MasukHari yang paling bersejarah dan mendebarkan bagi masa depan dinasti Husodo pun akhirnya tiba. Sesuai dengan rencana taktis yang telah disusun matang oleh Sisil, Sarah, dan Sinar, prosesi pernikahan akbar Pram bersama empat wanita muda sekaligus yakni Dara, Bunga, Intan, dan Tari, resmi digelar di area dalam mansion mewah milik Pak Herman. Suasana di dalam kediaman megah berarsitektur klasik Eropa tersebut nampak begitu anggun, sakral, dan diselimuti oleh aura keintiman yang teramat sangat kental. Area ruang tengah telah disulap sedemikian rupa menjadi ruang prosesi akad nikah yang sangat elegan, dengan hiasan kelambu kain sutra putih, rangkaian bunga lili segar, serta pendar lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya keemasan yang hangat.Acara pernikahan darurat namun sangat terhormat ini sengaja diadakan secara tertutup, tanpa dihadiri oleh media ataupun kolega bisnis eksternal demi menjaga kerahasiaan strategi publik mereka. Tamu yang hadir hanyalah lingkaran dalam yang sang
Melihat Pram yang masih tertegun dalam keheningan yang panjang, Sisil, Sarah, dan Sinar segera mengambil inisiatif untuk bergerak cepat. Sebagai wanita-wanita matang yang terbiasa mengelola operasional korporasi besar dengan tingkat efisiensi tinggi, mereka tahu betul bahwa keraguan dan waktu yang terbuang hanya akan memperumit situasi batin sang kepala dinasti. Keputusan besar telah diketuk palu secara mufakat oleh seluruh lingkaran dalam mereka, dan kini saatnya mengeksekusi rencana tersebut menjadi sebuah realitas yang legal dan sakral.Sisil bangkit dari kursi sofanya, melangkah anggun mendekati meja kaca di tengah ruangan, lalu mengambil selembar kertas catatan dan pena yang tersedia di sana. ”Mas, karena semuanya sudah sepakat dan tidak ada lagi ganjalan rahasia di antara kita, tidak ada alasan untuk menunda-nunda hal baik ini lebih lama lagi,” ucap Sisil dengan nada suara yang sangat lugas, tegas, namun dipenuhi kelembutan yang menenangkan.Sinar dan Sarah segera bergeser dud
”Aku memang yang keliru, Sil. Aku terlalu kemaruk dan egois karena ingin memiliki kalian semua tanpa memikirkan batasan moral yang ada,” Pram akhirnya mengakui dengan nada suara bariton yang teramat sangat rendah, berat, dan dipenuhi rasa sesal yang mendalam. Kepalanya yang biasa mendongak penuh otoritas kini tertunduk samar di atas sofa tunggalnya, menerima kenyataan bahwa konstelasi hubungan yang ia bangun selama ini telah terbongkar seutuhnya di depan semua wanita yang ia cintai.Namun, di luar dugaan Pram, Sisil justru menggelengkan kepalanya dengan lembut. Tidak ada sepercik pun amarah, dendam, atau air mata kecemburuan yang keluar dari sepasang mata indahnya yang matang.”Kita semua salah, Mas. Bukan cuma kamu sendirian. Makanya itu, kami semua sepakat datang jauh-jauh ke Belanda ini biar kita bisa memperbaiki semuanya bersama-sama di sini,” tutur Sisil dengan nada suara yang teramat tenang, dewasa, dan penuh pengampunan.Pram mengangkat wajahnya, menatap Sisil dengan kerutan
Malam harinya, setelah seluruh rombongan dari Indonesia menyelesaikan jamuan makan malam yang meriah bersama pasangan Pak Herman dan Tante Jane di lantai bawah, atmosfer santai itu seketika bergeser. Pram membawa seluruh wanitanya untuk berkumpul di ruang keluarga yang terletak di lantai tiga mansion. Ruangan privat yang dilengkapi dengan deretan sofa melingkar dan perapian elektrik itu sengaja dipilih agar mereka bisa berbicara tanpa terganggu oleh kehadiran Pak Herman maupun Tante Jane. Pintu ganda lantai tiga ditutup rapat-rapat, menyisakan keheningan yang mendadak terasa pekat dan menegangkan.Pram duduk di sofa tunggal utama, sementara para wanita mengambil posisi duduk melingkar di hadapannya. Sisil, dengan keanggunan matangnya yang selalu memancarkan aura kepemimpinan, duduk di tengah diapit oleh Bunga dan Intan. Di sisi lain, Sinar, Sarah, Tari, dan Dara duduk berdekatan dengan raut wajah yang bervariasi—mulai dari yang nampak tenang, cemas, hingga gelisah.Suasana hening
