Share

184. PPPN

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-06-16 23:43:10

Lama Rain dan Satria bergumul di sore menjelang malam hari tersebut. Akhirnya keduanya pun menyudahi pergumulan mereka setelah merasa puas.

Kini, Rain yang merasakan pegal pada punggung dan pinggulnya, tampak berbaring lemas di tengah-tengah kasur empuk yang luas.

Sedangkan di pinggiran ranjang, Satria sedang memakai pakaian santai yang diambilnya di dalam lemari.

Setelah memakai pakaiannya, Satria merangkak naik ke atas ranjang, mendekati Rain yang kelelahan akibat terlalu bersemangat berm
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   191. PPPN

    "Sialan! Sepertinya aku harus turun sendiri tangan untuk menyingkirkan bocah itu selamanya!" Tuan Seno yang melihat rekaman video obrolan Tuan Arya, Pak Anjas dan Dokter Bagas di rumah sakit yang dikirimkan oleh anak buahnya, mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh dengan erat. Wajah pria paruh baya itu memerah, sedangkan rahangnya mengeras membuat gigi-giginya beradu dan menimbulkan bunyi gemeretak. "Aku gak akan pernah membiarkan Arya dan Laras hidup tenang dan bahagia di atas penderitaanku. Aku harus menghancurkan mereka sampai gak bisa bangkit lagi." Sorot mata Tuan Seno menunjukkan kebencian, tak senang sama sekali melihat adik dan iparnya hidup tenang dan bahagia. Selanjutnya, Tuan Seno meraih ponselnya yang berada di sudut meja. Lalu menghubungi Pak Hendra selaku orang kepercayaannya selama ini. Tak butuh waktu lama, panggilan tersebut terhubung, dan terdengar suara Pak Hendra dari seberang panggilan. "[Halo, Tuan, ada apa?]" "Ubah rencana yang telah kita rancang. Leny

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   190. PPPN

    Jam menunjukkan pada pukul sebelas malam, Tuan Arya yang terlelap di atas sofa tunggal ruangan VVIP rumah sakit jiwa tempat istrinya tinggal dan di rawat selama ini, terjaga lantaran mendengar dering ponselnya yang tiada henti. Dering nyaring ponsel tersebut membuat Tuan Arya yang mengantuk mau tak mau membuka kedua matanya dan meraih ponselnya yang berada di atas meja. "Siapa yang telepon malem-malem begini? Ganggu waktu orang istirahat aja," gumam Tuan Arya. Di layar ponsel tersebut, tertera nama Pak Anjas. Sepasang mata Tuan Arya seketika mendelik dan rasa kantuknya lenyap begitu saja terbawa angin dingin di malam hari tersebut. Selanjutnya, jempol pria paruh baya itu bergerak, menggeser tombol angkat panggilan di layar ponselnya. Lalu menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya. "Halo, Njas. Ada apa telepon malam-malam begini? Kalau ada hal penting yang mau kamu sampaikan, kenapa gak nunggu besok pagi? Aku baru aja tidur setengah jam, udah kebangun lagi gara-gara panggilan

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   189. PPPN

    Di cafe, Satria terlihat begitu sibuk bersama Tono, merapikan dan menata barang-barang yang ada di tempat tersebut. "Huh... sedikit lagi, Ton." Satria membuang napas sambil menyeka peluh yang membasahi keningnya. Melihat wajah becek Satria yang memerah, Tono menggeleng pelan. Sejak sore sahabatnya itu cosplay menjadi kuli pengangkut barang.Pemuda gagap itu takut Satria yang empat hari lagi akan melangsungkan pernikahan justru tumbang dan sakit lantaran kelelahan bekerja berat. "U-u-udah, bi-bi-biar gue aja, Sat. Na-na-nanti lu tu-tu-tumbang!" kata Tono sambil meletakkan kardus berisi alat-alat tukang ke sudut lantai. "Tanggungan, Ton, dikit lagi. Dari pada lu lanjutin sendirian, mending kita selesaiin sekarang," timpal Satria dengan deru napas memburu. Selanjutnya, Satria melangkah menuju salah satu meja dan menyambar sebotol air mineral dari sana. Dengan gerakan yang sedikit tak sabaran, pemuda gigolo privat tersebut meneguk isinya hingga tersisa setengah."Mau minum kagak lu?"

