Mag-log inJoko memperlambat laju mobilnya. Dia melirik Nadya yang masih menunduk. “Orang tuamu dirawat di mana sekarang?” tanyanya pelan. “Di rumah,” jawab Nadya lirih. “Kakek menyiapkan ruangan khusus untuk mereka. Dokter dan perawat berjaga dua puluh empat jam.” Joko mengerutkan kening. “Keluargamu kan sangat berpengaruh. Memangnya gak ada cara buat menyembuhkan mereka?” Nadya menghela napas panjang. Matanya mulai berkaca-kaca. “Kami sudah berusaha, Jo,” ucapnya dengan suara bergetar. “Dokter-dokter terbaik dari luar negeri sudah didatangkan. Ahli pengobatan tradisional paling terkenal di negeri ini juga sudah dipanggil. Semuanya angkat tangan. Kata mereka, luka dalam yang diderita orang tuaku terlalu parah. Hanya keajaiban yang bisa membangunkan mereka.” Dia buru-buru menyeka sudut matanya, lalu memalingkan wajah ke arah jendela. Joko terdiam. Pikirannya melayang ke buku usang peninggalan kakeknya. Selama beberapa waktu ini, dia sudah mempelajari teknik alkemis dan akupunktur dari bu
Beberapa saat kemudian, kamar yang tadinya riuh oleh desahan dan suara benturan kulit, perlahan berubah senyap. Hanya tersisa suara napas yang tersengal. Joko dan Nadya berbaring berpelukan di atas ranjang yang berantakan. Tubuh keduanya basah oleh keringat. Seprai kusut tak berbentuk, bantal-bantal berjatuhan ke lantai. Nadya menyandarkan kepalanya di dada Joko. Tubuhnya terasa lemas sekali, seolah seluruh tenaganya terkuras habis. Bahkan untuk mengangkat tangan pun rasanya berat. “Kamu ini manusia apa bukan, sih?” gerutunya dengan suara serak. “Kok bisa kuat banget?” Joko terkekeh sambil mengelus rambut Nadya yang lembap. “Hehe, tentu saja aku manusia. Manusia yang bisa memuaskan wanita.” Nadya memukul pelan dadanya. “Dasar sombong.” Tapi dalam hati, dia akhirnya mengerti. Selama ini dia tak habis pikir kenapa Joko bisa punya begitu banyak wanita di sisinya. Sekarang dia paham. Dengan stamina seperti itu, satu wanita jelas tidak akan sanggup menampungnya. Untuk beberapa saat
Ciuman Nadya begitu menuntut, membuat Joko sempat kewalahan. Tapi hanya sebentar. Detik berikutnya, dia membalas dengan sama ganasnya. Lidah mereka saling membelit, napas mereka saling memburu. Tangan Joko bergerak ke punggung Nadya, melepaskan kaitan renda hitam itu dengan satu gerakan. Dua bongkahan kenyal Nadya terbebas, memantul pelan di hadapannya. Joko tak membuang waktu. Dia membenamkan wajahnya di sana, meremas keduanya dengan kuat, lalu menghisap puncak merah mudanya dengan rakus. “Ahh! Jo...” Nadya melenguh panjang. Punggungnya melengkung, jemarinya meremas rambut Joko, menekannya lebih dalam. “Punyamu padat banget,” bisik Joko di sela-sela kecupannya. “Harum lagi. Aku bisa gila.” “Jangan... banyak omong...” desah Nadya dengan wajah merah padam. Tapi tangannya justru semakin erat mencengkeram rambut Joko. Joko terkekeh. Satu tangannya perlahan turun, menyusuri perut rata Nadya yang bergetar, lalu terus ke bawah. Begitu jemarinya menyentuh bagian paling sensitif itu,
Joko menimbang sejenak. Berbohong pun percuma, Nadya pasti akan tahu juga cepat atau lambat. “Sonya ada di sini,” jawabnya jujur. “Di hotel. Sama aku.” Hening di seberang telepon. Joko bisa membayangkan wajah Nadya yang perlahan menggelap. “Mana Sonya?” ucap Nadya akhirnya, suaranya datar. “Aku mau bicara sama dia.” Joko melirik wanita yang masih terlelap di pelukannya. “Dia lagi tidur. Kecapekan.” Hening lagi. Kali ini lebih lama. “Kecapekan,” ulang Nadya dengan nada yang membuat bulu kuduk Joko sedikit berdiri. Joko terkekeh pelan, tak berani menjawab. “Setelah dia bangun, suruh dia pulang ke vila,” ucap Nadya tegas. “Kamu juga ikut ke sini.” Sambungan telepon langsung terputus sebelum Joko sempat membalas. Joko menatap layar ponselnya sejenak, lalu perlahan tersenyum. Nada suara Nadya barusan jelas bukan nada wanita yang tidak peduli. Itu nada wanita yang sedang cemburu. Pikiran-pikiran nakal mulai bermunculan di benaknya. === Vila Nadya, satu jam kemudian... Ferrari
Joko terdiam. Dia menatap wajah Sonya lekat-lekat. Wanita yang biasanya paling berani menggoda, yang tadi menyeretnya ke hotel dengan penuh nafsu, kini terbaring di bawahnya dengan wajah tegang. Jemarinya mencengkeram lengan Joko, dan bibirnya sedikit gemetar. “Sonya, kamu kenapa?” tanya Joko heran. “Kok tiba-tiba gugup gitu?” Sonya memalingkan wajahnya. Pipinya memerah, kali ini bukan karena gairah. “Aku...” Dia menggigit bibirnya. “Aku masih segel.” Joko membeku. Matanya membelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka. Dia menatap Sonya seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil. Selama ini, dia mengira Sonya adalah wanita yang sudah berpengalaman. Setiap kali bertemu, Sonya selalu menempel padanya tanpa malu. Barusan di kantor pun, wanita itu menggodanya habis-habisan dengan begitu lihai. Tak pernah sekali pun terlintas di benak Joko bahwa wanita segenit itu ternyata b
Untuk beberapa saat, Sonya hanya bersandar di dada Joko dengan mata terpejam, membiarkan remasan tangan Joko membuatnya terbuai. Laporan di layar komputer masih terbuka, kursornya berkedip-kedip di tengah kalimat yang belum selesai. Joko mendekatkan bibirnya ke telinga Sonya. “Masih lama gak?” bisiknya. “Aku gak tahan nih.” Sonya membuka matanya perlahan, lalu menoleh ke belakang. Bibirnya menyentuh bibir Joko dalam kecupan singkat. “Tunggu sebentar, ya,” ucapnya manja. “Tinggal sedikit lagi. Kalau gak selesai, Nadya bisa ngomel.” Dia memaksa dirinya kembali menatap layar komputer, berusaha mengetik dengan jemari yang sedikit gemetar. Namun Joko tidak berhenti. Tangannya bergerak ke depan, melepaskan kancing kemeja Sonya satu per satu. Sonya meliriknya sekilas, tapi tidak melarang. Dia justru menegakkan punggungnya, membusungkan dada, sengaja memberi Joko akses lebih leluasa. Kemeja itu terbuka. Joko menurunkan penutup terakhir di baliknya, membebaskan dua semangka besar Sonya.
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu







