LOGINDengan sedikit ragu, Anya akhirnya menekan tombol hijau di layar ponselnya.
"H-halo?"
"Lo di mana?"
Suara dingin di seberang sana membuat Anya refleks menegakkan punggungnya. Tidak ada sapaan ataupun basa-basi. Selalu seperti itu.
"Di rumah."
"Berangkat sekarang."
Anya mengernyitkan dahinya. "Hah? Tapi—"
"Tiga puluh menit lagi gue tunggu di bioskop lantai tiga."
Tut.
Sambungan telepon terputus begitu saja. Anya menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong selama beberapa detik.
"Dia pikir gue sopir online apa?" gerutunya pelan sambil menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas kasur.
Namun, kekesalan itu hanya bertahan sesaat. Ancaman yang selama tiga minggu terakhir terus menghantuinya kembali muncul di dalam pikirannya.
Video itu. Pikirannya melayang ke belakang, ke tiga minggu lalu, ke momen yang mengubah segalanya.
Sore itu, koridor menuju ruang OSIS terlihat sepi. Anya baru saja keluar dari perpustakaan dengan beberapa buku yang dipeluk erat di dadanya ketika langkahnya dicegat oleh tiga sosok yang sangat familiar dalam hidupnya.
Chelsea, Tres, dan Clara.
"Eh, lihat deh siapa ini." Suara Chelsea terdengar mengejek. "Jalan aja nunduk terus, kayak nyari duit receh di lantai."
Tres dan Clara langsung terkekeh mendengar ucapan itu.
Anya memilih diam. Ia sudah terlalu sering mendengar hinaan seperti itu sampai rasanya telinganya mulai kebal. Dengan pelan, ia berusaha menyingkir untuk melanjutkan langkahnya, tetapi Clara lebih dulu menepis salah satu buku yang dibawanya hingga jatuh berserakan di lantai.
"Eh, sorry. Kepeleset tangan," ucap Clara tanpa sedikit pun terdengar merasa bersalah.
Anya mengembuskan napas pelan sebelum berjongkok mengambil buku-bukunya satu per satu.
Hari itu bukan hari yang baik baginya. Semalaman ia harus begadang mengerjakan tugas kelompok seorang diri, lalu pagi harinya dimarahi guru karena kesalahan yang bahkan tidak ia lakukan.
Kepalanya terasa berat dan emosinya sudah berada di ambang batas.
"Udah, ambil aja bukunya, biar cepat," gumamnya pelan.
"Apaan sih? Ngomong yang jelas dong." Chelsea maju selangkah sambil mendorong bahu Anya dengan ujung jarinya.
Entah karena lelah atau karena kesabarannya yang sudah habis hari itu, sesuatu di dalam diri Anya akhirnya meledak.
"UDAH, AMBIL AJA BUKUNYA!"
Anya berdiri secara refleks sambil mendorong Chelsea menjauh. Chelsea terhuyung ke belakang.
Brak!
Tubuhnya menghantam meja kaca kecil yang berada tepat di belakangnya, tempat dipajang beberapa piala prestasi sekolah, termasuk piala juara tim basket yang baru saja dipoles ulang untuk menyambut turnamen internasional.
Suara kaca pecah menggema memenuhi koridor yang sepi.
Wajah Chelsea seketika berubah pucat sebelum akhirnya memasang ekspresi terkejut yang terlihat begitu sempurna.
"Anya... kamu... kamu dorong aku?"
Air mata mulai menggenang di kedua matanya. Dan yang paling fatal, Tres yang refleks mengangkat ponselnya mulai merekam tepat di detik Anya berteriak dan mendorong Chelsea.
Tidak ada rekaman ketika mereka lebih dulu membully Anya. Yang tersisa hanyalah video pendek yang memperlihatkan Anya yang tampak emosi mendorong Chelsea hingga piala basket sekolah pecah berkeping-keping.
Video itu sampai ke tangan Tian pada malam harinya. Chelsea mengirimkannya dengan pesan suara yang dipenuhi tangis palsu.
"Sayang, aku takut sama dia. Dia nyerang aku tiba-tiba terus ngerusak piala basket. Itu piala kalian, loh."
Keesokan harinya, Anya dipanggil ke belakang gedung olahraga. Video itu diputar tepat di depan wajahnya yang mulai memucat.
"Ini bakal gue kasih ke Pak Hendra," ucap Tian datar.
"Kerusakan fasilitas sekolah ditambah penyerangan ke siswa lain. Orang tua lo pasti dipanggil."
"Itu... itu nggak kayak gitu ceritanya," bantah Anya dengan suara bergetar. "Chelsea yang duluan—"
"Gue nggak butuh cerita versi lo."
Kalimat Tian memotong ucapannya begitu saja.
"Gue punya bukti. Lo punya apa?"
Anya terdiam. Ia tidak punya apa-apa.
Bayangan wajah kedua orang tuanya yang dipenuhi kekecewaan langsung terlintas di dalam pikirannya. Ia terlalu tahu apa yang akan terjadi jika mereka dipanggil ke sekolah.
"Jadi gini aja," lanjut Tian sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Video ini nggak akan ke mana-mana selama lo nurut sama apa yang gue dan Chelsea mau."
"Maksud lo?"
"Mulai hari ini, lo jadi pelayan kami."
Mata Anya membulat terkejut.
"Apa?"
"Gampang, kan?" Tian menatapnya tanpa ekspresi. "Atau gue kirim video ini sekarang juga ke Pak Hendra?"
Anya mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
Tidak adil. Namun, sekali lagi, ia tidak memiliki pilihan. Anya terdiam.
"Gimana?"
Dengan susah payah, Anya akhirnya menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku... aku akan nurut."
Sejak hari itulah mimpi buruknya dimulai.
Anya menghela napas panjang sebelum bangkit dari atas kasurnya.
Tanpa banyak pilihan, ia segera berganti pakaian. Seperti biasa, ia hanya mengenakan kaus oversized berwarna krem dipadukan dengan celana jeans longgar dan sneakers putih sederhana yang sudah dipakainya hampir dua tahun terakhir.
Empat puluh menit kemudian, Anya akhirnya tiba di Mall dengan napas sedikit terengah karena harus berlari mengejar bus terakhir yang melewati daerah rumahnya.
Ia segera menaiki eskalator menuju lantai tiga.
Belum sempat ia mengatur napasnya, suara dingin seseorang sudah terlebih dahulu menyapanya.
"Lama."
Anya memejamkan kedua matanya sejenak.
Ya, siapa lagi kalau bukan manusia paling menyebalkan sedunia.
Tian berdiri bersandar dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Kemeja hitam yang dikenakannya membuat penampilannya semakin mencolok di antara keramaian pengunjung mall.
Bahkan Anya harus mengakui bahwa laki-laki itu memang sangat tampan.
Sayangnya, kepribadiannya membuat ketampanan itu terasa sia-sia.
"Maaf, busnya agak lama," jawab Anya pelan.
Tian hanya melirik sekilas ke arahnya sebelum kembali berkata.
"Chelsea lagi milih film."
"Nanti bantu bawain belanjaannya."
"Terus kalau dia minta sesuatu, lakuin."
Anya terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.
Kayaknya gue lahir bukan jadi manusia deh. Gue ini NPC kehidupan mereka apa gimana, sih?
Tian mengernyitkan dahinya ketika melihat ekspresi pasrah Anya.
"Kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Kalau keberatan bilang aja."
Anya hampir saja tertawa mendengar kalimat tersebut.
Kalau gue bilang keberatan emang bakal dibolehin pulang?
Namun, kalimat itu hanya disimpannya di dalam hati.
"Nggak kok."
Tian kembali mengalihkan pandangannya. Baginya, semua ini pantas diterima Anya setelah apa yang dilakukannya kepada Chelsea.
