Masuk"Apa perempuan ini yang Ibu maksud?" Satria menyodorkan layar ponselnya yang menyala pada Bu Yohana. Di mana layar ponsel mahal itu menampakkan foto Satria bersama Nyonya Laras yang tersenyum lebar di taman rumah sakit. Melihat foto tersebut, melotot lebar mata Bu Yohana. Tak menyangka jika Satria sudah lebih lebih bertemu dengan ibu kandungnya. Wanita separuh baya itu termangu. Sepasang matanya menatap pada foto Satria dan Nyonya Laras yang terlihat begitu bahagia. "Perempuan ini bukan, Bu?" tanya Satria lagi lantaran tak mendapatkan jawaban dari ibunya. "Ka-ka-kamu kenal sama dia, Sat? Sejak kapan kamu deket sama dia?" tanya Bu Yohana yang tersadar dari lamunannya. Tangannya menunjuk foto yang tampil di layar ponsel Satria. Satria merespon pertanyaan Bu Yohana dengan anggukkan kepala. Ternyata, wanita asing pernah di tolongnya adalah ibu kandungnya sendiri. Pantas saja rasanya begitu dekat dengan wanita tersebut. "Sekitar sebulan setengah yang lalu, aku gak sengaja nolong per
Usai makan malam, Atika, Danu dan Ayu pun pergi meninggalkan ruang makan. Ketiganya pergi ke kamar masing-masing dan belajar. Di area dapur rumah tersebut, tinggal lah Satria dan Bu Yohana berdua saja. Seperti yang dikatakan Satria sebelumnya, jika ia ingin menanyakan sesuatu yang penting pada ibunya. "Kamu mau tanya apa sama Ibu, Sat? Kok kayaknya serius banget." Satria menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Berusaha mengumpulkan keberanian untuk menanyakan asal usul liontin kalung mahal miliknya. "A-a-anu, Bu, aku mau nanyain soal liontin kalungku," kata Satria dengan pelan seraya mengusap tengkuk lehernya. Di hadapan ibunya, Satria meringis dan takut-takut. Bahkan, wajahnya terlihat sangat tegang, lebih tegang dari batangan yang berada di dalam celananya. Degh! Jantung Bu Yohana berdetak amat cepat. Kaget mendengar perkataan yang keluar dari mulut Satria yang tiba-tiba menanyakan asal usul liontin giok peninggalan ibu kandungnya 20 tahun silam. "Kenapa ana
Rumah sakit jiwa tempat Nyonya Laras di rawat, tampak Tuan Arya sedang berbicara serius dengan Ares, asisten pribadi kepercayaannya. "Gimana, Res?" Pertanyaan itu dilayangkan Tuan Arya pada sang asisten yang berdiri dengan jarak satu meter dari posisinya. Ares yang diperintahkan majikannya untuk mendatangi komplek yang disebutkan Nyonya Laras kemarin dan menyelidiki apakah ada kejadian penemuan bayi 20 tahun silam itu, tampak menghela napas panjang. Pria yang berusia 30 tahunan itu menggeleng pelan. Sedangkan sepasang matanya Tuan Arya dengan tatapan lesunya. "Maaf, Tuan. Penghuni kompleks perumahan itu rata-rata warga pindahan dan baru beberapa tahun tinggal di sana. Warga sebelumnya udah pada pindah ke tempat lain, bahkan gak sedikit juga yang pulang kampung. Karena rata-rata dari mereka adalah orang perantauan!" Mendengar penjelasan Ares, Tuan Arya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Sepertinya, sia-sia saja istrinya mengingat dan menjelaskan semuanya jik
"Punya gak? Barang atau apapun itu yang adek-adek kamu gak punya!" Satria yang duduk ditepian sofa itu mengangkat wajahnya, menatap Rain dengan kening berkerut heran. Pemuda gigolo privat itu menyipitkan matanya yang memang agak sipit. Lalu tangannya bergerak, merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompetnya. "Sebentar, aku punya liontin giok, bentuknya bulan sabit. Dulu selaku aku pakai, tapi belakangan aku lepas karena rasanya agak aneh aja dipakai," kata Satria sambil membuka dompet imitasinya yang agak lusuh. Dari dalam dompet tersebut, Satria mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin bulan sabit berwarna putih bening. "Dulu bapak pernah pesen, katanya barang ini mahal. Siapapun yang pinjem jangan dikasih, apalagi sampai hilang!" lanjut Satria. Tangannya menyodorkan kalung tersebut pada sang kekasih. Melihat liontin kalung tersebut, membeliak sepasang mata Rain. Cepat-cepat ia mengambil kalung yang ada di tangan Satria dan mengamati ukiran yang ada di liontin sabit tersebut
Satria yang saat ini sudah berada di apartemen Gold bersama Rain, tampak duduk termenung di sofa ruang tengah. Wajah pemuda gigolo privat itu terlihat murung, seperti sedang banyak pikiran. Melihat Satria duduk termenung tanpa berkedip di salah satu sofa, Rain yang keluar dari kamar itu pun menghampiri dan menegurnya. "Sayang, mikirin apaan sih? Kok bengong gitu!" Ditegur oleh Rain, Satria pun tersadar dari lamunannya. Ia mengangkat wajahnya dan menatap sang kekasih yang berdiri di hadapannya. Namun, tatapan pemuda itu hanya sesaat, selanjutnya ia mendongak dan memejamkan matanya, lalu mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangan dengan gerakan yang kasar. "Hufttt!" Kening Rain berkerut membuat kedua alisnya bertautan. Ia heran dengan perubahan sikap Satria yang menjadi pendiam setelah pulang dari rumah ibunya. "Kenapa sih? Ada apa?" Rain kembali menegur calon suaminya itu sambil mendaratkan bokongnya di sisi kiri sofa. Satria kembali menatap sang kekasih, wajahnya yang k
"Sayang, aku tahu di mana anak kita!" Nyonya Laras memajukan wajahnya dan berbicara pelan dengan nada serius pada sang suami. "Aku titipin anak kita sama orang di depan jalan simpang komplek A di dekat lampu merah!" Sepertinya, kesadaran wanita yang mengalami gangguan jiwa itu sedikit kembali hingga membuatnya mengingat di mana ia menitipkan putranya 20 tahun silam. Degh! Mendengar perkataan istrinya yang seperti orang normal, Tuan Arya terkejut bercampur senang. "Kami seriusan?" tanya Tuan Arya. Tangannya bergerak, menyentuh dan sedikit menekan kedua bahu istrinya.Nyonya Laras menyengir dan menganggukkan kepalanya. Memberikan respon pada sang suami yang bertanya. "Terus, siapa nama orang itu, Sayang? Kamu bilang apa ke dia saat itu?" Tuan Arya kembali bertanya, mengusap lebih banyak informasi dari istrinya yang mengingat kembali kejadian masa lalu. Kali ini, Nyonya Laras memajukan bibirnya seraya menggeleng pelan. Wajahnya seketika kembali murung dan terlihat begitu sedih.







