แชร์

Bab 1004

ผู้เขียน: Lilia
"Guru, Perdana Menteri Arkan," sapa Rizal, sedikit terkejut. Mengapa Arkan datang ke sini?

Arkan melirik Reza yang berdiri di sampingnya.

Reza mengangguk. Rafi pun segera maju dan menyergap Rizal, lalu menyumpal mulutnya dengan kain.

"Uhmm ...." Rizal terbelalak linglung, tidak mengerti mengapa dia diperlakukan seperti ini. Tatapannya tertuju pada Wawan.

Wawan berkata dengan alis berkerut, "Bajingan kecil, sebaiknya kamu mengaku dengan jujur sebelum disiksa."

Reza beringsut ke sisi tempat tidur dan menyibak tirai. Di balik selimut, seorang gadis berbaring dengan tubuh berbasuh keringat dan wajah merah. Terlihat jelas bahwa dia telah dibius.

"Kenakan pakaianmu dan keluar!" perintah Reza sebelum berjalan keluar.

"Gadis itu dibius," kata Reza pada yang lain.

Raut muram menggantung di wajah Wawan. Dia bisa menebak siapa gadis itu.

Gadis itu gemetar ketakutan, tetapi tetap menuruti perintah untuk berpakaian dan keluar. Tubuhnya lemas tidak bertenaga dan langkah kakinya terhuyung-huyung.

Waw
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1175

    Aska tidak berpamitan, bahkan tidak menemui dirinya.Zahra tahu apa yang dihindari Aska. Aska takut dia akan melekat padanya dan merusak reputasi bersih yang dijaganya seumur hidup ....Tidak, bukan begitu. Aska menjaga kesuciannya sepanjang hidup dan hanya mencintai ibundanya. Justru dia yang tidak bisa membedakan antara rasa kagum dan rasa cinta, hingga membuat Aska pergi.Semua ini karena dirinya ....Memikirkan itu, hati Zahra terasa nyeri. Kakinya melemas hingga hampir terjatuh. Untung ada seseorang yang menopangnya. Dia menoleh. Orang yang memeganginya adalah Arya.Wajah Arya penuh kecemasan. "Kamu nggak apa-apa?"Zahra tak berani berkata apa-apa, hanya mengangguk. "A ... aku nggak apa-apa."Arya berkata, "Guru sudah lama mengatakan padaku akan meninggalkan ibu kota. Kamu juga tahu. Hanya saja kita nggak menyangka hari ini adalah harinya. Kamu nggak boleh berpikir yang bukan-bukan.""Tapi ....""Nggak ada tapi. Kuda terbang ini adalah hadiah dari Guru untukmu." Sambil berbicara,

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1174

    Itu adalah hadiah ulang tahun dari Aska. Entah seberapa besar kegembiraan di hati Zahra. Padahal dia sempat mengira Aska tak mau lagi menghiraukannya."Kalau begitu, buka.""Baik."Tarian dan nyanyian telah berhenti. Para menteri pun menatap keempat peti besar itu. Aska benar-benar mengeluarkan banyak uang.Mata Arya juga sempat tertahan pada peti-peti itu, lalu dia menoleh ke arah Zahra. Dia melihat wajah Zahra dipenuhi sukacita, ekspresi yang bahkan lebih cerah dibanding saat menerima hadiah darinya. Di hatinya muncul sedikit kekecewaan.Namun, lantas kenapa? Antara Zahra dan Aska, mereka berdua sama sekali mustahil!Ando memerintahkan orang-orang membuka peti itu. Seketika, seekor kuda emas bersayap setinggi anak berusia lima atau enam tahun, terpampang di hadapan semua orang.Para menteri terperangah. Bagaimana mungkin seorang Kepala Biro Falak memiliki begitu banyak emas untuk membuat kuda emas?Ada yang berkata, "Beberapa tahun ini, Permaisuri tampaknya sering menghadiahkan emas

