ログイン"Maaf, saya lupa ada urusan yang belum diselesain, permisi!"Tak ingin berdekatan lama-lama dengan wanita asing yang dapat membuatnya kehilangan akal sehat sebagai mantan pria pemuas, buru-buru Satria keluar dari toko buku tanpa mendapatkan apapun. Pemuda perkasa itu berlari menuju parkiran dan memakai helmnya. Lalu, segera menancap gas kendaraannya meninggalkan area kawasan toko buku tersebut. Melihat Satria pergi begitu saja tanpa mau meliriknya, Nabila mengepalkan tangannya dengan erat di sisi tubuh. Gadis tobrut itu merasa kesal dan jengkel, pasalnya ini adalah kali pertama ia ditolak dan diabaikan oleh seorang pria. "Sialan tuh cowok, bisa-bisanya dia nyuekin gue kayak gini," kata Nabila menghentakkan kakinya kesal ke lantai. Begitu melihat wajah tampan Satria yang memiliki daya tarik luar biasa, Nabila langsung menyukai pemuda itu bahkan begitu ingin memilikinya. "Gak bisa, gue harus dapetin dia apapun caranya!" Nabila menyunggingkan sudut bibirnya, bertekad untuk mendapatk
"Katakan sekarang, kenapa kamu pura-pura hamil anakku? Kenapa, kenapa kamu lakukan semua ini?!" Kalimat bernada geram yang keluar dari mulut Andrean sukses membuat Melati semakin ketakutan. Wajah pucat wanita hamil itu kini terlihat seperti mayat. Terlebih lagi, anak buah Andrean menghajar dan menginjak-injak Jhony di depan mata kepalanya sendiri. Perbuatan kejam itu membuatnya semakin gemetar ketakutan. "Katakan, atau kuhabisi kamu sekarang!" kata Andrean penuh penekanan, tangannya semakin kuat mencekik leher Melati. Takut dibunuh, Melati pun menganggukkan kepalanya dengan pelan. Melihat respon Melati, Andrean pun melepaskan cekikannya dan melempar wanita itu ke ujung tempat tidur dengan kasar, hingga membuatnya jatuh tersungkur. Bahkan kepalanya sampai membentur sudut ranjang yang keras. "Ouch... uhuk, uhuk!" Dilepaskan oleh Andrean yang ternyata begitu kejam, Melati memegangi lehernya yang terasa begitu sakit dan terbatuk-batuk. "Cepat katakan!" bentak Andrean pada Melati d
Siang itu, Satria yang baru selesai merapikan kamar ibunya yang sudah lama tidak di tempati, memutuskan untuk segera membersihkan diri. Rencananya setelah itu, ia akan pergi ke toko buku, mencari buku-buku sebagai bekal utamanya kembali berkuliah. Pemuda mantan gigolo itu keluar dari rumah pada pukul satu siang, mengendarai motor besar pemberian Rain beberapa waktu lalu menuju toko buku yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumah sakit tempat ibunya di rawat. Rencananya, Satria akan mengunjungi ibunya nanti setelah ke toko. Tiba di toko buku, pemuda itu membuka helm full face yang melindungi kepalanya. Lalu ia turun dari motornya dan merapikan bagian depan kemeja hitam yang dipakainya. Celana jeans, baju kaos oblong yang dilapisi kemeja dengan kancing terbuka, serta rambutnya yang dipotong model undercut membuatnya terlihat begitu tampan. Dengan langkahnya yang santai, pemuda lajang itu memasuki toko buku dan berkeliling, mencari buku yang ia butuhkan untuk persiapan kembali kul
"Kemana wanita sialan itu pergi?" Andrean yang berada di dalam mobilnya, bertanya pada seseorang yang berada di ujung telepon. Nada bicaranya santai tetapi terdengar sangat datar. "[Komplek C, Bos. Menemui pria itu lagi!]" Mendengar kalimat yang berada diujung panggilan, bibir Andrean tersungging dan berkedut-kedut."Amati mereka, sebentar lagi saya sampai," kata Andrean. Tut, tut! Setelah berbicara pada anak buahnya yang ditugaskan mengikuti Melati, Andrean memutuskan sambungan telepon tersebut. Benar kata Satria, pria itu tidak memiliki kemampuan apapun selain mengendalikan orang lain menggunakan uangnya. Bagi Andrean, ada uang apapun tak akan menjadi rintangan. Namun ia tak paham dan tak sadar jika uangnya tidak akan dapat menambal luka hati seseorang orang yang sudah bernanah dan terinfeksi parah. Selanjutnya, Andrean menancap gas mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, membelah jalanan kota menuju Komplek C di mana kediaman Melati dan Jhony berada, pasangan suami ist
"Argh... nyebelin banget. Dasar gak berguna!" Brak! Melati yang baru saja memasuki rumah, melemparkan tasnya ke sofa samping Jhony yang sedang santai menonton acara televisi. Pria pengangguran dan menjadi beban hidup itu menoleh, menatap istrinya yang datang marah-marah. "Kamu ngapain sih? Datang kok langsung marah-marah!" kata Jhony, bertanya sembari beringsut dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Melati yang sedang kesal, mendengus keras sambil menjatuhkan tubuhnya ke samping Jhony dengan kasar. Saking kasarnya gerakan wanita berperut buncit seperti kecebong anyut dan bertubuh bulat itu, sampai menimbulkan bunyi keras seperti buah nangka jatuh. "Lihat aja nanti, bakal kukuras semua hartanya," lanjut Melati tanpa menjawab pertanyaan suaminya. "Kamu kenapa? Berantem sama cowok bego itu?" tanya Jhony lagi. Keningnya berkerut dalam, heran pada sikap istrinya. "Tadi aku minta duit ke Andrean, tapi bisa-bisanya dia malah bilang gak ada karena keadaan perusahaan lagi ga
"Buka bentar, Bang. Tika mau mastiin sesuatu!" Kyak! Melotot lebar mata Satria, saking lebarnya seperti anak sapi yang tersedak susu induknya. Pemuda mantan gigolo itu kaget mendapati aksi gila adiknya.Bagaimana tidak? Atika yang mendekat, berjongkok di bawah Satria yang duduk di kursi. Lalu menarik dan hendak membuka celana cinos pendek yang dipakai oleh Satria. "Tik, ngapain kamu?" kata Satria, menegur Atika sambil menahan bagian pinggang celana yang dipakainya. "Buka dikit, Bang. Tika cuman mau mastiin sesuatu, gak lama kok," kata Atika. Ia yang duduk berjongkok dengan kedua tangan memegangi celana Satria itu, mendongak dan menatap kakaknya dengan tatapan yang teramat serius. Semakin melotot mata Satria. Ia membalas tatapan adiknya dengan tatapan tajam seperti ingin membunuh.Menyadari tatapan Satria, Atika melepaskan kedua tangannya dan memajukan bibirnya. Ia beringsut dan sedikit menjauh dari kakaknya itu. "Buka dikit aja, Bang. Tika mau lihat!" kata Atika, meminta Satria







