FAZER LOGINPasar Antik Jalan Kencana... Joko memarkir mobilnya di ujung jalan. Begitu turun, matanya langsung terbelalak. Sepanjang jalan dipenuhi pedagang barang antik. Ada yang membuka toko besar dengan etalase kaca, ada juga yang cuma menggelar tikar di tepi jalan. Guci, patung, keris, uang kuno, lukisan tua, sampai perabot kayu berukir, semuanya dijajakan berjejer seperti pasar tradisional. Suara tawar-menawar terdengar di mana-mana. "Tuan, mampir, Tuan! Ini guci dinasti kuno, asli!" "Keris pusaka, Tuan! Ada isinya!" Joko hanya tersenyum sambil terus melangkah. Dia tahu, di tempat seperti ini, barang palsu jauh lebih banyak daripada yang asli. Beberapa pedagang meliriknya dengan mata berbinar. Penampilan Joko yang rapi dan wajahnya yang tampan membuat mereka mengira dia anak orang kaya yang gampang ditipu. "Sini, Tuan! Ini pusaka peninggalan kerajaan, cuma tinggal satu!" "Jangan percaya sama dia, Tuan! Punya saya yang asli!" Joko melambaikan tangan sambil terus berjalan. Dia berhen
Di dalam kamar Rinda... Lampu tidur menyala temaram. Rinda baru saja selesai mandi. Rambutnya masih setengah basah, tubuhnya hanya berbalut handuk putih. Mendengar pintu terbuka, dia menoleh kaget. "Kak Jo?!" Joko menutup pintu di belakangnya, lalu bersandar dengan senyum nakal. "Tadi siang kamu bilang nanti malam, kan?" Wajah Rinda langsung memerah. "A-aku bilang kita lihat nanti saja..." "Nah, sekarang sudah nanti," balas Joko sambil melangkah mendekat. Rinda mundur selangkah sampai punggungnya menyentuh dinding. Jantungnya berdebar tak karuan. Dia ingin membalas, tapi kata-katanya tertahan di tenggorokan. Joko berhenti tepat di depannya. Tangannya terangkat, menyelipkan helai rambut basah ke belakang telinga Rinda. "Kalau kamu belum siap, bilang saja. Aku gak akan maksa," ucapnya pelan. Rinda terdiam. Sepanjang hidupnya di dunia model, tak pernah ada pria yang menanyakan itu padanya. Mereka semua hanya menganggapnya barang yang bisa dibeli. Matanya memanas. Dia m
Vila Bintang... Suara mesin Ferrari yang menderu terdengar sampai ke dalam vila, disusul dua mobil lain yang berhenti di belakangnya. Bila dan Rinda turun dari mobil masing-masing, lalu memandang bangunan vila yang begitu megah dengan mata terbuka lebar. "Ini... vila kakak?" tanya Rinda tak percaya. "Iya. Ayo masuk!" Joko mengangkat dua koper sekaligus dengan satu tangan, seolah koper itu tak ada beratnya. Bila mendekat, lalu berbisik, "Kak Jo, di dalam ada siapa saja?" Joko tersenyum. "Kan aku sudah bilang, aku tinggal sama beberapa wanitaku." "Beberapa?" "Delapan," jawab Joko pelan. Rinda langsung menoleh. "De-delapan?!" Bila menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. Begitu pintu terbuka, suasana ruang tengah yang tadinya ramai langsung hening. Sinta, Lana, Ayu, dan Mona sedang duduk di sofa sambil menonton televis
Di sebuah kamar hotel...Lampu kamar menyala redup. Selimut putih berantakan di atas tempat tidur, pakaian berserakan di lantai.Tuan Muda Rico berbaring bersandar di kepala ranjang dengan ekspresi puas. Di sampingnya, Feli menarik selimut sampai ke dada. Wajahnya tampak lelah."Tuan Muda, apa orang yang kamu kirim akan berhasil mengalahkan Joko?" tanya Feli pelan."Aku sangat yakin! Aku gak percaya kalau si Joko itu sudah berada di ranah Master! Walaupun benar, keempat orang yang aku kirim pasti bisa menghabisinya!" balas Tuan Muda Rico.Feli menggigit bibirnya. Sorot matanya tampak rumit. Entah kenapa, dia malah mengkhawatirkan keselamatan Joko.Beberapa saat yang lalu, dia sudah meminta Tuan Muda Rico untuk berhati-hati. Namun pria itu sama sekali tak menghiraukannya dan hanya memikirkan kesenangannya sendiri.Feli mengepalkan tinjunya di balik selimut. Ekspresi wajahnya tampak sangat tertekan."Jalang, kau memang yang terbaik!" ucap Tuan Muda Rico sambil tertawa puas.Feli tidak m
Joko mengepalkan tinjunya erat. Seketika, cahaya putih keemasan kembali meledak dari tinjunya. Cahaya itu berputar liar, lalu perlahan membentuk kepala naga yang terlihat semakin jelas. WUSS! Aura penindasan yang mengerikan menyebar ke seluruh tempat. Udara di sekitarnya seolah bergetar dan menjadi kacau akibat tekanan yang dipancarkan Joko. Wajah keempat pria itu seketika memucat. Mereka merasa sangat terancam dengan serangan yang di persiapkan Joko itu. "Aku rasa... teknik tinju itu... jauh lebih kuat dari Pemimpin Keluarga!" ucap salah satu pria. "Kita gak akan bisa menghadapinya! Ayo cepat pergi!" ajak pria berkulit gelap. Keempat pria itu hendak berbalik, namun Joko tentu tak akan membiarkan itu. Dia langsung melempar tinjunya. "Rasakan dulu ini! Baru kalian pergi!" teriak Joko. Kepala naga yang terbentuk dari energi itu melesat ke arah keempat pria itu. "Sial!" teriak keempatnya, sambil menyilangkan tangan mereka yang di aliri energi untuk menahan serangan
Permainan panas antara Joko dan Bila berlangsung hampir satu jam. Selama itu, mereka berkali-kali mencapai puncak. Bila yang paling banyak mendapatkan puncaknya, sampai seprai basah kuyup oleh cairan miliknya. Rinda merasa takjub dengan ketahanan Joko. Dia tak menyangka, kalau Joko akan sekuat itu di ranjang. Baru kali ini, dia melihat pria sekuat itu. Joko mengenakan celana dalamnya, lalu dia turun dari tempat tidur meninggalkan Bila yang sudah terkulai lemas. Dia menghampiri Rinda, lalu duduk di sofa tempat Rinda berbaring. "Hehe, kamu hebat banget! Bisa bertahan sampai akhir," ucapnya dengan nada menggoda. Rinda menatap Joko dengan tatapan sayu. "Kak Jo, jangan macam-macam yah. Cepat pakai pakaian kakak!" Joko meraih gelas berisi jus, lalu meneguk jus di dalamnya sampai habis. Setelah meletakkan kembali gelas itu, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Rinda. "Kamu yakin gak mau nyoba?" tanyanya dengan nada main-main. Rinda menggigit bibirnya, lalu dia memalingkan wajahnya dan
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu







