Masuk“Saya akan menjaga rahasia itu selama tidak melanggar hukum atau menyakiti orang yang tidak bersalah. Karena loyalitas adalah harga diri seorang pelayan.”
Mendengar jawaban Moza, Elbara duduk kembali di kursinya dengan tenang. Kini, giliran Elzen yang beranjak. Pria itu bersandar santai pada tepi meja sembari melipat tangannya di depan dada.
“Giliranku yang mengajukan pertanyaan. Bagaimana kamu bisa membedakan kami berdua, terutama saat Elbara tidak pakai kacamata, dan kami memakai baju yang sama?” tantang Elzen dengan ekspresi serius.
“Jika kamu salah panggil, atau salah melayani, itu bisa menimbulkan konflik internal. Apalagi, masih ada dua kakak kami, Dastan dan Rezon, serta adik kami, Kageo. Kami semua memiliki hak atas pelayanan yang tepat.”
Moza diam sejenak. Ia mengamati keduanya—wajah yang identik, postur yang sama, bahkan gerakan tangan yang hampir sinkron.
Tidak sia-sia ia mengumpulkan informasi mengenai keluarga Limantara. Inilah saatnya dia menggunakan pengetahuan tersebut agar lolos dalam seleksi.
“Saya bisa membedakan dari gaya rambut dan cara Anda mengamati,” jawab Moza penuh percaya diri.
Elzen mengernyit. “Coba jelaskan.”
“Walau Anda berdua punya potongan rambut yang sama, tetapi cara merawatnya berbeda. Rambut Tuan Elbara tersisir rata ke belakang, tetap kering, tidak ada helai yang acak-acakan. Sementara Tuan Elzen… Anda suka bermain-main dengan rambut. Kadang Anda sengaja membiarkan rambut Anda sedikit berantakan. Saya tadi melihat Anda mengusap rambut beberapa kali, juga menyisirnya dengan jemari.”
Sudut bibir Elzen berkedut, tetapi ia belum memberikan komentar atas hasil pengamatan Moza.
“Yang kedua dari cara Anda mengamati. Tuan Elbara mengamati saya seperti sedang menganalisis. Mata Anda tetap bergerak, memperhatikan detail, menghitung kemungkinan. Sedangkan Tuan Elzen mengamati dengan santai, bagaikan menonton sebuah pertunjukan. Anda tersenyum kecil, menilai emosi orang, dan mencari celah untuk bercanda.”
Kali ini, Elzen tidak dapat menahan rasa kagum atas kemampuan Moza. Hanya dalam waktu sekejap, wanita ini mampu melihat perbedaan tersembunyi antara dirinya dengan Elbara.
“Wow, kamu mirip cenayang, Nona Keju. Aku kagum pada ketajaman analisamu,” puji Elzen sambil mengacungkan ibu jarinya.
Elzen langsung menempati kursinya semula, lalu menatap Elbara dengan kedipan mata. Tampaknya lelaki kembar itu memiliki bahasa isyarat yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua.
“Cukup. Kamu lolos,” pungkas Elbara sambil menekan tombol merah di mejanya.
Tak lama berselang, Thalia memasuki ruangan dengan ekspresi datar.
“Bibi Thalia, Moza berhasil menjawab pertanyaan kami. Sekarang, kami serahkan dia padamu,” kata Elbara.
“Baik, Tuan Muda.”
Setelah membungkukkan badan kepada Elbara dan Elzen, Thalia mengajak Moza kembali ke dapur. Pelayan yang lain telah menyiapkan sup dan puding yang tadi dibuat Moza di atas sebuah nampan perak.
“Kau akan memasuki tahap akhir dari seleksi ini, yaitu bertemu dengan Tuan Markus. Beliau sendiri yang akan mencicipi masakanmu dan menilai sikapmu,” tegas Thalia.
Moza mengangguk, tangannya erat memegang nampan yang akan menjadi penentu apakah ia diterima atau tidak.