Setidaknya, itulah yang selama ini ia yakini.
Beberapa detik kemudian, Chelsea muncul dengan senyum lebar di wajahnya. Begitu melihat Anya, senyum manis itu berubah menjadi senyum tipis yang sulit diartikan.
"Oh, ternyata kamu datang juga."
Kalimat sederhana itu terdengar biasa saja.
Namun, entah mengapa Anya dapat merasakan sesuatu yang buruk dari tatapan mata Chelsea kali ini.
Sangat buruk.
Drrrt... drrrt... Ponsel Anya bergetar lagi di atas kasur untuk yang ketujuh kalinya. Ia menatap nama yang terpampang di layar "Bencana Alam" dengan perasaan campur aduk antara enggan dan takut. Sejak panggilan pertama tadi, ia sengaja tidak mengangkatnya, berharap kalau dibiarkan cukup lama, Tian akan menyerah sendiri. Ternyata ia salah besar. Dengan tangan gemetar, akhirnya Anya menekan tombol hijau. "H-halo?" "CEWEK BRENGSEK! Lo pikir gue nelepon buat having fun apa?!" Suara Tian menggelegar dari seberang telepon, begitu keras hingga Anya refleks menjauhkan ponsel dari telinganya. Jantungnya langsung berdegup kencang, seluruh tubuhnya menegang seketika. "M-maaf. Gue—gue tadi lagi—" "Tujuh kali," potong Tian dingin, tiap kata diucapkan dengan penekanan tajam seolah ingin menusuk langsung ke telinga Anya. "Gue telepon lo tujuh kali, dan lo baru mau angkat sekarang? Lo pikir HP lo itu apa, pajangan doang di kamar lo?" "G-ue beneran nggak denger, tadi ketiduran, capek abis—" "
Anya menaiki tangga dengan langkah gontai. Telinganya masihberdenging oleh omelan panjang Papanya tadi, tetapi anehnya, kepalanya terlalulelah untuk memikirkan apa pun lagi.Yang ada di benaknya sekarang hanya satu: mandi, lalu tidur.Sesampainya di kamar, ia langsung menuju kamar mandi danmembiarkan air hangat mengalir membasahi tubuhnya. Berkali-kali ia menggosokkulitnya dengan sabun, seolah dengan begitu bau tak sedap dan penghinaan yangia terima hari ini bisa ikut luntur bersama air yang mengalir ke lantai.Namun, percuma.Kata-kata yang dilontarkan orang-orang hari ini masihterdengar jelas di kepalanya.Udah muka pas-pasan, dandanan kayak gini lagi.Pantesan nggak ada yang mau temenan sama lo.Turun sini aja ya, Dek. Penumpang pada komplain.Apa susahnya sih jadi anak yang bisa diandalkan kayakkakakmu?Semua kalimat itu terus berputar tanpa henti di kepalanya.Setelah selesai mandi, Anya keluar dengan handuk yangmelilit rambutnya dan mengenakan piama longgar berwarna krem
Anya duduk sendirian di halte bus yang temaram, kedua tangannya memeluk lutut. Lampu jalan di atasnya berkedip-kedip lemah, menambah kesan suram pada malam yang sudah cukup buruk baginya.Sudah hampir sejam ia menunggu, tetapi bus yang lewat bisa dihitung jari dan dari yang sedikit itu, cuma satu yang benar-benar berhenti untuknya.Tadi juga sempat naik sih..., kenangnya pahit, mengingat kembali kejadian sepuluh menit lalu. ..."Woy, bau apaan sih ini?" seorang penumpang di kursi belakang mengernyitkan hidung begitu Anya duduk."Anjir, iya bau banget," yang lain menimpali sambil menutup hidung dengan tangan.Bisik-bisik mulai menyebar ke seluruh bus. Mata para penumpang mulai melirik ke arahnya dengan tatapan jijik yang bahkan tidak berusaha mereka sembunyikan."Dek, maaf ya," sopir bus menoleh dari depan dengan ekspresi sungkan, tetapi tegas. "Penumpang pada komplain. Turun sini aja ya, kasian yang lain."Anya menunduk, wajahnya memerah menahan malu yang luar biasa. Tanpa membantah,
