Mag-log inPERAWAN SESAT bukan hanya tajam mata namun juga tajam ingatannya. Ucapan Peri Malam sempat lekat dalam ingatan, bahwa Baraka ada di Perguruan Merpati Wingit dalam perawatan lukanya. Ini suatu kesempatan baik buat Perawan Sesat untuk membawa Baraka ke Bukit Garinda. Tetapi, ke mana arah Perguruan Merpati Wingit? Perawan Sesat tak pernah tahu arah perguruan itu. Satu-satunya jalan ia harus mencari sebuah desa dan menanyakan kepada beberapa orang di sana. Perawan Sesat kembali berkelebat ke satu arah. Tujuannya adalah kaki bukit yang tampak dari tempatnya singgah di atas pohon.
Namun baru beberapa kejap ia bergerak, telinganya menangkap suara deru kaki kuda. Perawan Sesat telengkan kepala untuk menyimak suara kaki kuda itu. Setelah jelas arahnya, Perawan Sesat sentakkan kaki dan melesat pergi menuju arah derap kaki kuda.
Tiga orang berkuda melaju melintasi kaki bukit. Dua dari mereka adalah perempuan berparas manis, satu penunggang kuda lainnya seorang pemuda berparas imu
"Sudah, angkat dan naikkan ke kudamu!" sentak temannya yang bersenjata trisula kembar di pinggangnya.Pendekar Kera Sakti menggumam sendiri, "Kurang apa aku mengalah padanya? Tapi dasar orang bodoh, sudah diakui kehebatannya masih saja mau lukai diriku! Yah, akibatnya tanggung sendirilah! Bukan salahku, kan!"Baraka lompat turun dari atas pohon tanpa timbulkan suara. Ia memandang ke arah kepergian lawannya yang sudah tidak kelihatan itu. Ia membatin kata, "Ternyata jurus 'Tenaga Matahari Merah'-ku tadi masih cukup tangguh. Eh, tapi... ngomong-ngomong si Telaga Sunyi tadi ke mana!"Baraka celangak-celinguk mencarinya. Tiba-tiba yang dicari sudah muncul di belakangnya dan langsung menyapa mengagetkan Baraka,"Apakah kau mencariku, Pendekar Tampan?""Ah, kau...! Kukira kau diculik setan hutan sini!""Setannya takut sama kamu!" jawab Telaga Sunyi sambil tersenyum. Kejap berikut senyuman itu hilang.Telaga Sunyi mengajak teruskan langkah m
Suling mustika itu akhirnya berkelebat ke samping kiri ketika Kertapaksi lepaskan pukulan bercahaya merah dari ujung busur yang disodokkan ke depan.Claap...!Draak! Wuuus....!Sinar merah itu membentur suling mustika dan berbalik arah. Wuuut...!Kertapaksi tersentak kaget dan gerakkan nalurinya menghentakkan kaki hingga ia melesat ke atas dalam gerakan salto.Wuk, wuk...! Dan sinar merah yang berubah lebih besar itu menghantam sebuah pohon dengan kerasnya.Blegaar...!Kraaak...! Bruuussk...!Pohon itu tumbang seketika, pecah dalam keadaan terbelah menjadi lima bagian memanjang. Mata pemuda berkumis tipis itu sempat terperanjat melihat pohon itu menjadi terbelah begitu dalam keadaan keluarkan asap yang menghanguskan bagian kulitnya."Edan! Jurusnya siapa itu? Jurusku tidak sedahsyat itu. Jurusku hanya bisa membakar kulit tubuh lawan, tidak sampai memecahkan pohon sebesar itu," pikir Kertapaksi dengan menelan ludahnya sen
