Mag-log in"Sudah berapa orang yang sampai sejauh ini sebelumnya?" Raja Roh Perang bertanya meski ia sudah tahu jawabannya."Tidak ada," jawab Tuan Nove.Ia meletakkan cermin itu. Suara kacanya menyentuh meja terdengar lebih keras dari yang seharusnya."Sekarang, yang ada di depan anak itu bukan lagi ujian. Yang ada di depannya adalah Tungku Kosmos."Raja Roh Perang tidak bersuara selama beberapa detik. Punggungnya yang tadi tegak menurun satu senti."Apakah dia akan keluar?"Tuan Nove tidak menjawab. Karena jawabannya bukan sesuatu yang bisa ia ketahui, dan ia tidak terbiasa berbicara tentang hal yang tidak ia ketahui.**Ruang rahasia di ujung koridor tidak memiliki apa-apa kecuali satu objek di tengahnya.Ryan berdiri di ambang pintu dan merasakan panas bahkan sebelum benar-benar melangkah masuk. Bukan panas yang menyengat di permukaan kulit dan bisa diatasi dengan menahan napas. Lebih dalam dari itu. Panas yang terasa seperti berasal dari dalam tanah di bawah kaki, dari sesuatu yang suda
BOOM! BOOM! BOOM!Sinar pedang terus bertukar tanpa jeda di dalam aula yang sudah tidak lagi memiliki sudut yang tidak tersentuh Esensi Pedang Abadi dari keduanya. Setiap bilah batu di lantai dan dinding sudah tergores dalam pola yang tidak bisa disebut kerusakan biasa, melainkan ukiran yang ditinggalkan oleh dua pemahaman yang saling mendorong ke batas masing-masing sampai batas itu bergerak.Ryan sudah tidak bisa lagi menghitung berapa luka yang ada di tubuhnya. Yang ia tahu adalah tangannya masih menggenggam Pedang Iblis Darah, dan selama itu masih terjadi, pertarungan belum selesai.Heavenly Sword Saint tidak dalam kondisi yang lebih baik. Bagi sosok ilusi dari seorang manusia yang pernah menekan satu era penuh, pemandangan seorang pemuda seperti Ryan yang masih berdiri dan bertarung pada titik seperti ini adalah sesuatu yang bahkan tidak pernah masuk ke dalam imajinasi siapa pun yang mengenalnya di masa hidupnya.
Heavenly Sword Saint menatap lengannya sebentar, darah yang mengalir di sana diabaikan begitu saja, lalu menatap Ryan."Esensi Pedang Abadi-mu sudah setingkat denganku di usia yang sama."Di luar, Raja Roh Perang sudah tidak bisa berdiri diam. Kakinya mengambil satu langkah ke arah cermin sebelum berhenti. "Tuan Nove, apakah kau melihat ini?"Tuan Nove tidak menjawab. Matanya tidak bergerak dari cermin.Ryan menggeleng pelan. "Belum cukup. Esensi Pedangku masih di bawahmu sekarang. Serangan itu belum mengalahkanmu."Kata-kata itu keluar dari seseorang yang baru saja memuntahkan darah, berdiri dengan luka yang tidak sedikit di seluruh tubuhnya, dengan nada yang sama seperti seseorang yang sedang mengevaluasi latihan pagi biasa.Heavenly Sword Saint menatapnya beberapa detik lagi tanpa berkedip. Bukan menilai ulang apakah jawaban itu jujur. Lebih seperti mengonfirmasi sesuatu yang sudah ia putuskan sebelum detik
Mata Ryan yang sudah kemerahan dari darah menatap Heavenly Sword Saint tanpa berkedip. Tubuhnya tidak dalam kondisi yang bisa disebut baik dari standar apa pun. Setiap tarikan napas terasa seperti menarik udara melalui sesuatu yang sudah tidak utuh dari dalam. Seperti menyedot melalui celah yang tidak bisa ditutup dengan menghendakinya saja. Esensi Pedang Abadi dari serangan tadi masih bekerja dari dalam, merusak perlahan tapi tidak berhenti, seperti racun yang sudah masuk dan tidak peduli berapa lama prosesnya butuh waktu untuk selesai. Tapi kakinya tidak bergerak ke belakang. 'Aku belum kalah.' Pedang Iblis Darah di tangannya bergetar kecil, gemetar yang tidak terlihat dari jarak jauh tapi terasa jelas di telapak tangannya. Bukan dari kelemahan. Dari sesuatu yang mengalir masuk ke dalamnya dari telapak tangan Ryan, dari pemahaman yang baru saja menemukan bentuknya dipaksa oleh serangan yang tadi ia tidak punya cara lain selain menerimanya sepenuhnya. Di luar ruangan, Tua