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1173

    "Kamu ada urusan?"Pati mengangguk."Tapi urusan apa yang lebih penting daripada menyelesaikan amanat dari Paman Aska?"Pati melihat Ishaq yang tampak kebingungan. Di saat seperti ini, tuannya kemungkinan besar sudah akan meninggalkan ibu kota, jadi dia harus segera menjelaskan."Terus terang saja, dua peti besar ini adalah hadiah ulang tahun Putri Mahkota tahun ini. Satu peti lainnya untuk Putri Harmoni. Dua peti kecil sisanya adalah hadiah ulang tahun Putri Mahkota dan Putri Harmoni selama sepuluh tahun ke depan. Tuanku akan meninggalkan ibu kota.""Apa ...?" Ishaq sangat terkejut, tetapi setelah dipikirkan dengan saksama, dia langsung mengerti.Tak heran Aska menyerahkan Paviliun Cahaya, bahkan sampai cap resmi Biro Falak, kepadanya. Aska benar-benar berniat menjauh sepenuhnya dari ibu kota!Ishaq telah mengembara selama bertahun-tahun, menyaksikan tak terhitung perpisahan hidup dan mati, tetapi tetap merasakan getaran di hatinya.Setelah berhari-hari bersama, bagi Ishaq, Aska adala

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1172

    "Anggi, Anggi ... nama Anggi ini sudah kamu panggil seumur hidup."Aska tidak menjawab.Keswan hanya bisa menerima kotak itu dan berkata, "Baik, aku mengerti."Bahkan untuk perjalanan jauh seperti ini pun, Aska masih menyiapkan begitu banyak benda untuk Anggi dan Luis, khawatir mereka akan bertemu hal-hal sesat atau gangguan di luar sana.Keswan menghela napas berulang kali, nyaris menyeka air matanya. "Dasar ... di usia segini masih harus menanggung perpisahan ...."Aska tersenyum menatapnya.Sepanjang hidupnya, perasaan Aska memang tidak terlalu besar. Selain kepada Anggi dan anak-anak Anggi, hampir tidak ada apa pun yang benar-benar mengikat hatinya. Namun saat melihat Keswan seperti ini, tetap saja timbul sedikit rasa sendu. "Baik. Aku berjanji, aku akan kembali untuk mengantarmu di akhir ajal nanti.""Pegang janjimu!""Ya. Aku akan pegang janjiku."Keswan tahu, Aska selalu menepati ucapannya. Jadi, dia pun menahan kesedihannya.Meski bakatnya tidak sebanding dengan Aska, selama hi

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1171

    'Kata-kata Kak Ishaq memang benar. Ayahanda dan Ibunda benar-benar orang tua terbaik di dunia. Zenna benar-benar merasa bahagia.'Tiga hari kemudian, tanggal 9 Juni.Hari itu, sidang pagi istana digelar.Luis secara resmi mengumumkan bahwa bulan depan dia akan turun takhta, sekaligus menyampaikan bahwa Aska telah memilihkan hari yang sangat baik untuk itu. Seluruh pejabat istana terkejut, tetapi juga tidak merasa benar-benar heran.Keinginan Kaisar untuk melakukan hal itu sudah ada sejak bertahun-tahun lalu.Usai sidang pagi.Para pejabat pun berbondong-bondong menuju kediaman Putri Mahkota untuk menghadiri jamuan ulang tahun Putri Mahkota.....Di Biro Falak.Ishaq menuju Paviliun Rembulan. Dia melihat gurunya mengenakan jubah putih, sedang duduk bersila bermeditasi. Dia berdiri cukup lama dan tidak berani mengganggu.Akhirnya, dia memilih mencari tempat sendiri dan duduk bersila, lalu menenangkan pikiran sambil mengingat kembali kitab-kitab Tao yang pernah dia pelajari.Dua jam kemud

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1170

    Zahra terperangah, matanya membelalak tak percaya. "Ah, mana mungkin bisa seperti itu?"Ishaq tersenyum sambil menggeleng. "Kamu seharusnya bersyukur, Ayahanda adalah ayah yang baik."Zahra kebingungan. "Ayahanda tentu saja ayah yang baik!"Ishaq teringat sesuatu, lalu mengutip berbagai kisah sejarah kepada Zenna. Dia menceritakan tentang para putri kerajaan di berbagai dinasti yang dijadikan alat pernikahan politik, serta bagaimana akhir nasib mereka.Zenna langsung menutup telinganya. "Nggak, nggak, aku nggak mau dengar.""Kalau sampai begitu, lebih baik aku mati!"Ishaq tertawa ringan. "Kamu nggak akan sampai begitu. Karena Ayahanda, juga Kak Zahra, kami semua akan melindungimu. Lalu kenapa kita malah ingin memaksa Zahra memilih suami pendamping? Bukankah itu alasan yang sama?"Zenna terdiam sejenak. "Aku hanya takut ....""Kalau itu memang ujian Zahra, maka itu juga sudah menjadi takdirnya," ujar Ishaq. Setelah berkata demikian, dia membuka kembali bukunya dan melanjutkan membaca.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status