分享

Bencana Alam

作者: i'mdream
last update publish date: 2026-07-28 14:23:43

Dengan sedikit ragu, Anya akhirnya menekan tombol hijau di layar ponselnya.

"H-halo?"

"Lo di mana?"

Suara dingin di seberang sana membuat Anya refleks menegakkan punggungnya. Tidak ada sapaan ataupun basa-basi. Selalu seperti itu.

"Di rumah."

"Berangkat sekarang."

Anya mengernyitkan dahinya. "Hah? Tapi—"

"Tiga puluh menit lagi gue tunggu di bioskop lantai tiga."

Tut.

Sambungan telepon terputus begitu saja. Anya menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong selama beberapa detik.

"Dia pikir gue sopir online apa?" gerutunya pelan sambil menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas kasur.

Namun, kekesalan itu hanya bertahan sesaat. Ancaman yang selama tiga minggu terakhir terus menghantuinya kembali muncul di dalam pikirannya.

Video itu. Pikirannya melayang ke belakang, ke tiga minggu lalu, ke momen yang mengubah segalanya.

Sore itu, koridor menuju ruang OSIS terlihat sepi. Anya baru saja keluar dari perpustakaan dengan beberapa buku yang dipeluk erat di dadanya ketika langkahnya dicegat oleh tiga sosok yang sangat familiar dalam hidupnya.

Chelsea, Tres, dan Clara.

"Eh, lihat deh siapa ini." Suara Chelsea terdengar mengejek. "Jalan aja nunduk terus, kayak nyari duit receh di lantai."

Tres dan Clara langsung terkekeh mendengar ucapan itu.

Anya memilih diam. Ia sudah terlalu sering mendengar hinaan seperti itu sampai rasanya telinganya mulai kebal. Dengan pelan, ia berusaha menyingkir untuk melanjutkan langkahnya, tetapi Clara lebih dulu menepis salah satu buku yang dibawanya hingga jatuh berserakan di lantai.

"Eh, sorry. Kepeleset tangan," ucap Clara tanpa sedikit pun terdengar merasa bersalah.

Anya mengembuskan napas pelan sebelum berjongkok mengambil buku-bukunya satu per satu.

Hari itu bukan hari yang baik baginya. Semalaman ia harus begadang mengerjakan tugas kelompok seorang diri, lalu pagi harinya dimarahi guru karena kesalahan yang bahkan tidak ia lakukan.

Kepalanya terasa berat dan emosinya sudah berada di ambang batas.

"Udah, ambil aja bukunya, biar cepat," gumamnya pelan.

"Apaan sih? Ngomong yang jelas dong." Chelsea maju selangkah sambil mendorong bahu Anya dengan ujung jarinya.

Entah karena lelah atau karena kesabarannya yang sudah habis hari itu, sesuatu di dalam diri Anya akhirnya meledak.

"UDAH, AMBIL AJA BUKUNYA!"

Anya berdiri secara refleks sambil mendorong Chelsea menjauh. Chelsea terhuyung ke belakang.

Brak!

Tubuhnya menghantam meja kaca kecil yang berada tepat di belakangnya, tempat dipajang beberapa piala prestasi sekolah, termasuk piala juara tim basket yang baru saja dipoles ulang untuk menyambut turnamen internasional.

Suara kaca pecah menggema memenuhi koridor yang sepi.

Wajah Chelsea seketika berubah pucat sebelum akhirnya memasang ekspresi terkejut yang terlihat begitu sempurna.

"Anya... kamu... kamu dorong aku?"

Air mata mulai menggenang di kedua matanya. Dan yang paling fatal, Tres yang refleks mengangkat ponselnya mulai merekam tepat di detik Anya berteriak dan mendorong Chelsea.

Tidak ada rekaman ketika mereka lebih dulu membully Anya. Yang tersisa hanyalah video pendek yang memperlihatkan Anya yang tampak emosi mendorong Chelsea hingga piala basket sekolah pecah berkeping-keping.

