แชร์

13. Dipaksa Menikah

ผู้เขียน: Mira Restia
last update วันที่เผยแพร่: 2021-08-04 21:19:52

Vianca perlahan memejamkan mata, efek obat dari dokter yang barusan dia minum, membuat dirinya cepat mengantuk. 

Zeva masih ada di situ, menatap lekat pada Vianca. Dia mengabaikan dering telepon yang berbunyi berkali-kali dari Savana. Karena dia khawatir, Savana bertanya keberadaan dirinya saat ini. Namun akhirnya, tak terdengar lagi dering telepon itu, mungkin Savana sudah menyerah untuk menghubungi Zeva.

Zeva terperanjat, saat mendengar suara rintihan dari Vianca. Ketika dilihat mata Vianca masih terpejam. "Vi, kamu mengigau? Bikin orang kaget saja."

Zeva yang sebelumnya menyangka suara tadi adalah suara rintihan dari kuntilanak, akhirnya mendekat pada Vianca. Dia melihat wanita itu keringat dingin, mungkin saja sedang bermimpi buruk. Zeva meraih tisu di nakas, lantas mengusap peluh di dahi Vianca. 

Zeva tersenyum, mengamati bentuk wajah Vianca yang indah. Dia mengecup dahi Vianca dengan lembut.

Wanita itu nampak lebih baik hanya dengan belaian dari Zeva. Zeva menyadari hal tersebut, maka dia berinisiatif mendekap Vianca dari belakang, sambil mengelus bagian perut yang diperkirakan sakit. Zeva berdoa pada Tuhan, supaya Vianca cepat sembuh.

Hingga akhirnya, dia pun ikut tertidur, dengan posisi tangan yang tidak berpindah dari perut Vianca.

***

Vianca masih ingin tidur. Namun telinganya mendengar ada suara ribut di luar. Matanya yang masih rapat bergerak-gerak dan perlahan terbuka menyesuaikan dengan cahaya lampu. Dia terperanjat, saat sadar tubuhnya berada di dalam dekapan Zeva. 

"Vianca! Buka pintunya! Kamu lagi sama siapa di dalam? Jangan macam-macam kamu." teriak Melvin. Dia melihat mobil pria terparkir di halaman kontrakan.

Vianca tahu, Melvin bukan orang yang biasa bangun pagi. Palingan, Melvin belum tidur sama sekali. Namun dia tidak menyangka kakak tirinya datang di saat yang tidak tepat. Saat dirinya bersama Zeva.

"Mas Zev, bangun! Ada kakakku di luar."

Vianca berusaha menyingkirkan tangan kokoh Zeva yang memeluknya. Akan tetapi terlambat, karena Melvin berhasil mendobrak pintu kontrakan yang memang sudah jelek dari sananya. Bahkan, dia langsung mengambil foto Zeva dan Vianca.

Zeva membuka mata. Kesadaran belum sepenuhnya terkumpul, tapi kerah bajunya sudah ditarik oleh Melvin. Melvin menyeret Zeva agar bangun dari kasur. "Sini lo bajingan!"

"Lo siapa? Berani-beraninya ganggu istirahat gua, hah? Cari mati!"

"Hey, Bro. Harusnya gua yang tanya lo  siapa. Ngapain lo ada di kamar adik kesayangan gua? Kurang ajar!"

Melvin langsung meninju Zeva. Zeva meringis dan tidak melawan, karena tahu dia sedang berhadapan dengan kakaknya Vianca.

Vianca memekik, menarik baju Melvin hingga kainnya melar. Dia tidak percaya kakaknya ingin melindunginya. Karena sebenarnya, Vianca bisa terjerumus ke dalam dunia malam akibat Melvin. Paling juga, Melvin nantinya hanya ingin memeras Zeva.

"Kak Melvin, cepat kamu pergi dari sini!" bentak Vianca, lalu memukul lengan Melvin.

"Adik tidak tahu malu, sudah ketahuan berbuat zinah malah usir kakak sendiri. Kamu itu tanggung jawab kakak, gimana kalau sampai ibu tahu?"

