分享

181. PPPN

作者: Callme_Tata
last update publish date: 2026-06-15 21:48:12

"Aku akan atur waktu yang baik untuk menemui dan menjemput anak itu nanti!"

Tuan Arya berbicara dengan kalimatnya yang terdengar santai. Namun jelas, jika pria separuh baya itu sedang menahan gemuruh di dalam dadanya.

Jika tidak takut nyawa putranya terancam, sudah pasti ia akan menjemput anaknya saat ini juga.

"Minggu depan adalah hari pernikahan Rain dan pemilik kalung giok itu, Mas. Gimana kalau Mas datang di hari pernikahan mereka aja? Sekalian ajak Mbak Laras!" ujar Pak Anjas yang berdir
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   182. PPPN

    Rain yang saat ini berada di atas ranjang dengan tubuh polos tanpa sehelai benang, berbaring dengan pose yang begitu menggoda.Wanita hamil itu menunggu Satria yang tak kunjung keluar dari kamar mandi. Katanya, Satria yang sudah dua hari tidak mandi, ingin membersihkan diri lebih dulu sebelum melakukan hubungan intim. Namun, sudah lima belas menit berlalu, berondong peliharaan Rain itu tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi yang pintunya tertutup rapat."Ckk, Satria ngapain sih di kamar mandi, kok lama amat?" gerutu Rain sambil mengusap-usap kedua bukitnya yang semakin hari semakin berisi dan padat. Rain yang berbaring dengan posisi miring di atas ranjang tersebut, tak hentinya menggerutu sebal lantaran merasa terlalu lama menunggu sang kekasih yang membersihkan diri. Tak lama kemudian, Satria melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk singkat yang melilit tubuh telanjangnya.Tetesan air dari rambut basahnya, membuatnya terlihat semakin tampan di mata Rain yang ternyata sud

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   181. PPPN

    "Aku akan atur waktu yang baik untuk menemui dan menjemput anak itu nanti!" Tuan Arya berbicara dengan kalimatnya yang terdengar santai. Namun jelas, jika pria separuh baya itu sedang menahan gemuruh di dalam dadanya. Jika tidak takut nyawa putranya terancam, sudah pasti ia akan menjemput anaknya saat ini juga."Minggu depan adalah hari pernikahan Rain dan pemilik kalung giok itu, Mas. Gimana kalau Mas datang di hari pernikahan mereka aja? Sekalian ajak Mbak Laras!" ujar Pak Anjas yang berdiri di belakang Tuan Arya. Mendengar perkataan Pak Anjas, pria separuh itu berbalik. Ia menatap asisten mendiang sahabatnya itu dengan tatapan yang yang dalam, lalu menganggukkan kepalanya. "Baiklah, minggu depan aku akan hadir di pernikahan Rain dan pemuda itu, sekaligus memastikan apakah anak itu memang benar-benar anakku yang hilang atau bukan," kata Tuan Arya seraya mengulas senyum. "Ingat, Njas. Jangan kasih tahu siapa-siapa tentang obrolan kita hari ini!" Pak Anjas menganggukkan kepalanya

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   180. PPPN

    Satria yang menemani Rain makan siang di sebuah warteg sederhana, terlihat murung dan tidak banyak bicara sejak tadi, membuat Rain yang sedang menikmati sup iganya itu menghela napas pelan. "Sayang, kamu gak mau ikut makan?" tanya Rain yang sejak tadi merasa diabaikan. Kalimat yang keluar dari bibir Rain, membuat Satria mengangkat wajahnya dan menatap sang kekasih. "Kamu ngomong apa, Sayang?" tanya balik Satria yang ternyata tidak fokus mendengarkan Rain. Rain yang merasa kesal, menghela napas panjang dan mendengus keras. Wanita hamil itu menarik mangkuk sup iga dan piringnya, lalu membuang muka, tak mau menatap Satria yang menyebalkan. "Nyebelin... kalau gak niat nemenin makan, ngapain gak bilang dari tadi coba!" sungut Rain. Melihat sikap uring-uringan Rain, Satria memejamkan matanya sesaat. Ia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan, berusaha mengurangi gemuruh yang ada di dalam dada dan juga riuhnya isi kepala. Pemuda gigolo privat itu memikirkan Nyonya Laras dan

