MasukKarena ayahnya terlibat dalam penipuan investasi bodong, Casey harus menanggung utang sebesar 5 miliar kepada kelompok mafia Carter yang terkenal kejam dan tanpa ampun. Demi melindungi adiknya, ia terpaksa menjadi pelayan di bawah perintah Harrison Edmund Raymond seorang bos mafia Carter sekaligus pewaris keluarga Raymond, keluarga elit yang berpengaruh. Di balik senyum memikatnya, Harrison menyimpan ambisi gelap yang tidak pernah bisa ditebak. Di tengah konflik internal keluarga Raymond, hadir Aidan yang menyebalkan dan Leon yang menyimpan kebencian mendalam terhadap Harrison. Casey harus bertahan hidup di dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan bahaya yang mengintai di setiap langkahnya. Akankah ia menemukan jalan untuk melawan takdirnya, atau justru terjebak selamanya dalam bayang-bayang dunia mafia yang tak pernah melepaskan mangsanya?
Lihat lebih banyak“Come on, Willow, you can do this baby!” my mother screams as I square up against Damien. It was training time and I was shaking in my skin fighting against the biggest underage wolf in our pack. We both turned 18 in a few days and had to prove ourselves as warriors. I see him tense just before his twists left and throws a punch. Dodging his arm, I kick him in the ribs. The breath leaves his body at the impact, but it doesn’t stop him. He charges me and I jump to the side, swinging my body onto his back just as he shifts under me. I panic, I have never seen someone underage shift so quickly and smoothly. His fur a deep red and his wolf, Dante howls and twists trying to bite me. I make myself small, forcing him to roll over to lose me. Just as he turns around to attack, I shift myself. Giving control over to my wolf, Sasha. My mother always told me “I named you Willow, after the trees. I have seen hurricanes snap oaks as a Willow just bends and adapts”. With her voice ringing in my ear, Sasha does just that. She jumps, twisting in the air and grabs Dante by his throat. As soon as he is down the whistle blows and I know the battle is won. Dante bows his head at me and pushes the pack mind link “And I thought I was going to have to go easy on ya Sasha, proved me wrong. See you next week!”
Sasha walked over to the covered area where underage wolves could shift back and get dressed out of sight of the entire pack. She handed me back control as we shifted. Breathing heavily and drenched in dirt and sweat, I head to the showers. Once I get the water hot enough, Mom comes in cheering and excited. See, we were Omegas. the lowest of the pack. The smallest of the wolves. But I had just topped the son on a Beta. Proving my worth among the pack and as a warrior. My mother could not be more proud of me. Ever since Dad was killed in a pack war, Mom's dream was for me to prove to the Goddess that I was worthy of a higher ranking mate. That I could withstand the trials of being higher in the pack.
“You did it! You really beat Damian. That means next week you get to go against the alphas daughter, Desiree! You can prove that you are just as strong as they are and deserve to be higher in the pack. You can protect us all!” My mother sings happily as I shower, unable to stop a huge grin from breaking across my face. Sasha and I made a good team. And we trained harder that anyone else in the pack. I quickly get dressed and hug my mom just as I hear a knock and feel the aura of our Alpha at the shower doors. Alpha Henry was a nice and kind man. He was older and his 25 year old son was soon going to be taking over rumor had it. I opened the door slowly, nervous at his aura. “Yes, Alpha?” He smiles down at me though. “ Congratulations on your win today small wolf. I hear great things about you and I cannot wait to see you and Desiree next week as you come of age. I hope to offer you many great opportunities as a warrior in my pack!” He shakes my hand and leaves as quickly as he came. I let out a huge sigh of relief.