"Halah, tanggung jawab tai kucing. Bahkan kamu yang jual aku ke___"

Ucapan Vianca terhenti karena mulutnya dibekap oleh Melvin. Mulut Vianca sampai kesakitan karena tangan Melvin begitu kuat untuk membuatnya bungkam. Padahal, Vianca ingin menjelaskan bahwa dirinya pertama kali terjerat dunia malam karena Melvin mengancam dan menjualnya.

Sementara Zeva berdiri mematung dengan ekspresi so ganteng dan tidak merasa bersalah. "Kakak salah paham, Vianca lagi sakit makannya gua ada di sini untuk menjaganya."

"Diam lo! Lo bukan team medis kenapa juga harus jagain orang sakit sampai pagi, hah? Ikut gua ke ruang tengah! Kita bicara empat mata." Melvin merubah tatapannya ke arah Vianca. "Vianca, kamu diam di sini! Biarkan kakak bicara sama dia. Ini urusan sesama lelaki."

Melvin mendorong Vianca ke kasur. Sementara Zeva mengikuti langkah Melvin menuju ruang tengah. Mereka berdua duduk di sofa.

"Jadi gini, Bro. Kelakuan kalian itu bikin malu banget. Masih untung bukan warga setempat yang mergok kalian lagi gitu-gitu di kamar. Bayangkan kalau warga tahu, dan kalian diarak keliling kampung sambil gak pakai baju, gara-gara perbuatan nista kalian."

"Sorry ralat dikit, Kak. Gua emang bengal. Tapi kebetulan tadi gua sama Vianca gak lagi berbuat yang tidak-tidak. Dia lagi sakit."

"Halah, gua gak percaya. Jangan ngelak lo."

"Gua serius."

"Sekarang gini aja, karena semuanya udah terjadi. Mau gak mau lo harus tanggungjawab! nikahi adik gua!"

Zeva mengerutkan dahi, karena dia sudah mempunyai tunangan. "Maaf gak bisa. Gua belum ada rencana nikah dalam waktu dekat, sama siapa pun."

"Yah, gak bisa gitu, dong!" Melvin menggebrak meja, lalu meneruskan ucapannya, sambil menunjuk-nunjuk wajah Zeva. "Gua pernah lihat muka lo di hape adik gua. Pasti kalian sering banget ketemu dan melakukan dosa. Astagfirullah hal azim, benar-benar gak tahu malu. Lo gak kasian sama ibu Vianca kalau tahu hal ini?" 

Melvin mengeluarkan ponsel, dan menunjukan sesuatu pada Zeva. Zeva kaget, sempat-sempatnya Melvin mengambil foto dirinya dan Vianca sedang berada di atas kasur. "Orang tua lo harus lihat ini, nih. Apa gua kirim via email aja gitu 'ya, ke perusahan lo? Lo anak Pak Aris, pemilik Tri Golden 'kan? Gua tahu alamat email perusahaan tercantum di kop surat kontrak Vianca. Tapi kalau foto mesum lo nyasar ke HRD terus tersebar ke karyawan lain gimana dong?"

Zeva mendengkus, niat hati menjebak Vianca supaya bersedia jadi selingkuhan, malah dirinya yang terjebak. "Ya, sudah. Kakak gak usah banyak omong. Gua mau nikahin adik kakak, tapi cuma bisa nikah siri aja. Karena orang tua gua gak bakal setuju sama Vianca."

"Gak masalah, yang penting uang maharnya besar 'kan?"

Zeva terbelalak, diluar dugaan dia, pria di hadapannya ini begitu blak-blakan masalah uang. Sangat berbeda jauh dengan Vianca yang selalu bersikap manis. Bahkan pria ini lebih matre dari emak-emak rempong. 

"Ya, uang mahar ada, lumayan lah jumlahnya. Tenang saja."

"Gua gak percaya sama lo. Sebelum lo pulang, lo kasih dulu uang minimal 20 juta sebagai jaminan. Sisanya nanti gak masalah."

Sumpah demi apa pun, Zeva Marasa dirinya dirampok pagi-pagi. Bahkan, Melvin tidak membahas tanggal pernikahannya kapan. Malahan membahas uang dari tadi.

