LOGINDi sebuah kursi, tepatnya di depan meja rias, Rain yang duduk tak hentinya tersenyum. Sepasang matanya menatap pada Satria yang sedang membantunya menyisir rambut melalui cermin di hadapannya. "Kamu kok telaten banget sih? Udah kayak cowok slay yang kerja di salon!" Merasakan bagaimana telatennya Satria menyisir dan merapikan rambutnya, Rain pun bertanya pada kekasih berondong itu. "Adekku ada tiga, dan dua dari mereka itu cewek. Ngurus mereka sekolah udah jadi makanan sehari-hariku, Sayang. Jangankan nyisir dan nata rambut kayak gini, jahit baju aja aku bisa!" aku Satria sembari tersenyum kecil. Mendengarnya, Rain termangu. Ternyata pemuda yang telah membuatnya merasakan jatuh cinta untuk yang ke dua kali adalah pria yang serba bisa. Sebagai seorang pria, Satria dapat dikatakan nyaris sempurna, ganteng, penyayang, pekerja keras, dan juga bertanggung jawab..Seandainya pemuda itu berasal dari keluarga kaya, pasti banyak gadis yang berlomba-lomba ingin mendapatkannya."Ternyata ka
"Udah deh diem! Intinya jadi ngewong atau enggak?" Satria yang merajuk, langsung menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan dan mengangguk dengan cepat.Melihat respon yang diberikan Satria, Rain yang merasa dikerjai itu pun mencebikkan bibirnya. "Ayo kita lanjutin sebelum burungnya lemes dan tidur lagi!" kata Satria seraya tersenyum mesum. Di hadapan Rain, berondong sok kalem itu beranjak dan segera menanggalkan celana jeans serta kaos oblong yang dipakainya. Begitu celana jeans dan segitiga pengaman bermereknya di lepaskan, tampaklah batangan miliknya yang berdiri tegak seperti keadilan. Gluk! Melihat milik Satria yang berdiri tegak di depan matanya, Rain meneguk ludah dengan kasar. Ia yang duduk dengan tubuh polos tanpa sehelai benang, merangkak mendekati Satria yang berdiri di hadapannya.Wanita itu mendongak, sedangkan tangannya menyentuh dan menggenggam batangan milik Satria."Sstt, ah, Sayang...." Begitu jemari halus Rain menyentuh tongkat keperkasaannya, Satria m
Tuk, tuk, tuk! Siska yang berbaring di kamarnya dan menikmati masa-masa menjadi penganggurannya, menghela napas saat mendengar ketukan pintu kontrakannya yang tiada henti. Tuk, tuk! "Sebentar!" sahut Siska dari dalam kamar. Dengan kesal, wanita mantan karyawan butik Rain itu beranjak dari posisinya dan melangkah keluar, menuju pintu dan melihat siapa yang datang. "Siapa sih? Beri—" Siska yang membuka pintu, spontan menjeda kalimatnya saat melihat sosok pria yang berdiri di depannya dengan ekspresi wajah yang datar. Cepat-cepat wanita itu mendorong pintu kontrakannya dan hendak menutupnya kembali. Melihat pria yang datang, wajahnya seketika memucat, kaget seperti melihat hantu. "Kamu, ngapain kamu ke sini?" jerit Siska dengan panik, terlebih lagi pria itu menahan pintu kontrakan tersebut menggunakan sebelah kaki dan tangannya. Brak! Sekali dorong, pintu kontrakan itu pun terbuka dan dengan santainya si pria melangkah masuk."Kenapa? Saya gak boleh ke sini?" Andrean yang mend
"Dari pada kamu mikirin nyari kerja, lebih baik kamu siap-siap, bulan depan aku mau kamu balik kuliah!" Degh! Melotot lebar mata Satria. Kaget mendengar kalimat Rain yang menginginkannya untuk kembali berkuliah. "Ku-ku-kuliah?" tanya Satria. Suaranya pelan dan tergagap, sedangkan sepasang matanya yang melotot masih saja menatap wajah datar Rain. Kepala Rain mengangguk. "Hmm... aku mau kamu lanjutin kuliah kamu!" katanya sembari menatap Satria tanpa berkedip. Satria yang duduk di pinggiran tempat tidur itu, mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Pikirnya, kenapa Rain memintanya untuk kembali berkualiah? "Kenapa? Kenapa kamu mau aku balik kuliah?" Satria kembali bertanya, kali ini nada bicaranya lebih tenang dan santai tidak tergagap seperti sebelumnya. Di hadapan Satria, Rain menghela napas panjang. Lalu beringsut, berpindah dan duduk bersandar pada kepala ranjang. Selanjutnya, "Cuman dengan pendidikan tinggi kamu bisa dapat kerjaan yang bagus, bisa bener-bener layak buat aku