Seorang pemuda. Mungkin seusia Ryan secara penampilan, meski waktu yang ada di balik mata itu tidak bisa disebut muda dari parameter mana pun yang manusia biasa gunakan untuk mengukur usia. Rambutnya tidak rapi tapi bukan berantakan, lebih seperti seseorang yang tidak pernah menjadikan penampilannya sebagai prioritas karena ada hal lain yang lebih penting. Jubah yang tidak istimewa, tapi pada tubuh itu terasa seperti pilihan yang disengaja bukan karena tidak punya yang lebih baik. Dan di tangannya, sebuah pedang yang masih di dalam sarungnya, dipegang dengan jari yang melingkar longgar di gagangnya, cara seseorang yang tidak perlu mengeluarkannya untuk membuat siapa pun mengerti bahwa ia tahu cara menggunakannya. Tapi yang paling tidak bisa diabaikan dari semua itu adalah matanya. Dingin bukan karena membenci seseorang atau sesuatu secara spesifik. Dingin karena sudah terlalu lama berdiri di tempat yang tidak ada orang lain yang bisa mencapainya, dan sudah lama tidak menemuk
Saint King Lyra Crimson pernah menjadi kultivator yang namanya dikenal luas di masanya, nama yang tidak perlu dijelaskan kepada siapa pun yang hidup di zaman yang sama dengannya. Di masa mudanya, ia bukan hanya cantik, tapi seorang jenius yang tidak mudah ditemukan sekali dalam beberapa generasi. Tapi dibandingkan dengan apa yang baru saja ia saksikan dari seorang pemuda di depannya, ada jarak yang tidak bisa ditutup hanya dengan kata-kata apa pun.Sosoknya memudar perlahan, dimulai dari ujung jarinya dan bergerak ke tengah, sampai tidak ada lagi.Ryan tidak merasa perlu merayakan apa pun, dan tidak ada bagian dari dirinya yang mencari alasan untuk melakukannya.Siapa pun yang berhasil mengalahkan seseorang setingkat Heavenly Saint mungkin akan menceritakannya berulang kali sampai akhir hidupnya, kepada siapa pun yang mau mendengar. Tapi yang ada di dalam dada Ryan bukan kebanggaan atas sesuatu yang sudah dilakukan. Lebih deka
WUSSS!Cahaya putih keemasan menyinari tubuh Ryan yang penuh retakan, dan dia merasakan sedikit kehangatan menyejukkan dari cahaya itu. Seperti tangan lembut yang menenangkan.Kemudian, sesuatu yang menakjubkan terjadi!Tiga Dao Agung yang telah dipahami Ryan muncul dengan megah—berputar-putar di s
Hope Northpalace memang berpikir Arthur Pendragon adalah seseorang dengan potensi yang bisa dikembangkan. Namun, tindakannya mengakibatkan kerugian bagi Keluarga Northpalace. Ia telah membuat marah Seratus Sekte, bahkan memusuhi tujuh dari sepuluh kekuatan utama di wilayah Seratus Sekte, yang melib
Hope Northpalace dengan hati-hati mengamati Venerable Immortal Yuriel Leviathan dan leluhur Klan Aetheren. Dia sudah hampir beralih pihak untuk membantu Ryan.'Garis keturunan anak ini luar biasa, dan kekejaman serta ketegasannya jelas layak untuk diinvestasikan dan dipelihara oleh keluarga.''Sel
"Aku akan mengaktifkan sepuluh artefak tingkat Primordial Chaos, seratus artefak tingkat God King, dan satu artefak tingkat Dao Integration untuk melancarkan serangan mendadak.""Setelah melukai dan membuat marah Naga Jiwa Semesta, aku akan melemparkan beberapa penjaga boneka untuk memancingnya per







