Share

159. Part 19

last update publish date: 2026-04-14 01:01:14

Ketika pedang diputar sebat membentuk perisai diri terlihat kilatan cahaya hitam kecoklatan menderu bergulung-gulung disertai menebarnya bau harum menyengat.

Pukulan Maha Sesat dan gulungan cahaya angin Laksana badai yang bersumber dari pedang di tangan Dewi Harum tak dapat dihindari bentrok di udara.

Traat Buumm! Buum!

Bukit Induk laksana diguncang selaksa gempa. Maha Sesat terjajar ke belakang. Wajahnya pucat pasi, dada berdenyut sakit namun dia tidak menderita cidera y

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   164. Part 24

    "Ha ha ha! Kau lihat sendiri rajawali itu sekarang memang hidup. Sapalah dia, kau boleh memanggilnya dengan Paman Langit. Rajawali Itu usianya sudah berabad-abad. Dia bernama Samudra Langit. Dia bisa menjadi sahabatmu. Bila kelak kau mengalami kesulitan, cukup kau sebut namanya. Dimanapun kau berada Paman Langit akan datang kepadamu!""Aku bicara soal pedang. Kulihat kakek tenang-tenang saja malah bicara soal kelebihan burung." Gerutu Pendekar Sinting.Bocah Ontang Anting tetap tersenyum."Ya. Dia mahluk yang tepat. Puluhan tahun aku dan Paman Langit menjaga rahasia tentang keselamatan Pedang Pusaka Istana Es. Dia yang melindungi pedang itu di tempat ini! Tidakkah kau ingin berterima kasih?" Kata Bocah Ontang Anting.Walau belum memahami maksud ucapan si kakek. Pendekar Sinting itu menuju ke arah burung raksasa. Tanpa berpikir panjang Pendekar Sinting rangkapkan dua tangan, meletakkannya di depan dada lalu tundukkan kepala sambil berucap."Paman La

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   163. Part 23

    Bocah Ontang Anting memperhatikan ke arah patung lebih seksama. Mata si kakek membeliak besar begitu menyadari apa yang dikatakan Pendekar Sinting. sang Patung sekarang memang telah menjelma menjadi mahluk yang hidup."Rajawali... Rajawali Emas sahabat pedang...! Ha ha ha! Dengan terjaganya mahluk itu dari tidurnya yang panjang, kau tidak usah khawatir. Dia pasti akan membantumu mengatasi segala kesulitan!" Kata Bocah Ontang Anting.Ucapan tidak sadar yang tertontar dari mulut Bocah ini tentu membuat kaget Untari dan Hyang Kelam. Karuan saja murid dan guru ini cepat palingkan kepala pusatkan perhatian pada sang patung di altar kedua. Tapi seperti ada sesuatu yang menghalangi pandangan Hyang Kelam.Di matanya patung rajawali emas tetap diam tak bergerak sama sekali tidak menunjukkan tanda tanda bahwa patung menjadi hidup. Ini sangat berbeda dengan penglihatan Untari. Dimata dara cantik itu ia sungguh menyaksikan patung rajawali menjadi hidup, mata berkedip, dada

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   162. Part 22

    Perasaan tidak tega di hati Untari untuk menciderai Angon Luwak. Tanpa disadari Untari sebenarnya telah terhanyut oleh suasana hatinya. Sementara itu Angon Luwak sendiri begitu berhasil menghindari sergapan Untari segera menghantam Hyang Kelam dengan pukulan Gelombang Badai Laut Merah.Segulung cahaya kuning berkilauan memerihkan mata menderu, menghantam Hyang Kelam dari arah samping. Membuat mahluk alam roh ini terpaksa batalkan serangan yang siap membabat putus leher Bocah Ontang Anting. Tangan diputar lalu dikibaskan ke arah cahaya kuning keemasan yang bergulung-gulung ke arahnya.Uhk...!"Bangsat kurang ajar!" Maki Hyang Kelam dengan tubuh terhuyung.Sementara kaki serasa lumpuh. Setelah lolos dari kematian, Bocah Ontang Anting melompat menjauh dari Hyang Kelam. Sementara Hyang Kelam sendiri balikkan badan menghadap ke arah Pendekar Sinting."Pukulan aneh. Membuat tubuh jejadianku seperti dikuliti. Seumur hidup aku belum pernah melihat

