مشاركة

88. PPPN

مؤلف: Callme_Tata
last update تاريخ النشر: 2026-05-07 22:29:29

"Argh... nyebelin banget. Dasar gak berguna!"

Brak!

Melati yang baru saja memasuki rumah, melemparkan tasnya ke sofa samping Jhony yang sedang santai menonton acara televisi.

Pria pengangguran dan menjadi beban hidup itu menoleh, menatap istrinya yang datang marah-marah.

"Kamu ngapain sih? Datang kok langsung marah-marah!" kata Jhony, bertanya sembari beringsut dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.

Melati yang sedang kesal, mendengus keras sambil menjatuhkan tubuhnya ke samping
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   89. PPPN

    "Kemana wanita sialan itu pergi?" Andrean yang berada di dalam mobilnya, bertanya pada seseorang yang berada di ujung telepon. Nada bicaranya santai tetapi terdengar sangat datar. "[Komplek C, Bos. Menemui pria itu lagi!]" Mendengar kalimat yang berada diujung panggilan, bibir Andrean tersungging dan berkedut-kedut."Amati mereka, sebentar lagi saya sampai," kata Andrean. Tut, tut! Setelah berbicara pada anak buahnya yang ditugaskan mengikuti Melati, Andrean memutuskan sambungan telepon tersebut. Benar kata Satria, pria itu tidak memiliki kemampuan apapun selain mengendalikan orang lain menggunakan uangnya. Bagi Andrean, ada uang apapun tak akan menjadi rintangan. Namun ia tak paham dan tak sadar jika uangnya tidak akan dapat menambal luka hati seseorang orang yang sudah bernanah dan terinfeksi parah. Selanjutnya, Andrean menancap gas mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, membelah jalanan kota menuju Komplek C di mana kediaman Melati dan Jhony berada, pasangan suami ist

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   88. PPPN

    "Argh... nyebelin banget. Dasar gak berguna!" Brak! Melati yang baru saja memasuki rumah, melemparkan tasnya ke sofa samping Jhony yang sedang santai menonton acara televisi. Pria pengangguran dan menjadi beban hidup itu menoleh, menatap istrinya yang datang marah-marah. "Kamu ngapain sih? Datang kok langsung marah-marah!" kata Jhony, bertanya sembari beringsut dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Melati yang sedang kesal, mendengus keras sambil menjatuhkan tubuhnya ke samping Jhony dengan kasar. Saking kasarnya gerakan wanita berperut buncit seperti kecebong anyut dan bertubuh bulat itu, sampai menimbulkan bunyi keras seperti buah nangka jatuh. "Lihat aja nanti, bakal kukuras semua hartanya," lanjut Melati tanpa menjawab pertanyaan suaminya. "Kamu kenapa? Berantem sama cowok bego itu?" tanya Jhony lagi. Keningnya berkerut dalam, heran pada sikap istrinya. "Tadi aku minta duit ke Andrean, tapi bisa-bisanya dia malah bilang gak ada karena keadaan perusahaan lagi ga

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   87. PPPN

    "Buka bentar, Bang. Tika mau mastiin sesuatu!" Kyak! Melotot lebar mata Satria, saking lebarnya seperti anak sapi yang tersedak susu induknya. Pemuda mantan gigolo itu kaget mendapati aksi gila adiknya.Bagaimana tidak? Atika yang mendekat, berjongkok di bawah Satria yang duduk di kursi. Lalu menarik dan hendak membuka celana cinos pendek yang dipakai oleh Satria. "Tik, ngapain kamu?" kata Satria, menegur Atika sambil menahan bagian pinggang celana yang dipakainya. "Buka dikit, Bang. Tika cuman mau mastiin sesuatu, gak lama kok," kata Atika. Ia yang duduk berjongkok dengan kedua tangan memegangi celana Satria itu, mendongak dan menatap kakaknya dengan tatapan yang teramat serius. Semakin melotot mata Satria. Ia membalas tatapan adiknya dengan tatapan tajam seperti ingin membunuh.Menyadari tatapan Satria, Atika melepaskan kedua tangannya dan memajukan bibirnya. Ia beringsut dan sedikit menjauh dari kakaknya itu. "Buka dikit aja, Bang. Tika mau lihat!" kata Atika, meminta Satria

