LOGINTangan Joko bergerak semakin berani. Kedua tangannya hinggap di semangka besar Tante Lestari lalu meremasnya dengan lembut.
"Mmm...." Tante Lestari menggigit bibirnya, berusaha menahan desahannya. "Kamu ini yah... jangan ganggu Tante, kan Tante lagi masak," keluhnya."Bentar aja Tan, gak akan lama kok," bisik Joko sambil meremas pantat gagah Tante Lestari, lalu menyingkap daster bagian bawahnya ke atas."Jo, jangan nekat deh, ini bahaya banget tahu," Tante LestariJoko meninggalkan rumah Rara setelah matahari menggantung cukup tinggi. Dia melanjutkan mobilnya pulang ke rumah Lana.Setibanya di sana di sambut oleh Lana, Sinta, Ayu, dan Mona. Keempat wanita itu semuanya ada di rumah."Sayang, akhirnya kamu pulang," ucap mereka semua hampir bersamaan.Joko memeluk satu persatu wanita itu. Setelah itu, mereka masuk ke dalam rumah."Aku punya kabar bagus lho. Kalian mau dengar gak?" tanya Joko dengan riang sambil duduk di sofa ruang tamu."Kabar apa?" tanya keempat buru-buru.Joko menceritakan bahwa dia menemukan mutiara kaisar. Dia juga memberi tahu kalau mutiara itu mau di beli Kakek Nadya seharga 1,2 triliun.Mendengar itu, semua wanita sangat terkejut sampai otak mereka sangat sulit memproses. "Jo, kamu gak lagi berkhayal kan? 1,2 triliun lho... itu banyak banget!" ucap Ayu."Iya Jo, walau mutiara gak murah, tapi gak semahal itu kan?" sahut Mona."Hei, m
Tangan Joko bergerak semakin berani. Kedua tangannya hinggap di semangka besar Tante Lestari lalu meremasnya dengan lembut. "Mmm...." Tante Lestari menggigit bibirnya, berusaha menahan desahannya. "Kamu ini yah... jangan ganggu Tante, kan Tante lagi masak," keluhnya."Bentar aja Tan, gak akan lama kok," bisik Joko sambil meremas pantat gagah Tante Lestari, lalu menyingkap daster bagian bawahnya ke atas."Jo, jangan nekat deh, ini bahaya banget tahu," Tante Lestari berusaha memberontak."Aman kok, asal jangan berisik!" Joko menurunkan kain renda tipis yang menghalangi celah lembah Tante Lestari. "Jo, kamu ini benar-benar yah, jangan Jo! Kalau kamu mau lagi... nanti saja kalau gak Rara," bujuk Tante Lestari. "Aku maunya sekarang! Punyaku kalau pagi-pagi gini sangat bersemangat," balas Joko sambil mengeluarkan miliknya yang sudah keras. "Kamu mending minta sama Rara saja kalau gitu. Mumpung dia lagi di kamar!"
Joko berbaring di sebelah Tante Lestari, lalu dia memeluk wanita itu. "Gimana tan? Puas gak?" tanyanya dengan nada menggoda."Jangan di tanya lagi, aku sudah sangat puas!" balas Tante Lestari.Joko terkekeh pelan, lalu dia menggigit pelan bibir merah Tante Lestari dan menghisapnya beberapa kali.Tante Lestari membuka matanya. Dia menjauhkan wajah Joko. "Kamu masih belum puas?""Hehe, iya. Tante mau layani aku lagi?" tanya Joko sambil memainkan alisnya."Jangan harap! Kalau main lagi, aku akan benar-benar mati kelelahan," balas Tante Lestari.Joko tertawa. Haha, oke... oke, aku cuma bercanda kok."Tante Lestari menatap Joko dengan tatapan lekat. "Sekarang aku paham, kenapa kamu punya banyak wanita. Pria sekuat kamu gak akan mungkin cukup di temani satu wanita.""Tan, ada yang ingin aku katakan," ucap Joko ekspresinya menjadi serius."Katakan saja!" balas Tante Lestari."Aku mau pindah ke ibu kota. Semua wanita yang ingin mengikutiku aku bawa ke sana termasuk Rara. Tante mau ikut juga g
Kembali ke Joko dan Tante Lestari. Terlihat, Tante Lestari baru saja mengeluarkan batang besar dari mulutnya. Dia membaringkan tubuhnya di samping Joko. "Ayo mulai!" ajaknya. Joko bangkit, lalu dia melepaskan kain renda yang menutupi area inti Tante Lestari. Saat lain itu terlepas, pemandangan celah basah yang sangat tembem dan mulus tanpa noda itu terpampang di mata Joko. "Aku sudah menebak! Semuanya pasti bagus!" ucap Joko dengan mata berbinar. "Ngapain sih di lihat terus? Buruan masukin!" ucap Tante Lestari sambil melemparkan tatapan tajam. "Hehe, jangan buru-buru!" ucap Joko, lalu dia membenamkan wajahnya di area basah itu. Tante Lestari seketika mendongak, sambil mengeluarkan erangan nikmat. Tangannya secara refleks meremas rambut Joko, dan menekan kepala Joko ke bawah. "Jo, kamu... ahh... nakal banget sih..." Suara-suara percikan air terdengar di bawah sana. Joko menggunakan keterampilan tarian lidahnya untuk memberi kenikmatan kepada Tante Lestari. "Bocah ini jag
Sampai di dalam kamar Tante Lestari... Setelah menutup pintu dan menguncinya, Tante Lestari menarik Joko ke tempat tidur, lalu dia mendorongnya sampai Joko terbaring di sana. "Wanita ini ternyata sangat ganas!" gumam Joko di dalam hati dengan nafas yang menggebu sakit bersemangatnya. Tante Lestari naik ke atas tubuh Joko, lalu menekannya. "Aku ingin bertanya dulu sama kamu!" ucapnya dengan serius. "Apa itu? Tanyakan saja!" "Kamu dan Rara, pasti bukan cuma teman biasa! Sedari dulu, dia tak pernah membawa teman prianya menginap di rumah. Bahkan mantan pacarnya pun tak pernah!" "Aku gak akan berbohong. Aku dan Rara punya hubungan gelap. Putrimu itu, biasanya menyebutnya teman ranjang!" balas Joko dengan santai. Wajah Tante Lestari sangat muram. "Bocah sialan, kamu berani sekali memperlakukan putriku seperti itu!" bentaknya. "Jangan salahkan aku, putr
Beberapa saat kemudian, Joko keluar dari kamar hanya menggunakan kimono. Kebetulan di kamar itu tersedia handuk mandi seperti itu. Di turun ke lantai bawah dengan langkah santai. Tante Lestari yang sedang menonton tv langsung menoleh ke arah Joko. "Sudah mandinya? Kok gak langsung tidur?" tanyanya sambil tersenyum hangat. "Sudah tan, segar banget, hehe! Saking segarnya sedikit rasa ngantuk tadi jadi hilang," balas Joko. "Tan, boleh aku minta air putih? Aku agak haus." "Boleh dong. Ambil saja di dapur! Kalau mau air dingin juga ada di kulkas, jangan sungkan!" "Kalau gitu aku gak sungkan tan," Joko pergi mengambil segelas air, lalu kembali menghampiri Tante Lestari. "Tante suka nonton film yah?" tanya Joko. "Iya, tante emang agak suka nonton. Kamu mau ikut nonton? Kalau mau, ayo duduk di sini!" ucapnya sambil menepuk tempat di sisinya. "Sambil menunggu
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu







