เข้าสู่ระบบ"Tuan Wallenstein pasti akan senang karena akhirnya dia bisa bersama sosok yang dicintainya lagi."
Jattandier tidak langsung menanggapi, hingga pada detik berikutnya, seringai di wajah Jattandier perlahan melebar. Dan hal itu membuat nafas Ara tercekat. Padahal dia sendiri yang meminta bantuan pada iblis tersebut. Namun , sekarang keraguan mulai muncul di dalam dirinya. Ada rasa bersalah yang aneh, tetapi Ara tidak tahu perasaan itu sebenarnya tertuju pada siapa.Ara pernah diabaikan, dianggap seolah tiada, bahkan pernah diteriaki. Namun, pria itu tidak pernah menyakitinya secara langsung. Tidak pernah memukulnya, apalagi menamparnya seperti ini. Dan anehnya, semua rasa sakit yang pernah Ara rasakan sebelumnya terasa tidak ada apa-apanya dibanding tamparan barusan. Karena yang paling menyakitkan bukan pipinya, melainkan kenyataan bahwa orang yang menamparnya adalah sosok yang paling dia cintai. Rasanya ... sangat menyakitkan. Ara merasa dirinya seperti wanita murahan yang membawa kabur uang sewaan sebelum memuaskan pelanggannya. Memalukan Mata kirinya mulai panas. Air mata mengalir dari sana, sementara mata kanannya masih terus mengeluarkan darah. Tubuh Ara gemetar ketika kedua lengannya dicengkeram kuat oleh Anthony. "Lihat aku." Suara pria itu terdengar rendah. Penuh tekanan dan dominasi kuat yang membuat Ara tak mampu menolak. Dan tanpa sadar, Ara mematuhinya. Sepasang
"Tuan Wallenstein pasti akan senang karena akhirnya dia bisa bersama sosok yang dicintainya lagi." Jattandier tidak langsung menanggapi, hingga pada detik berikutnya, seringai di wajah Jattandier perlahan melebar. Dan hal itu membuat nafas Ara tercekat. Padahal dia sendiri yang meminta bantuan pada iblis tersebut. Namun , sekarang keraguan mulai muncul di dalam dirinya. Ada rasa bersalah yang aneh, tetapi Ara tidak tahu perasaan itu sebenarnya tertuju pada siapa. "Kalau begitu ...."Jattandier membelai rambut Ara perlahan. "Temui aku di Abyss. Kau tidak perlu takut kepanasan ataupun terbakar," katanya, jemarinya menyentuh sudut mata kiri Ara. "Karena sekarang kau sudah memiliki ini." Lalu, senyumnya semakin dalam sebelum melanjutkan, "Aku akan mengabulkan permintaanmu di kediamanku." Ara menatap pantulan dirinya di cermin .Dan kali ini, dia tidak terkejut saat melihat warna mata kirinya yang semula azurite kini berubah sepenuhnya menjadi hitam.
"Aku akan memenuhi setiap inci tubuhmu dengan simbol milikku, agar seluruh iblis, bahkan alam semesta tahu bahwa Jung Ara adalah milik Jattandier Bloodfallen." Detik berikutnya, Jattandier mendekatkan wajahnya ke telinga Ara. Lalu berbisik pelan, "Ingat itu baik-baik, Pengantinku." Gigitan kecil singgah di bibir bawah Ara. Tubuh gadis itu refleks menegang saat kecupan panas mendarat di lehernya. Dan sebelum Ara sempat bereaksi, tangan Jattandier yang lain menyelinap masuk ke balik dress tidurnya. "Akh ...." Ara langsung meremas lengan kokoh iblis itu. Usapan pelan di sepanjang punggungnya membuat kedua kaki Ara terasa lemas seketika. Padahal sentuhan itu begitu kecil, tetapi anehnya, tubuh Ara bereaksi terlalu berlebihan. Jika Jattandier tidak menopangnya sekarang, mungkin dia sudah jatuh terduduk di lantai. Sial. Ara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Dia merasa jijik pada dirinya sendiri. Pada wajahnya yang ter
~Beberapa menit sebelum Anthony sampai di rumah.~ "Kau terlihat begitu putus asa, Pengantinku." Tubuh Ara langsung menegang, kedua matanya membelalak lebar saat suara itu menyentuh telinganya. Suara tersebut terdengar sangat dekat, seolah seseorang tengah berbisik tepat di samping telinga kirinya. Padahal sejak tadi Ara hanya berbaring memandangi langit-langit kamar dengan mata sembab dan tubuh lelah setelah menangis berjam-jam. Dia mengira itu hanya halusinasi. Namun, embusan napas kecil yang terasa di telinganya membuat bulu kuduk Ara meremang. Ara segera menoleh, dan tidak ada siapa pun. Hanya suara detak jam dan embusan angin malam dari luar jendela. Lalu Ara menggeleng cepat, berusaha mengusir pikiran menyeramkan itu dari kepalanya. Sekilas dia melirik jam di atas meja, sudah pukul sebelas malam. Lalu pandangannya bergeser ke arah jendela, dan saat itulah tubuh Ara kembali merinding.
Anthony J. Wallenstein hanya mengkhawatirkan sosok yang ada di dalam dirinya. Tidak lebih. Bagai buah liar dari tumbuhan belukar yang diterpa angin musim panas, burung-burung bahkan enggan memakannya. Rasanya tidak manis, idak pahit, tidak beracun, tetapi juga tidak memberi manfaat apa pun. Buah yang tidak berguna, tak ada yang ingin memetiknya. Dan pada akhirnya, buah itu hanya akan layu, membusuk, lalu lenyap begitu saja. Begitulah Jung Ara memandang dirinya sekarang. Setelah tujuan Anthony tercapai, dirinya akan dibuang karena tak ada lagi yang bisa diharapkan dari cangkang kosong sepertinya. Atau mungkin lebih buruk lagi, nama Jung Ara akan benar-benar menghilang. Tubuhnya tetap hidup, tetapi dirinya lenyap karena dijadikan wadah bagi sosok yang dicintai Anthony. Tangisan Ara semakin pecah ketika membayangkan apa yang akan te
"Apa yang harus kita lakukan, Sephael?" Suara Jivael memecah sunyi di tepian telaga Nirvana. "Waktu terus berjalan, tetapi kita belum melakukan apa pun." Lalu sosok bersayap putih itu mengepalkan kedua tangannya. "Apa kita akan membiarkan Araphael pergi begitu saja?" Sephael tidak langsung menjawab. Pemimpin para seraphim itu tetap berjalan perlahan di tepi telaga yang memantulkan cahaya keemasan langit Nirvana. Biasanya, malaikat lain yang berpapasan akan menerima senyum lembut atau sapaan hangat darinya. Namun, kali ini tidak. Tatapan Sephael terlihat kosong. Dan saat aura menyejukkan bercampur kebimbangan menyentuh indra mereka, langkah Sephael langsung terhenti. Begitu pula Jivael yang berdiri satu langkah di belakangnya. Mereka tahu, aura siapa yang baru saja menyapa mereka. "Tidak ada yang dapat kita lakukan, Jivael." Suara Sephael terdengar lirih, nyaris tenggelam bersama embusan angin. Malaikat d







