MasukDi siang hari, Raka pergi ke gudang untuk membersihkan arsip di sana.
Raka berdiri di lorong sempit antara dua rak, mengangkat satu dus dokumen tebal ke atas papan kayu paling atas.
Kemeja seragamnya sedikit tersingkap ketika ia merenggangkan bahu tegapnya, memamerkan lekuk pinggang dan otot punggungnya yang padat dari balik kain.
Klek.
Suara kait pintu besi gudang yang terdorong pelan memecahkan keheningan.
Raka tidak serta-merta berbalik; ia menyelesaikan
Matahari pagi baru saja menyapu jalan tol dengan pendar keemasannya. SUV hitam melaju mulus menyusuri aspal dengan Raka yang duduk tenang memegang kemudi.Di kursi samping pengemudi, Clara tampak anggun memeriksa laporan di komputer tabletnya. Sementara di baris belakang, Maya melipat kedua tangannya di dada dengan bibir mengerucut panjang."Perasaan posisi duduk aku melesat banget deh dari kemarin," gerutu Maya pelan dari balik kursi belakang, sengaja memancing perhatian. "Serasa jadi penumpang gelap aku di sini."Clara tidak menoleh, jemarinya tetap lincah menggeser layar tablet. "Kamu itu sekretaris, Maya, bukan pengawal. Tempat kamu memang di belakang.""Tapi kan sepi di belakang, Bu Clara," celetuk Maya manja seraya melirik bayangan Raka dari kaca spion tengah.Raka yang fokus menatap jalanan hanya menyunggingkan senyum miring yang teramat tipis tanpa membalas ucapan Maya, mempertahankan aura profesionalnya di depan sang CEO.Mobil terus membelah jalanan hingga sejam kemudian pap
Maya melangkah mengendap-endap menyusuri lorong sempit menuju pos office boy.Suara ketukan sepatu hak tingginya sengaja diperpelan.Saat melihat pintu ruangan kecil itu sedikit terbuka, menyebarkan seberkas cahaya kuning redup ke koridor, senyum centil seketika terukir di bibirnya yang bergincu merah.Klek.Maya menyusup masuk, lalu dengan cepat mengunci pintu dari dalam."Langkah kamu berisik banget, Maya," celetuk Raka tanpa menoleh.Pria tegap itu sedang berdiri menyandarkan pinggulnya di tepi meja kayu, jemari tangannya santai merapikan deretan kunci ruangan yang tergantung di papan dinding.Maya terkekeh halus, membuang jarak di antara mereka dengan ayunan panggul yang manja.Tanpa ragu, ia langsung menyandarkan tubuh mewahnya, gelendotan di lengan berotot Raka yang terbungkus kemeja kerja."Biarin, kan cuma ada kita berdua di sini," sahut Maya dengan nada suara yang mendayu-dayu.Ia kemudian mengerucutkan bibirnya seraya menatap wajah tegap Raka dari samping."Kesal banget tahu
Jam dinding melingkar berbingkai emas di atas meja menunjukkan tepat pukul sembilan malam.Di atas meja kaca raksasa, belasan botol sampel parfum berderet rapi, memancarkan aroma bunga dan kayu yang lembut namun pekat.Clara menyandarkan punggungnya pada kursi kulit eksekutif. Sang CEO memijat pelapis pelipisnya yang sedikit tegang usai marathon pembahasan strategi pemasaran."Sampel aromanya sudah siap semua, Bu," ujar Maya seraya merapikan bundel dokumen presentasi di hadapannya.Meski pakaian kerjanya masih tampak rapi, raut wajah sang sekretaris tak bisa menyembunyikan rasa lelah, sekaligus rasa kesal yang masih terpendam akibat rencananya bersama Raka yang tertunda.Clara mengangguk pelan, menghela napas panjang sebelum menatap dua orang di dalam ruangannya secara bergantian."Pembahasan di sini sudah selesai," kata Clara dengan suara beningnya yang selalu memancarkan wibawa."Tapi sampel parfum ini harus diuji dan dipresentasikan langsung ke klien utama kita di Bandung lusa nant
Raka tersenyum tipis mendengarnya.Dia tahu apa yang diinginkan Maya dengan pekerjaan penting itu.Sorot mata centil dan usapan jemari sang sekretaris di dadanya sudah menyuarakan segalanya tanpa perlu dijelaskan lagi dengan kata-kata.Maya yang sadar Raka belum memberikan kepastian langsung menatap pria tegap itu dengan pandangan menuntut."Kok cuma senyum-senyum aja? Jawab dong, Raka! Kamu mau kan datang malam ini?" desak Maya dengan suara parau yang amat manja, meremas ringan kain kemeja di dada Raka.Namun, baru saja Raka mau jawab, langkah kaki berirama tegas dan ketukan sepatu hak tinggi yang bernada anggun memecah atmosfer padat di ruang sekretariat."Maya."Panggilan dingin bernada otoriter itu membuat Maya tersentak kaget.Perempuan itu buru-buru menarik tangannya dari dada Raka dan berbalik dengan paha gemetar.Clara berdiri tegak di ambang pintu.Sang CEO tampil sempurna dalam balutan setelan blazer hitam yang pas badan, memancarkan wibawa kepemimpinan yang tak terbantahkan
Raka mengulurkan tangannya untuk menutup pintu ruang kerja setelah kepulangan Lisa dengan paha yang masih bergetar.Tanpa membuang waktu, Raka meraih kain lap mikrofiber dan cairan pembersih, menjalankan tugas utamanya sebagai office boy di lantai eksekutif milik Clara.Pria itu melangkah menyusuri koridor lantai atas yang masih lengang.Baru saja Raka membuka pintu ruang sekretariat untuk membersihkan meja dan menyiram tanaman hias di sudut ruangan, suara ketukan sepatu hak tinggi bernada centil bergema mendekat.Maya—sekretaris berparas jelita dengan pakaian kerja berpotongan pas badan yang menonjolkan bentuk dadanya, melangkah masuk seraya menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu.Bibirnya bergincu merah menyala, menyunggingkan senyum nakal yang amat memikat."Rajin banget sih jam segini udah beberes, Raka," goda Maya dengan vokal manja yang mendayu-dayu.Matanya yang lentik mengabsen tubuh tegap Raka dari ujung kepala hingga dada bidangnya yang tercetak jelas di balik kemeja seragam
Tatapan dingin Raka yang mengunci penuh intimidasi membuat pertahanan emosi Lisa hancur tak berbekas. Rasa cemburu yang sempat membakar dadanya berganti menjadi kepatuhan mutlak.Gadis muda itu menelan saliva dengan susah payah, menatap iris mata pekat sang pengawal yang berdiri begitu dekat dengannya."M-maafkan Lisa, Mas Raka," bisik Lisa dengan vokal bergetar halus. "Lisa, Lisa cuma takut Mas Raka lupa sama Lisa."Raka tidak langsung merespons permintaan maaf itu dengan kata-kata.Dengan ketenangan dominan yang menjadi ciri khasnya, ia melepaskan cengkeraman tangannya pada dinding, lalu meraih pinggang ramping Lisa.Dalam satu angkatan mudah, Raka memindahkan tubuh mungil gadis itu dan mendudukkannya di atas meja kerja kayunya.Sret.Raka memisahkan sepasang paha mulus Lisa yang terbalut rok kerja ketat, melangkah masuk ke antaranya hingga tubuh tegapnya mengunci pergerakan sang gadis secara sempurna."Kamu ingin bukti kalau saya tidak lupa, Lisa?" tanya Raka dengan vokal serak yan