 

Video itu sampai ke tangan Tian pada malam harinya. Chelsea mengirimkannya dengan pesan suara yang dipenuhi tangis palsu.

"Sayang, aku takut sama dia. Dia nyerang aku tiba-tiba terus ngerusak piala basket. Itu piala kalian, loh."

Keesokan harinya, Anya dipanggil ke belakang gedung olahraga. Video itu diputar tepat di depan wajahnya yang mulai memucat.

"Ini bakal gue kasih ke Pak Hendra," ucap Tian datar.

"Kerusakan fasilitas sekolah ditambah penyerangan ke siswa lain. Orang tua lo pasti dipanggil."

"Itu... itu nggak kayak gitu ceritanya," bantah Anya dengan suara bergetar. "Chelsea yang duluan—"

"Gue nggak butuh cerita versi lo."

Kalimat Tian memotong ucapannya begitu saja.

"Gue punya bukti. Lo punya apa?"

Anya terdiam. Ia tidak punya apa-apa.

Bayangan wajah kedua orang tuanya yang dipenuhi kekecewaan langsung terlintas di dalam pikirannya. Ia terlalu tahu apa yang akan terjadi jika mereka dipanggil ke sekolah.

"Jadi gini aja," lanjut Tian sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Video ini nggak akan ke mana-mana selama lo nurut sama apa yang gue dan Chelsea mau."

"Maksud lo?"

"Mulai hari ini, lo jadi pelayan kami."

Mata Anya membulat terkejut.

"Apa?"

"Gampang, kan?" Tian menatapnya tanpa ekspresi. "Atau gue kirim video ini sekarang juga ke Pak Hendra?"

Anya mengepalkan kedua tangannya erat-erat.

Tidak adil. Namun, sekali lagi, ia tidak memiliki pilihan. Anya terdiam.

"Gimana?"

Dengan susah payah, Anya akhirnya menganggukkan kepalanya pelan.

"Aku... aku akan nurut."

Sejak hari itulah mimpi buruknya dimulai.

 

Anya menghela napas panjang sebelum bangkit dari atas kasurnya.

Tanpa banyak pilihan, ia segera berganti pakaian. Seperti biasa, ia hanya mengenakan kaus oversized berwarna krem dipadukan dengan celana jeans longgar dan sneakers putih sederhana yang sudah dipakainya hampir dua tahun terakhir.

Empat puluh menit kemudian, Anya akhirnya tiba di Mall  dengan napas sedikit terengah karena harus berlari mengejar bus terakhir yang melewati daerah rumahnya.

Ia segera menaiki eskalator menuju lantai tiga.

Belum sempat ia mengatur napasnya, suara dingin seseorang sudah terlebih dahulu menyapanya.

"Lama."

Anya memejamkan kedua matanya sejenak.

Ya, siapa lagi kalau bukan manusia paling menyebalkan sedunia.

Tian berdiri bersandar dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Kemeja hitam yang dikenakannya membuat penampilannya semakin mencolok di antara keramaian pengunjung mall.

Bahkan Anya harus mengakui bahwa laki-laki itu memang sangat tampan.

Sayangnya, kepribadiannya membuat ketampanan itu terasa sia-sia.

"Maaf, busnya agak lama," jawab Anya pelan.

Tian hanya melirik sekilas ke arahnya sebelum kembali berkata.

"Chelsea lagi milih film."

"Nanti bantu bawain belanjaannya."

"Terus kalau dia minta sesuatu, lakuin."

Anya terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.

Kayaknya gue lahir bukan jadi manusia deh. Gue ini NPC kehidupan mereka apa gimana, sih?

Tian mengernyitkan dahinya ketika melihat ekspresi pasrah Anya.

"Kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa."

"Kalau keberatan bilang aja."

Anya hampir saja tertawa mendengar kalimat tersebut.

Kalau gue bilang keberatan emang bakal dibolehin pulang?

Namun, kalimat itu hanya disimpannya di dalam hati.

"Nggak kok."