Setelah makan siang bersama di restoran, Rain dan Satria pun kembali ke apartemen. Di sepanjang perjalanan, keduanya tak hentinya mengobrol. Bahkan obrolan mereka kali ini terlihat begitu serius. "Aku tuh gak butuh kamu kerja, Sat. Aku cuman butuh kamu selalu ada, nemenin dan support aku!" Rain yang duduk di kursi samping kemudi itu berbicara pada Satria yang sebelumnya membahas pekerjaan. Mendengar perkataan Rain yang tak mengizinkannya bekerja, Satria menghela napas panjang. Sebagai seorang pria, tidak mungkin ia bergantung pada Rain selamanya. Apalagi, ada ibu dan ketiga adiknya yang menjadi tanggungjawabnya sebagai tulang punggung keluarga. "Aku cowok, gak mungkin bergantung sama kamu selamanya. Ada ibu, Atika, Danu dan Ayu yang harus aku penuhi kebutuhannya. Kalau aku gak kerja, gimana sama mereka?" kata Satria. Menimpali perkataan Rain dengan suaranya yang soft tetapi bernada tegas dan jelas. Kepala Rain menggeleng pelan. Lalu ia membuang muka dan menatap kelu
Seminggu kemudian, Satria yang keadaannya sudah hampir pulih, menjenguk ibunya di rumah sakit. Kali ini, ia datang ke rumah sakit bersama Rain yang beberapa waktu lalu tak jadi ikut dengannya menjenguk bu Yohana."Ibu kamu udah lama di rawat di rumah sakit ini?" Rain yang berjalan di samping Satria, bertanya dengan nada bicaranya yang santai tetapi bernada serius. Wanita itu bertanya sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah sakit yang ia lalui. Satria yang menenteng keranjang buah dan pakaian baru untuk ibunya itu menganggukkan kepalanya. "Hampir tiga bulan kayaknya," jawab Satria seraya mengulas senyum. Pasangan ilegal berbeda usia itu terus mengobrol di sepanjang koridor rumah sakit. Hingga langkah mereka berhenti di depan ruangan rawat inap, di mana Bu Yohana yang mengalami stroke di rawat. "Yuk, masuk. Ibu ada di dalam," kata Satria. Mengajak Rain memasuki ruangan rawat ibunya. Rain tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu, mengikuti langkah Satria mema
"Apa sih maunya? Telepon malem-malem kayak gini, sok penting banget!" Rain yang merasa kegiatannya terganggu, mendorong tubuh Satria dan segera meraih ponselnya. Tanpa mengangkat panggilan tersebut, Rain mematikan perangkat ponselnya dan kembali meletakkan ponsel itu ke tempatnya semula.Setelah
Setelah rentenir dan anak buahnya pergi, Satria mengajak ketiga adiknya memasuki rumah dan merapikan kembali barang-barang yang sebelumnya diacak-acak. Bukan hanya Satria dan ketiga adiknya yang memasuki rumah dan beberes, tetapi juga Tono selaku salah satu teman terdekat Satria. "He-he-hebat ba-
"Argh, Satria... kenapa kamu semprotin di muka saya?" Plak! Rain memekik keras saat cairan milik Satria menyembur ke wajah cantiknya yang putih mulus tanpa noda. Bahkan, ia sampai memukul paha Satria dengan sedikit keras sembari bergerak mundur dari posisinya. Sedangkan Satria yang baru sa
"Cepet angkat kaki dan bokongnya, Nyonya. Jangan sampai terlambat, nanti usaha saya jadi sia-sia!" Melihat kepanikan Satria, Rain menjadi ikut panik. Dengan cepat, ia yang merasa lemas itu mengangkat kedua kaki dan juga bokongnya. Namun, baru saja kaki dan bokongnya terangkat, tubuh tegang Satria