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   179. PPPN

    "Pak Anjas, tunggu!" Mendengar seseorang memanggilnya, Pak Anjas menghentikan langkah, lalu menoleh dan menatap seorang pria yang baru saja keluar dari lift. Kening pria separuh baya itu spontan berkerut dalam saat melihat orang yang memanggilnya. Orang itu adalah Tuan Seno, kakak dari Tuan Arya. "Tuan Seno, ada apa?" tanya Pak Anjas saat langkah pria itu sudah dekat dengannya. Tuan Seno menyunggingkan sudut bibirnya, sedangkan sepasang matanya menatap Pak Anjas yang berdiri di depan pintu ruangan kerja adiknya. "Gak ada apa-apa, saya cuma mau memastikan penglihatan saya. Ternyata memang benar Pak Anjas yang datang," kata Tuan Seno dengan santai. "Ada keperluan apa sampai repot-repot datang ke perusahaan ini sendiri?" lanjutnya.Kening Pak Anjas semakin berkerut, membuat kedua alisnya bertautan. Pria separuh baya itu heran melihat Tuan Seno yang seolah begitu ingin tahu tujuannya datang ke tempat tersebut. Meskipun heran, sebisa mungkin ia bersikap santai dan biasa saja, "Ah, it

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   178. PPPN

    Bu Karina yang berdiri di pintu balkon, spontan mengerutkan keningnya dalam-dalam, membuat kedua alisnya bertautan. Sedangkan sepasang matanya menatap Pak Anjas yang terlihat mengobrol serius melalui sambungan telepon. "Baiklah, besok aku bakalan ke sana!" Tut, tut! Pak Anjas yang berdiri di pinggiran balkon kamar, menggenggam erat ponsel mahalnya setelah panggilan telepon tersebut berakhir. "Ke sana kemana, Mas? Ada janji temu sama siapa?" Penasaran, Bu Karina pun melangkah mendekati sang suami dan melayangkan pertanyaan. Wanita separuh baya itu ingin tahu, siapa lawan bicara suaminya melalui sambungan telepon tersebut. "Kamu ngobrol sama siapa, Mas?" Bu Karina kembali bertanya, sedangkan sepasang matanya menatap Pak Anjas yang terlihat tegang. Ditanya, Pak Anjas tak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang sembari melangkah memasuki kamar, meninggalkan area balkon. Di dalam kamar, Pak Anjas meletakan ponselnya ke atas nakas lalu mendaratkan bokongnya di at

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   177. PPPN

    "Bu, kalau mulai besok aku kerja di rumah sakit, boleh gak?" Satria berbicara sembari menyodorkan sebungkus nasi padang yang sudah dibukanya ke harapan Bu Yohana. Kening Bu Yohana spontan berkerut dalam. Sedangkan sepasang matanya menatap wajah Satria dengan tatapan yang sulit diartikan. Pikirnya, kenapa putranya tiba-tiba ingin bekerja di rumah sakit. Apakah ada hubungan dengan orang tua kandungnya? "Boleh gak, Bu?" tanya Satria yang tak kunjung mendapatkan jawaban. Namun, Bu Yohana tetap tak bereaksi. Wanita separuh baya itu tetap diam dan terlihat bengong. Melihat diamnya Bu Yohana, Atika yang duduk di sisi kiri itu pun menyentuh lengan ibunya."Bu, kok bengong sih? Bang Sat ngomong sama Ibu tuh!" kata Atika, menyadarkan Bu Yohana dari lamunannya.Bu Yohana yang sempat bengong, memaksakan senyumannya dan menganggukkan kepalanya, merespon pertanyaan Satria tanpa mengucap sepatah kata. Setelah itu, Bu Yohana menarik bungkusan nasi padang yang disodorkan Satria. Lalu menyendok d

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status