LOGINJoko menghentikan langkahnya di depan pintu kamar itu, lalu membuka pintu kamar itu ~ untuk mengintip ke dalamnya. Seketika, pemandangan panas tercipta di matanya. Seorang pria dan wanita yang sedang terjerat liar di atas ranjang tanpa sehelai pakaian pun yang menutupi tubuh mereka. Melihat pasangan itu, senyuman lebar terlukis di wajah Joko. "Hehe, dia ternyata berhasil!" gumamnya di dalam hati. Ternyata, pasangan yang sedang terjerat dalam kenikmatan itu adalah Rian dan Lulu. "Tubuh Lulu bagus juga ternyata," gumam Joko sambil melihat lekuk tubuh wanita itu. "Rian, kau harus berterima kasih kepadaku, kalau gak ada kesempatan ini ~ kau pasti susah menaklukkan Lulu." Joko berhenti mengintip. Dia menutup pintu kamar itu, lalu melangkah pergi. Dia pergi ke belakang vila tempat minum-minum sebelumnya, dia ingin melihat apa masih ada yang masih di sana. Sampai di sana, dia di buat menggelengkan kepalanya. Ternyata, masih banyak yang berada di sana. Mereka sudah tertidur pulas dengan
Joko tak membuang waktu lagi, dia menyerang bibir kedua wanita itu secara bergantian. Ciuman panas pun mereka lakukan. Kedua tangan Joko berkeliaran di tubuh kedua wanita itu. Satu tangannya memainkan semangka Sumi sementara yang lainnya bermain di apem Rara. Kedua wanita itu terus menggeliat-geliat keenakan dan desahan terus keluar dari mulutnya. Setelah puas berciuman, Joko melahap puncak gunung Sumi dan menghisapnya serta memainkannya dengan lidahnya. "Ahhh... ahh..." Sumi mendesah keras dan ekspresi wajahnya tampak sangat menikmati. "Aku juga mau!" pinta Rara sambil menyodorkan dadanya ke arah Joko. Joko meliriknya, lalu dia pun melahap puncak merah muda milik Rara. Sensasi isapan itu membuat Rara mengejang-ngejang keenakan.Tangan Joko yang bermain di semangka Sumi pindah ke apemnya. Di sana dia menggesekkannya sampai bagian itu basah kuyup."Siapa dulu yang mau aku tusuk?" tanya Joko dengan nada main-main dan ekspresi sangat nakal."Terserah kamu saja," balas Rara."Kalai
Mereka semua berkumpul di belakang vila ~ di samping kolam berenang. Beberapa botol minuman berjajar di hadapan mereka. Joko mulai mengajarkan mereka semua bermain saham. Pelajaran yang dia berikan ~ tidak lain cara menganalisa pasar saham, dan juga memberi tahu saham yang berpotensi memiliki kenaikan yang tinggi. Selain itu, Joko juga memberi tahu beberapa saham yang stabil dan memiliki risiko anjlok yang sangat sedikit. Dia menyarankan, kalau teman-temannya ingin menabung ~ mereka bisa memasukkan uang mereka ke saham stabil itu. Selain uang mereka tetap utuh ~ mereka akan dapat dividen setiap tahun. "Kalau aku punya 1 miliar, aku beli saham yang stabil. Dapat dividen 10%, berarti aku dapat 100 juta setahun," ucap Rian dengan mata berbinar. "Kalau dapat segitu, sudah gak perlu kerja lagi di pabrik," ucap Bang Ari. "Iya benar banget! Pokoknya aku harus berusaha dapat 1 miliar dulu!" sahut Dori. "Aku ingatkan! Jangan terburu-buru dapat keuntungan besar, jangan serakah! Banyak ora
Sumi dan Rara, terus menempel kepada Joko. Ke mana Joko melangkah, mereka berdua terus mengikutinya. Joko pun tak merasa keberatan ~ sebaliknya dia merasa sangat senang. "Jo, ayo beli itu!" ajak Sumi sambil menunjuk ke pedagang kue."Ayo. Kayaknya enak tuh," Joko setuju.Mereka melangkah pergi. Karena di sana sudah banyak pembeli, jadi mereka harus mengantre. Namun, tanpa di duga para pembeli itu malah menyuruh penjual untuk mendahulukan Joko."Pak, Tuan ini dulu saja!" ucap seorang pria kepada pedagang."Eh, kenapa Tuan? Kan ada datang lebih dulu," balas pedagang itu."Gak apa-apa, Tuan ini dulu saja," balas pria itu buru-buru.Joko menebak, pasti pria itu melihat kejadian sebelumnya di pantai. Karena merasa takut menyinggungnya ~ jadi dia memilih mendahulukannya."Tuan, anda gak perlu seperti ini. Saya gak keberatan mengantre kok," ucap Joko."Gak apa-apa Tuan, silakan anda duluan saja," ucap pria itu.Bahkan ada beberapa pembeli di sana yang menyatakan hal sama seperti pria sebelu
Tak lama kemudian, Tuan Muda Giri menghampiri Joko. "Tuan Joko, sebagai permintaan maaf saya... bagaimana kalau saya traktir anda dan semua teman anda minum-minum di Beach Club." Joko tetap diam tidak menanggapi ucapan Tuan Muda Giri. Dia ingin melihat, apa Tuan Muda Giri akan kesal jika dia memperlakukannya seperti itu.Namun ternyata Tuan Muda Giri tidak terlihat kesal. Senyuman tetap terlukis di wajahnya, hanya saja ekspresi wajahnya itu terlihat canggung."Saya tidak ada niat apapun. Dan aku bisa menjamin ~ gak ada orang yang berani mengganggu di Club nanti!" lanjut Tuan Muda Giri.Joko menatap semua teman-temannya. "Kalian mau pergi gak? Kalau mau, ayo pergi! Kalau nggak ~ gak usah!" ucapnya dengan santai.Semua teman-teman Joko saling melirik satu sama lain. Sesaat kemudian, Bang Ari berkata."Kita gak terbiasa ke tempat seperti itu. Jadi gak mau pergi! Kita mau jalan-jalan saja di wisata malam."Joko mengangguk paham."Kalau para Tuan gak mau ke Club ~ saya akan ganti sama yan
Mata Joko berbinar terang. Senyuman jahat terlukis di bibirnya. "Ternyata kau! Tuan Muda pemilik tambang giok!" ucap Joko.Ternyata pria itu adalah pria yang sama yang menjebak Nadya dan Sonya dulu. "Tu-tuan... a-aku..." Tuan Muda Giri tak bisa menahan lutut pada akhirnya dia pun ambruk berlutut.Mata semua orang hampir melompat keluar saat melihat kejadian itu. Bahkan, pengawal yang ada di belakang Tuan Muda Giri pun bereaksi sama."Hmm... kau masih suka berulah yah. Bagus... sangat bagus! Karena kau masih belum bertaubat... hari ini... aku gak akan bertindak ringan lagi," ucap Joko.Tuan Muda Giri semakin pucat. "Tuan... Tuan... anda jangan salah paham. Aku... aku cuma di undang sama dia!" tunjuknya kepada Tuan Muda Fendi. "Aku gak akan ikut campur! Tolong jangan bawa aku ke masalah ini!" Tuan Muda Fendi jelas panik. "Tuan Muda Giri, ke-kenapa anda?" sebelum perkataannya selesai, Tuan Muda Giri memotong."Diam kau sialan!" teriaknya sambil menunjuk Tuan Muda Fendi. "Kau berani sek
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa







