Share

Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa
Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa
Author: Risca Amelia

Malam Kelam

Author: Risca Amelia
last update publish date: 2025-09-28 22:12:25

Yohan menggenggam tangan Moza, membawanya masuk ke kamar resort yang akan menjadi saksi dari malam pertama mereka. 

Di tengah ruangan, ranjang king size berkelambu putih berdiri kokoh. Tirai sutra di sekelilingnya tersibak, digerakkan oleh angin pantai yang masuk dari arah balkon.

"Akhirnya kita sampai di sini, Moza," bisik Yohan dengan suara rendah. “Aku ingin malam pertama kita jadi sesuatu yang istimewa. Hanya kamu, aku, dan alam.”

Sambil menatap Moza dalam-dalam, Yohan menelusuri lekuk leher sang istri dengan jemarinya.

“Ganti pakaianmu, Sayang. Aku punya satu permintaan khusus.”

Moza mengangguk, hatinya berdebar-debar. Ia masuk ke kamar mandi marmer yang luas, lalu mengganti gaun pengantinnya dengan piyama satin berwarna merah. Rambutnya ia biarkan tergerai, wajahnya sedikit dirias ulang agar tetap sempurna untuk sang suami.

Moza tampak dewasa, sensual, tetapi juga rapuh layaknya kuntum bunga yang baru mekar.

Saat ia keluar, Yohan sudah menunggu. Pria itu menatap Moza dengan sorot kekaguman, seperti melihat sebuah mahakarya hidup. Kemudian, dari saku kemejanya Yohan mengeluarkan pita sutra hitam yang lembut. 

“Malam ini, biarkan aku yang membimbingmu, Sayang. Aku ingin kamu merasakan penyatuan kita dengan hati. Tanpa rasa malu. Tanpa rasa takut.”

Moza ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk. Ia percaya pada Yohan. Percaya bahwa ini adalah cara mereka untuk memulai hubungan baru dengan keintiman yang lebih dalam.

Pita itu dikalungkan perlahan di matanya, lalu diikat erat di belakang kepala.

Dunia langsung gelap. Hanya deru napas Yohan dan sentuhan hangat pria itu yang terasa di kulit Moza.

Namun, tak lama kemudian, ponsel Yohan berdering keras. Moza mendengar desahan pelan dari Yohan ketika ia berbicara dengan seseorang. 

“Maaf, Sayang, sepupuku, Niko, datang untuk mengantarkan koper bajuku yang tertinggal. Aku harus menemuinya sebentar. Jangan buka matamu. Aku akan segera kembali.”

Sebelum Moza sempat menjawab, ia sudah mendengar langkah kaki Yohan yang menjauh, diiringi suara pintu yang terbuka dan tertutup. 

Moza duduk di tepi ranjang, jantungnya berdebar kencang. Ia menunggu suara Yohan, sentuhannya, ciumannya. Namun, yang datang hanyalah kesunyian yang mencekam.

Beberapa menit berlalu, hingga terdengar bunyi ‘klik’.

Pintu terbuka lagi.

“Sayang, kamu sudah datang?” panggil Moza ragu.

Tidak ada jawaban. Anehnya, Moza merasakan langkah kaki yang menjejak lantai berbeda, lebih ringan, lebih mantap.

Sebelum ia sempat berpikir, tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pipinya, perlahan berpindah menelusuri lekuk bibirnya. 

Napas Moza memburu. Ia merasakan tangan Yohan menyentuh dagunya, turun ke leher, lalu ke pundak. Tangan itu kemudian menyentuh lututnya, perlahan naik membelai paha hingga sampai ke inti tubuhnya.

Moza tersentak, tetapi ia membiarkan dirinya tenggelam. Tubuhnya sudah menyerah pada sensasi nikmat, pada desir listrik yang menjalar dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. 

Ciuman Yohan terasa ganas, penuh nafsu yang tak terkendali. Tubuhnya digerakkan dengan cepat ke atas ranjang, piyamanya terlepas tanpa banyak perlawanan. 

Moza hanya bisa pasrah, walau untuk sesaat ia merasakan aroma parfum sang pria berbeda dari milik Yohan. Ia tetap percaya ini adalah suaminya, malam pertamanya. 

Detik demi detik berlalu, malam menjadi semakin liar. Desahan, erangan, kulit yang bergesekan, napas yang memburu memenuhi kamar itu. Segalanya begitu intens, begitu tak terduga.