Ia berhenti tepat di depan Baraka dalam jarak lima langkah. Keduanya sama-sama berdiri tegak, kedua kaki sedikit merenggang. Tingginya sama, besar badannya juga sama. Yang beda cuma ketampanannya dan pakaiannya. Baraka lebih kumuh dari pemuda itu.Tangan Baraka masih menggenggam anak panah yang tadi ditangkapnya. Dengan alasan itu Baraka mengawali percakapannya."Kau pemilik anak panah ini?""Benar!" jawabnya tegas, sama tegasnya dengan nada suara Baraka."Kau sengaja membidikkan anak panah ini kepadaku?""Sengaja!""Apa alasanmu? Kita belum pernah saling kenal.""Namaku Pangeran Kertapaksi dan kau Pendekar Kera Sakti; Baraka! Sekarang kita sudah saling kenal!""Dari mana kau tahu namaku?""Ciri-cirimu sangat jelas dan kucatat dalam otakku!""Syukurlah kalau kau masih punya otak," ujar Baraka sambil tersenyum bernada melecehkan. Pangeran Kertapaksi tersenyum sinis. Hanya ujung bibir kanannya yang ditarik naik sedikit. Matanya tetap menatap tajam berkesan dingin."Mengapa kau ingin mem
Kemudian Pendekar Kera Sakti bertanya, "Siapa namamu, Nona?""Menurutmu siapa?""Konyol juga si cantik ini!" gumam Baraka dalam hatinya. Tawa Baraka yang mengguncangkan pundak itu membuat si gadis semakin berani sunggingkan senyum melebar."Namaku.... Telaga Sunyi.""Wow...! Nama julukan yang cantik sekali. Pas untuk gadis secantik kau!"Hati sang gadis berkata dalam hati, "Ah, dia selalu bikin jantungku berdebar-debar. Dia pandai memikat hati. Mungkin seribu gadis sudah pernah jatuh dalam pelukannya. Tapi... biarlah, semuanya biar berlalu, dan aku pun barangkali akan berlalu."Lalu terdengar suara Baraka berkata, "Seandainya aku punya nama seperti itu, akan kuukir pada setiap pohon sepanjang Tanah Jawa ini. Sayangnya namaku tak seindah namamu. O, ya... kau perlu tahu namaku?""Sudah tahu! Namamu Baraka, bukan? Kau punya gelar Pendekar Kera Sakti, bukan?""Rupanya kau lebih banyak tahu tentang diriku. Pasti kau ada di antara pe
"Pertimbangkan mana yang lebih penting menurutmu. Yang jelas, aku ingin pergi ke Bukit Kayangan untuk temui gurumu, sekadar silaturahmi. Sudah sangat lama aku tidak jumpa gurumu!""Guru dalam keadaan baik-baik saja, Ki. Kurasa beliau bisa kau temui di Bukit Kayangan!"Pendekar Kera Sakti berpisah dengan Ki Wuyung Rabi. Ia bergegas menuju ke arah timur, mencari Bukit Kelabang. Tetapi perjalanan itu rupanya ada yang mengikuti dari belakang. Seseorang mengikuti Baraka secara diam-diam dengan sesekali menyelinap di balik pohon. Setiap Baraka menengok ke belakang, orang itu lebih dulu lenyap di balik persembunyiannya.Gerakannya cepat sekali, sehingga Pendekar Kera Sakti tak bisa memergoki keberadaan orang tersebut."Ilmunya lumayan tinggi," gumam Baraka dalam hati. "Entah apa maksudnya, tapi sejauh ini kulihat ia hanya mengikutiku saja. Mungkin ia akan menjebakku di suatu tempat. Tapi mungkin saja ia sekadar ingin tahu perjumpaanku dengan Nyai Kucir Setan. Ya
Pendekar Kera Sakti tersentak mundur dua tindak ketika tangannya menangkis tendangan telapak kaki Karto Dupak yang menjejak. Rupanya jejakan kaki itu punya tenaga dalam besar, sehingga tangan Baraka yang menangkisnya terasa ngilu sekali. Seakan tulang-tulangnya dicekam hawa dingin melebihi dinginnya es balok. Para pengagumnya sempat cemas melihat Baraka tersentak mundur."Lumayan juga tenaga dalamnya! Kalau aku bertahan untuk tetap di tempat, bisa patah tulang tanganku ini!" pikir Baraka dengan menarik napas untuk menghilangkan rasa ngilu di tulang tangannya itu.Sementara itu, Karto Dupak bagaikan mendapat semangat untuk menyerang lebih gesit lagi, sehingga kapaknya pun segera dicabut dari pinggang.Wuuut...!"Sudah bukan saatnya untuk main-main, Bangsat!" geramnya penuh nafsu untuk membunuh."Heaaat...!"Satu lompatan menerjang Baraka. Kapak besar berujung pisau ditebaskan ke arah Pendekar Kera Sakti, membelah kepala sang pendekar.







