LOGINPagi semua ( ╹▽╹ ) Mari awali pagi ini dengan kisah Ryan (≧▽≦) ini bab pertama pagi ini. selamat membaca (◠‿・)—☆
Bibir Ryan berkedut.Ia menatap pemuda yang kini menggosok sisi kepalanya dengan santai sambil berdiri dari tanah seolah tidak ada yang terjadi.'Jadi itu yang tidak cocok dari hasil pemeriksaan medis tadi.''Orang ini berpura-pura terluka parah dari tadi.'Jessica Neuro mengalihkan pandangannya ke Ryan dengan nada yang berubah serius. "Ryan, lanjutkan pelatihanmu. Aku akan tinggal di dekat pulau untuk sementara waktu agar iblis sejati itu tidak berani kembali dengan mudah. Tidak perlu khawatir."Lalu ia melirik ke arah pemuda di sebelahnya dan mendengus. "Hmph. Ketua Sekte benar-benar mengirim orang yang tidak bisa diandalkan untuk mengawasi pelatihan. "Kalau sampai ada sesuatu yang terjadi pada Ryan, jangan harap aku diam saja.""Tapi Junior Ryan baik-baik saja, bukan?" pemuda itu bertanya dengan nada yang dibuat terdengar sedih sambil menggaruk kepalanya dengan gaya yang sangat tidak terdampak oleh teguran yang baru saja ia terima.Ryan melirik pemuda itu sejenak, lalu menangkupk
Makhluk iblis sejati itu merasakan hukum dunia yang memancar dari tubuh pemuda itu mulai mengikat pergerakannya seperti rantai yang tidak terlihat namun terasa nyata di setiap sendi wujudnya.Tidak ada pilihan selain menghadapi lawan di depannya dengan serius."Manusia rendahan." Suaranya mengandung keganasan yang tidak repot-repot disembunyikan. "Kau berani mencegat langkahku? Menarik.""Aku akan memberimu penderitaan yang tidak akan pernah kau bayangkan sebelumnya."Pemuda sembrono itu mengerutkan kening dengan ekspresi yang mengandung jijik yang tulus."Maaf, aku tidak tertarik pada pria maupun monster, apalagi yang seburuk rupamu.""Tolong pilih kata-katamu dengan lebih baik. Kalimat seperti itu bisa menimbulkan kesalahpahaman yang tidak menyenangkan bagi kedua pihak."BOOOOOM!Energi iblis murni yang pekat menghantam cahaya perak samar yang mengalir dari tubuh pemuda itu, dan ruang di titik benturan itu ber
Makhluk iblis sejati itu mengabaikan Ryan dalam sekejap.Tubuhnya berbalik dengan gerakan yang terlalu cepat untuk ukuran wujudnya, matanya yang merah menyala menatap ke arah cakrawala. Telapak tangannya yang dipenuhi energi iblis meledak ke depan dalam satu pukulan yang mengirimkan gelombang tekanan melumat udara di depannya.WUSHHH!Namun sosok yang datang dari cakrawala sudah ada di depannya sebelum pukulan itu sempat mencapai titik tengahnya.BOOOOOM!Ruang di sekitar mereka retak dan hancur seperti cermin yang dipukul dari dalam. Gelombang energi yang lahir dari benturan itu menyapu seluruh area Pulau Sorna, melenyapkan makhluk-makhluk yang lebih lemah di sekitar lokasi itu dalam sekejap tanpa memberi mereka waktu untuk merasakan apa yang mengakhiri mereka.Napas Ryan berhenti sesaat.'Kalau serangan seperti itu mengarah kepadaku...'Ia tidak menyelesaikan pikiran itu. Jawabannya sudah j
"Mau lari ke mana kalian?" Suara yang keluar dari makhluk itu tidak terdengar seperti suara manusia. Dingin, bergema, dan mengandung ejekan yang tidak butuh nada tinggi untuk terasa menusuk. Sepasang mata yang terbuka di dalam wujud iblis yang kini sempurna itu menatap ke arah keduanya yang melarikan diri. "Bocah, ada masalah besar!" Suara Andrey Xerxes menghantam pikirannya dari dalam Kuburan Pedang dengan nada yang tidak pernah ia dengar dari tetua itu sebelumnya. Serius. Tanpa satu pun nada bercanda yang biasanya menyelip. "Kenny Brook tidak benar-benar meledakkan dirinya. Ia memanggil jiwa iblis sejati yang tersembunyi di dalam pulau ini dan membiarkannya merasuki tubuhnya sebagai ganti. Lari sekarang!" Ekspresi Ryan berubah seketika. 'Iblis sejati?' Ia tidak membuang waktu untuk bertanya lebih jauh. Tubuhnya sudah bergerak ke arah yang berlawanan dari makhluk itu dengan kecepatan penuh bahkan sebelum pikirannya selesai memproses semuanya. SYUUTT! Bersamaan dengan it
Pandangannya jatuh ke lubang yang dalam di bawah kakinya. Kenny Brook terbaring di dasarnya. Pedang hitam pekatnya tertancap miring di tanah di sampingnya, sudah tidak lagi di tangan yang memegang eratnya tadi. Armor artefak pertahanan yang menutupi tubuhnya terbelah bersih menjadi dua oleh kekuatan tebasan Ryan, dan di dadanya terpahat bekas garis miring yang menganga dalam hingga tulang rusuknya terlihat. Salah satu tangannya terpelintir dengan tulang yang menonjol keluar. Kakinya patah dari benturan keras ke tanah. Matanya yang merah darah masih menyala dengan kebencian dan niat membunuh yang tidak padam, namun tubuhnya tidak bisa bergerak. Bahkan bangkit pun sudah melampaui kemampuannya sekarang. Napasnya masih ada, namun tipis. Ia sudah berada di ambang kematian dan telah sepenuhnya kehilangan kemampuan untuk bertarung. Ryan menatapnya dari atas lubang dengan ekspresi yang tenang. 'Orang ini memang bukan lawan yang bisa diremehkan. Tiga tebasan penuh dan ia masih bernapa
"Kakak Ryan!" Ekspresi Lehman Sun berubah seketika. "Jangan percaya padanya! Dia berbohong!" Ryan tersenyum tipis dengan nada yang acuh. "Aku tidak terlalu akrab denganmu. Kalau dia menginginkan nyawamu, itu urusan kalian berdua." Wajah Lehman Sun memucat. Napasnya tertahan. 'Dengan kekuatan yang sudah Kenny Brook tunjukkan tadi, melarikan diri pun belum tentu bisa tanpa menanggung luka yang parah!' Kenny Brook tertawa dengan kepuasan yang tidak ia sembunyikan. "Nah, begitu seharusnya. Kau tahu kapan harus mundur dan itu tanda orang yang tidak bodoh." Matanya beralih ke Ryan dengan nada yang dibuat terdengar santai. "Tinggalkan pulau ini sekarang. Kau bukan dari Sekte Nine Demon, jadi selama kau tidak membocorkan apa yang terjadi hari ini kepada siapa pun, aku tidak akan mempersulit langkahmu." Begitu kata-kata itu selesai meluncur, perhatiannya beralih penuh ke Lehman Sun. Matanya menyipit dengan cara yang tidak menyenangkan, seperti predator yang sudah memutuskan kapan akan
Gawain Wealth melirik Jet Quins dengan tatapan dingin sebelum beralih pada Rindy. "Nona Rindy," ujarnya ramah, "saya dengar Kota Golden River sangat indah saat ini. Saya rasa tidak ada salahnya Anda menikmati waktu lebih lama di sini. Bukankah begitu, Nyonya Jenny?" Ibu Rindy hanya bisa menganggu
Suara tulang patah bergema di gang saat Ryan mematahkan leher Tetua Jorge dengan satu gerakan mulus. Tidak ada keraguan sedikit pun di matanya. Pengalamannya selama lima tahun telah mengajarinya bahwa di dunia ini, kebaikan hati hanya akan membawamu pada kematian. Lima tahun yang lalu, saat perta
Ketika Selly mendengar ada mobil lain datang, matanya sedikit menyipit dan jantungnya mulai berdebar kencang. Siapa lagi yang lebih menakutkan dari tamu-tamu sebelumnya? Ia menoleh dan melihat sebuah limusin Lincoln meluncur anggun, namun berhenti agak jauh dari gedung Golden Dragon Group. Peng
Ryan mengangguk singkat. Patrick memberi isyarat pada sopir berambut cepak, dan van mulai melaju ke arah barat Kota Golden River. Setengah jam kemudian, setelah melewati beberapa pos pemeriksaan, van berhenti di depan sebuah bangunan dengan arsitektur unik. "Ryan, kartu akses ini untukmu," Patrick