Tian kembali mengalihkan pandangannya. Baginya, semua ini pantas diterima Anya setelah apa yang dilakukannya kepada Chelsea.

Setidaknya, itulah yang selama ini ia yakini.

Beberapa detik kemudian, Chelsea muncul dengan senyum lebar di wajahnya. Begitu melihat Anya, senyum manis itu berubah menjadi senyum tipis yang sulit diartikan.

"Oh, ternyata kamu datang juga."

Kalimat sederhana itu terdengar biasa saja.

Namun, entah mengapa Anya dapat merasakan sesuatu yang buruk dari tatapan mata Chelsea kali ini.

Sangat buruk.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Jalan-jalan

    “Terima kasih, Nak Dani.” Bibi War tersenyum tulus. Wajahnya berseri-seri saat menerima buket bunga dari Dani. “Ini pertama kalinya dalam hidup Ibu dikasih bunga seperti ini,” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.“Sama-sama, Bu. Lain kali Dani bawain yang lebih besar, deh,” balas Dani sambil tersenyum lebar.“Nggak perlu repot-repot, Nak.”“Nggak repot, kok. Dani malah senang bisa jadi cowok pertama yang ngasih bunga ke Ibu.” Dani mengangkat dagu sedikit, tampak bangga dengan dirinya sendiri.Bibi War terkekeh kecil melihat tingkah pemuda di hadapannya. “Nak Dani ini pandai sekali mengambil hati orang.”Dani tertawa ringan. “Wah, Ibu bisa aja.”Anya yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa menghela napas pelan. Siapa sangka, Dani ternyata sangat pandai mendekati wanita, bahkan wanita yang baru dikenalnya beberapa menit lalu.Kalau begini, tidak mustahil Dani bisa semakin dekat dengannya.Padahal, Anya adalah gadis pendiam, tertutup, dengan tingkat introversi yang bisa dibilang suda

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Keseriusan Dani

    Dani menatap layar ponselnya untuk kesekian kali. Sudah sejak tadi ia ingin menghubungi Anya untuk menanyakan alamat rumahnya, tetapi ia bisa membayangkan bagaimana gadis itu akan bereaksi. Padahal, Dani sudah berjanji akan meminta izin langsung kepada papa Anya. Dan sebagai laki-laki yang ingin membuktikan keseriusannya, ia tidak berniat mengingkari janji itu hanya karena Anya mungkin akan menolaknya.Akhirnya, Dani memutuskan mencari alamat Anya melalui administrasi sekolah.Awalnya, ia mengira akan mendapat banyak pertanyaan. Namun, begitu menyebutkan nama lengkap dan identitas keluarganya, proses itu justru berjalan jauh lebih mudah dari yang dibayangkan. Orang tua Dani berasal dari kalangan konglomerat yang cukup dikenal dan memiliki hubungan baik dengan pihak sekolah. Setelah menjelaskan bahwa ia perlu mengunjungi rumah teman sekolahnya untuk suatu keperluan penting, Dani berhasil mendapatkan alamat yang dicari.Tak butuh waktu lama baginya untuk bersiap. Sebuah buket bunga yan

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Minta Bantuan

    “Harusnya Pak Bima, deh,” jawab Dani dari seberang telepon. Anya bertanya nama guru yang mengurus relawan ke jepang, ia ingin bertanya terkait telepon yang papanya terima juga informasi tentang nilai tambahannya.Ia sendiri juga tidak tahu dan bahkan tidak pernah bertemu dengan guru yang mengurus relawan. Karena dari awal pendaftarannya, semua sudah diatur oleh si bencana alam. Ya, siapa lagi kalau bukan Tian.Anya yang sejak tadi menggenggam ponselnya sedikit mengeratkan pegangan. Ia ragu-ragu untuk melanjutkan perkataannya.“Emm, boleh minta tolong nggak?”Dani tersenyum miring. Pandangannya beralih pada buket bunga yang sudah ia selipkan ke dalam tasnya.Wah, sepertinya ada kesempatan bagus nih!“Mau minta tolong apa?” tanyanya santai. “Aku boleh ajuin syarat, nggak?”Anya terdiam sesaat.Syarat?Kira-kira syarat apa yang ingin diajukan cowok di seberang sana?Pikiran Anya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia takut Dani akan memintanya melakukan sesuatu yang sulit atau merepotk