Moza menjerit kecil saat rasa sakit dan kenikmatan bercampur jadi satu. Bagian bawah tubuhnya kini terasa penuh sesak, pertanda ia telah menyerahkan diri seutuhnya kepada sang suami.

Ketika akhirnya tubuh kekar itu berhenti bergerak, suara parau berbisik di telinga Moza, sangat dekat.

“Aku sangat puas. Kau sudah menyembuhkan aku.”

Dahi Moza mengernyit. Ia ingin membuka penutup matanya dan bertanya sesuatu, tetapi tubuhnya sudah sangat kelelahan. Pada akhirnya, ia pun tertidur pulas di pelukan sang pria.

Entah berapa lama ia terlelap, tetapi Moza terbangun karena mendengar derak pintu yang terbuka.

Dalam kondisi setengah sadar, ia mengerjap dan melepas pita hitam yang masih menutupi matanya.

Begitu pita tersebut terlepas, mata Moza beradu pandang dengan Yohan. Alangkah terkejutnya ia saat melihat pria itu berdiri dengan baju lengkap, wajahnya terlihat segar seperti belum tidur sama sekali. 

“Maaf, aku baru kembali, Sayang. Tadi, Niko mengajakku minum dan —”

Kalimat Yohan terputus saat matanya menangkap pemandangan ganjil di dalam kamar.

Pakaian Moza berserakan. Tempat tidur porak-poranda, dan Moza berbaring dengan tubuh yang berbalut selimut tebal. Bahkan, Yohan bisa mencium aroma bekas percintaan yang menguar dari atas ranjang. 

“Apa-apaan ini?!”teriak Yohan, suaranya mengguncang dinding kayu. “Apa yang sudah kamu lakukan, Moza?

Wajah Moza berubah pucat pasi. Matanya membulat, menatap Yohan dengan sorot bingung bercampur cemas.

“B-bukankah kamu tadi sudah kembali?” jawab Moza terbata.

Kedua tangan Yohan mengepal kuat di sisi tubuh. Sorot matanya menyala, bagaikan bara api yang siap meledak kapan saja. 

“Omong kosong! Aku baru kembali sekarang!” bentak Yohan, langkahnya maju cepat. “Lalu, siapa yang masuk ke kamar kita? Siapa yang sudah menjamah tubuhmu?"

Mendengar tuduhan yang dilontarkan Yohan, Moza perlahan bangkit dari ranjang. Ia mencoba meraih lengan sang suami, meski kedua lututnya terasa goyah. 

“Yohan, tolong… aku tidak bersalah. Aku pikir pria itu kamu." 

PLAK!

Yohan menepis tangan Moza dengan kasar, hingga wanita itu jatuh tersungkur ke lantai.

Sebagian selimut yang melilit tubuh Moza pun tersibak, memperlihatkan jejak merah keunguan yang tertinggal di leher dan bahunya. 

“Lihat kondisimu! Kamu seperti wanita murahan, Moza!” raung Yohan, penuh kebencian.

Air mata Moza mengalir deras. Ia tidak menyangka pria yang dicintainya dengan segenap hati, kini tega menghinanya seperti ini.

“Aku tidak berbohong… Aku korban, Yohan. Aku—”

“Cukup!” potong Yohan seraya mengangkat tangan. “Kau sudah menginjak-injak harga diriku sebagai suami. Jangan harap, aku bisa memaafkan perbuatanmu yang tercela. Besok pagi, pengacaraku akan segera mengurus perceraian kita!"

Setelah berkata demikian, Yohan keluar dari kamar dengan membanting pintu. Meninggalkan Moza sendirian dalam kondisi tak berdaya. Malam yang seharusnya menjadi awal cinta, kini telah berubah menjadi neraka.

Ting!

Bunyi timer dari oven memecah kesunyian, membuat Moza tersentak dari lamunan yang membawanya kembali ke masa silam. 

Tanpa membuang waktu, Moza membuka penutup oven. Ia mengeluarkan loyang kue cokelat pesanan Nyonya Alma, tetangga tua yang sudah menjadi pelanggan setianya. Dapur kecil ini adalah bentengnya, tempat ia menyulap rasa sakit menjadi manis.

Baru saja Moza meletakkan kue itu di atas meja, terdengar derap langkah kecil yang berlarian memasuki rumah.

