Share

Bab 7

Author: Leona Valeska
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-02 20:23:02

“Elian, ikut aku!” perintah Kael dengan nada dinginnya.

Dengan langkah yang dia coba agar tidak gemetar, Emily masuk ke dalam kamar mandi. Saat tiba di dalam kamar mandi pribadi sang Duke, dia kini berdiri mematung di belakang tuannya itu.

Sementara Kael sudah berada di dalam kolam marmer, sambil menyandarkan lengannya yang berotot di tepian kolam.

Air panas itu merendam tubuhnya hingga sebatas dada, dan memperlihatkan bahu lebar yang penuh dengan bekas luka perang, tanda bahwa pria ini adalah mesin pembunuh yang nyata.

Mata abu-abunya yang tajam menatap Emily tanpa berkedip, dingin dan penuh selidik. “Kenapa kau masih berdiri di sana seperti patung, Elian?” tanya Kael dingin.

“Aku sedang memberimu hadiah. Kau sudah bekerja lembur seminggu ini tanpa mengeluh. Masuklah ke air. Itu akan melunakkan ototmu yang kaku.”

Emily menelan ludah dengan susah payah usai mendengar perintah sang duke. “T-tuan Duke, saya ... saya benar-benar tidak pantas. Saya hanya seorang pelayan. Saya bisa mandi di barak pelayan nanti malam, Tuan.”

“Barak pelayan?” Kael mendengus sinis. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang tidak mencapai matanya.

“Laporan yang kuterima justru mengatakan kau tidak pernah mandi di barak. Kau lebih suka menyelinap ke sungai di tengah malam, mencuci kain-kain putih panjang yang aneh, dan mandi sendirian di air yang membeku. Kenapa? Apa kau merasa terlalu suci untuk berbaur dengan pria lain?”

Jantung Emily mencelos. Jadi Kael sudah tahu tentang aktivitas rahasianya di sungai? Pria ini benar-benar tidak pernah membiarkan satu detail pun luput dari pengawasannya.

“Itu ... itu karena saya memiliki trauma dengan keramaian, Tuan,” Emily mencoba mencari alasan sekenanya. “Saya lebih suka menyendiri.”

“Trauma?” Kael berdiri perlahan lalu menatap lekat wajah Emily dengan tatapan datarnya.

“Aku tidak peduli dengan traumamu. Aku tuanmu, dan aku memerintahkanmu untuk mandi di sini sekarang juga. Lepaskan pakaianmu, Elian. Itu perintah. Jangan membuatku harus mengulanginya untuk ketiga kali, atau aku sendiri yang akan mengulitimu.”

Tubuh Emily gemetar hebat. Tidak punya pilihan lagi sambil berpikir jernih, Emily melangkah mendekat ke tepi kolam dengan kaki yang terasa lemas.

Matanya tetap menatap lantai karena tidak berani melihat tubuh telanjang sang Duke yang kini berdiri separuh badan di depannya.

Tangan Emily naik ke kerah bajunya. Jemarinya yang pucat menyentuh kancing paling atas.

Di balik kain kemeja ini, terdapat bebat kain yang melilit dadanya dengan sangat ketat hingga ia sering kesulitan bernapas.

Jika ia membuka kemeja ini, identitasnya sebagai Emily Dawson, putri buronan kerajaan, akan tamat. Kael akan langsung memenggal kepalanya tanpa ragu, mengingat betapa pria itu membenci wanita dan pengkhianatan.

“Buka,” desis Kael lagi, kali ini lebih tajam.

Satu kancing terbuka. Kemudia Emily memejamkan mata sembari menahan air mata keputusasaan yang hampir jatuh.

Tangannya bergerak ke kancing kedua, yang merupakan batas rahasianya. Jika kancing ini lepas, kain bebat itu akan terlihat.

BRAK! BRAK! BRAK!

Gedoran keras di pintu kayu jati kamar mandi mengejutkan mereka berdua. Emily tersentak, tangannya langsung jatuh kembali ke samping tubuhnya.

“Tuan Duke! Laporan darurat!” suara Komandan Penjaga Ravenshire terdengar mendesak dari balik pintu.

“Ada apa?! Aku sedang tidak ingin diganggu!” geram Kael hingga rahangnya mengeras karena gangguan yang tidak tepat waktu ini.

“Ini tentang pelarian Dawson, Tuan! Pasukan patroli menemukan jejak kaki dan sisa perkemahan kecil di lereng gunung perbatasan Utara. Kami menemukan barang bukti yang mengonfirmasi bahwa itu adalah Johan Dawson!”

Mendengar nama tersebut, tubuh Emily sontak membeku. Johan Dawson. Kakak laki-lakinya.

Pria yang selama ini ia kira sudah tewas dieksekusi di Ibukota bersama ayahnya, ternyata masih hidup dan berada di wilayah yang sama dengannya. 

