Share

23. PPPN

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-04-09 21:19:39

"Sayang, aku kan udah bilang. Aku ngelakuin semua ini demi kamu dan demi rumah tangga kita! Nanti kalau anak yang dikandung Melati udah lahir, aku bakalan pisah sama dia. Dan, kita bisa hidup bahagia lagi kayak dulu!"

Andrean berbicara pelan dengan bibir tersenyum. Berusaha meyakinkan Rain agar mau menerima gundiknya di rumah itu.

Bahkan, pria redflag itu tak hanya berbicara. Tetapi juga mendekat dan menyentuh kedua lengan istrinya dengan erat.

"Kamu harus ngertiin Mas, Sayang. Mas lakuin se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   23. PPPN

    "Sayang, aku kan udah bilang. Aku ngelakuin semua ini demi kamu dan demi rumah tangga kita! Nanti kalau anak yang dikandung Melati udah lahir, aku bakalan pisah sama dia. Dan, kita bisa hidup bahagia lagi kayak dulu!" Andrean berbicara pelan dengan bibir tersenyum. Berusaha meyakinkan Rain agar mau menerima gundiknya di rumah itu. Bahkan, pria redflag itu tak hanya berbicara. Tetapi juga mendekat dan menyentuh kedua lengan istrinya dengan erat. "Kamu harus ngertiin Mas, Sayang. Mas lakuin semua ini demi kamu, demi kita... bukannya kamu udah lama pengen punya anak? Mama juga!" Kepala Rain menggeleng. Sedangkan bibirnya tersenyum getir. Rasanya benci sekali berada di situasi saat ini. Ingin sekali ia mengakhiri semuanya saat itu juga. Hanya saja, tujuannya untuk membalaskan dendam dan menghancurkan kehidupan keluarga suaminya belum tercapai. Rain ingin, Andrean dan ibunya hidup menderita. "Kamu selalu nuntut aku buat ngertiin kamu, tapi selama ini apa kamu pernah ngertiin aku? Ka

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   22. PPPN

    "Astaga, tangan Nyonya kenapa? Siapa yang udah nyakitin Nyonya sampe kayak gini?" Rentetan pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Satria. Sepasang matanya melotot lebar, sedangkan tangannya memeriksa lengan Rain yang mengalami lebam kebiruan. Melihat kecemasan dan juga perhatian yang ditunjukkan oleh Satria, rasa hangat menjalar di hati Rain. Ia sedikit senang dan bahagia karena merasa diistimewakan. Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia, ini adalah kali pertamanya ada orang lain yang terlihat tulus memperhatikan dan juga perduli padanya."Ngomong, siapa yang udah berani ngelakuin kekerasan kayak gini?!" Beberapa jam yang lalu.... Rain yang dihubungi terus menerus oleh suaminya, akhirnya memutuskan untuk pulang. Ia ingin melihat, apa yang diinginkan pria itu sebenarnya. Hingga memaksanya pulang ke rumah yang lebih layak disebut sebagai neraka. Tiba di kediaman suaminya, Rain melangkah masuk dengan langkahnya yang malas. Namun, baru saja kakinya menapaki lantai ruang te

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   21. PPPN

    "Sialan banget tuh si gigolo, bisa-bisanya nolak gue!" Siska yang kembali ke kamarnya, tak henti-hentinya mengumpati Satria yang telah menolaknya. Umpatan wanita itu, membuat Mira yang keluar dari kamar mandi dengan tubuh polos berbalut handuk dan rambut basah itu mengerutkan kening. Ia menatap pada Siska yang terlihat begitu kesal. "Kenapa kamu? Katanya tadi mau nyamperin Satria, kok udah balik?" tanyanya. Ditanya, Siska mendengus keras dan menjatuhkan tubuhnya di pinggiran kasur dengan kasar. "Munafik! Dia nolak aku mentah-mentah," kata Siska dengan suara tertahan dan terdengar jengkel. Mendengar perkataan Siska, Mira terkekeh kecil. "Hehe, terus?" tanyanya lagi. Di tertawakan oleh Mira, rasa kesal di hati Siska semakin bertambah. "Tadi aku nawarin bayaran tiga kali lipat sama dia, tapi tetap aja di tolak," kata Siska. "Mbak Rain juga, katanya bakalan pulang malem dan mungkin nginep di rumah suaminya. Tapi ternyata malah balik dan mergokin aku sama Satria!" Mira yang semula

