ログイン"Argh... Papa, Om Anjas, Tante Tasya dan Om Ares mesum di teras rumah!"Sruk!Bleduk!Terkejut mendengar teriakan keras Satria yang berasal dari arah pintu utama, Tasya yang duduk di atas pangkuan Ares spontan melepaskan kedua tangannya yang melingkar di leher pria kaku tersebut.Tak ayal lagi, Tasya yang hilang keseimbangan berakhir jatuh terhempas di lantai yang dingin."Aw... sakitnya bokongku!" Tasya yang terduduk di lantai merintih sambil menyentuh bokongnya yang terasa sakit.Ares yang tak kalah gugup dan panik beranjak dari duduknya dengan gerakan yang cepat. Lalu merapikan celananya yang agak kusut karena perbuatan Tasya sebelumnya.Wajah pria kaku itu berubah pucat. Bingung harus melakukan apa saat ini. Terlebih lagi saat dirinya mendengar suara derap langkah kaki yang mendekat ke teras rumah itu."Astaga, bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Semuanya jadi kacau gara-gara perempuan aneh ini," batin Ares menggerutu sebal, sedangkan matanya menatap Tasya yang masih terduduk
"Astaga, apa yang kamu lakukan? Jangan pegang-pegang pisang saya!"Sepasang mata Ares seketika melotot lebar saat tangan Tasya yang berada dalam saku celananya meremas batangannya yang agak tegang.Pria itu terkejut bukan main. Bahkan tubuhnya spontan menegang dan wajahnya berubah merah seperti tomat matang yang hampir busuk.Seumur hidupnya, belum pernah ada wanita yang bertindak seberani itu kepadanya. Ares yang dikenal dingin dan kaku benar-benar kehilangan cara untuk bereaksi. Otaknya seolah mendadak kosong."Balikin HP-ku!" kata Tasya, masih dengan tangan yang meraba-raba dan menyentuh aset pribadi milik Ares.Semakin melotot mata Ares dibuatnya. Bahkan kini tubuhnya tegang maksimal.Bagaimana tidak? Tasya yang notabene bukan gadis polos sama sekali tidak terlihat gugup. Ia menekan dan meremas batang kemaluan Ares yang agak tegang dan keras.Tindakan yang saat ini dilakukan Tasya membuat Ares semakin salah tingkah dan gugup."Astaga, jauhkan tangan kamu, Tasya! Jangan remas batan
Di teras rumah kediaman keluarga Mandala, di sanalah kini Ares dan Tasya berada. Keduanya duduk berjarak di kursi panjang.Sudah hampir setengah jam keduanya duduk di kursi tersebut, tetapi mereka saling diam-diaman. Bahkan, tak ada obrolan apa pun di antara keduanya.Ares duduk seperti patung. Sedangkan Tasya sibuk berbalas pesan dengan para berondong yang dikenalnya melalui sebuah forum cari jodoh.Sesekali gadis bertubuh mungil yang usianya hampir kepala tiga itu tersenyum, sedangkan jarinya tak henti berselancar di layar ponsel mahalnya. Dan semua itu tak lepas dari perhatian Ares yang duduk bersandar dengan kedua tangan bersedekap di dada.Melihat Tasya senyum-senyum tak jelas di layar ponselnya, Ares menghela napas berat. Ada rasa tak senang di hatinya karena diabaikan seperti itu."Sialan, perempuan aneh ini. Katanya mau ngajak ngobrol, tapi malah asyik sendirian."Kenapa tidak senang? Karena selama ini Ares selalu dihormati di lingkungan kantor. Bahkan, banyak wanita yang berl
"Kita kan udah lama nikah, tapi gak punya anak. Rencananya aku mau adopsi Nabila jadi anak kita. Gimana menurut kamu, Sayang?"Diana yang duduk di kursinya menatap Tuan Seno dan Nabila secara bergantian dengan sorot mata yang tajam. Wajah wanita paruh baya bertubuh agak subur itu tampak memerah. Terlihat jelas jika ia sedang menahan banyak pertanyaan yang ingin disampaikan pada sang suami.Namun, Diana memilih diam. Tidak ada satu pun jawaban yang keluar dari bibirnya setelah mendengar perkataan sang suami yang ingin mengadopsi gadis dewasa seperti Nabila."Gimana, Sayang? Nabila udah gak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Dia gak punya kerabat. Kasihan kalau dia harus tinggal di luaran sana sendirian dan luntang-lantung," ujar Tuan Seno dengan suaranya yang terdengar lembut, berusaha meyakinkan istrinya agar mau menampung Nabila di rumah mereka.Nabila yang sejak tadi menundukkan wajahnya, diam-diam mengepalkan kedua tangannya di bawah meja dengan erat. Ia merasa kesal melihat reak