'Johan? Apakah dia masih hidup? Jadi, dia juga melarikan diri sepertiku?' bisik Emily dalam hatinya. 

Kael segera keluar dari kolam, bahkan sama sekali tidak peduli dengan ketelanjangannya di depan Emily. Lalu menyambar handuk besar dan melilitkannya di pinggang dengan gerakan kasar.

Sementara matanya menyala oleh haus darah yang murni. “Johan Dawson?” Kael mengulang nama itu dengan nada yang penuh kebencian.

“Jadi tikus itu berani menginjakkan kaki di tanahku setelah keluarganya menghancurkan logistik prajuritku?”

Duke itu kemudian membuka pintu dan keluar dengan langkah besar, lalu meneriakkan perintah kepada para pengawalnya untuk menyiapkan kuda dan senjata.

“Elian. Siapkan pakaian untukku. Aku harus bersiap menebas leher putra pengkhianat itu oleh pedangku sendiri!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 179

    Rencana pengalihan yang dilakukan Johan berjalan dengan sangat sempurna. Provokasi beringasnya berhasil memancing amarah buta semua prajurit, hingga mereka bergerak massal dalam formasi buru, meninggalkan area tenda dalam gemuruh langkah besi yang menjauh.Kael kini benar-benar berada seorang diri di dalam tendanya tanpa perlindungan kavaleri satu pun.Namun, harga yang harus dibayar Johan untuk taktik nekat ini sangatlah mahal. Sesaat setelah dia melompat ke pohon berikutnya, rentetan anak panah militer dan tembakan uap bertekanan tinggi terus menyerang posisinya dari bawah dengan sangat gencar.JEDAS! JEDAS! STREEEK!"Sialan! Mereka benar-benar menembak untuk membunuh!" umpat Johan, suaranya tenggelam di antara dahan pinus yang hancur berantakan terkena proyektil uap.Hantaman energi mekanis itu merobek mantel bulunya menjadi serpihan, membuat Johan harus melompat dari satu dahan ke dahan lain dengan bersusah payah demi menghindari maut yang mengintai di setiap jengkal udara.Napasn

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 178

    Tanpa membuang waktu lagi, Johan bergerak dengan ketangkasan luar biasa yang hanya dimiliki oleh seorang ksatria terlatih perbatasan utara.Tubuh kekarnya merayap cepat, memanfaatkan tonjolan kulit pohon, lalu langsung memanjat naik ke atas dahan pohon pinus tinggi yang berada tepat di jalur luar perkemahan kavaleri. Angin badai yang mulai mereda membuat siluetnya terlihat samar namun pasti di antara dedaunan yang membeku.Dari atas sana, Johan menarik napas dalam-dalam, mengabaikan udara dingin yang menusuk paru-parunya. Ia berteriak lantang memanggil nama Kael dengan nada mengejek yang sangat menggema, memecah kesunyian lembah berbatu tersebut."Hei, Kael Ravenshire! Serigala pincang dari utara!" seru Johan, suaranya menggelegar bergaung di antara tebing-tebing granit. "Apakah zirah uap buatan kekaisaranmu itu hanya hiasan meja sampai-sampai kau tidak bisa mengejar seorang ksatria tua di halaman rumahnya sendiri?!"Tindakan provokasi yang luar biasa nekat itu seketika membuat semua

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 177

    Dari balik bayang-bayang batang pohon pinus raksasa yang berselimut es, Emily dan Johan berdiri membeku. Dari celah semak-semak, mereka berdua bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana kondisi Kael yang sangat mengenaskan di dalam tenda darurat yang kain depannya sengaja dibuka setengah untuk sirkulasi udara uap pemanas."Lihat itu, Kak," bisik Emily, suaranya bergetar hebat menahan isak tangis yang nyaris pecah. "Tubuhnya menggigil sampai seburuk itu. Dia sekarat karena infeksi panahmu."Johan menyipitkan mata, memperhatikan gerak-gerik Panglima Juan dan para prajurit yang sibuk di sekitar tenda. Ia basahi ujung jarinya, mengangkatnya ke udara untuk memeriksa arah mata angin yang berembus di antara celah tebing batu."Sial, ini buruk," gumam Johan, wajahnya mendadak berubah sangat serius. Ia lalu menoleh ke arah adiknya dengan tatapan memperingatkan."Emily, dengerkan aku baik-baik. Angin malam ini berembus tepat ke arah tenda Kael. Jika Kael yang sedang demam tinggi ekstrem itu sam