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Selalu Disalahkan

    Sempat terlintas di pikiran Tian bahwa hubungan Dani dan Anya mungkin hanya hubungan palsu.Mungkin Dani hanya berpura-pura menjadi pacar Anya.Namun, semua keraguan itu seakan terjawab hari ini.Kontak Anya di ponsel Dani bahkan sudah diberi nama Pacar.Bukan hanya itu. Bahkan ketika Anya tidak datang ke sekolah, Dani tetap berniat mendatangi rumahnya hanya untuk mengantarkan sebuket bunga.Tian memijat pelipisnya dengan dua jari.Bukan ini rencananya.Alurnya seharusnya tidak seperti ini.Anya tidak boleh berpacaran dengan sahabatnya sendiri.Terlebih lagi, dengan Dani.“Kenapa semuanya jadi rumit begini?” gumamnya lirih.Otak Tian dipenuhi berbagai pertanyaan.Bagaimana bisa Dani memiliki perasaan kepada cewek cupu seperti Anya?Apa yang menarik dari gadis itu?Menurut Tian, Anya tidak memiliki sesuatu yang istimewa sedikit pun.Namun, semakin ia memikirkannya, semakin kepalanya terasa pusing.*Mereka sudah berpacaran. Pasti bakal semakin dekat, kan?!*Tian mengembuskan napas kasar

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Buket

    Suara riuh tepuk tangan langsung menyambut kedatangan tim basket bersama piala bergilir yang berhasil mereka bawa pulang.Mereka memang mendapat sambutan khusus dari pihak sekolah. Begitu memasuki area sekolah, sorakan dan tepuk tangan seolah tidak ada habisnya.Satu per satu anggota tim mendapatkan sebuket bunga sebagai bentuk penghargaan atas kemenangan mereka.Kepala sekolah bahkan tak henti-hentinya memberikan ucapan selamat dan terima kasih.“Selamat atas kemenangan kalian. Kalian sudah berjuang keras dan berhasil mengharumkan nama sekolah hingga ke kancah internasional. Ini bukan hanya kebanggaan bagi kalian, tetapi juga bagi seluruh sekolah.”Senyum bangga terpancar dari wajah kepala sekolah.Setelah acara penyambutan selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama.Namun, ada satu pemandangan yang cukup mencolok.Chelsea dan Tian tidak duduk bersama.Tumben.Bahkan sangat jarang terjadi.Atau mungkin... belum pernah sama sekali.Tian memilih duduk bersama anak-anak basket, sem

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Salting Vs Ngambek

    “Aduh, sakit banget,” keluh Dani sambil memegangi lengannya. “Mana tangan ini yang aku pakai buat main basket.”Ia memasang wajah sedih yang dibuat-buat.“Kalau aku nggak bisa main basket lagi, gimana?”Anya yang awalnya hanya menatapnya datar akhirnya menghela napas kecil.Ia tahu Dani sedang pura-pura.Namun, melihat Dani terus mengeluh tentang tangannya, tiba-tiba muncul sebuah ide kecil di kepalanya.Mungkin... kalau tangannya diberi sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih baik, Dani tidak akan mengeluh lagi.Anya pun meraih tangan Dani yang tadi ia pukul.Dani sempat mengernyit bingung.“Mau ngapain?”Anya tidak menjawab.Ia hanya menggenggam tangan itu dengan kedua tangannya, lalu menundukkan kepala dan mengecup punggung tangan Dani dengan cepat.Cup!“Nah,” ucap Anya pelan setelahnya. “Biar nggak sakit lagi.”Setelah mengatakan itu, Anya langsung menarik tangannya dan memalingkan wajah. Pipinya seketika memerah karena baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan.Dani seketik

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status