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   20. PPPN

    Brak! "Satria, Siska, apa yang kalian lakukan?" Bantingan pintu yang diiringi suara keras tetapi bernada dingin milik Rain, membuat Satria yang dipeluk paksa oleh Siska itu terkesiap. Begitu pula dengan Siska yang langsung melerai pelukannya. Wanita itu tak menyangka jika Rain yang sebelumnya berpamitan pergi akan kembali secepat itu. "Nyo-nyo-nyonya...." sebut Satria dengan suaranya yang tergagap. Dengan kasar, Satria mendorong tubuh Siska dan mendekati Rain yang berdiri di ambang pintu dengan ekspresi wajahnya yang datar. "Nyonya, sa—" "Mbak Rain kok udah pulang? Katanya tadi bakalan pulang malem," kata Siska. Memotong cepat kalimat yang hendak diucapkan oleh Satria. Wajah wanita itu memerah. Ia terlihat salah tingkah dan juga gugup, takut pada Rain yang tiba-tiba kembali. "Kenapa? Gak suka lihat saya pulang?" tanya Rain. Nada bicaranya yang datar dan dingin, membuat Siska menundukkan kepalanya. "Kamu! Ngapain aja sama Siska?" alihnya pada Satria. Rain bertanya pada Satria

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   19. PPPN

    "Satria...." Suara lembut Siska yang tangannya mengusap dada Satria, spontan membuat pemuda itu membuka mata. Bahkan, tangan Satria bergerak, menahan pergelangan wanita itu. Ia yang semula memejamkan mata dan hampir terlelap, kini melotot dengan ekspresi kagetnya. "Astaga, ngapain Mbak di sini?" tanya Satria. Suaranya yang biasanya soft dan terdengar menenangkan, kini nadanya agak sedikit meninggi. Melihat ekspresi dan reaksi yang ditunjukkan Satria, Siska yang berpakaian seksi itu tersenyum. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menggoda Satria."Kenapa kok kaget gitu sih? Hmm!" tanya balik Siska sembari menarik pergelangan tangannya yang ditahan oleh Satria."Ngapain Mbak masuk ke sini?" Tanpa menjawab pertanyaan Siska, Satria beranjak dari posisinya dan duduk di pinggiran ranjang. Pemuda itu benar-benar kaget melihat keberadaan Siska. Terlebih lagi, wanita itu memakai piyama tidur tipis yang menerawang. Bahkan, terlihat jelas jika wanita itu tidak memakai dalaman. "Mau neme

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   18. PPPN

    "Argh… ampun, Nyonya. Jangan dicubit! Kalau sampai lecet, nanti kita gak bisa main jungkat-jungkit lagi! Saya buru-buru masuk ke sini karena mau ngasih tahu, kayaknya Nyonya keliru. Saldo yang dikirim ke saya, nolnya kebanyakan!” Mendengar jeritan tertahan yang keluar dari mulut Satria, Rain pun melepaskan cubitannya.Wanita itu mundur sedikit dari posisinya dan menatap wajah Satria yang memerah seperti udang rebus. Demi Tuhan, jika Rain adalah adiknya, Satria pasti sudah menonjok hidungnya ataupun memukul bokongnya dengan keras. Sayangnya, Rain adalah majikan yang telah membeli dan memeliharanya. “Rekening Nyonya mana? Biar saya balikin uangnya,” kata Satria. Meminta nomor rekening Rain dengan tangan yang mengusap-usap batang keriputnya yang terasa sakit, perih dan nyeri karena dicubit oleh sang majikan. “Saya gak salah kirim, uang yang saya kasih emang segitu. Itu gaji karena kamu udah muasin saya semalam dan hari ini,” kata Rain. Menimpali perkataan Satria dengan santai, sedang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status