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   161. Part 21

    "sepertinya aku pernah melhatmu. Tapi aku lupa di mana..!""Paduka, kalau dia mengenalmu mengapa dia memukulku dengan cara pengecut seperti Itu!" Tukas Bocah Ontang Anting kesal.Kakek ini segera berdiri sambil mengusapi perutnya yang berdenyut sakit Angon Luwak tersenyum."Tunggu dulu kek. Aku memang pernah melihatnya di sebuah kedai di Kali Bayu Hurip. Tapi aku tidak mengenalnya dan diantara kami malah belum sempat berkenalan.""Pemuda gila. Benar kau pernah melihatku. Tak kusangka kita bertemu lagi dalam suasana yang tidak menyenangkan." Kata gadis itu ketus.Angon Luwak tersenyum. Menatap pada gadis murid Hyang Kelam dengan sorot matanya yang aneh membuat sang dara cantik cepat palingkan kepala memandang kejurusan lain."Ha ha ha! Dia tak menyukaimu Paduka. Melihat tampangmu saja dia tidak sudi. Apa yang hendak kau lakukan?""Aku tahu kek. Jangan hiraukan kedua tamu gelap itu. Mungkin aku harus mengambil Pedang Pusaka Istana Es se

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   160. Part 20

    Orang tua ini cepat jatuhkan diri rebah sama rata dengan tanah.Wuus! Wuus! Glaar!Lima cahaya menyerupai pedang dan deru angin hitam bergulung yang mengiringi kelima cahaya hanya menyambar, memapas rambut putih gimbal si kakek tapi tak melukainya.Kelima cahaya terus menderu dan siap menghantam Dewi Harum yang sedang berusaha meringkus bekas tawanannya. Beruntunglah Dewi Harum cepat menyadari bahaya yang mengancamnya. Dia segera menyingkir hindari serangan nyasar. Tapi anak buah Maha Sesat tak sempat menyelamatkan diri.Tiga orang tewas dengan tubuh terbabat putus oleh sambaran cahaya itu. Satunya lagi kehilangan tangan dan kaki. Sedangkan yang dua di sebelah kiri kepalanya menggelinding.Dewi Harum leletkan lidah. Menatap ke arah saudara angkatnya, dia melihat Angin Pesut sedang mengusapi bagian atas rambutnya yang hangus."Saudaraku kau tidak apa-apa?" Tanya Dewi Harum khawatir. Si kakek banting-banting kakinya sambil menggerung tak karua

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   159. Part 19

    Ketika pedang diputar sebat membentuk perisai diri terlihat kilatan cahaya hitam kecoklatan menderu bergulung-gulung disertai menebarnya bau harum menyengat.Pukulan Maha Sesat dan gulungan cahaya angin Laksana badai yang bersumber dari pedang di tangan Dewi Harum tak dapat dihindari bentrok di udara.Traat Buumm! Buum!Bukit Induk laksana diguncang selaksa gempa. Maha Sesat terjajar ke belakang. Wajahnya pucat pasi, dada berdenyut sakit namun dia tidak menderita cidera yang berarti. Hanya bagian ujung jubahnya saja yang robek besar dikobari api. Dengan cepat dia mematikan api yang membakar ujung jubah.Dengan sorot mata angker dia menatap ke depan. Dilihatnya Dewi Harum berusaha bangkit berdiri dengan bertumpu pada pedangnya yang mengepulkan asap. Gadis ini terhuyung, bentrokan yang terjadi membuat tubuhnya seperti terbakar. Sementara itu dari mulut dan hidungnya meneteskan darah.Melihat ini, Angin Pesut yang sempat tergontai akibat ledakan tadi

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   98. Part 7

    Bocah Ontang Anting memandang Angon Luwak dengan kening berkerut, walau heran bin penasaran, tapi Bocah Ontang Anting tak ingin memaksa lebih jauh."Oh ya. Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan.”"Jadi pertanyaanmu belum habis. Selagi aku bermurah hati dan mau bersikap seada

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   97. Part 6

    Bersikap seolah tidak tahu apa yang terjadi. Malah dia pura-pura bertanya. "Hei ada apa lagi? Sudah tua jangan bercanda terus, aku masih ada urusan.” Tukas pemuda itu."Huh, huek. Apa penciumanmu sudah mati. ini bau apa? Baunya seperti telur busuk campur kemenyan.” Gerutu si ka

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   96. Part 5

    Dengan ragu kakek itu mengambil cangkir yang diberikan si pemuda. Bocah Ontang Anting dekatkan mulut cangkir ke hidungnya. Dia makin tambah berani. Seingatnya tadi dia memberikan kendi berisi air hangat biasa pada pemuda berambut kemerahan itu.Lalu bagaimana dengan tiba-tiba saja air bias

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   95. Part 4

    "Hanya sesepuh Dedengkot Sinting yang mempunyai ilmu pukulan Badai Es. Hei bocah aneh, punya hubungan apa kau dengan sesepuh Dedengkot Sinting itu?"Pemuda yang ditanya tidak menjawab, sebaliknya malah cibirkan mulut. Dia lalu tersenyum-senyum sementara tatapannya tertuju pada kakek mata b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status