Melvin menengadahkan tangan karena Zeva hanya diam saja. "Mana duitnya, Bro? Duit segitu kecil 'kan buat lo?"

"Gua gak bawa uang kes segitu, nomer rekening Kak Mel ... Mel ...."

"Nama gua Melvin, Bodoh!"

"Ya, berapa nomer rekening Kak Melvin? Tapi setelah gua kirim! Segera hapus foto gua di galeri hape lo."

"Oke, gampang."

Zeva mencatat nomer rekening dan mentransfer sebanyak 20 juta. "Sudah gua transfer, Kak."

"Eh, tapi gua juga butuh uang kes, lo kasih gua berapa aja, deh."

"Butuh berapa emang?"

"Semua isi di dompet lo, keluarin aja semua buat gua."

Zeva mendengkus, dia ingin sekali meninju wajah Melvin jika saja Melvin bukan kakaknya Vianca. Zeva membuka dompet sambil bergumam. "Nih orang, bakat banget jadi tukang begal, gila!"

Melvin mendekatkan telinganya ke arah Zeva. "Ngomong apa lo tadi, begal? Siapa yang begal?"

Zeva memijat alis merasa jengkel atas reaksi Melvin. Saat dirinya membuka dompet. Dompetnya ditarik dan diambil sendiri oleh Melvin. Melvin melempar dompet Zeva setelah berhasil mengambil semuanya.

Zeva bengong, sambil menatap ke arah Melvin yang sibuk menghitung uang dua juta sambil menyeringai.

"Thanks banget ya, adik ipar. Uang ini akan gua alokasikan ke uang dapur dan kasih ke mamahnya Vianca."

Zeva bukannya tidak sadar dirinya diperas. Dia hanya tidak ingin ribut-ribut hanya karena uang 20 juta rupiah. Zeva harus memiliki harga diri di depan Melvin. Setidaknya, mulut Melvin bisa disumpal dengan uang segitu.

Zeva menyilang tangan di depan dada. "Serius itu uang gak bakal lo pake sendiri? Dari tampang lo, kok gua ragu?"

"Ya iyalah, lo kan bakal nikah sama Vianca bukan sama gua? Ya, udah! Sekarang lo boleh pulang, sana! Kembali lagi besok hari Minggu buat ijab qobul."

"Gua mau ketemu dulu sama Vianca bentar, gua mau ngajak dia sarapan. Vianca gak boleh sampai telat sarapan."

"Besok aja, besok! Bandel banget lo jadi orang. Masalah sarapan gampang bisa sama gua."

Melvin sengaja melarang Zeva menemui Vianca. Karena khawatir, Vianca menggagalkan rencananya. Wanita itu bisa saja menolak ide ini, dan memaksa untuk mengembalikan uang dari Zeva. 

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pelampiasan Pria Angkuh   90. Suara Berisik dari Gudang

    Siska tak bisa lagi menepis rasa curiganya. Ia berjalan perlahan menuju gudang belakang, telinganya menangkap suara gesekan benda dari dalam. Awalnya ia mengira itu tikus, namun tak lama terdengar suara batuk tertahan yang jelas berasal dari manusia. Dengan hati berdebar kencang, Siska mengetuk pintu pelan—ia sengaja tak bersuara, berharap orang di dalam akan mengira itu Riko dan membukanya sendiri. Benar saja, pintu gudang terdorong terbuka dari dalam. Kepala Ratna menyembul, wajahnya berharap. "Mana makananku?" tanyanya pelan. Seketika Ratna tersentak dan hendak membanting pintu kembali saat menyadari yang berdiri di depan adalah Siska, bukan mantan suaminya. Namun Siska sudah lebih cepat bereaksi, menahan pintu dengan sekuat tenaga lalu melompat masuk. "Jadi benar ada orang jahat yang kau sembunyikan di sini!" bentak Siska meledak. Tanpa pikir panjang, Siska langsung menyerang. Mereka bergulat di tengah ruangan yang berdebu, saling menjambak rambut dengan kasar. Ratna y

  • Pelampiasan Pria Angkuh   89. Gudang Berdebu

    Ratna, ibu kandung Savana, berhasil melarikan diri hingga ke pinggiran kota. Ia bergegas menuju rumah mantan suaminya, Riko—satu-satunya orang yang ia harap masih mau menolongnya. Beruntung, saat mengetuk pintu, hanya Riko yang ada di rumah; istrinya Siska sedang pergi berbelanja dan belum pulang. "Riko! Tolong aku..." bisik Ratna terengah-engah begitu pintu terbuka. Riko terkejut melihat kehadiran wanita itu, namun melihat wajah Ratna yang ketakutan dan penuh air mata, ia akhirnya mengangguk pelan. Tanpa banyak tanya, ia menuntun Ratna masuk dan menyembunyikannya di dalam gudang belakang yang gelap dan berdebu—tempat yang jarang disentuh istrinya. "Di sini dulu saja. Siska tidak boleh tahu kamu ada di sini," bisik Riko singkat sebelum menutup pintu gudang rapat-rapat. Berjam-jam Ratna menunggu di sana dengan perut lapar dan tubuh gemetar. Menjelang malam, Riko datang diam-diam membawa nasi hangat, lauk, camilan, serta baju ganti bersih. Ia meletakkannya di lantai di depan Rat

  • Pelampiasan Pria Angkuh   88. Kandungan Vianca

    Pagi itu Vianca sedang duduk di teras sambil membaca buku, saat sebuah mobil tua berhenti perlahan di depan pagar. Seorang wanita paruh baya turun dengan wajah pucat dan gemetar—ia adalah ibu kandung Savana. Tanpa menunggu dipersilakan, ia berlari masuk dan langsung bersujud di kaki Vianca, menangis tersedu-sedu. "Kumohon... kumohon tarik kembali tuntutan itu, Nak! Savana anak tungguku, dia tidak kuat hidup di penjara. Dia pasti hancur kalau harus tinggal di sana!" Ia menyodorkan sebuah amplop tebal. "Ini... ini uang ganti rugi sebesar apa pun yang kamu minta. Tolong lepaskan anakku!" Vianca menggeleng pelan namun tegas, mencoba bangkit dari duduknya. "Maaf, Bu. Saya tidak bisa. Jika Savana bebas, saya khawatir dia akan kembali mengganggu saya dan keluarga. Hukum harus berjalan adil. Dan uang ini... saya tidak butuh." Penolakan itu membuat wanita itu seketika berubah amarah. Ia bangkit dengan kasar, matanya melotot penuh emosi. "Kamu keras kepala sekali! Kamu mau menghancurkan masa

  • Pelampiasan Pria Angkuh   87. Makan Malam dan Insiden

    Malam itu meja makan di rumah baru Zeva dan Vianca terasa hangat dengan canda tawa berempat. Setelah menyantap hidangan, Reno mulai bercerita dengan jujur tanpa tedeng aling-aling tentang awal mula mereka dekat: mulai dari kejadian mabuk di depan rumah, nyanyian sumbang, sampai kesalahpahaman yang sempat memisahkan mereka sebentar. Zeva tertawa paling keras, bahkan sampai menepuk-nepuk meja karena gemas sekaligus geli mendengar tingkah konyol temannya itu. "Wah, benar-benar tidak pernah berubah ya kamu, Reno! Dikira tenang dan kaku, ternyata awal mulanya penuh kebodohan begitu!" ledek Zeva sambil menghapus air mata tawa. Lalu Zeva menoleh pada Silvi dengan tatapan jahil. "Terus bagaimana rasanya ya, Silvi? Mendengarkan nyanyian Reno yang terkenal itu?" Silvi langsung tertawa tertahan, matanya melirik Reno sekilas yang sudah memerah mukanya malu. Ia menutup mulut dengan tangan, lalu menjawab pelan namun membuat semua makin tertawa: "Saya... saya tidak berani berkomentar, Pak