Tanpa bicara, Moza mengikuti Thalia menuju ke sisi utara mansion. Suasana di sini lebih sunyi, dan karpet merah tebal menelan derap langkah mereka. Para pelayan yang berlalu-lalang juga lebih sedikit bicara.
Mereka tiba di ujung koridor, di depan pintu besar dari kayu jati tua. Thalia mengetuk lembut, dan beberapa detik kemudian pintu terbuka perlahan.
Seorang pria berseragam perawat medis keluar. Ia memandang Thalia dengan hormat.
“Bu Thalia. Ada keperluan apa?”
“Ini Moza, calon pelayan baru. Dia akan menyajikan makanan untuk Tuan Markus. Apakah Beliau siap menerima tamu?”
Perawat itu mengangguk. “Saya akan bertanya lebih dulu.”
Moza menahan napas. Jantungnya berdegup kencang, mengingat ini adalah titik penentuan nasibnya. Lolos atau gagal, semuanya ditentukan dalam beberapa menit ke depan.
Percuma sudah melewati dua tahap jika gagal di hadapan Tuan Markus. Bagaimanapun ia harus berhasil mengambil hati pria tua itu, bukan dengan kata-kata, melainkan dengan pengabdian, kesabaran, dan ketulusan.
Tak lama, pintu terbuka lagi. “Silakan masuk,” ujar sang perawat.
Sedikit was-was, Moza melangkah masuk sambil membawa nampan dengan kedua tangan.
Pandangan Moza otomatis tertuju pada ranjang besar dengan kelambu tipis, yang terletak di tengah kamar.
Di atasnya, Tuan Markus Limantara duduk dengan bersandar pada bantal penopang. Meski usianya sudah tujuh puluh tahun, kehadirannya masih memancarkan kharisma yang tak tergoyahkan.
Rambutnya yang putih keperakan disisir rapi. Wajahnya penuh garis-garis usia, tetapi mata Tuan Markus masih sangat tajam, seperti bisa membaca masa lalu dan masa depan dalam sekali pandang.
Perawat pribadi Tuan Markus segera membentangkan meja lipat kecil di depan ranjang, sementara Thalia maju selangkah.
“Tuan Besar, ini Moza, calon pelayan yang akan memasak dan membersihkan kamar Anda. Sup dan puding ini hasil masakannya sendiri. Saya sudah mencicipi. Apakah Tuan Besar bersedia mencoba?”
“Hem,” balas pria tua itu singkat.
Mendapat lirikan tajam dari Thalia, Moza maju perlahan. Dengan hati-hati, ia meletakkan nampan di meja seraya membuka tutup mangkuk sup.
“Silakan, Tuan Besar,” ucap Moza lembut.
Cukup lama Tuan Markus menatap sup di atas nampan, sebelum akhirnya mengambil sendok dan mencicipi sedikit.
Untuk sesaat, pria tua itu hanya menelan tanpa berkata apa-apa. Kemudian, saat mencicipi untuk kedua kalinya, sudut bibirnya bergerak naik membentuk senyum tipis.
“Tidak buruk,” gumamnya. “Rempahnya seimbang dan sirip ikannya empuk.”
Dengan bantuan sang perawat, Tuan Markus lantas beralih ke puding delima. Ia mencicipinya beberapa sendok sebelum mengangguk kecil.
“Baru sekali ini, aku menemukan rasa yang hampir mirip dengan masakan Angela. Kamu diterima,” putus Tuan Markus sambil menatap Moza.
Ketegangan yang menyelimuti Moza langsung sirna. Akhirnya, perjuangan yang ia tempuh selama ini tidaklah sia-sia, sebab ia berhasil masuk ke lingkaran keluarga Limantara. Dengan begitu, rencananya untuk mengungkap kebenaran akan segera terwujud.
Di tengah kebahagiaan yang dirasakan Moza, pintu mendadak terbuka. Seorang gadis kecil dengan rambut cokelat bergelombang berlari masuk. Tangan mungilnya membawa kertas gambar yang penuh dengan coretan warna.
“Opa! Lihat! Aku bisa menggambar seekor putri duyung,” serunya riang.
