MasukKarena ayahnya terlibat penipuan investasi bodong, Casey harus melunasi utang 5 miliar kepada kelompok mafia Carter yang dikenal kejam dan tanpa ampun. Untuk melindungi adiknya, ia menjadi pelayan di bawah perintah Harrison Edmund Raymond, bos mafia Carter sekaligus penerus keluarga Raymond keluarga elit yang terkemuka ia memiliki senyum memikat namun ambisi gelap. Di tengah intrik keluarga Raymond dengan Aidan yang menyebalkan dan Leon yang penuh kebencian terhadap Harrison. Casey harus bertahan hidup di dunia penuh bahaya. Akankah ia menemukan cara untuk melawan takdir, atau justru terjebak selamanya dalam bayang-bayang mafia ini?
Lihat lebih banyakSetelah selesai merapikan kamar dan memastikan setiap sudut bersih tanpa ada barang yang tertinggal, Casey melangkah mendekati Aidan yang masih terbaring santai di tempat tidur, matanya tetap terpaku pada layar gadget.Aidan menyadari kehadirannya dan melirik singkat."Ada apa lagi?" tanyanya datar sedikit acuh, tanpa mengalihkan pandangan dari layar." Tuan, boleh saya tahu sarapan apa yang tuan inginkan hari ini?” tawar Casey dengan nada sopan"Enggak perlu," tolak Aidan cepat, nada suaranya sedikit ketus, pandangannya masih tetap focus pada layar gadgetnya.Casey mengangkat alis, lalu menatap tubuh Aidan dari ujung kaki sampai kepala.“Tapi, tubuh anda kurus sekali seperti kekurangan gizi padahal anda merupakan putra keluarga Raymond keluarga yang terpandang”Mendengar sindiran dari Casey Aidan mengalihkan pandangannya pada Casey dengan wajah memerah“Kau mengejekku ya?”ucap Aidan kesal“Saya tidak mengejek tuan, tapi saya peduli sama tuan” balas Casey dengan senyumannya“Anda haru
“Jadi, barusan kau mengerjaiku, ya?” tanya Aidan dengan nada kesal. Wajahnya masih sedikit memerah, mungkin karena malu dan marah tapi yang jelas ia sangat kesal karena menyadari Casey baru saja mengerjainya.Casey menundukkan kepalanya sebagai permohonan maaf karena merasa bersalah yang sudah mengerjainya.“Maafkan saya, Tuan… Itu satu-satunya cara yang terpikir oleh saya,” ujarnya sepelan mungkin.Namun sesaat kemudian, Casey mengangkat kepalanya, senyum tipis menghiasi wajahnya senyum yang samar-samar yang menyimpan kekesalan.“Tapi, Tuan…” lanjutnya, nada suaranya mulai kembali tegas.“Kenapa kamar ini kembali berantakan? Padahal baru kemarin saya bersihkan.”Tatapannya menusuk, ia menunjukkan beberapa tumpukan baju, barang yang sudah di rapikan ditempat seharusnya berserakan begitu saja dan menutupi area lantai, bahkan kabel-kabel gadget menjuntai di lantai.“Ini kan kamarku! Terserah aku mau berbuat apa saja!” seru Aidan ketus, matanya menantang.Casey menahan napas, masih menco
Merasakan atmosfer yang tidak menyenangkan antara dua bersaudara itu, Casey segera berpamitan dan meninggalkan ruangan. Begitu berada di luar, ia menghela napas lega, mencoba menenangkan detak jantungnya yang sempat tegang. Tanpa membuang waktu, ia melangkah cepat menuju lokasi tugas yang tertera dalam memo Harrison.Sementara itu, di dalam ruangan, Leon masih menatap tajam ke arah Harrison. Namun, tatapannya perlahan beralih ke pintu yang baru saja ditutup Casey."Apakah gadis itu...?" gumam Leon, suaranya nyaris tak terdengar.“Iya,” jawab Harrison datar bahkan sebelum Leon menyelesaikan pertanyaannya dia sudah menjawab pertanyaan dari Leon.“Biasanya, kau tak akan segan menghabisi nyawa siapa pun tanpa rasa kasihan walaupun itu seorang wanita. Tapi kali ini, kau justru membiarkannya hidup dan malah mempekerjakannya sebagai pelayan. Apa sebenarnya maksudmu?” tanya Leon, menatap Harrison penuh kecurigaan.Sementara Harrison hanya tersenyum tipis, menyeruput rokoknya, lalu meletakkanny
“Hei, kau. Bangun,” terdengar suara pria itu memanggil. Casey membuka matanya perlahan, masih dalam keadaan setengah sadar, ia mengangkat kepalanya dan mengucek kedua matanya.Begitu matanya terbuka sepenuhnya, ia terkejut mendapati pria yang semalam terbaring pingsan kini sudah siuman. Pria itu menatapnya dengan sorot mata tajam, membuat jantung Casey berdetak lebih cepat.Dengan gugup, Casey segera membetulkan posisi duduknya dan menghindari kontak mata. Ia menyadari dirinya terlambat untuk bersiap jika pria itu berniat menyerang. Perlahan, matanya melirik ke sekitar pria itu. Tidak ada benda tajam ataupun pistol di sekitarnya, ia pun bernapas lega.Meskipun begitu, Casey tidak boleh lengah. Jika pria itu menyerang tiba-tiba, satu-satunya pilihannya adalah langsung ke titik vitalnya lalu melarikan diri.Namun pria itu tetap bergeming, sorot matanya tajam dan menusuk, tak lepas dari wajah Casey. Tatapan itu membuat detak jantung Casey berdebar tak karuan, tubuhnya membeku dan gemetar
Waktu sudah menuju larut malam. Para pelayan sudah kembali ke kamar mereka masing-masing. Suara burung hantu menggema di seluruh penjuru mansion, menciptakan suasana yang mencekam. Casey melangkah cepat, bahkan nyaris berlari menuju kamarnya. Kamarnya terletak hampir di lantai bawah, di ujung loron
Casey yang masih duduk di kasur Harrison, sesekali melirik pria itu yang sedang tenggelam dalam tumpukan kertas berjilid. Tangan Harrison bergerak cepat, membolak-balikkan halaman demi halaman, mengamati setiap tulisan dengan teliti. Suasana terasa sunyi, kecuali suara kertas yang berdesir halus. C
Setelah menyelesaikan tugas pertamanya Casey merogoh saku seragam dan meraih sesuatu di dalamnya, sebuah memo yang diberikan Ema sebelum Casey melakukan pekerjaannya. Casey menelusuri tulisan yang di memo tersebut.“Membersihkan kamar Aidan sudah, selanjutnya-“ gumam Casey pelan sedang bicara send












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.