Share

22. PPPN

Author: Callme_Tata
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-09 12:19:08

"Astaga, tangan Nyonya kenapa? Siapa yang udah nyakitin Nyonya sampe kayak gini?"

Rentetan pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Satria. Sepasang matanya melotot lebar, sedangkan tangannya memeriksa lengan Rain yang mengalami lebam kebiruan.

Melihat kecemasan dan juga perhatian yang ditunjukkan oleh Satria, rasa hangat menjalar di hati Rain. Ia sedikit senang dan bahagia karena merasa diistimewakan.

Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia, ini adalah kali pertamanya ada orang lain ya
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   74. PPPN

    "Jangan macam-macam! Saya bakal laporin kalian ke polisi!" Andrean yang tubuhnya di tahan oleh Satria dan Tono, mengancam dan memberontak minta dilepaskan. Namun, Satria yang memegang potongan balok kayu itu tak takut sama sekali. Yang ada, ia justru memasang ekspresi santai seperti sedang bermain di pantai.Di balik helm full face yang dipakainya, Satria menyunggingkan sudut bibirnya. Sedangkan sepasang matanya menatap remeh Andrean yang ternyata tidak memiliki kemampuan apapun selain mengancam lawan bicaranya menggunakan uang dan kekuasaan. "Lepasin saya!" kata Andrean. Satria menggeleng. Tangannya menepuk-nepuk pundak Andrean dengan keras. "Mau lepas? Mimpi!" balas Satria. "Sekarang gue bakal bikin lu ngerasain gimana rasanya istirahat total di rumah sakit!" Buk! Bibir pemuda tanggung itu berbicara, sedangkan tangannya bergerak, membogem wajah Andrean yang masih kalah ganteng darinya dengan keras. Tak ayal lagi, satu pukulan keras Satria membuat air liur Andrean muncrat dan

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   73. PPPN

    "Kamu bilang dari toko buku sama Tono, tapi kok aku dapat informasi kalau kalian habis nagih hutang ke Andrean di dekat club malam?" Degh! Semakin memucat wajah Satria. Kaget mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Rain. Batin pemuda itu, sebenarnya ada berapa banyak koneksi dan anak buah yang dimiliki oleh Rain. Kenapa bisa mengetahui kegiatannya dengan mudah."Dari toko buku atau dari nyamperin Andrean?" Rain bertanya dengan nada bicaranya yang terdengar datar dan dingin, saking dinginnya seakan menembus sampai ke ubun-ubun Satria. Ketahuan, Satria pun semakin dibuat salah tingkah. Ia mendekati Rain dan duduk di sampingnya, lalu bergelayut manja seperti anak kecil di lengan wanita itu. "Jangan marah, Sayang. Aku cuman ngasih pelajaran sedikit kok ke suami kamu yang brengsek itu! Aku dan Tono udah mastiin kalau dia cuman babak belur, gak luka dalam apalagi cedera serius!" kata Satria. Mengakui perbuatannya yang balas dendam pada Andrean bersama Tono. Beberapa jam yang lalu.

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   72. PPPN

    Malam itu, Satria yang turun dari motornya, segera memasuki gedung apartemen gold dan melangkah menuju lift dengan begitu tergesa-gesa. Pemuda itu menekan tombol lift yang akan membawanya menuju unit apartemennya dan Rain berada. "Semoga aja dia belum pulang kerja." Di dalam lift, Satria berbicara sendiri seperti orang gila. Sesekali ia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan untuk mengurangi rasa gugup dan tegang yang saat ini merayap di hatinya. Tiba di depan unit apartemennya dan Rain, Satria membuka pintu tersebut dengan gerakan perlahan. Dalam hatinya berdoa, semoga Rain belum pulang bekerja, agar ia aman dan tidak di interogasi oleh wanita itu. "Semoga belum pulang, semoga belum pulang, semoga belum pulang...." Begitu pintu terbuka, Satria tersenyum lega. Pasalnya lampu di apartemen itu belum ada yang menyala, menandakan jika Rain yang katanya mengurus pekerjaan penting bersama Tasya, belum kembali. Namun, kelegaan Satria lenyap seketika setelah tangannya men