“Mama, aku pulang.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Kehadiran Pria yang Dirindukan

    Elbara menyesuaikan letak jam tangannya. Matanya melirik ke arah pintu, seolah otaknya sudah menyusun peta perjalanan menuju kantor dan mansion."Moza, aku pergi sekarang. Reva, kau mau kujemput jam berapa nanti?"Reva menggeleng pelan, memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Tidak usah, Bara. Aku akan pulang dengan taksi saja. Aku masih ingin menemani Moza."Elbara mengangguk paham. "Hati-hati. Selalu aktifkan ponselmu."Dengan langkah lebar, pengacara muda itu meninggalkan kamar perawatan.Selepas Elbara berlalu, Moza menoleh ke arah Wulan yang masih setia berdiri di sudut ruangan."Wulan, pergilah ke kafetaria di lantai bawah. Beli makanan yang enak untuk dirimu sendiri, kau butuh tenaga.""Tapi Nyonya—""Ada Reva di sini. Pergilah," potong Moza lembut. Wulan akhirnya membungkuk hormat dan melangkah keluar, menutup pintu dengan pelan.Kini hanya ada Moza dan Reva di dalam ruangan. Suasana mendadak menjadi sangat privat. Moza memperbaiki posisi duduknya, menatap sahabatnya itu lek

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Menghilang Tanpa Jejak

    Sepanjang malam, Aya tidak dapat tidur dengan tenang. Begitu membuka mata, pikirannya langsung tertuju pada satu nama : Kageo. Tanpa membuang waktu, ia melakukan rutinitas pagi.Sambil merapikan diri di depan cermin, Aya meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Ia mencoba menepis prasangka buruk yang terus menghantuinya.“Mungkin dia hanya lupa mengisi daya ponselnya,” gumam Aya mencoba berpikir logis.Jemarinya kembali menekan nomor Kageo. Ia menempelkan ponsel ke telinga, menahan napas sambil menunggu nada sambung yang ia harapkan."Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif...."Aya menurunkan ponselnya dengan helaan napas berat. Keadaan masih sama dengan semalam. Berdasarkan analisanya selama ini, Kageo adalah pria yang sangat terorganisir. Membiarkan ponsel mati dalam waktu yang lama bukanlah kebiasaannya.Aya memutuskan untuk mengirim pesan singkat, berharap pesan itu akan segera terbaca begitu Kageo mengaktifkan perangkatnya.[Selamat pagi, Kageo. Saya ingin menjadwalkan ses

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Menunggu Dastan

    Mobil Elbara menderu kencang, membelah jalanan ibu kota di malam hari. Di kursi belakang, Moza memejamkan mata, tangannya masih memegangi perutnya. Di dalam kepalanya, pesan mengancam dari sang penculik terus terngiang-ngiang.Antara nyawa Kayden yang terancam dan keselamatan bayi kembar di kandungannya, Moza merasa jiwanya tercabik-cabik.Sesampainya di rumah sakit, Moza langsung dilarikan ke ruang Instalasi Gawat Darurat.Wajah Moza tampak pucat pasi, bintik-bintik keringat dingin membasahi pelipisnya. Sementara tangannya tidak sedetik pun lepas dari perutnya yang terasa kaku.Seorang dokter jaga pria bergegas menghampiri bersama dua orang perawat.Mereka memindahkan Moza ke ranjang pemeriksaan, kemudian memasang alat pemantau detak jantung janin serta selang infus."Tolong bayi saya... selamatkan mereka," rintih Moza, saat sang dokter mulai meraba perutnya untuk mengecek ketegangan rahim."Tenang, Nyonya. Tarik napas perlahan. Kami akan melakukan yang terbaik," ujar dokter itu den

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Pilih Suami atau Anakmu

    Lampu kamar yang berpendar tidak mampu mengusir kegelapan yang menghimpit dada Moza.Di atas nakas, semangkuk sup ayam buatan Bi Isna sama sekali tidak tersentuh. Aroma gurih kaldu yang biasanya membangkitkan selera, kini justru terasa memuakkan bagi Moza.Ia duduk di tepi tempat tidur, jemarinya yang dingin mencengkeram erat sebuah bingkai foto. Di sana, wajah Kayden tampak sangat gembira. Tangan kanannya memegang sebuah piala, setelah berhasil menjuarai lomba mewarnai di kota Sarima.Air mata Moza menetes, jatuh tepat di atas kaca bingkai itu.“Di mana kau sekarang, Kay?” bisik Moza dengan hati yang hancur.Pikirannya mulai berkelana ke tempat-tempat paling gelap. Ia membayangkan Kayden kecilnya sedang disekap di sebuah gudang pengap yang tidak terjangkau sinar matahari. Tangan dan kaki mungil itu terikat kasar oleh tali tambang yang melukai kulit halusnya. Pikiran bahwa Kayden mungkin sedang kelaparan, menangis memanggil namanya tanpa henti, membuat jantung Moza serasa diremas."