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   188. PPPN

    Tuk, tuk, tuk! "Rain, udah tidur?" Rain yang berbaring di atas kasur busa kamarnya yang luas dan empuk sambil bermain ponsel, beranjak turun dari atas ranjang tersebut setelah mendengar suara panggilan Pak Anjas. Wanita hamil itu melangkah menuju pintu dan membukanya dengan gerakan perlahan. "Om, ada apa?" tanya Rain sembari tersenyum pada Pak Anjas yang berdiri di depan pintu kamarnya. "Belum tidur kamu?" tanya balik Pak Anjas dan diangguki kepala oleh Rain. "Om boleh masuk? Ada yang mau Om bahas sama kamu." Rain menganggukkan kepalanya, lalu melipir dari ambang pintu tersebut, membiarkan Pak Anjad memasuki kamarnya. Di dalam kamar tersebut, Pak Anjas mendaratkan bokongnya di sofa. Sedangkan Rain berdiri di sampingnya, menunggu apa sebenarnya yang hendak dibicarakan pria paruh baya itu padanya. Di sofa tunggal kamar itu, Pak Anjas mendongak, menatap pada Rain yang diam di sampingnya, "Ngapain berdiri begitu? Duduk sini, Om mau bahas soal calon suami kamu." Mendengar perkataa

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   187. PPPN

    "Ngapain dia telepon aku?"Tuan Arya melepaskan genggaman tangan Nyonya Laras dan membiarkan istrinya memasuki ruangan VVIP khusus tersebut. Setelah memastikan istrinya sudah benar-benar memasuki ruangan tersebut. Tuan Arya melipir ke pinggir pintu dan menerima panggilan yang masuk ke ponselnya. "Halo, ada apa, Mas?" tanya Tuan Arya pada kakaknya yang berada di seberang panggilan. Ya, menelpon adalah Tuan Seno, kakak dari Tuan Arya sendiri. Dan, pria itu yakin sekali jika kakaknya pasti memiliki tujuan penting makanya menepon di siang hari tersebut. "[Tadi aku ke perusahaan, tapi kamu gak ada. Kata resepsionis yang bertugas, dari kemarin kamu sibuk sama urusan rumah sakit. Ada apa? Apa ada masalah sama kondisi kesehatan Laras?!]" Tuan Arya menghela napas pelan. Lagi-lagi kakaknya itu datang ke perusahaan. Sepertinya, Tuan Seno memang berniat memata-matainya atau mungkin sedang menunggu kesempatan yang pas untuk menjatuhkannya dan mengambil alih kepemimpinan Perusahaan Mandala Pri

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   186. PPPN

    "Sial, kalau kayak gini, aku bisa mati dibunuh Tuan Seno!" Pak Hendra yang saat ini menguping pembicaraan Tuan Arya, Dokter Bagas dan Ares, mengepalkan kedua tangannya dengan erat di sisi tubuh, sedangkan wajahnya memucat. Sudah berapa kali ia gagal melenyapkan Satria. Jika kali ini gagal lagi, Tuan Seno pasti akan menghabisinya karena dianggap tidak becus dan melalaikan tugas. "Sebelum Tuan Arya menemui bocah itu, aku harus lebih dulu bicara sama Tuan Seno." Pak Hendra angguk-angguk kepala. Lalu berbalik dan melangkah pergi dari tempat tersebut setelah mendapatkan informasi penting. Pria paruh baya yang selama ini menjadi kaki tangan Tuan Seno, segera pergi menemui majikannya untuk menyampaikan kabar buruk yang di dengarnya dari mulut Tuan Arya dan orang kepercayaannya. Merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Tuan Arya pun memerintahkan Ares untuk kembali ke perusahaan, begitu pula dengan Dokter Bagas yang melanjutkan pekerjaannya. "Kamu udah boleh kembali ke perusahaan!

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status