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 176

    Panglima Juan akhirnya terpaksa menghentikan barisan kavaleri besi tepat di tengah lembah yang terlindung dinding batu raksasa.Ia melompat dari kudanya dengan beringas begitu melihat Kael sudah terlihat sangat sekarat, tubuh kekarnya limbung dan hampir jatuh terjerembab dari atas kudanya ke atas tumpukan salju yang membeku."Hentikan barisan! Dirikan tenda darurat sekarang juga!" teriak Juan, suaranya menggelegar mengalahkan deru angin badai. "Bawa lampu pemanas mekanis ke dalam! Cepat!"Para prajurit bergerak cekatan, memicu kompresor uap pada zirah mereka untuk menegakkan tiang-tiang tenda militer tebal dalam hitungan menit.Dua prajurit kavaleri lapis baja bergegas membopong Kael masuk ke dalam tenda, membaringkannya di atas dipan lipat darurat.Juan segera membuka wadah logistik medis, mengeluarkan sebuah botol kaca berisi cairan pekat berwarna perak kehitaman."Yang Mulia, Anda harus meminum ini. Ini adalah ramuan obat penurun demam militer dosis tinggi. Setidaknya, cairan ini b

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 175

    "Lepaskan aku, Kak Johan! Kita membuang-buang waktu!" seru Emily, meronta dalam dekapan tangan kakaknya yang sekokoh karang.Johan menahan pundak adiknya dengan cengkeraman kuat agar tidak bertindak bodoh dan nekat menerobos badai salju di luar gua dalam kondisi buta. "Tenangkan dirimu, Emily! Keluar sekarang dalam keadaan badai seperti ini sama saja dengan bunuh diri!""Tapi Kael sedang terluka! Dia menderita di luar sana!" kilat Emily, air matanya kian deras membasahi pipi."Aku tahu! Dan aku setuju denganmu bahwa kita memang akan menemui Duke itu malam ini," kata Johan, suaranya meninggi demi mengalahkan deru angin, matanya menatap Emily dengan ketegasan mutlak."Maka dari itu, Emily, hapus air matamu dan segera bantu aku memasukkan racun herba ini ke dalam wadah tabung bambu agar persiapan kita segera selesai! Kita butuh tameng untuk melumpuhkan pengawalnya, atau kau akan tertembak sebelum sempat menyapanya!"Emily terengah-engah, mencoba menguasai gemuruh di dadanya, lalu mengang

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 174

    Johan menatap jilatan api yang mulai mengecil, lalu mengarahkan pandangannya kembali pada Emily. "Pikirkan lagi, Emily. Paksa otakmu mengingat kembali masa sebelum rumah kita dibakar.""Aku sedang mencoba, Kak, tapi kepalaku sakit," keluh Emily, meremas pelipisnya yang terasa berdenyut akibat hawa dingin yang menusuk."Biar kubantu memancing ingatanmu," potong Johan, nadanya bergeser menjadi lebih dalam dan menyelidik."Bukankah kau dulu saat masih berusia tujuh tahun pernah memiliki seorang teman pria rahasia yang sering menyusup ke halaman belakang rumah kita? Ingatkah kau, kalian berdua bahkan sering membantu ibu kita memasak sup herba di dapur?"Emily tertegun. Detak dadanya mendadak bergemuruh hebat, seolah ada dinding besar di dalam ingatannya yang runtuh seketika. "Teman pria... rahasia?""Ya. Anak laki-laki bertubuh kurus yang selalu mengenakan jubah lusuh berkerung besar untuk menyembunyikan wajahnya," lanjut Johan, matanya berkilat intens."Ibu sering memberinya makanan kare

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 33

    “Tahan sedikit, Elian,” gumam Lucian tanpa mendongak, dia tengah membasuh luka lecet di telapak tangan Emily dengan teliti. “Luka ini tidak seberapa dibandingkan apa yang akan Duke lakukan jika dia melihatmu melamun di aula tadi.”Emily menarik napas panjang seraya menatap uap yang naik dari mangku

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 32

    “Kau bilang kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri, Benny,” suara Kael memecah kesunyian, begitu tenang namun mengandung ancaman yang mematikan.“Kau bilang dia terluka dan terjebak di dalam gua itu.”Benny tampak gemetar hebat mendengar ucapan Kael barusan. “S-saya benar-benar melihatnya, Tua

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 31

    Gua batu itu mendadak berubah menjadi neraka yang dingin. Suara teriakan para prajurit berpadu dengan geraman rendah yang mengerikan dari kegelapan.Obor yang dibawa Emily bergoyang hebat saat beberapa ekor serigala berbulu abu-abu kusam melompat keluar dari celah bebatuan.Hewan-hewan itu tampak k

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 30

    Malam hari telah tiba.Emily baru saja merebahkan tubuhnya di atas alas tidur yang tipis ketika suara derap sepatu bot yang terburu-buru menghantam lantai batu koridor.Dia tersentak duduk, sementara napasnya tertahan di kerongkongan. Ketukan keras terdengar di pintu kamar Kael yang terletak tidak

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status