  • Pelampiasan Pria Angkuh   86. Cincin untuk Silvi

    Pagi itu udara pegunungan terasa sejuk dan segar, embun masih menempel di daun-daun halaman. Reno menunggu di pinggir sawah tak jauh dari rumah, hingga Silvi berjalan mendekat dengan wajah yang masih tampak ragu dan sedih. Reno segera menyambutnya, berdiri tegak di hadapan Silvi dengan tatapan tulus. "Silvi, maafkan aku ya," buka Reno pelan namun tegas. "Lukisan yang kamu lihat itu cuma sisa kenangan lama yang lupa kubuang. Saat itu aku memang mengagumi Vianca, tapi itu sudah selesai jauh sebelum aku mendekatimu. Aku tidak pernah, sedikit pun tidak pernah menjadikanmu pelampiasan. Justru sejak ada kamu, aku sadar kalau hatiku sudah sepenuhnya beralih padamu." Reno merogoh saku jasnya, mengeluarkan kotak beludru kecil berwarna biru. Ia membukanya perlahan, memperlihatkan cincin berkilau yang indah. "Silvi, aku sudah membuang lukisan itu. Dan sekarang, aku ingin mengikat hatiku hanya untukmu saja. Maukah kamu menerima lamaranku? Menjadi istriku, dan menua bersamaku selamanya?"

  • Pelampiasan Pria Angkuh   85. Lukisan itu

    Reno kembali ke ruang kerjanya, matanya langsung tertuju pada tumpukan berkas di meja. Ia menyadari posisi lukisan itu sudah bergeser dari tempat semula—seketika ia paham apa yang terjadi. "Itu dia..." gumamnya pelan. Ia ingat betul lukisan itu memang buatannya dulu, tapi setelah hatinya berpindah ke Silvi, ia belum sempat merapikan atau membuangnya. Ia tak menyangka benda lama itu justru menimbulkan kesalahpahaman besar. Tanpa ragu, Reno segera mengambil lukisan itu, berjalan ke tempat sampah, dan membuangnya dengan pasti. Tak ada lagi yang tersisa dari masa lalu yang tak perlu ia simpan. Namun masalah belum selesai: Silvi masih hilang. Reno langsung menyetir ke kontrakan Silvi, mengetuk pintu berulang kali tapi tak ada jawaban. Ia bertanya pada tetangga, tapi tak satu pun yang tahu ke mana gadis itu pergi. Dengan tangan gemetar Reno menekan nomor Vianca. "Vianca... Silvi tidak masuk kerja, tidak ada di rumahnya, dan tak ada yang tahu keberadaannya. Apa kamu tahu sesuatu?"

  • Pelampiasan Pria Angkuh   50. Istri yang Pergi

    Keadaan rumah dikunci dari luar. Zeva membuka gerbang dengan kunci cadangan yang dia bawa. Rumahnya sepi, asisten rumah tangga sudah jelas sedang mudik. Namun, istrinya juga tidak ada di rumah. Zeva hanya berpikiran bahwa Vianca sedang pergi ke mini market membeli sesuatu.Namun, sang rumah

  • Pelampiasan Pria Angkuh   36. Istri Merepotkan

    Zeva masuk ke ruang inap kelas VVIP di mana Savana berbaring di rawat. Zeva tertegun, dia melihat Savana di ranjang rumah sakit berbaring lemah dengan tangan yang diperban. Meskipun cinta untuk Savana sudah habis, tapi Savana adalah tanggung jawabnya."Vana, apa yang terjadi sama kamu? Kamu

  • Pelampiasan Pria Angkuh   14. Vianca ke Apartemen Zeva

    Vianca mendengar suara mesin mobil dari dalam kamar. Dia terperanjat, saat sadar bahwa Zeva sudah pulang tanpa pamit terlebih dulu padanya. Dia menghampiri Melvin yang masih berada di ruang tengah. Wanita itu terkejut, lantaran Melvin sedang asik menghitung uang ratusan ribu yang cukup banyak.

  • Pelampiasan Pria Angkuh   12. Pria Itu Memaksa Menginap

    Edrick mengantarkan Vianca pulang. Dia memperlakukan wanita itu layaknya tuan putri yang harus dilindungi.Bagi Vianca, sesuatu hal yang aneh ada pria yang membukakan pintu mobil untuknya. Wanita yang mempunyai sejarah yang kelam seperti dirinya, jarang mendapatkan perlakuan seperti

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status