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   71. PPPN

    Jam menujukan pada pukul lima sore, Melati yang menghabiskan waktu seharian bersama Jhony, baru kembali ke kediaman Damara.Wanita itu kembali tentu dengan keadaannya yang terlihat tidak baik-baik saja untuk mengelabui Andrean dan ibunya. "Huh... harus tetap tenang, jangan sampai mereka curiga," gumam Melati. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya melangkah menuju teras rumah kediaman Damara. Perlahan, ia mendorong pintu utama rumah itu dan melangkah masuk. Lalu, menghampiri Andrean dan Bu Sela yang berada di ruang tengah. "Mas Andre, Mama...."Tiba di ruang tengah, Melati yang berjalan pelan, memanggil suami dan mertuanya. Mendengar suara Melati, Andrean dan Bu Sela yang memang menantikan kepulangannya, beranjak dari duduk mereka. Lalu, menoleh dan menatap ke arah sumber suara. Begitu melihat penampilan dan keadaan Melati, mata Bu Sela dan Andrean sama-sama mendelik lebar. "Melati!" "Astaga, kamu kenapa, Mel?"Andrean yang beranjak dari dud

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   70. PPPN

    "Tolong tunggu sebentar lagi, Bang. Bini gue pasti datang dan lunasin semua hutang-hutangnya!"Jhony yang bersimpuh di lantai, meminta ampun pada Rentenir yang duduk santai di sofa rumahnya. Tubuhnya gemetar parah, takut nyawanya dilenyapkan karena tak dapat membayar hutang. Melati yang berdiri di ambang pintu, mengepalkan tangan dengan erat setelah mendengar perkataan Jhony. Wajahnya semakin memerah, menunjukkan jika marah dan kesal pada pria itu. "Berapa semua hutangnya?" tanya Melati sembari melangkah mendekat. Mendengar suara Melati, Jhony yang bersimpuh di lantai itu menoleh. Ia tersenyum dan segera beranjak dari posisinya. "Sayang, akhirnya kamu datang. Lihat, mereka mukulin aku!" adu Jhony pada Melati. Rentenir dan anak buahnya tertawa dengan keras, merasa lucu melihat Jhony merengek pada seorang wanita hamil untuk membelanya. "Kamu bawa uang kan, Sayang?" tanya Jhony. "Kalau hutangnya gak dibayar, mereka bakalan matahin kaki kiri dan tanganku!" tambahnya ketakutan. Mela

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   69. PPPN

    Melati yang sedang memoles make up tipis di depan cermin, beranjak dari duduknya lantaran mendengar suara dering ponselnya yang diletakkan di pinggiran tempat tidur. Diambilnya benda pipih itu dan dilihat siapa yang menelepon. Di sana tertera kontak yang diberi nama 'J'. Lalu, ia menggeser tombol hijau yang ada di sana dan mengangkatnya. "Halo, Sa—" "[....]"Belum sempat Melati menyelesaikan kalimatnya, orang yang berada di seberang panggilan sudah lebih dulu berbicara padanya. Mendengar suara bernada panik lawan bicaranya, memerah wajah Melati. Bahkan sepasang matanya melotot lebar seperti biji jengkol. "Dipukulin orang gimana? Kamu ngapain sampe di kejar dan dipukulin orang?" tanya Melati dengan wajahnya yang semakin memerah. Ekspresi kaget dan panik tergambar jelas di wajah wanita hamil itu."[....]" "Astaga... kok keterlaluan banget sih?" kata Melati, kali ini nada bicaranya agak sedikit meninggi. Wanita yang kini tengah mengandung 6 bulan itu menghela napas dengan kasar.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status