Semua wanita cantik itu mengangguk setuju dengan helaan napas lega. Mereka kemudian berbalik, mengikuti langkah tegap Pram serta Dara yang berjalan di depan membimbing mereka keluar dari gedung kantor pusat menuju ke arah area parkir bawah tanah. Di sana, rombongan dari Indonesia itu segera membagi diri untuk masuk ke dalam mobil SUV mewah milik Pak Herman yang kini sudah digunakan sehari-hari oleh Pram untuk keperluan dinas, sementara sebagian lagi menggunakan mobil operasional kantor yang dikemudikan oleh staf lokal.Pram mengambil alih kemudi SUV tersebut, melajukan kendaraan membelah jalanan aspal kota Amsterdam yang sejuk di bawah terik matahari siang, bergerak menuju ke arah kawasan pinggiran kota yang lebih tenang tempat mansion berada.Setengah jam kemudian, kendaraan mewah yang membawa rombongan besar tersebut akhirnya tiba dan memasuki gerbang besi otomatis mansion. Begitu pintu utama bangunan megah itu terbuka, mereka langsung disambut oleh pasangan pengantin baru, Pak He
Hari berjalan, waktu berlalu tanpa terasa di bawah langit kota Amsterdam yang dinamis. Pembenahan internal di dalam tubuh korporasi Husodo & Herman Silversmith di Belanda kini terbukti semakin tertata dengan sangat rapi dan sistematis. Tidak hanya itu, proyeksi pengembangan ekspansi bisnis perusahaan juga mulai terlihat nyata dan menunjukkan grafik peningkatan yang signifikan melalui tangan dingin Pram yang begitu jenius dalam mengelola modal kerja. Jaringan distribusi logam mulia dan kerajinan perak ke wilayah Jerman serta Prancis yang sempat terkendala konflik manajemen lama, kini telah berjalan seratus persen dengan sistem pengawasan yang jauh lebih ketat dan transparan.Saat itu, jarum jam dinding di dalam ruang kerja CEO yang mewah telah menunjukkan pukul dua siang. Pram sedang duduk tegap di balik meja mahogani besarnya, fokus menatap layar laptop untuk memantau pergerakan pasar saham internasional. Di kursi asisten pribadi yang terletak tak jauh di sisi kanan meja kerja, D
Tangan Sarah dengan lihai memandu ujung mercusuar Pram kembali ke pintu kawah gelapnya yang masih berdenyut sisa ronde pertama.“Gilaaa, punyamu beneran bikin aku ngefly, Masss!“Sarah mengerang sangat kuat, suaranya melengking memenuhi kamar vila yang sejuk itu saat pedang pusaka Pram kembali meny
"Ingat ya, status kamu di sini tuh cuma kacung, jongos! Jadi jangan kebanyakan gaya. Kamu harus siap sedia kapan pun aku butuh layananmu lagi," ucap Cindy dengan nada ketus yang sangat merendahkan.Pram hanya bisa menghela napas berat sambil terus fokus menatap aspal di depannya. Ia membenarkan se
"Bawa mereka semua ke kamar atas, jangan sampai ada yang ketinggalan, apalagi pelayan sok jagoan ini," perintah Bono dengan nada angkuh sambil menunjuk tubuh Pram yang nampak lunglai di lantai vila.Beberapa pria bertubuh gempal segera menyeret tubuh Intan, Indri, Ida, dan Pram menuju sebuah kamar
Pram cukup kaget mendengar permintaan Dara. Timbul pertentangan batin dalam dirinya. Ia terdiam sejenak untuk berpikir ulang dan menimbang."Enggak dulu ya, Ra. Masih ada hari lain kok, lagian hari udah siang hampir sore begini. Takutnya nanti pas kita lagi asyik, malah ada yang tiba-tiba dateng at