Selang beberapa menit, Aidan melahap makanannya hingga tidak tersisa sedikit pun.Mungkin ia tidak ingin mendengar celotehan Casey yang tak ada habisnya.Melihat nampan yang kini kosong, Casey tersenyum puas. Ia mengambil nampan itu dengan hati-hati.“Terima kasih, Tuan, sudah menghabiskan makanannya. Saya permisi dulu,” ucapnya sopan sambil berbalik untuk meninggalkan ruangan.“Hei.”Panggilan tiba-tiba dari Aidan membuat langkah Casey terhenti. Ia menoleh dan menatap pria itu.“Nanti siang… atau seterusnya… apa kau akan memberiku makan seperti ini lagi?” tanya Aidan dengan suara pelan, namun masih cukup jelas untuk didengar Casey.Setelah mengucapkan kalimat itu, Aidan segera memalingkan wajahnya. Samar-samar rona merah terlihat menghiasi pipinya.Casey tersenyum kecil.“Tentu, Tuan. Sesuai perintah Tuan Harrison, saya akan menemani dan memberikan anda makan setiap hari,” jawabnya lembut.Setelah itu Casey kembali berbalik dan melangkah menuju pintu. Begitu pintu terbuka, ia keluar
Casey mengedarkan pandangannya ke seluruh dapur. Entah mengapa, ia tak bisa berhenti takjub.Bahkan dapur di rumah ini saja tampak begitu megah, kilauan peralatan masak, aroma masakan yang menggoda, dan tatanan yang tertib seperti dapur hotel bintang lima. Sungguh kekayaan yang luar biasa, pikirnya kagum.Namun rasa takjub itu hanya bertahan sejenak. Ia segera tersadar akan tugasnya yaitu membawa makanan untuk Aidan.Matanya menelusuri deretan hidangan yang tersaji di atas meja panjang. Ada begitu banyak pilihan hingga ia kebingungan. Apa yang disukai Aidan? Apa dia punya alergi tertentu? pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.Tiba-tiba, sebuah suara keras memecah lamunannya.“Minggir! Kau menghalangi jalan!”Casey terkejut dan buru-buru menoleh. Seorang pria bertubuh besar dengan seragam koki berdiri di belakangnya, membawa panci besar dengan asap yang menguap diatas panci itu. Casey segera menyingkir, memberikan jalan kepada pria itu. Setelah diberikan ruang, pria itu lewat ta
Setelah selesai merapikan kamar dan memastikan setiap sudut bersih tanpa ada barang yang tertinggal, Casey melangkah mendekati Aidan yang masih terbaring santai di tempat tidur, matanya tetap terpaku pada layar gadget.Aidan menyadari kehadirannya dan melirik singkat."Ada apa lagi?" tanyanya datar sedikit acuh, tanpa mengalihkan pandangan dari layar." Tuan, boleh saya tahu sarapan apa yang tuan inginkan hari ini?” tawar Casey dengan nada sopan"Enggak perlu," tolak Aidan cepat, nada suaranya sedikit ketus, pandangannya masih tetap focus pada layar gadgetnya.Casey mengangkat alis, lalu menatap tubuh Aidan dari ujung kaki sampai kepala.“Tapi, tubuh anda kurus sekali seperti kekurangan gizi padahal anda merupakan putra keluarga Raymond keluarga yang terpandang”Mendengar sindiran dari Casey Aidan mengalihkan pandangannya pada Casey dengan wajah memerah“Kau mengejekku ya?”ucap Aidan kesal“Saya tidak mengejek tuan, tapi saya peduli sama tuan” balas Casey dengan senyumannya“Anda haru
“Jadi, barusan kau mengerjaiku, ya?” tanya Aidan dengan nada kesal. Wajahnya masih sedikit memerah, mungkin karena malu dan marah tapi yang jelas ia sangat kesal karena menyadari Casey baru saja mengerjainya.Casey menundukkan kepalanya sebagai permohonan maaf karena merasa bersalah yang sudah mengerjainya.“Maafkan saya, Tuan… Itu satu-satunya cara yang terpikir oleh saya,” ujarnya sepelan mungkin.Namun sesaat kemudian, Casey mengangkat kepalanya, senyum tipis menghiasi wajahnya senyum yang samar-samar yang menyimpan kekesalan.“Tapi, Tuan…” lanjutnya, nada suaranya mulai kembali tegas.“Kenapa kamar ini kembali berantakan? Padahal baru kemarin saya bersihkan.”Tatapannya menusuk, ia menunjukkan beberapa tumpukan baju, barang yang sudah di rapikan ditempat seharusnya berserakan begitu saja dan menutupi area lantai, bahkan kabel-kabel gadget menjuntai di lantai.“Ini kan kamarku! Terserah aku mau berbuat apa saja!” seru Aidan ketus, matanya menantang.Casey menahan napas, masih menco
Merasakan atmosfer yang tidak menyenangkan antara dua bersaudara itu, Casey segera berpamitan dan meninggalkan ruangan. Begitu berada di luar, ia menghela napas lega, mencoba menenangkan detak jantungnya yang sempat tegang. Tanpa membuang waktu, ia melangkah cepat menuju lokasi tugas yang tertera da
“Hei, kau. Bangun,” terdengar suara pria itu memanggil. Casey membuka matanya perlahan, masih dalam keadaan setengah sadar, ia mengangkat kepalanya dan mengucek kedua matanya.Begitu matanya terbuka sepenuhnya, ia terkejut mendapati pria yang semalam terbaring pingsan kini sudah siuman. Pria itu me
Waktu sudah menuju larut malam. Para pelayan sudah kembali ke kamar mereka masing-masing. Suara burung hantu menggema di seluruh penjuru mansion, menciptakan suasana yang mencekam. Casey melangkah cepat, bahkan nyaris berlari menuju kamarnya. Kamarnya terletak hampir di lantai bawah, di ujung loron
Waktu istirahat akhinya berakhir, beberapa pelayan yang bercengkrama di dapur langsung berlarian keluar semua. Mereka pun mengerjakan tugas mereka masing-masing. Casey yang termasuk pelayan baru dan tidak tau apa yang harus dikerjakan. Menyadari hal itu Ema pun memberikan memo yang tertuliskan job












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.