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   86. PPPN

    Di ruang makan rumahnya yang sederhana, di sanalah kini Satria dan adik-adiknya berada. Pagi itu mereka sarapan bersama. "Makan yang banyak biar belajarnya gak ngantuk!" Satria berbicara pada Danu dan Ayu, meminta kedua adiknya yang hendak ke sekolah itu sarapan yang banyak. Kepala Danu dan Ayu sama-sama mengangguk. Mereka tersenyum lebar dan memakan sarapan dengan lahap. "Kamu juga, Tik. Makan yang banyak," kata Satria. Beralih pada Atika yang duduk di sampingnya. "Jangan cuman nyuruh kami, tapi Abang gak makan!" balas Atika sambil menyodorkan piring berisi makanan pada Satria. Satria tersenyum kecil, tangannya menerima piring yang diberikan adiknya. Lalu memakan isinya dengan santai. "Oiya, minggu depan kayaknya ibu udah bisa dibawa pulang. Kata dokter, keadaannya udah jauh lebih baik. Dia udah bisa ngomong dan tangannya udah bisa gerak!" kata Satria pada ketiga adiknya. Mendengar perkataan Satria, ketiga adiknya itu meletakkan sendok yang ada di tangan masing-masing. Mereka

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   85. PPPN

    "Ka-ka-kalau pu-pu-punya masalah, ce-ce-cerita sama gue! Ja-ja-jangan di-di-dipendem sendiri!" Satria menghela napas kasar, lalu beringsut dari posisinya dan duduk bersila di samping Tono yang berbicara. Selanjutnya, pemuda mantan pria bayaran itu menghela napas sebelum akhirnya buka suara. "Gue udah gak kerja lagi," kata Satria. Berbicara sembari memandang wajah Tono dan tersenyum, senyuman yang sukses membuat pemuda gagap itu merinding sampai ke dontol-dontol. Melihat senyuman Satria, Tono bergidik dan sedikit beringsut dari dekat sahabatnya itu. Batinnya, kenapa ekspresi Satria seperti? Jangan-jangan frustasi karena dipecat."Lu di pe-pe-pecat?" tanya Tono yang menjaga jarak. Kepala Satria menggeleng pelan. "Yang gue pikirin sekarang bukan kerjaan, tapi Nyonya Rain," katanya dengan bada bicara yang terdengar lesu. "Kenapa ya? Hati gue kok rasanya sakit banget jauh dari dia?" lanjutnya. Mata belo Tono mendelik. Lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya tangannya bergerak m

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   84. PPPN

    "Bang Danu, itu motornya Bang Sat!"Ayu dan Danu yang baru saja pulang dari sekolah, menunjuk motor Satria yang terparkir di teras rumah. Mata bocah SD itu berbinar melihat motor kakak tertuanya. Ia yang rindu pada sosok Satria, berlari menuju teras, diikuti oleh Danu di belakangnya. "Jangan lari-lari, Yu. Nanti kamu jatoh!" tegur Danu yang mengikuti langkah tergesa adiknya. Namun, Ayu yang ditegur tak mendengarkan. Ia tetap berlari, tak sabar ingin menemui kakaknya yang sudah setengah bulan tak pulang dan tak dilihatnya. Tepatnya saat Satria mengalami pengeroyokan beberapa waktu lalu. "Haih...." Melihat tak sabarannya sang adik, Danu menghela napas pelan. Bocah yang kini beranjak remaja itu, tak pernah di dengarkan perkataannya oleh Ayu. "Bang Sat, A—" "Syut! Jangan berisik, Dek, Bang Sat lagi istirahat!" Tiba di ambang pintu, Ayu yang meneriaki Satria, dipinta diam oleh Atika yang sedang menyapu. Gadis remaja itu menegur adik bungsunya yang berteriak-teriak. "Ayu kangen sa

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status