LOGIN"Kamu inget kan, Tar, pas aku buru-buru balik ke rumah Bu Sisil soalnya ponsel dia sama tiga anaknya mendadak nggak aktif semua?" tanya Pram sembari menyandarkan bahunya di tembok minimarket, mengamati kepulan asap rokoknya yang tertiup angin sore."Iya, Mas. Itu kan aku juga yang maksain kamu biar buruan berangkat karena perasaanku nggak enak. Emang kenapa, Mas? Ada hubungannya sama masalah yang kamu maksud?" sahut Tari di seberang telepon, nadanya terdengar sangat cemas.Pram menarik napas dalam, membuangnya perlahan sebelum memberikan kabar pahit itu. "Bu Sisil sakit, Tar. Beliau lumpuh!""Apaa?! Tante Sisil yang tadinya seger bugar dan anggun gitu sekarang lumpuh? Kok bisa, Mas?! Nggak mungkin!" pekik Tari, suaranya terdengar pecah seolah hampir menangis mendengar kondisi tantenya yang ia sayangi."Tenang dulu, Tar. Aku belum kelar ceritanya. Dengerin dulu pelan-pelan," potong Pram berusaha menenangkan emosi gadis itu agar tidak meledak di telepon."I-iya, Mas. Maaf. Terus gimana
Tari, keponakan Sisil yang kini sudah menjadi salah satu wanitanya itu tentu akan ia sembunyikan agar tidak diketahui oleh keluarga Sisil."Aku angkat telepon dulu ya. Kayaknya penting," ucap Pram singkat sembari berjalan menjauh ke pojokan teras belakang yang lebih sepi."Siapa, Mas? Kok mukamu langsung berubah gitu?" tanya Dara penasaran, namun Pram sudah lebih dulu menempelkan ponselnya ke telinga."Halo, Bu. Saya sedang dengan dua majikan saya, Dara dan Intan. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Pram dengan nada bicara yang sangat formal dan kaku, seolah-olah ia sedang berbicara dengan klien penting atau orang asing yang sangat ia hormati."Eh, ada Kak Dara sama Kak Intan ya? Ya udah Mas, nanti aja aku telepon lagi kalau kamu lagi sendiri. Tapi kamu baik-baik aja kan di sana? Nggak sakit?" suara Tari di seberang telepon terdengar melembut."Saya baik-baik saja, Bu. Terima kasih atas perhatiannya," jawab Pram singkat sebelum akhirnya mengakhiri panggilan tersebut dengan cepat. Ia meng
"Kamu kuat banget, Tan. Nafsumu benar-benar nggak ada habisnya ya," bisik Pram sembari menyeka sudut bibirnya yang basah, menatap Intan yang masih terengah-engah dengan wajah yang memerah padam akibat puncak pelepasan yang dahsyat tadi.Pram pun beralih kembali pada milik Intan yang masih merekah merah di depan matanya. Kawah gelap itu nampak begitu menggoda, basah kuyup oleh sisa-sisa embun kehidupan yang masih mengalir pelan dari relung curamnya. Pram kembali menerkam milik Intan yang baru saja banjir itu, melesakkan wajahnya di antara dua paha sekal Intan untuk memberikan jilatan-jilatan rakus pada pusat hulu ledaknya yang masih berdenyut-denyut sensitif."Ohhhh Masss... hhh... pelan-pelan," lenguh Intan sembari mencengkeram bahu Pram, tubuhnya kembali merespon dengan getaran halus saat lidah Pram yang kasar kembali menyapu permukaannya.Dua jari Pram pun kembali beraksi, masuk ke dalam lorong labirin yang kini terasa begitu licin dan hangat. Ia mengocoknya dengan ritme yang leb
Intan melenguh pelan di sela-sela ciuman panas mereka. Ia membiarkan tangan Pram bermain di area paha dalamnya yang sangat sensitif. Gerakan tangan Pram membuat rok Intan semakin tersingkap, hingga jemari pria itu menyentuh pinggiran kain tipis yang membungkus pusat hulu ledak Intan."Uhhh, Mas... jangan cuma dipegang aja... panas banget ini," rintih Intan sembari menggeliat di atas pangkuan Pram, merasakan knalpot Pram yang kini sudah menegang keras di bawah bantalan belakangnya."Bahaya, Tan. Tidur siang mereka kan cuma sebentar," bisik Pram tepat di bibir Intan yang sudah basah oleh saliva mereka yang beradu.Pram hanya menggerakkan tangannya lebih dalam, menyusup ke balik kain tipis penutup kawah gelap Intan yang ternyata sudah mulai lembap. Intan tersentak, kepalanya mendongak dengan napas yang memburu pendek-pendek."Duh, Mas... baru disentuh gitu aja udah berasa pengen meledak... cepetin, Mas!" kata Intan dengan nada memohon."Kita nggak bisa main full di sini, Tan. Siang-si
"Eh enggak, Bu. Itu... Anu... Biar besok kerjanya semangat di sana. Tenaga saya kan harus ekstra buat bersih-bersih rumah segede itu sendirian," kilah Pram sambil mencoba menahan tawa, wajahnya sedikit memerah karena godaan Sisil yang tepat sasaran.Sisil mendengus pelan, matanya masih menatap punggung Pram dari jauh dengan tatapan yang sangat penasaran. Sementara itu, Dara yang sejak tadi menyimak pembicaraan, ikut menimpali dengan suara dingin yang menusuk."Awas ya kalau malah kamu kerja keras nunggangin Sinar di sana! Inget, tugas kamu itu jadi mata-mata, bukan jadi pemuas nafsu cewek yang kegatelan itu," imbuh Dara ketus, tanpa mengalihkan pandangan dari bacaannya.Pram hanya terbahak mendengar kecemburuan terselubung dari Dara. Ia tidak menjawab dan lebih memilih melanjutkan hisapan rokoknya, menikmati semilir angin siang yang membawa aroma kaldu soto dari dapur Bi Surti.Jam makan siang pun tiba. Aroma gurih rempah soto memenuhi seluruh ruangan, membangkitkan selera makan si
Bunga beringsut mendekat, ia menatap Pram dengan tatapan yang sangat tak rela sekaligus penuh kecemasan. "Satu hal lagi, tiap hari kamu harus tetep pulang ke sini, Mas. Jangan pernah kepikiran buat nginep di sana, apa pun alasannya. Aku nggak mau kamu terlalu lama ada di bawah atap yang sama sama wanita kegatelan kayak Sinar itu," tegas Bunga dengan nada yang memaksa.Pram mengangguk cepat, mengerti betul kekhawatiran Bunga yang barusan ia jamah habis-habisan semalam. "Iya, aku janji bakal balik ke sini setiap malam. Tugas utamaku di sana cuma buat cari informasi, bukan buat jadi pelayan beneran mereka."Suasana mendadak hening sejenak saat mereka mulai memikirkan skenario terburuk yang mungkin terjadi besok pagi. Namun, tiba-tiba Bi Surti maju selangkah dari posisi berdirinya di dekat pintu dapur. Wajahnya yang biasanya tenang kini nampak nampak sedikit gelisah, lesung pipitnya tenggelam karena bibirnya yang terkatup rapat nampak gemetar."Mas... aku boleh minta tolong sesuatu ngga
"Aduh, jangan ngajak yang aneh-aneh dulu ya, Bu Sisil. Masih pagi banget ini, nanti kalau ada anak-anak yang lihat atau turun ke dapur gimana?" bisik Pram sambil sedikit mundur, meskipun matanya sulit untuk tidak melirik belahan daster sutra Sisil.Sisil kembali tergelak pelan, suara tawanya terden
"Saya mau masak dulu, Bu Sisil. Nanti anak-anak keburu laper kalau sarapannya telat," jawab Pram dengan suara yang sedikit bergetar. Tubuhnya sedikit menggeliat, mencoba menahan sensasi luar biasa yang menjalar ke seluruh sarafnya akibat remasan jemari Sisil pada obor olimpiade miliknya yang sudah
"Ya daging wagyu ini lah yang dimasak, emangnya daging apa lagi?" jawab Pram sambil berusaha tetap tenang meski punggungnya baru saja digoda habis-habisan oleh dua gundukan kenyal milik Intan.Intan mencebikkan bibirnya yang dipoles lipstik tipis, ia menatap Pram dengan tatapan yang sangat menantan
"Mas Pram... dari mana aja kok baru pulang jam segini?" tanya Sisil dengan suara yang berat dan tatapan mata yang tampak sangat menuntut."Maaf, Bu Sisil. Semalam saya terpaksa menginap di rumah sakit, soalnya nggak tega liat kondisi Bi Surti sendirian di sana," ucap Pram sambil berdiri kaku di dep