"Siapa perempuan itu, Mas? Kenapa kamu bawa ke rumah kita?"Diana yang sedang menikmati makan malamnya, seketika bangkit duduknya saat melihat sang suami pulang bersama seorang wanita yang masih sangat muda.Wanita paruh baya bertubuh agak subur itu melontarkan pertanyaan sambil melangkah mendekati Tuan Seno dan Nabila. Tatapan matanya tak lepas dari gadis yang berdiri di belakang sang suami. Rasa heran bercampur curiga seketika memenuhi pikirannya. Selama belasan tahun menikah, baru kali ini Tuan Seno pulang membawa seorang perempuan muda ke rumah mereka."Siapa dia, Mas?" Diana kembali bertanya, tangannya menunjuk Nabila yang tertunduk di samping suaminya.Nabila yang menundukkan wajahnya itu pun bergerak mundur dan bersembunyi di balik punggung Tuan Seno. Gadis itu takut pada Diana yang menatap tak suka padanya. Baru saja menginjakkan kaki di rumah mewah tersebut, ia sudah dihadapkan pada situasi yang sama sekali tidak pernah dibayangkannya.Jantungnya berdetak lebih cepat, sedang
"Saya setuju dijodohkan sama dia!"Degh!Dada Tasya seketika terasa sesak. Matanya membola penuh. Bibir gadis bertubuh mungil itu sedikit terbuka karena terlalu terkejut. Beberapa detik ia menatap Ares tanpa berkedip, seolah memastikan jika pendengarannya tidak salah.Ia benar-benar tidak menyangka pria sekaku itu justru menerima perjodohan yang baru saja dilontarkan ayahnya. Padahal, selama ini Ares selalu terlihat dingin, cuek, dan seperti tidak tertarik dengan urusan asmara.Kalimat pria berwajah kaku seperti kanebo itu datar dan dingin, tetapi terdengar sangat serius."Anjir, bisa-bisanya Om-om kaku itu setuju dijodohin sama aku. Jangan-jangan dia sengaja mau nyusahin dan nyiksa aku?" batin Tasya menjerit-jerit.Di sisi lain, Pak Anjas dan Bu Karina yang duduk bersebelahan saling melempar pandang. Senyum mereka perlahan mengembang. Tatapan keduanya dipenuhi rasa lega sekaligus bahagia. Selama ini mereka memang khawatir melihat putri mereka yang usianya sudah menginjak kepala tiga
Lama Rain dan Satria bergumul di sore menjelang malam hari tersebut. Akhirnya keduanya pun menyudahi pergumulan mereka setelah merasa puas. Kini, Rain yang merasakan pegal pada punggung dan pinggulnya, tampak berbaring lemas di tengah-tengah kasur empuk yang luas. Sedangkan di pinggiran ranjang,
"Astaga, kamu...." "Saya di sini, Nyonya!" Suara sahutan Satria yang berasal dari arah samping, membuat Rain melangkah mundur dari posisinya. Ia kaget melihat pria yang ia kira adalah Satria, gigi ompong dan juga tahi lalat besar di pipi pria itu benar-benar membuatnya terkejut. "Maaf, s
"Oke... jangan lupa besok malam temui saya di hotel permata kamar nomor 7!" Melotot lebar mata Satria, seperti mau melompat dari tempatnya berada. Kaget mendengar nama hotel yang disebutkan oleh Rain. "Ho-ho-hotel permata?" tanya Satria dengan suaranya yang tergagap. Rain mengangguk, sedan
"Kamu pria panggilan itu, kan? Jadilah pemuas ranjangku, maka semua beban keuanganmu tahun ini, saya yang akan menanggung." Tubuh Satria membeku. Ia meneguk ludah dengan bersusah payah, sepasang netranya yang kecoklatan menatap pada seorang wanita cantik bertubuh seksi yang duduk di kursi seberang







