LOGINSiti dan Sheila hanya bisa mengatupkan bibir rapat-rapat, tak berkutik di hadapan tatapan tajam Clara yang seolah bisa membaca seluruh pikiran liar mereka.Clara lalu menyandarkan tubuhnya semakin tegap di kursi perpustakaan. Ia memajukan wajahnya sedikit dan berbisik dengan nada dingin yang penuh ancaman.“Biar kalian pada ingat ya, gue sama sekali gak akan pernah ngizinin kalian berdua buat dekat-dekat atau nyentuh Adrian! Kalo sampe gue tau kalian berdua masih nekat neror dia atau berani nyamperin dia secara sembunyi-sembunyi, gue gak akan tinggal diam!” tegas Clara tanpa kompromi.Siti menelan ludahnya yang terasa kesat, mencoba mencairkan suasana dengan senyum kikuk. “Ya ampun, Clar... santai kali. Masa cuma gara-gara mau kenalan doang lo sampe segininya, sih?”“Gue serius, Siti! Gue gak main-main. Kalo kalian masih bandel, bakal gue laporin kelakuan kalian berdua langsung ke Papa gue!” ancam Clara cepat dengan tatapan mata yang sangat tajam.Sheila membelalak kaget, alisnya bert
Mata Viktor membelalak menatap Siti dan Sheila secara bergantian, sambil menyikut lengan sahabatnya itu kencang-kencang.Adrian sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan dan desakan dari Viktor di sampingnya. Ia memilih memfokuskan perhatiannya penuh pada kedua wanita berpenampilan modis yang kini sedang berdiri menatapnya menuntut.“Maaf banget ya... Kak Siti, Kak Sheila. Kemarin gue gak bisa dateng soalnya gak boleh pergi sama Kakak-kakak gue,” jawab Adrian dengan raut wajah yang memperlihatkan rasa tidak enak hati.Siti dan Sheila yang mendengar alasan polos itu langsung mendesah kecewa, saling bertukar pandang sebentar sebelum kembali protes pada Adrian.“Yah... lagian lo ngapain pake bilang-bilang segala sih, Yan? Kan dari awal gue udah bilang, gak usah pake cerita atau kasih tau Clara!” balas Siti dengan wajah bersengut sebal.“Iya nih, Adrian! Lo kan udah gede, masa mau pergi main aja harus izin dan bilang-bilang dulu sama kakak lo? Harusnya gak usah bilang-bilang, diem-diem aj
Adrian dan Clara terperanjat kaget setengah mati saat suara familiar itu mendadak menyapa mereka di tengah lampu merah. Sontak saja Clara langsung menarik kedua tangannya dari pinggang Adrian dan menggeser duduknya sedikit ke belakang dengan raut wajah merah padam, lalu mengomeli kakaknya yang sedang tersenyum lebar di dalam mobil.“Kak Siska ngagetin aja, sih? Kirain siapa?!” protes Clara dengan nada sebal yang dibuat-buat untuk menutupi rasa gugupnya.Siska tertawa memegangi kemudi mobil sedannya, menatap geli pada raut kebingungan dan rona merah di wajah adiknya. “Gitu dong, akur! Masa setiap hari ribut terus? Lagian tumben banget lo mau pelukan erat gitu naik motor? Biasanya juga ogah-ogahan kalo dekat-dekat sama Adrian,” ledek Siska lagi, makin gencar memanas-manasi.“Ah! Kak Siska bisa aja, deh!” ucap Adrian menyahut santai, meski sebenarnya ia juga merasa agak sedikit malu dan salah tingkah karena tertangkap basah di jalanan.“Gue reflek pegangan ya, Kak! Lagian Adrian bawanya
Clara langsung menggeser duduknya menjauh dari adik tirinya itu, mengikis jarak di antara mereka dengan raut wajah penuh rasa geli sekaligus heran yang luar biasa. Ia menatap Adrian seolah-olah pria di hadapannya itu baru saja mengutarakan keinginan dari planet lain yang tidak masuk di akal sehatnya.“Lo gak sakit kan, Yan? Gue kira cuman bercanda, masa fetish nyium ketek? Aneh banget sih, lo!” cibir Clara sambil memicingkan matanya tajam ke arah Adrian.“Yeee! Kalo keteknya wangi dan mulus kayak elo mah gak masalah kali, Kak! Jangankan cuma dicium tipis-tipis, gue kokop sekalian juga rela, Kak! Hahaha!” balas Adrian santai, tertawa lepas melihat reaksi kaget dari kakak tirinya yang tampak begitu polos dan menggemaskan.“Hiih! Enggak, ah! Gak usah aneh-aneh deh lo!” tolak Clara cepat sambil melambaikan tangannya di udara dengan ekspresi ngeri yang dibuat-buat.“Gue takut lo malah mabok entar. Nanti kalo lo sampe pingsan atau mabok gara-gara nyium ketek gue, kan gak lucu banget! Mau bi
“Enak aja lo! Emang lo kira kamar gue gubuk derita apa ampe harus tidur di sini?! Udah mendingan lo intip dikit, gue bisa digantung Mama kalo ketahuan tidur sekamar sama lo!”Adrian terkekeh melihat reaksi tajam kakak tirinya itu. Ia langsung bangkit dari posisinya, mencoba meredakan emosi Clara. “Bercanda kali, Kak. Ya udah, yuk gue anterin ampe depan pintu kamar lo biar aman.”“Gak usah sok manis deh lo! Cepet buka pintunya, tapi tengok luar dulu!” perintah Clara, sambil merapikan tanktop-nya agar kembali rapi.Adrian melangkah mendekati pintu kamar, menggeser kuncinya perlahan tanpa menimbulkan suara.Ceklek!Ia mengintip lewat celah pintu yang terbuka sedikit, memantau koridor lantai dua yang sudah sunyi dan gelap. Setelah memastikan tidak ada pergerakan dari arah kamar orang tua serta Siska, Adrian menoleh kembali ke arah Clara.“Aman, Kak. Lantai ini bersih, gak ada siapa-siapa,” bisik Adrian memberikan sinyal.Clara menyelinap keluar dari kamar Adrian dengan langkah yang sangat
Adrian langsung naik ke atas kasur, berusaha menenangkan kakak tirinya itu, “Kak... aduh, sorry! Kenapa nangis, sih? Ada yang sakit? Gue kekencengannya ngeremesnya atau ngisepnya? Atau gue ada salah omong?”Clara menggelengkan kepalanya di balik tutupan tangannya, tangisannya justru makin menjadi-jadi walau ia berusaha menahannya agar tidak bersuara keras. “G-gue takut, Yan... hiks... gue takut banget... ini salah banget, kita ini saudara... hiks!”Adrian makin kelabakan. Ia menyadari situasi permainan usilnya telah melompati batas emosional sang kakak tiri hingga membuat Clara shock dan trauma berat.Dengan tangan gemetar, Adrian mengambil tanktop Clara yang tergeletak. “Coba sini, Kak! Yuk, pake baju lo dulu!” bujuk Adrian, memakaikan kembali tanktop ke tubuh sang kakak, menutupi tubuh polos itu.“Udah, ya? Hiks!” tangis Clara, duduk di tepi tempat tidur.“Iya-iya, maafin gue, Kak... gue yang salah! Jangan nangis dong, nanti kedengeran Kak Siska atau Mama sama Papa!” bujuk Adrian, d