Pukul 20.45.Anya tersentak bangun. Tubuhnya terguncang kaget karena rasa dingin yang tiba-tiba menyerbu seluruh tubuhnya. Matanya terbuka lebar, napasnya memburu, kebingungan sesaat dengan apa yang baru saja terjadi dan di mana dirinya berada."Akhirnya bangun juga!" sebuah suara ketus terdengar dari luar bilik, disusul bunyi kunci yang diputar dan pintu yang terbuka kasar.Berdiri di depannya seorang office girl berseragam abu-abu. Tangannya masih memegang ember kosong, sementara wajahnya tampak cemberut kesal. Namanya tertera jelas pada name tag yang dikenakannya: Yuli."Ngapain sih tidur-tiduran di toilet orang? Nyusahin aja! Gue kira lo mayat, tau nggak!" omel Yuli. Nada suaranya galak, mirip banget sama gaya Chelsea dan kawan-kawannya.Anya yang masih setengah sadar mencoba bangkit sambil berpegangan pada dinding bilik toilet. Yuli menatapnya dari atas hingga bawah, kaus oversize lusuh yang sudah basah kuyup, celana sederhana, kacamata bulat yang melorot di ujung hidung, serta r
Jam menunjukkan hampir pukul tujuh malam ketika Chelsea, Tres, dan Clara akhirnya memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran mewah di lantai atas mall."Anya, sini deh bentar," panggil Chelsea sesaat sebelum mereka masuk ke restoran. Nada suaranya tiba-tiba berubah manis, yang justru membuat Anya waspada."Kenapa?" tanya Anya, sedikit curiga."Ikut ke toilet dulu, ada yang mau gue omongin," Chelsea menarik lengan Anya tanpa memberi kesempatan untuk menolak, diikuti Tres dan Clara yang saling melempar senyum penuh arti di belakang punggung Anya.Terlalu lelah untuk curiga lebih jauh, Anya hanya mengikuti tanpa banyak bertanya. Mereka berempat masuk ke toilet yang sepi, lokasinya yang agak terpencil di ujung koridor mall membuat area itu jarang dilewati pengunjung."Masuk situ dulu deh," ujar Clara sambil mendorong Anya masuk ke salah satu bilik. "Kita mau ngomong penting."Belum sempat Anya bertanya lebih jauh, pintu bilik langsung ditutup dari luar, disusul suara klek kunci yang
Tian dan Chelsea baru saja memesan makanan di salah saturestoran mewah yang berada di lantai atas Mall. Sementara itu, Anya hanyaberdiri beberapa langkah di belakang mereka sambil memegang beberapa kantongbelanja yang sejak tadi dibebankan kepadanya.Ia melirik jam yang terpajang di dinding restoran.Pukul 17.20.Perutnya kembali berbunyi pelan. Sejak pagi tadi, ia hanyasempat menghabiskan sepiring nasi goreng sebelum kembali tertidur karenademamnya. Setelah itu, ia buru-buru berangkat ke mall karena ancamandari Tian.Kalau dipikir-pikir, hidupnya memang cukup menyedihkan.Orang lain kalau ke mall untuk nonton bioskop, makan enak, dan berbelanja.Kalau dirinya? Jadi kuli angkut, belum makan, dan gratis lagi.Sungguh paket lengkap penderitaan seorang ZefanyaAurellie.Ponsel Tian yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar.Nama yang muncul di layar membuat ekspresinya sedikit berubah.Papa.Tanpa menunggu lebih lama, Tian segera mengangkat panggilantersebut."Halo, Pa."Anya ya