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Perdebatan Singkat

    Gema palu hakim yang mengetuk meja tiga kali, menandakan berakhirnya masa skorsing. Ruang sidang yang tadinya lowong, kini kembali penuh. Di meja penggugat, Reva duduk dengan jemari yang saling meremas. Pikirannya bercabang; separuh pada nasib keadilannya, separuh lagi pada kabar mengerikan tentang Kayden. Sementara di sampingnya, Elbara tampak lebih tegang. Fokusnya sebagai pengacara sedang diuji di titik terberat. Saat ini, ia masih harus membela Reva, walaupun hatinya ingin memastikan keamanan sang keponakan."Sidang dilanjutkan," ujar Hakim Ketua dengan suara bariton yang menggema. "Silakan kepada Penasihat Hukum Terdakwa untuk melakukan pemeriksaan silang terhadap saksi korban."Bramantyo bangkit dari kursinya dengan keangkuhan seorang pengacara senior. Ia tidak langsung bertanya, melainkan berjalan perlahan di depan meja.Pria itu sengaja membiarkan bunyi sepatunya menciptakan tekanan psikologis bagi Reva. Ia adalah pengacara yang tahu bahwa untuk meruntuhkan sebuah kasus, ia

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Serigala Berbulu Domba

    Mobil yang dinaiki Kayden meluncur meninggalkan area pinggiran kota, menuju jalur hijau yang terletak di perbatasan. Di kursi belakang, Kageo duduk tegak di samping sang keponakan, tetap menampakkan gestur melindungi. Sementara Kayden yang masih trauma, menyandarkan kepalanya di pelukan Kageo."Kita berangkat ke rumahku," perintah Kageo dengan nada datar.Sang sopir hanya mengangguk melalui spion tengah. Ia mengerti betul bahwa tujuan mereka adalah sebuah properti pribadi, yang namanya tidak pernah terdaftar dalam aset keluarga Limantara.Kayden, yang mulai sedikit tenang, mendongak menatap Kageo dengan mata bulatnya yang masih kemerahan. "Paman... kenapa aku nggak diantar pulang ke apartemen? Mama pasti sedang mencariku."Kageo menoleh, memberikan senyum paling lembut kepada Kayden."Kay, dengar Paman," Kageo merendahkan suaranya agar terdengar seperti sebuah rahasia penting. "Para penjahat tadi sangat licik. Mereka pasti sudah tahu alamat apartemen Papa Dastan. Jika kamu kembali

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Pria Berkuasa yang Menutup Diri

    Tak mau memikirkan ucapan Lira lebih lama, Moza masuk ke kamar mandi. Setelah mengunci pintu, ia melepas piyama dan langsung mencucinya bersamaan dengan seragam. Moza menggosok setiap bagian dengan larutan sabun, seolah ingin mencuci noda emosional yang tertinggal.Setelah selesai, ia menyiram tub

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Tugas Berbahaya

    Setelah menerima pesanannya, Rezon membawa bungkusan makanan ke meja tempat Moza dan Abigail duduk. Ia menyerahkan burger, kentang, ayam goreng, serta dua gelas cokelat dingin bertabur marshmallow kecil di atasnya.Untuk dirinya sendiri, ia hanya mengambil satu bungkus kentang goreng tanpa saus. Dim

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Permintaan Intim

    “S-saya Moza, pelayan baru” jawab Moza tergagap. “Saya sudah mengetuk pintu, tapi Tuan Muda tidak mendengar.”Pria itu terdiam. Matanya berhenti lama pada wajah Moza, seolah menikmati setiap detik kegugupan yang terpancar darinya.“Moza … seharusnya, kamu tetap menunggu sampai aku membukakan pintu.”

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Marah Atau Cemburu

    Setelah Dastan berlalu, Tuan Markus menatap Moza yang masih berdiri terpaku di tempatnya.“Letakkan nampan di meja, Moza."Moza mengangguk patuh, lantas mendekat ke meja kayu yang semalam dipakai Tuan Markus untuk menulis. Ia meletakkan nampan dengan hati-hati, supaya tidak ada makanan yang tumpah.

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status