MasukDi sore hari... Joko pergi menemui ketiga gadis SMA di kosan Mia. Karena sebelumnya dia sudah menghubungi mereka, dan meminta mereka berkumpul di kosan Mia. Sampai di sana, ketiga gadis itu berebut meminta pelukan Joko. Mereka sudah cukup lama tidak bertemu Joko, yang membuat mereka merindukannya. "Kakak ke mana saja sih? Kakak sudah gak mau kita lagi yah," keluh Tania. "Iya. Kakak pasti gak mau kita lagi!" sahut Mia. Dea paling pengertian. Dia tak merengek seperti Tania dan Mia. "Mungkin kakak lagi sibuk!" Joko menepuk kepala Dea. "Benar. Aku memang lagi sibuk akhir-akhir ini. Aku juga kan sesekali suka kasih tahu kalian kesibukanku," ucapnya dengan nada lembut. Tania dan Mia melepaskan pelukannya di tubuh Joko. Kemudian, mereka mendudukkan Joko di tempat tidur. "Emangnya sibuk apa sih kakak sekarang?" tanya Tania sambil duduk di pangkuan Joko dan melingkar tang
Benar saja, beberapa bawahan Bang Darto datang. Bahkan, ada beberapa yang membawa anggota keluarga mereka. Seketika, ruang tamu rumah Bang Joko penuh oleh orang-orang. "Kursinya gak cukup, gak apa-apa kan duduk di lantai?" tanya Bang Darto. "Gak apa-apa Bang, santai saja," balas beberapa orang itu. Joko berkenalan dengan semua anggota keluarga bawahan Bang Darto. Ternyata, hampir semua bawahan Darto sudah menikah dan ada beberapa yang bahkan sudah memiliki anak. Semua keluarga bawahan Bang Darto berterima kasih kepada Joko. Karena, setelah mengikuti Joko ekonomi keluarga mereka membaik, dan juga pandangan orang lain kepada mereka tidak seburuk dulu. Joko berbincang di sana sampai hampir menjelang malam hari. Dia membahas kepergiannya ke ibu kota, dan juga rencananya yang akan membawa Bang Darto dan semua bawahannya ke sana. Awalnya, anggota keluarga para preman itu tampak khawatir. Karena Joko bilang, Bang Darto akan jadi pengawalnya di sana. Namun, setelah Bang Darto dan baw
Sumi teringat sesuatu. "Kok aku sampai lupa sih. Pas di pantai, teman satu kampung Joko pernah bilang kalau preman di desa sudah jadi bawahan Joko. Kok aku gak kepikiran, kalau preman itu Bang Darto sama bawahannya." Keberanian semua keluarganya Sumi sudah musnah. Mereka sudah tak berani membuka mulut, setelah mendengar ucapan Bang Darto. "Nona Sumi, kamu yakin ingin memutuskan hubungan keluarga? Sama memutuskan pertunangan? Kalau yakin, biar aku saja yang mengurusnya!" ucap Bang Darto sambil menatap Sumi. "Kalau pertunangan, aku yakin. Tapi, kalau memutuskan ikatan keluarga, jika bisa di damaikan ~ gak perlu sampai putus hubungan. Tapi, untuk ke depannya, apapun yang aku punya, apapun yang akan kulakukan, mereka gak ada hak ikut campur!" tegas Sumi. Bang Darto menatap salah satu warga. "Ambil kertas sama pulpen! Masalah seperti ini harus tertulis jelas!" Warga itu buru-buru pergi. "Orang tua,
Para warga itu saling menatap sambil berbisik-bisik. Kemudian, mereka menatap Joko dan keluarga Sumi. "Tuan ini gak salah, Tuan Jang, kamu dan keluargamu memang terlalu kasar sama Sumi. Itu anakmu, kalau kamu rela mengorbankan kebahagiaannya demi egomu, kamu sungguh orang tua yang kejam!" ucap seorang pria paruh baya. "Jangan ikut campur kau! Keluargaku, aku sendiri yang menentukan!" teriak ayah Sumi. Semua warga di sana melemparkan tatapan jijik ke arah semua anggota keluarga Sumi. "Dasar gak tahu malu, kalau aku jadi Sumi, sudah mending putus hubungan saja! Pria yang sama dia tampan dan kaya, ngapain lagi mempertimbangkan keluarga busuknya itu," ucap seorang wanita dewasa. "Di bandingkan sama tunangannya itu, pria tampan itu jelas sangat jauh di atasnya. Bahkan mengelap sepatunya pun tunangan yang di banggakan Tuan Jang itu gak pantas!" Mendengar bisikan para warga, ayah Sumi dan yang lainnya merasa lebih marah. "Berisik kalian! Mending kalian enyah saja sana!" teriak
Di sore hari...Joko tak punya kegiatan lain, akhirnya dia memutuskan pergi ke rumah Sumi. Sebelum pergi, Joko meminta alamat kepada Sumi, dan menyuruh wanita itu bersiap.Di kampung tempat tinggal Sumi sangat ramai sore hari. Banyak warga yang berkumpul di depan rumah, dan ada juga yang berjalan-jalan santai menikmati suasana sore.Saat mobil Joko masuk ke kampung, semua arah pandang warga langsung tertuju ke arah mobil Joko."Di kampung kita ada yang beli mobil baru?" tanya seorang pria paruh baya ke pria di sampingnya."Gak denger juga tuh, gak ada kayaknya. Kalau gak salah ingat, mobil itu harganya lebih dari setengah miliar. Uang sebanyak itu, mana mungkin ada yang punya di kampung kita."Mobil Joko berhenti di depan rumah yang tampak biasa saja, tidak besar ataupun kecil. Melihat itu, para warga berbondong-bondong menghampiri.Saat Joko turun dari mobil, dengan ketampanan dan penampilannya itu para warga menjadi he
"Sebentar Jo, beri aku waktu buat memproses. Ini sungguh terlalu luar biasa," ucap Ayu sambil memijat kepalanya. "Jo, kamu seorang ahli beladiri. Kamu bisa tunjukkan gak keahlianmu yang di luar nalar!" ucap Lana. Joko mengangkat tangannya. Kemudian, dia mengeluarkan energi spiritualnya. Cahaya putih emas meledak, menyelimuti tangan Joko. Detik berikutnya, cahaya itu mengembun membentuk kepala naga yang tampak agak nyata. Mata keempat wanita itu membelalak saat melihat kejadian yang menurut mereka sangat ajaib. "Cahaya itu disebut energi spiritual. Wujud kepala naga tadi adalah teknik tinju yang aku pelajari. Kalau aku menghantamkan tinjuku ini kepada orang biasa, hanya sekali pukul saja pasti bisa melubangi tubuh orang biasa," ucap Joko. Para wanita semakin terkejut dan merasa agak ngeri sampai tubuh mereka sedikit menggigil. Joko menyebarkan energinya, cahaya itu pun lenyap dari tangannya.
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu







