnya ditarik dan diambil sendiri oleh Melvin. Melvin melempar dompet Zeva setelah berhasil mengambil semuanya.
Zeva bengong, sambil menatap ke arah Melvin yang sibuk menghitung uang dua juta sambil menyeringai.
"Thanks banget ya, adik ipar. Uang ini akan gua alokasikan ke uang dapur dan kasih ke mamahnya Vianca."
Zeva bukannya tidak sadar dirinya diperas. Dia hanya tidak ingin ribut-ribut hanya karena uang 20 juta rupiah. Zeva harus memiliki harga diri di depan Melvin. Setidaknya, mulut Melvin bisa disumpal dengan uang segitu.
Zeva menyilang tangan di depan dada. "Serius itu uang gak bakal lo pake sendiri? Dari tampang lo, kok gua ragu?"
"Ya iyalah, lo kan bakal nikah sama Vianca bukan sama gua? Ya, udah! Sekarang lo boleh pulang, sana! Kembali lagi besok hari Minggu buat ijab qobul."
"Gua mau ketemu dulu sama Vianca bentar, gua mau ngajak dia sarapan. Vianca gak boleh sampai telat sarapan."
"Besok aja, besok! Bandel banget lo jadi orang. Masalah sarapan gampang bisa sama gua."
Melvin sengaja melarang Zeva menemui Vianca. Karena khawatir, Vianca menggagalkan rencananya. Wanita itu bisa saja menolak ide ini, dan memaksa untuk mengembalikan uang dari Zeva.
Enam bulan setelah Zalea ulang tahun yang pertama, rumah Zeva kembali sibuk.Tapi kali ini bukan karena popok Zalea yang habis, bukan karena Rafael rewel minta mainan baru, dan bukan karena ASI Vianca yang seret. Kali ini sibuk karena ada hajat besar.Hari ini adalah hari lamaran Edrick dan Bu Guru Kirana.Sejak jam 5 pagi, rumah sudah seperti pasar. Mamah sudah datang dari Bandung sejak 3 hari lalu dan langsung mengambil alih dapur. Tidak ada yang boleh menolak masakan Mamah."Vianca, sini tolong Mamah icipin rendangnya. Kurang garam nggak?" Mamah berteriak dari dapur sambil mengaduk rendang 5 kilo di wajan besar.Vianca yang sedang menggendong Zalea yang baru bangun tidur langsung datang sambil tertawa. Zalea yang sekarang sudah berusia 1 tahun 6 bulan, rambutnya sudah agak lebat dan sudah bisa jalan tertatih-tatih kemana-mana sambil memanggil "Mama... Papa... Oma..."."Enak banget Mah, sudah pas. Mamah masak segini banyak mau
Seminggu setelah ulang tahun Zalea, ada yang aneh dengan Edrick di kantor.Edrick adalah Manager Operasional di perusahaan Zeva. Yang biasanya paling on-time, paling tegas, dan paling anti telat. Jam 7 pagi sudah di kantor, baju selalu rapi. Tapi minggu ini, setiap jam 4 sore, dia selalu izin pulang cepat."Pak Zeva, saya izin pulang jam 4 ya, ada urusan keluarga," katanya dengan wajah serius sambil bawa laptop.Zeva yang tahu persis "urusan keluarga" itu apa cuma senyum-senyum saja. "Oke, gas. Jangan lupa absen."Urusan keluarga itu adalah: Les privat Rafael.Edrick memang sengaja mengatur jadwal les Rafael dengan Bu Guru Kirana tiap Senin & Kamis jam 4 sore di rumah Zeva. Jadi dia punya alasan resmi untuk pulang cepat dan bisa ketemu Bu Kirana tanpa kelihatan modus."Rafael, sini Om bisikin," Edrick memanggil Rafael sepulang sekolah di ruang kerja Zeva di rumah."Apa Om?""Kamu mau les tambahan biar pinter kan
Hari ini rumah Zeva seperti disulap jadi taman bermain balon.Bukan pesta mewah di hotel bintang lima seperti yang ditawarkan WO langganan Zeva. Vianca menolak. "Mas, Zalea baru 1 tahun, dia nggak butuh panggung megah. Dia butuh rumah yang penuh cinta," kata Vianca waktu itu.Jadi pesta ulang tahun pertama Zalea digelar sederhana saja di halaman belakang rumah. Temanya: "One-derful Zalea" dengan warna pastel pink dan putih. Balon-balon berterbangan, rumput sintetis digelar, dan ada mini playground untuk anak-anak komplek.Sejak jam 7 pagi, dua orang panitia paling sibuk adalah Rafael dan Edrick."Ih, Om Edrick, balonnya jangan di situ! Adik Zalea nggak kelihatan nanti kalau foto! Taruh di atas sini, nih, yang tinggi!" Rafael yang sekarang sudah kelas 2 SD, gayanya sudah seperti mandor proyek, berdiri di atas kursi sambil menunjuk-nunjuk.Edrick, adiknya Zeva yang selama ini dikenal paling cuek, paling dingin, dan paling anti rib
Hari ke-10 kelahiran Zalea adalah hari paling kacau di rumah Zeva.Sejak jam 2 dini hari, Zalea tidak berhenti menangis. Bukan tangis ngantuk, bukan tangis popok basah. Tangis lapar yang melengking dan tidak ada jedanya."Mas, dia masih lapar... kayaknya ASI ku nggak keluar lagi deh, Mas..." Vianca panik, wajahnya sudah pucat dan berkeringat. Ia sudah mencoba menyusui berganti-ganti posisi, tapi Zalea mengisap sebentar lalu menangis lagi karena tidak ada yang keluar. Payudaranya bengkak dan nyeri.Zeva yang sejak tadi menggendong Zalea mondar-mandir dari ujung kamar ke ujung kamar juga ikut panik. Ini pertama kalinya ia melihat putrinya menangis selama itu."Sayang, jangan panik dulu. Tarik napas. Mungkin kamu kecapekan," Zeva mencoba menenangkan, tapi suaranya sendiri bergetar.Rafael yang terbangun karena suara tangisan adiknya, keluar dari kamar dengan mata sembab sambil memeluk guling dinosaurusnya."Mamah kenapa nangis lagi?
Zalea Vianca Zeva sudah berusia 7 hari.Tujuh hari yang mengubah total isi rumah Zeva. Jika dulu rumah itu identik dengan sepi, tegang, dan bau obat, sekarang dari pagi sampai malam isinya cuma tiga suara: tangisan Zalea, tawa Rafael, dan omelan manja Vianca yang melarang Zeva gendong bayi sambil berdiri satu kaki.Vianca sendiri sudah jauh lebih sehat. Jahitan pasca lahirannya sudah mulai kering. Ia sudah bisa duduk bersila di kasur, menyusui, meski masih belum boleh banyak jalan. Wajahnya yang dulu pucat karena bedrest berbulan-bulan, kini sudah kembali bersinar.Pagi itu jam 10, saat Vianca sedang menyusui Zalea di kamar, Edrick mengetuk pintu dengan wajah panik bahagia."Bu, Pak... ada tamu... tamu spesial!"Zeva yang sedang melipat popok di lantai langsung berdiri. "Siapa?"Belum sempat Edrick jawab, dari depan sudah terdengar suara cewek yang super heboh dan tidak asing lagi bagi Vianca."VIANCA MANA? TEMEN GUE MANA? YANG BARU LAHIRAN MANA? GUE BAWA RENDANG 2 KILO NIH!"Vianca l
Minggu ke-38. Dua bulan sejak kejadian pendarahan dan pertemuan di penjara itu terlewati dengan sangat hati-hati.Rumah kini benar-benar menjadi istana steril. Zeva bahkan membangun sebuah kamar bersalin mini di dalam kamar utama, lengkap dengan tabung oksigen dan tim bidan siaga yang standby 24 jam di paviliun belakang rumah. Dokter Anita bilang, ini adalah kehamilan yang harus dijaga sampai detik terakhir.Pagi itu, jam 04:17 dini hari.Vianca terbangun karena merasakan cairan hangat merembes di antara kedua kakinya. Bukan ngompol. Ia hafal rasanya. Ketubannya pecah."Mas... Mas Zeva..." Vianca mengguncang lengan suaminya yang tertidur di sampingnya sambil memeluk perutnya.Zeva yang tidurnya super waspada langsung terbangun seperti kesetrum listrik. "Sayang? Kenapa? Sakit? Kontraksi?""Ketubanku pecah, Mas..." bisik Vianca dengan napas terengah-engah, wajahnya menahan nyeri pertama.Hanya butuh tiga detik bagi Zeva untuk berubah menjadi mode panik total. Ia berteriak memanggil sem
Vianca mendengar suara mesin mobil dari dalam kamar. Dia terperanjat, saat sadar bahwa Zeva sudah pulang tanpa pamit terlebih dulu padanya. Dia menghampiri Melvin yang masih berada di ruang tengah. Wanita itu terkejut, lantaran Melvin sedang asik menghitung uang ratusan ribu yang cukup banyak.
Edrick mengantarkan Vianca pulang. Dia memperlakukan wanita itu layaknya tuan putri yang harus dilindungi.Bagi Vianca, sesuatu hal yang aneh ada pria yang membukakan pintu mobil untuknya. Wanita yang mempunyai sejarah yang kelam seperti dirinya, jarang mendapatkan perlakuan seperti
Zeva mengelak bahwa dirinya mencintai Vianca. "Savana jauh lebih cantik puluhan kali lipat daripada Vianca. Gak ada alasan buat gua jatuh cinta sama dia." "Karena cinta itu gak ada logika, Bang Zev. Buktinya, lo nyimpen celana dalam Vianca pake kado, di simpen baik-baik bareng sama baju l
Zeva menghempaskan diri pada kasurnya. Kemudian mengatur posisi yang baik untuk meluruskan kaki. Dia kelelahan, setelah pulang bekerja harus bersusah payah membujuk Savana untuk balikan padanya. Usahanya tak sia-sia, wanita itu memberi kesempatan ke dua dengan syarat Zeva harus memperbaiki imagen







