LOGINSatu minggu berlalu dengan cepat. Setiap pagi sebelum matahari terbit, Joko sudah duduk bersila di halaman belakang. Dia mengikis serpihan kecil Pil Pemurnian Fisik, menelannya, lalu menahan rasa panas yang membakar tubuhnya dari dalam selama berjam-jam. Hari demi hari, rasa sakitnya semakin berkurang. Tubuhnya semakin terbiasa. Dan serpihan yang dia telan pun perlahan dia tambah ukurannya. Siang harinya, dia mengurung diri di ruang alkemis, berlatih meramu pil dengan bahan-bahan dari cincin. Malam harinya, dia mempelajari Teknik Akupunktur Jarum Hidup Mati dari buku kakeknya. Teknik itu yang paling sering membuatnya termenung. Jika sempurna, teknik ini bisa menghidupkan orang yang sudah di ambang kematian. Membangunkan orang yang koma, tentu bukan hal mustahil. Setiap kali membaca halaman demi halaman, wajah Nadya yang berkaca-kaca saat menceritakan orang tuanya selalu terbayang di kepalanya. “Belum,” gumamnya pada diri sendiri. “Aku belum cukup menguasainya. Kalau gaga
Joko menatap layar ponselnya sambil tersenyum lebar. Verona yang berdiri di dekatnya ikut melirik. “Kenapa senyum-senyum begitu?” “Nadya sama Sonya mau pindah ke sini,” jawab Joko. Ruang tengah langsung riuh. “Serius?!” seru Bila. “Kak Nadya mau tinggal di sini?” “Wah, makin ramai saja,” ucap Ayu sambil tertawa. Lana yang baru turun dari tangga dengan rambut masih berantakan ikut menyahut, “Kamarnya cukup gak, Sayang? Vila ini memang besar, tapi penghuninya makin banyak.” “Lantai tiga masih ada beberapa kamar kosong,” jawab Joko santai. Tante Lestari menggeleng pelan sambil tersenyum. “Joko, Joko. Lama-lama vila ini bisa jadi asrama.” Semua orang tertawa. Hanya Verona yang terdiam sejenak. Dia menatap para wanita yang begitu akrab satu sama lain, lalu menatap Joko yang dikelilingi mereka. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di hatinya, perasaan aneh yang tak bisa dia jelaskan. Dia buru-buru menepisnya, lalu meraih tasnya. “Aku pulang dulu. Minggu depan aku hubungi kamu soal
Cahaya pagi menembus celah gorden kamar Joko. Lana dan Mona masih terlelap di kedua sisinya, rambut mereka berantakan di atas bantal, selimut hanya menutupi sebagian tubuh mereka. Joko perlahan melepaskan diri dari pelukan keduanya, berusaha tidak membangunkan mereka. Tapi Mona sudah membuka sebelah matanya. “Mau ke mana?” gumamnya serak. “Latihan,” jawab Joko sambil memakai kaus. “Kalian tidur saja.” Mona mendengus, lalu menarik selimut menutupi kepalanya. “Semalam gak tidur, pagi-pagi masih kuat latihan. Dasar monster.” Lana terkikik pelan di balik bantal, matanya masih terpejam. Joko tertawa kecil, lalu melangkah keluar kamar. === Halaman belakang Vila Bintang masih sepi. Embun menempel di rerumputan, udara pagi terasa sejuk. Joko duduk bersila di tepi kolam renang, memejamkan mata. Dia memusatkan pikirannya pada cincin perak di jari manisnya. Detik berikutnya, sebuah botol porselen kecil muncul di telapak tangannya. Dia membuka tutupnya. Aroma herbal yang pekat langsung
Malam itu, meja makan Vila Bintang terasa lebih ramai dari biasanya. Sumi dan Rara memasak lebih banyak dari biasanya, seolah ingin merayakan sesuatu. Ayam bakar, ikan goreng, sayur asem, sambal terasi, dan berbagai lauk lain memenuhi meja panjang. Nadya dan Verona ikut makan malam di sana. Nadya duduk di samping Joko, sementara Verona duduk di seberang, diapit Bila dan Rinda. Suasananya hangat. Para wanita saling bercanda, sesekali menggoda Joko. Senyum di wajah Joko pun perlahan kembali seperti biasa. “Sayang, habis ini kamu mau ngapain?” tanya Lana sambil menuangkan air ke gelas Joko. “Mau langsung cari keluargamu?” Joko menggeleng. “Belum bisa. Kakek bilang, aku baru boleh mencari mereka kalau sudah di atas Raja Bela Diri. Sekarang aku masih jauh dari itu.” “Terus?” tanya Ayu. “Aku mau fokus berlatih,” jawab Joko. “Sambil itu, aku mau mendirikan perusahaan farmasi.” Verona yang sedang menyuap nasi langsung berhenti. Dia mengangkat wajahnya, menatap Joko dengan mata
Joko membaca ketiga surat itu sekali lagi. Lalu sekali lagi. Dan sekali lagi. Setiap kalimat dari ibunya membuat matanya kembali basah. Setiap kata dari ayahnya membuat dadanya terasa sesak. Setiap pesan dari kakeknya membuatnya ingin berteriak memanggil mereka. Entah sudah berapa kali dia membacanya. Langit di luar jendela perlahan berubah jingga, lalu mulai meredup. Akhirnya, Joko melipat ketiga surat itu dengan hati-hati, persis seperti lipatan aslinya. Dia memasukkannya kembali ke dalam kotak kayu tua itu, lalu menyimpannya di laci paling dalam lemari. Dia menatap cincin perak di telapak tangannya, lalu memakainya di jari manis tangan kirinya. Ukurannya pas, seolah memang dibuat untuknya. Setelah itu, dia mengambil buku kuno usang peninggalan kakeknya dari meja. Dia membalik halaman demi halaman, mencari petunjuk yang disebutkan dalam surat. Di halaman-halaman terakhir, tersembunyi di antara catatan teknik bela diri, dia akhirnya menemukannya. Sebuah gambar cincin dengan u
Ferrari SF90 berhenti di depan Vila Bintang, disusul mobil hitam milik Verona di belakangnya. Joko turun lebih dulu. Tanpa menunggu siapa pun, dia langsung melangkah masuk ke dalam vila dengan langkah cepat. Tangannya menggenggam kunci perunggu itu erat-erat. Di ruang tengah, para wanita sedang berkumpul. Sinta dan Ayu menonton televisi, Lana dan Mona mengobrol di sofa, Sumi dan Rara menyiapkan camilan, sementara Bila dan Rinda bermain ponsel di karpet. Tante Lestari dan Nyonya Desi duduk di dekat jendela. “Sayang, sudah pulang?” sapa Lana sambil tersenyum. Joko tidak menjawab. Dia hanya mengangguk singkat, lalu terus berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Pintu kamar tertutup di belakangnya. Para wanita saling pandang dengan heran. “Joko kenapa?” tanya Ayu bingung. “Gak biasanya dia begitu.” “Mukanya serius banget,” tambah Mona khawatir. Tak lama kemudian, Nadya melangkah masuk, disusul seorang wanita cantik bergaun merah anggur yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Se
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in