Namun, ketika melewati Moza, gadis kecil itu berhenti sejenak. Mata bulatnya memandang wajah Moza tak berkedip. Lalu, tanpa ragu, ia maju dan meletakkan tangannya di pinggang Moza.
“Tante Cantik! Apa Tante akan menjadi mamaku?”
Darah Moza seketika berdesir cepat. Dia tahu gadis kecil ini adalah Abigail, putri tunggal Dastan Limantara.
Anehnya, anak ini memiliki kemiripan dengan Kayden. Bukan hanya dari segi umur, melainkan juga bentuk bibir dan sinar matanya yang penuh harap, seperti saat Kayden merindukan sosok ayahnya.
Selepas kepergian Tuan Sentosa dan Radit, suasana ruang makan itu menjadi sunyi senyap.Moza kembali menarik lengan Dastan dengan lembut. Matanya menyiratkan permohonan agar mereka segera pergi dari rumah yang menyesakkan ini. Ia tidak ingin ada perdebatan lebih jauh.Namun, Dastan tidak bergeming. Alih-alih berbalik arah, ia justru melangkah maju dan menghampiri Tuan Hadinata yang masih berdiri di ujung meja. Moza menahan napas, khawatir Dastan akan meluapkan amarahnya."Tuan Hadinata, saya meminta maaf karena tidak mengundang Anda pada pernikahan kami," tutur Dastan.Moza mengerjap berkali-kali, seolah ingin memastikan panca inderanya masih berfungsi normal. Dastan meminta maaf?Sebelum melanjutkan, pria itu sedikit membungkukkan badan—gerakan kecil yang berarti besar bagi seseorang seperti Dastan. "Sekarang, saya ingin meminta restu dari Anda. Apa Anda bersedia menerima saya sebagai suami Moza?"Lagi-lagi Moza dibuat tercengang oleh perilaku Dastan yang sangat berbeda. Mungkin j
Sesuai dengan arah jari telunjuk Kayden, Dastan mengalihkan pandangan kepada Radit yang duduk mematung di kursi roda. Untuk sesaat, suasana menjadi sangat mencekam.Nyali Radit seketika menciut, melihat postur Dastan yang tinggi besar dan berotot. Terlebih, mata pria itu bagaikan sinar laser yang mampu melubangi dasar jiwanya. Dengan gerakan kikuk, Radit kemudian menggeser kursi rodanya mendekat kepada sang ayah untuk mencari perlindungan."Papa... siapa dia?" bisiknya ketakutan.Dastan tidak menanggapi sama sekali, seakan Radit tidak layak untuk diperhatikan. Sambil tetap menggendong Kayden, ia berjalan menuju ke kursi di sebelah Moza. "Sebentar, Kay. Papa ingin bicara dengan Opa,” bisik Dastan lembut, kontras dengan aura dingin yang ia pancarkan sebelumnya.Lidah Moza terasa kelu, seperti terbungkus kapas tebal. Napasnya pendek-pendek, tertahan di kerongkongan. Sungguh, kehadiran Dastan saat ini bagaikan mimpi. Tadi siang dia masih berpikir pria itu sedang di luar negeri bersama
Kata-kata Radit seperti petir di siang bolong. Didorong oleh insting perlindungan diri yang tajam, Moza mendorong dada Radit dengan kedua tangannya sekuat tenaga. Alhasil, kursi roda pria itu mundur beberapa sentimeter. Moza berdiri dengan napas terengah-engah. Wajahnya pucat pasi, tetapi matanya menyalakan api kemarahan.Ia segera berdiri dan menarik Kayden ke belakang tubuhnya, menjauhkan sang putra dari jangkauan tangan Radit yang tidak stabil.Tuan Sentosa bergegas mendekat untuk menenangkan putranya. Ia meraih pegangan kursi roda Radit dan menariknya menjauh dari Moza. "Radit, kendalikan dirimu. Jangan membuat Moza salah paham," ujarnya cemas sekaligus malu. Ekspresi Radit pun kembali datar, seperti tombol yang dimatikan paksa. Dia memandang ke arah lain, seolah kejadian tadi tidak pernah ada.Tuan Sentosa kemudian berpaling kepada Moza. "Maafkan Radit, Moza. Dia hanya terlalu bersemangat melihatmu lagi setelah bertahun-tahun."Namun, Moza tidak mendengarkan. Matanya justru te
Sembari menggandeng Kayden, Moza melangkah di atas ubin marmer yang akrab di bawah alas kakinya. Ribuan kenangan langsung membanjiri benak Moza. Namun, sebelum ia sempat menggali lebih dalam, sosok pria berseragam pelayan muncul dari balik pintu."Non Moza...." panggil suara itu bergetar.Dia adalah Pak Galih, pelayan kepercayaan sang ayah yang sudah mengabdi sejak Moza masih belajar berjalan.Pria yang rambutnya telah memutih itu berdiri di depan Moza dengan mata berkaca-kaca. “Saya sangat lega melihat Non Moza baik-baik saja."Moza merasakan matanya memanas. Di rumah yang penuh aturan kaku, Pak Galih adalah sedikit dari orang yang memberinya kasih sayang tulus. "Terima kasih, Pak Galih. Saya juga senang bisa melihat Bapak masih sehat dan bekerja di sini."Pandangan Pak Galih lalu beralih ke bawah, ke arah bocah laki-laki yang sejak tadi bersembunyi di balik kaki Moza."Ini pasti jagoannya Non Moza. Kau tampan sekali, Nak. Siapa namamu?""Kayden," jawab bocah itu mantap, meskipun ma
Setibanya di unit apartemen, suasana hangat langsung menyambut Moza.Ia melihat Abigail dan Kayden duduk di meja makan, asyik menikmati potongan kue cokelat dengan bibir belepotan. Keceriaan mereka mampu mengalihkan rasa lelah yang mendera Moza selepas acara seminar."Mama sudah pulang!" seru Kayden riang.Moza mendekat dan mengecup kening kedua anaknya bergantian. "Apa kalian sudah makan siang?""Sudah, Ma. Tadi Bi Isna masak ayam katsu dan brokoli," jawab Abigail sambil tersenyum manis."Bagus kalau begitu," ujar Moza.Usai berganti pakaian, Moza bergabung lagi dengan anak-anaknya di ruang makan. Sambil menyuap makan siangnya yang terlambat, ia menatap Kayden dengan lembut. "Sayang, nanti jam enam sore, apa kamu mau ikut Mama ke suatu tempat?"Kayden menghentikan kunyahannya, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ke mana, Ma?""Ke rumah Opa.""Ketemu Opa Markus?" timpal Abigail dengan mata berbinar, mengira mereka akan berkunjung ke mansion.Moza meletakkan sendoknya, lalu me
Rezon baru saja menyelesaikan kunjungan rutin di bangsal VVIP. Ia memeriksa kondisi mantan menteri yang selesai menjalani bedah bypass jantung, serta seorang pemilik jaringan hotel yang akan menjalani operasi pengangkatan tumor jinak. Sebagai dokter penanggung jawab, Rezon harus memastikan kondisi mereka tetap stabil. Ketegangan itu terbawa hingga ia kembali ke ruangannya.Begitu duduk di kursi, pandangan Rezon langsung tertuju pada benda di sudut meja kerjanya. Rantang makanan bertingkat empat dari Izora. Sambil menghela napas panjang, Rezon menarik rantang itu. "Mari kita lihat apa yang bisa dilakukan dokter ingusan itu selain membuatku kesal," gumamnya skeptis.Satu per satu, Rezon membuka penutup rantang makanan. Bagian paling atas berisi salad buah dengan potongan apel, stroberi,dan anggur, yang diberi dressing yogurt tipis. Bagian kedua adalah tumis brokoli wortel, sedangkan bagian ketiga diisi dada ayam panggang beraroma lada hitam. Untuk lapisan terakhir, Izora menyajikan na







